Masa depan masih terlalu panjang, bersama manusia-manusia lemah yang ada seperti kematian mendekat. Perempuan yang angkuh dengan segala kebodohannya dan kemauan yang menuntut, laki-laki yang enggan bekerja dan merasa selalu harus dimengerti dan diperhatikan.
Ini cerita yang tidak akan pernah selesai. Ingin melupakan namun sungguh itu mustahil, selama bumi masih ada, bumi masih ada berputar, tidak akan pernah bisa melupa yang ada pura-pura melupa.
Mengapa tenang teduh terasa sangat jauh. Kenapa sepertinya hanya berpusat pada semua kemauan yang diingini perempuan itu? Sejujurnya muak dan letih.
Tidak ada sedikitpun di hati perempuan itu rasa saling memiliki. Sebaiknya mungkin kau tidak pernah kembali, seharus dan sepatunya namamu dan kehadiranmu adalah dilupakan. Kenapa malah yang seharusnya kau mengerti malah mengerti dirimu. Dunia terbalik, payah!
Hal-hal yang seharusnya kau berikan dan kau mengerti malah kau yang menerima kebaikan dari itu semua. Hey, perempuan itu lebih baik kau enyah. Kenapa harus mati karena tanggung jawab tapi kau malah bersenang-senang dan menikmati hidup dengan foya-foya. Suatu hari entah di hari yang kapan, akankah akan mendapatkan apa yang kau tabur? Seperti dunia terbalik yang sudah kau lakukan.
Siapa yang harus bersikap seperti tuan rumah malah merasa seperti tamu yang harus dilayani, belakangan hanya ada luka yang tersimpan di dalam memori. Kenapa akan berakhir menjadi pembicaraan yang buruk ketika melakukan percakapan dengan perempuan itu.
Bersama perempuan itu entah sampai kapan akan selesai. Seperti berada di musim yang kering seperti daun yang berterbangan tanpa arah, tidak berguna sama sekali.
***
Rantauprapat, 14 Mei 2026
Lusy Mariana Pasaribu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar