Minggu, 14 November 2021

Tentang Cinta Hari Ini

@kulturtava
...

Sumatera Utara, Rantauprapat hari ini.

Untuk perempuan itu, bahagia dan kecewa secukupnya saja.
Perempuan itu secara pribadi bertanggung jawab atas segala hal yang terjadi dalam hidupnya, tidak peduli seperti apa dan bagaimana itu terjadi. Bahkan atas hal-hal yang bukan kesalahan pun kehendak dirinya. Inilah fakta kehidupan. Ia harusnya bisa menafsirkan dan merespons dengan memilih nilai-nilai yang dianggap tepat.

Pada dasarnya, perempuan itu adalah makhluk yang dipenuhi kemungkinan dan ketidakuratan yang liar. 

Persetan dengan keterbatasan. Semua orang memiliki keterbatasan masing-masing. Kerelaan untuk menjadi berbeda dan kerelaan untuk menerima, walau sulit tapi hal demikian harus bertumbuh di dunia perempuan itu. Bagaimana pun, nyata hidup tidak akan pernah bisa dirayu untuk memberi penerimaan. 

Ia harus berhenti takut gagal. Merumitkan diri pada semua hal. Berusaha atau jangan berusaha. Terlebih tentang harapan yang disemogakan perempuan itu, sungguh ingin menjadi nyata, namun jika pada waktunya harapan itu ternyata menjauh dari jangkauan, well, itulah keadaan yang sebenarnya. Lantas, mengapa membuat hidup menjadi lebih tidak hidup.

The power of no. Sepatutnya, ia berani bertanggung jawab dan tidak suam-suam kuku. Hu, akankah ada hujan  berkat hari ini untuk perempuan itu? atas harapan yang disemogakan. Akankah ada cinta hari ini? Semoga. Walau demikian, entah kalah atau tidak, biarlah ia tidak memenjara gelisah kemudian mati dalam hening. Apalagi sengaja berkelahi pada diri sendiri demi menutupi lautan air mata. 

Karena hidup akan tetap dijalani bukan. Perempuan itu harus berserah. Ia mampu hidup dan memiliki hidup yang sangat hidup jika bisa bersikap bodo amat terhadap hal-hal yang menjatuhkan. Jadi,  perempuan itu tetap berharap ada keajaiban, ada hujan berkat hari ini.

Begitulah perempuan itu.
Begitulah buku cerita perempuan itu. 
Dan anda tahu, siapa perempuan itu? 
Ya, dengan jujur dan berterus terang perempuan itu adalah saya. 
Perempuan dewasa yang payah. Yang mau terus belajar bertumbuh dan benar-benar menjadi dewasa. Hal ini pun tentu dengan pertolongan Tuhan yang tidak terbatas. Bersama Sang Pemilik Semesta, perempuan itu akan memiliki akses untuk tiket VVIP yang harganya sangat mahal dalam menjalani kapal kehidupan yang penuh hiruk pikuk.

Di hati, perempuan itu percaya, selama ia masih bernafas, masalah yang akan terjadi apa lagi buat kepala pusing sangat akan dapat diatasi. Bahkan tentang cinta hari ini,  yang sungguh diharapkan terjadi, andai itu tidak menjadi bagian diri, perempuan itu tetap hidup dan belajar lahir kembali setiap hari. 

Semoga saja seperti itu. Benar, semoga!

***
Rantauprapat,13 November 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Sabtu, 23 Oktober 2021

Buku Cerita Perempuan Itu

@kulturtava
...
Maret dua tahun lalu, tepatnya Maret di hari ke enam belas pada tahun dua ribu sembilan belas, perempuan itu dihadiahi buku yang berjudul : Sebuah seni untuk bersikap bodo amat. Dan itu benar dilakukan, selama dua tahun ini buku itu tidak pernah dibaca. Perempuan itu bodo amat terhadap buku itu. Dasar bodoh, menyia-nyiakan buku yang isinya sangat berdampak. Akhirnya itu tersimpulkan setelah membaca buku itu pada bulan Oktober di hari ke dua puluh dua. 

Sering bahkan teramat sering, perempuan itu menjadi lebih bahagia. Menjadi lebih sehat. Menjadi lebih wow. Ironisnya, itu hanya demi menutupi kekurangan. Itu kegagalan. Sebenarnya tidak mampu untuk itu. Karena jika sedang tidak bahagia, sedang tidak baik-baik saja. Jangan memaksakan diri. Begitu saja seharusnya. Yang menjadi realita, perempuan itu tidak merdeka melakukan hal itu. 

Buku cerita perempuan itu dipenuhi ketakutan, kecemasan yang menimpa ia menjadi lebih cemas dan takut. Setelah membaca buku hadiah itu, buku sebuah seni untuk bersikap bodo amat. Ia menertawakan diri sendiri. Berpikir dan bertanya, mengapa ia tidak mendatangkan sikap bodo amat terhadap sisi hidup yang telah dilalui. Tentunya tidak di setiap aspek.

Perempuan itu tahu, ia berbeda, ia terbatas. Karena inilah fakta tentang buku cerita perempuan itu. Ia harus belajar buat bersikap bodo amat terhadap hal-hal yang menjatuhkan, yang menimbulkan ketakutan, kekhawatiran yang mungkin akan terjadi. Perempuan itu harus bertumbuh dan belajar memiliki sikap, kerelaan untuk menjadi berbeda. Dan itu tidak apa-apa, karena tidak ada yang sempurna. Dan, kenapa harus membiarkan kekhawatiran dan kemungkinan-kemungkinan yang belum tentu terjadi membunuh kesehatan perasaan pun pikiran?

Perempuan itu harus mencintai diri sendiri dengan sederhana. Menghidupi bahagia dan jangan berusaha untuk merumitkan diri dengan kekhawatiran yang berlebih.

Hari ini,  Oktober pada hari yang kedua puluh tiga, perempuan itu mengalami masa sukar namun mengalami pula pencerahan dan ia harus tetap kuat. Pilihan yang harusnya dilakukan, mengandalkan dan berserah penuh pada Sang Pemilik Kehidupan. Tidak terlalu gusar. Mengenai sesuatu yang perempuan itu namakan harapan, ia harus percaya, jika itu bagian hidupnya, itu akan menjadi nyata. Dan, sudah berusaha untuk itu. 

Benar, dalam buku cerita perempuan itu, ia harus harus benar-benar merdeka terhadap diri sendiri dahulu. Kemudian, tidak selalu berinisiatif terhadap semua hal, namun untuk setiap hal yang penting dalam hidup. 

***
Rantauprapat, 23 Oktober 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Selasa, 19 Oktober 2021

Perempuan Itu adalah Aku

@kulturtava
...

Tak mau terkulai layu. Hari ini, perempuan itu disapa kesadaran lagi. Terdengar jelas, bahwa hari ini adalah kesempatan. Besok belum tentu jadi milik perempuan itu. Tak ada yang bisa mengetahui waktu.

Begitu banyak rahasia dan telah menjadi beban hidup. Kemarau panjang yang diizinkan perempuan itu buat ia terhilang. Memikirkan sesuatu yang bukan bagian diri padahal tak mampu apa-apa. 

Perempuan itu ingin memiliki the power of no pada sesuatu yang tidak benar. Tak berlama pada kegetiran. Tak terkungkung pada malam dan pagi yang malang. Apa lagi merasa sendiri di saat merasa tak mendapatkan penerimaan. Perasaan yang hanya dikira-kira.

Terlalu sering membiarkan baper yang kebablasan merajai hati dan pikiran. Ngarep pada hal yang sudah tahu bukan bagian perempuan itu. Menjadi penggangu dan perusak kepercayaan. Dasar, perempuan yang payah. Hilang dan pergi dalam kesedihan, bahkan berada di entah. Perempuan itu tidak merdeka. Tidak menghidupi bahagia.

Bodoh bukan. Gagal mengakhiri patah hati padahal tahu dan mengerti, tidak ada yang benar-benar memahami perempuan itu selain diri sendiri.

Ah, sudahlah.

Kesadaran yang bertamu di kepala perempuan itu malam ini, berharap tidak sia-sia. Tak pula hanya berteori, namun ada tindakan nyata yang terjadi. Beranjak jauh-sejauhnya dari tikungan yang merusak diri. Jika tidak, perempuan itu akan menangisi hal-hal yang itu-itu melulu, penyesalan yang berulang.

Benar, adalah baik bagi perempuan itu untuk berhenti dari kebodohan demi kebodohan yang dilakukan. Benar-benar berhenti. Jika esok, perempuan itu masih bernafas, biarlah ada kesadaran untuk menghargai kesempatan dan belajar menjadi manusia yang tahu diri. 

Sesungguhnya itu harapanku. Bahwa aku sungguh ingin perempuan itu mampu menjadi perempuan dewasa yang bertumbuh.

Karena kebenarannya, perempuan itu adalah aku. 

***
Rantauprapat, 08 Oktober 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Rabu, 06 Oktober 2021

Perempuan Itu dan The Power of No

@kulturtava
...
Lagi-lagi perempuan itu menangis. Jatuh pada kekeliruan. Sebelumnya, ia sudah kehilangan berkali-kali demi kebaikan anda. Menutupi kesalahan demi kesalahan. Dan hari ini yang anda perbuat malah rasa sakit. Membuat perempuan itu tidak merdeka. Menghempaskan perempuan itu pada kesedihan. Karena anda, perempuan itu rela terperangkap dalam jerat pada lingkaran-lingkaran anda yang lain. 

Lima Oktober tahun pertama perempuan itu dengan anda, tahun pertama untuk kejadian yang sudah terlalu lama terjadi. Bosan, lelah. Tersesat dan kehilangan. Seperti titik-titik yang tidak menemukan titik. Sejarah dahulu kembali terulang. Masa kecil yang menakutkan. Anda seperti monster yang memberikan dampak jera. 

Perempuan itu ingin menjadi perempuan dewasa yang bertumbuh. Ingin berhenti dan tidak lagi nakal. Namun ada saja yang menjadikan itu gagal. Tekanan, rayuan, ketidakpenerimaan, penolakan. Ah, entahlah. Rekam jejak yang anda tinggalkan itu, sudah buat perempuan itu alami kematian. 

Tidak ada cinta hari ini. Yang ada hanya rasa sakit. Penyesalan yang tidak termaafkan. Pertemuan dan tamu yang tidak pernah direncanakan  berakibat kesalahan yang berulang. Pertemuan yang ambigu, ada kebahagiaan ada pula luka yang buat kepala pusing. Tidak bisa berhenti, tidak bisa atau tidak mau? Perempuan itu tidak merdeka untuk memberi jawab. Mau sampai kapan dan berapa lama lagi? Penolakan anda menjerumuskan perempuan itu. Seperti Ikan yang terperangkap dalam jerat yang mencelakakan.

Kesunyian menenggelamkan perempuan itu. Andai waktu bisa diulang. Andai yang tidak akan pernah terjadi. Mungkinkah harapan yang disemogakan perempuan itu akan menjadi nyata. Benarkah perempuan itu adalah perempuan yang diinginkan atau hanya tempat bermain dan persinggahan di kala luang? Apakah patah hati akan diderita seorang diri oleh perempuan itu? 

Hal yang seharusnya mudah untuk perempuan itu, kini seakan menjadi sangat sulit. Anda sudah memberi rasa sakit yang tidak akan terlupa, sekalipun ingin lupa atau pura-pura lupa. Bahayanya perempuan itu masih mau dipeluk anda.
 Ini akibat tak hati-hati dengan hati. Bukankah sudah terlampau banyak kebodohan demi kebodohan yang perempuan itu lakukan bersama anda.

Entah akan menjadi seperti apa, anda dan perempuan itu? Entahlah. Anda datang dan menawarkan rasa, rasa yang sungguh-sungguh rasa atau rasa yang dikira-kira karena hasrat semu.  Move on dan the power of no, akankah itu ada di kamus perempuan itu untuk anda? 

Jadi, perempuan itu belum tahu sudah bisa berhenti dari anda atau belum!

***
Rantauprapat, 05 Oktober 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Rabu, 29 September 2021

Yakni pada Hari Itu

@kulturtava
...
Dan hari ini saya melihat sesuatu bagaikan  kilatan petir, dan itu di tengah kemarau. Sejarah dahulu kembali terulang. Yakni pada hari itu, terbelenggu. Tempat yang harusnya menjadi penerimaan malah menjadi tempat yang paling menyedihkan. Ada perpisahan tanpa kata. 

Pagi hari ini tak seperti pagi yang seharusnya. Saya lelah. Terlalu banyak drama, kamuflase, kesombongan yang menjulang. Tak ada udara pagi yang berhembus dengan baik. Ingin memberontak tapi saya tidak berdaya. Beku oleh disabilitas fisik pun nurani. Entah siapa yang seharusnya dibela dan disalahkan.

Yakni pada hari itu, sudah terlalu banyak luka. Mau berapa dasawarsa lagi harus merasakan luka ini lagi. Kepada siapa saya harus berkeluh kesah? Apakah hujan sulit untuk benar-benar selesai di dunia saya? Sudah terlalu lelah berlari dari nyata hidup, sudah terlalu lelah juga membiarkan diri menjadi korban kebodohan.

Hey, kamu yang sedang saya perjuangkan. Tentang kamu yang saya namakan harapan. Akankah kamu akan mendekat? Berharap demikian. Sehingga sejarah yang dahulu, yakni pada hari itu bisa sedikit terlupa dan terabaikan. Lebih baik saya berjuang walau terbatas dari pada saya menyerah kalah karena takut. 

Kepala saya berat karena derita. Terlampau sakit. Saya tahu, tidak bisa saya menyalahkan kelahiran saya. Yakni pada hari itu, ketika saya ada di muka bumi. Entah itu karena cinta yang paling bahagia, entah tidak. Yang saya tahu, saya adalah keterbatasan yang membutuhkan ketidakterbatasan Tuhan. 

Pada buku dan halaman kehidupan.
Saya masih menanti kesadaran juga penerimaan diri yang benar-benar benar. Sungguh! 

Juga luka pada hari itu akan berguguran. Saya akan basah dalam pemeliharaan Tuhan. Basah oleh hujan berkat.

***
Rantauprapat, 29 September 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Kamis, 16 September 2021

Adalah Baik

@kulturtava
...

Untuk perempuan itu,

Lama tak bertemu dengan keyakinan, perempuan itu malah meloloskan diri dari kebenaran. Sulit berkata tidak untuk tidak. Digelayutberati kebimbangraguan. Pernah bukan berarti, akan ada tangis yang akan menjadi longgur jika ia tidak memutuskan untuk mengambil tikungan yang lain. 

Adalah baik bagi perempuan itu untuk berhenti. Berhenti diam-diam mencicipi dosa saat dosa itu merayu lagi. Berhenti berzinah dengan anggota tubuhnya, saat ia menyerahkan diri sendiri menjadi korban permainan hidup. Perempuan itu bodoh memang,  Hanya karena marah dan terluka pada kemalangan, ia malah jatuh kepada jejak lain yang salah. Hari ini ia seperti ini, besok ia seperti itu. 

Perempuan itu gila bukan
Mencintai cinta orang lain.
Bahkan diam-diam merasa bahagia jika sudah mendengar suara kendaraan bermotor cinta orang lain itu.
Yang lebih parah, perempuan itu tahu jika telepon genggam yang ia punya bergetar lebih dari sekali, pasti yang menghubungi adalah si cintanya orang lain. Karena ia tidak akan berani memberi kabar lebih dulu, sekalipun ia rindu.

Ah, karena sebenarnya perempuan itu tahu ia salah. Begitulah perempuan itu terjerat pada hasrat yang menggoda. Ia gagal memiliki the power of no. Lama sudah seperti itu. Bukankah itu menunjukkan bahwa itu bukan cinta. Hanya pelarian, lari dari kemalangan dan terjebak dalam kemalangan yang lebih dalam. Menimbulkan penyesalan yang tak termaafkaan.

Adalah baik bagi perempuan itu untuk benar-benar berhenti dan menyudahi kisah yang harusnya tak pernah dimulai. Kisah bersama jejak lain yang berbahaya. Selagi ia masih bernafas dan selama bumi masih ada, saat perempuan itu mencicipi dosa bukankah Tuhan masih memberi kesempatan untuk berbalik.

Karena jika kesempatan untuk berhenti sudah menjauh, itu sudah sangat mengerikan. Berbahaya. Dan benar, adalah baik untuk berhenti mencintai cinta orang lain selagi ada kesempatan dan itu pilihan yang harus dipilih. Apakah suatu hari nanti, perempuan itu tidak lagi bodoh?  Bukan-bukan, ia harus benar-benar berhenti dari kebodohan itu sekarang. Boom, karena hidup tidak semata-mata tentang perempuan itu. Sebenarnya ia lelah menjadi brengs*k.

***
Rantauprapat, 16 September 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Ini Tentang Kamu yang Saya Namakan Harapan

@kulturtava
...
Hari itu dan hari ini menjadi sebuah harapan yang saya semogakan. Ini tentang kamu yang saya namakan harapan, bahkan untuk tiga belas hari kedepan, tepatnya tanggal dua puluh tiga September, kamu akan menjadi hujan berkat untuk saya. Sungguh jantung saya berdegub kencang, apakah saya kamu akan menjadi bagian yang utuh dan menakjubkan.

Biarkan saya mengerjakan bagian saya, selebihnya saya percayakan pada Sang Maha Sempurna, pemilik hidup saya. 

Sungguh ingin menyingkirkan ketakutan yang ada. Karena ketakutan tidak menambah sehasta apa pun dalam hidup, saya ingat itu tapi sulit untuk tidak baper terhadap hal ini. Ingin merdeka bersama kamu, berharap saya ada pemeliharaan Tuhan untuk menggapai kamu. Apakah saya mampu percaya? Ya, saya mampu. Kamu akan ada di perjalanan dunia saya. Menjadi rutinitas yang memberikan nada-nada indah. Salah satu peran terbaik di hari-hari saya. 

Saya ingin menangis bahagia kali ini, jika kamu benar-benar menghampiri saya. Namun demikian, jika saya kamu gagal menjadi kita, saya tidak akan membiarkan patah hati yang kebablasan merajai diri saya. Mungkin kamu adalah harapan yang berujung pada kepedihan. 

Itu kemungkinan yang tidak saya inginkan. Karena ini tentang kamu yang saya namakan harapan dan kerinduan perihal kebahagiaan dan senyum dari banyak wajah. Benar-benar mau menjadi perempuan dewasa yang bertumbuh dengan adanya kamu.

Berharap akan itu. 

***
Rantauprapat, 10 September 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Bukan, Aku Tidak!

@kulturtava
...
Tidak pernah sekalipun aku ingin seperti ini. Menuai apa yang tidak kutabur. Bukan pula, aku menuntut penerimaan lebih. Hidup seakan tak hidup. Baper yang kebablasan tidur dengan nyenyak di zona hatiku. Ingin menyingkirkan perasaan yang tidak layak ini tapi belum merdeka.

Bukan, aku tidak. Aku tidak pernah berharap berbeda dari yang lain. Nyatanya aku berbeda. Sudah berpuluh tahun membiasakan diri terhadap hal-hal ini, ah masih saja sulit. Tidak tahu harus marah kepada siapa, menyalahkan siapa. 

Bagaimna perasaanku hari ini? Yang ada, harus menahan diri dari kesukaran. Tak akan ada yang benar-benar memberikan penerimaan. Bukan, aku tidak! Bukan aku tidak bersyukur, masih bernafas hari ini. Saat hari menjadi murung, aku menjadi lupa bersyukur, aku ingin mati dan berada di entah. Keluhan yang hanya aku sendiri yang boleh tahu. 

Ini menjadi awal pekan yang panjang. Tadinya berharap ada cinta hari ini, lagi-lagi aku keliru. Ada yang berkata, mendung tak selamanya kelabu. Entah kapan mendung itu tak kelabu di musim duniaku! Sesegera mungkin, berharap akan itu! 

Aku tahu aku berbeda. 
Tetapi, aku masih perempuan dewasa yang ingin merasakan hal-hal baik yang perempuan dewasa lain rasakan.

Tak mau menjadi :
kering
layu, dan
merasakan kemarau hingga mati sia-sia.

Ini sketsa tentang kepatahan disertai dengan hujan. 

Bukan, aku tidak. Aku tidak ingin kepatahan ini menjadi kepahitan. Bukankah ini masih tentang pilihan. Aku memilih untuk menyepi dan berdamai dengan hiruk-pikuk cinta dan hidup. 

Apakah aku mampu percaya? 
Walau sulit, ya aku mampu. Ingin melepaskan kesesakan, mengakhiri patah hati di hari yang dingin ini. Memiliki cinta yang benar-benar benar. 

***
Rantauprapat, 13 September 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Rabu, 01 September 2021

Perempuan Itu Mau Menjadi Perempuan Dewasa yang Bertumbuh dengan Benar

@kulturtava
...
Bodoh. Perempuan itu bodoh, menyakiti cahaya yang seharusnya tidak ia sakiti. Ia tidak merdeka dari ekspektasi yang ia bangun, baper yang kebablasan merajai diri. Hilang dari pemeliharaan Tuhan.

Terlalu banyak pilu karena tidak berdamai dengan keadaan. Memilih menjadi malang. Sementara di persimpangan jalan, pelaku kejahatan pun pembunuh karakter itu malah tidak ambil perduli, lantas untuk apa menyerahkan diri menjadi korban permainan yang payah. Hu!

Di mana damai sejahtera? 
Perempuan itu tidak menemukannya 
Bahkan ia menyenangi kesendirian, kehilangan percakapan yang berenergi.

Seperti ada tertulis, jangan berikan mutiara pada bab*. Sungguh perempuan itu ingin, pelaku kejahatan itu mengalami itu, lagi-lagi ingin perempuan itu bukan inginnya Tuhan. Terbukti, karena cinta itu buta, pelaku kejahatan itu malah mendapatkan kebaikan yang tidak terduga dari perempuan yang ada di lingkaran hidup perempuan itu, walau sebenarnya itu sudah menumpahkan 'bara api' di atas kepala pelaku kejahatan itu. 

Andai pelaku kejahatan itu sadar. 
Bukankah itu salah satu ketidakadilan dari teka-teki zaman yang sempurna.

Perempuan itu marah. 
Menuntut. Padahal sesungguhnya ia tidak berhak untuk itu.  Dan malam tadi, perempuan itu tersentuh atas tekanan yang ia terima. Ia tidak mau mempertahankan gengsi yang ujungnya akan membuat ia membual.  Perempuan itu seolah telah berada di lorong terang. Lepaskan, karena kau yang akan sakit dan terluka jika menyimpan kebencian di hatimu. Lama sudah perkataan itu ia dengar, dan malam tadi perkataan itu benar-benar hidup. Dan ia memutuskan untuk melakukan itu, sulit pasti namun bukan tak bisa dilakukan. Pada Yang Maha Sempurna, ia menyampaikan kerinduan hatinya.

Perempuan itu tidak ingin membunuh Tuhan juga kesehatan perasaanya karena hal yang salah lagi sia-sia. Kesempatan kali ini, ia ingin benar-benar berhenti dari kebodohan dan kembali lagi merasakan pemeliharaan Tuhan dalam lorong terang yang bersinar. Perempuan itu mau menjadi perempuan dewasa yang bertumbuh dengan benar.

Ya, perempuan itu aku. 

***
Rantauprapat, 23, 30-31 Agustus 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Aku Rindu Kita

@kulturtava
...
Aku menyesal
Perihal kita yang sudah ku sia-siakan 
Aku mencintaimu tapi tak berani melangkah bersamamu, tak berani memperjuangkan cintamu

Kau pernah ingin merangkul dan seirama denganku, tapi aku terlalu takut terhadap diriku sendiri 

Kini, hanya kesendirian yang menjadi teman hidupku 
Aku seringkali hanya membiarkan diriku berpura-pura bahagia tanpamu
Seolah-olah aku baik-baik saja, tapi aku menipu diriku sendiri
Aku kalah
Aku hancur
Aku terpuruk 

Aku rindu kita
Rindu aroma dan perjamuan istimewa yang tercipta karena cintamu
Tapi, aku tak lagi berdaya menggapaimu

Ini adalah kesalahanku
Hanya hari-hari penuh kesunyian yang kupersembahkan pada diriku sendiri 
Pagi dan malamku tak lagi menjadi pagi dan malam yang dipenuhi kebahagiaan

Aku pun tak tahu, apakah aku akan kembali diberi kesempatan tuk mencintai dan dicintai
Ini sungguh hal yang menakutkan bagiku, aku takut seseorang sepertiku adalah seseorang yang akan selalu menuai cerita cinta yang penuh kesunyian di dalam hidup

***
Rantauprapat, 31 Agustus 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Selasa, 24 Agustus 2021

Sketsa tentang Ketidakpantasan dan Perempuan Itu

@kulturtava
...
Tak pernah menjual sesuatu yang salah. Pria dewasa itu tega melukai kepercayaan perempuan itu. Bukankah tidak benar, melakukan diskriminasi di balik kata terima kasih. Sejarah yang dahulu kembali terulang pagi tadi. Sketsa yang suram lalu lalang di benak perempuan itu. Yang ada hanya ketakutan. Sentuhan itu menjijikkan.

Usapan tangan pria dewasa itu seperti sengatan listrik yang mematikan. Ada ketidakpantasan yang ia alami. Dari pria itu, perempuan itu menerima kebencian.

Di manakah hati nurani? 

Bibir perempuan itu mengumpat dan mengucap sumpah serapah. Bibir yang entah sengaja atau tidak, telah dijatuhi noda. Ia benci keterbatasannya. Bercinta saat ia tak ingin melakukan. Perempuan itu berpikir, apakah ia seperti perempuan murahan. Mudah bagi pria dewasa memberikan sentuhan, andai itu dari pria dewasa yang bukan siapa-siapa. Lah ini, pria dewasa itu adalah pria yang harusnya menjaga perempuan itu.

Dan lagi, perempuan itu menyalahkan diri sendiri. Berjalan dalam kegelapan. Menjadikan hari seperti burung yang terperangkap dalam jerat yang menghancurkan. Mempertanyakan tentang identitas diri, tentang hubungan darah. 

Dengan alasan yang pasti, perempuan itu telah kalah dan hujan dengan suka rela menyapa. Hidup yang penuh misteri menyatakan kekejaman hari ini pada perempuan itu. Ah, sungguh malang bukan.

***
Rantauprapat, 24 Agustus 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Minggu, 22 Agustus 2021

Lagi, Perempuan Itu Telah Jatuh

@kulturtava
...
Benar, perempuan itu mencintai anda. Namun, malam ini ia memilih berhenti untuk jeda perihal mencintai anda. Anda perempuan dewasa yang mudah jatuh tergelincir pada bujuk rayu seseorang yang bermulut manis. Brengs*k. Entah kenapa anda selalu memberikan perhatian lebih. Padahal ada tertulis: jangan berikan mutiara pada bab*. Lagi-lagi anda mengabaikan itu dengan pasti.

Yang ada, anda memberikan insinuasi yang terselubung. Menyudutkan perempuan itu, anda telah berhasil melakukan sesuatu yang menyakitkan perasaan perempuan itu.  Karena anda, malam perempuan itu seperti burung yang terperangkap dalam jerat. Malam yang malang. Ia perempuan yang terjebak di hutan sendu. 

Sembilan belas Agustus, H-1 hari bahagia seseorang yang bukan darah daging anda. Menjadi hari yang penuh lagu patah hati. Lagi,  perempuan itu telah jatuh.  Jatuh pada ratapan yang disebabkan anda. Anda yang lebih mementingkan seseorang yang BERULANG-ULANG menipu perasaan anda. 

Sementara jika perempuan itu yang merusak kepercayaan anda, tanpa kompromi anda akan menjadi monster yang paling ditakuti. Yang perempuan itu heran, kenapa anda tidak pernah berpikir bagaimana rasa sakit yang BERULANG-ULANG anda tinggalkan. Apa anda malu perempuan itu ada di lingkaran hidup anda? Sepertinya jika perempuan itu tidak lagi ada, anda tidak bermasalah. Pada kemungkinannya perempuan itu hanyalah beban yang menyusahkan. 

Andai anda tahu, perempuan itu benar-benar benar ingin pergi dan menjauh sejauh-jauhnya dari anda. Agar anda terbebas dari kesusahan. Terdengar payah,  namun perempuan itu berharap terjadi keajaiban untuk harapan yang lama ia bangun.  Seperti kata anda, perempuan itu tidak pernah memberikan apa-apa pada anda.  Hingga saat ini pun, perempuan itu masih dihidupi oleh anda. Bodoh, anda lupa, andalah penyebab utama apa yang menimpa perempuan itu. Disabilitas yang sebenarnya bukan disabilitas. Sulit dipahami.

Ah, perempuan gagal mengakhiri patah hati. Tidak mampu menjaga kesehatan mentalnya. Baper yang kebablasan ia biarkan menduduki jiwa dan pikiran. Menjadi perempuan dewasa yang bertumbuh, tidak terjadi malam ini. Bagaimana dengan besok? Entahlah, mungkin perempuan itu memilih menjatuhkan rahasianya dalam kepura-puraan. Lucu bukan.

Dan, sesuatu yang basah telah jatuh di wajah perempuan itu. Malam ini sulit untuk perempuan itu memejamkan mata. Ia harus menahan diri dari amarah yang menghampiri. Terlihat baik-baik saja padahal sesungguhnya tidak begitu. Demi kebahagiaan anda bersama seseorang yang benar-benar telah bermain-main dengan perasaan anda. Hu, sudahlah. Inilah hidup yang penuh ketidakadilan pun ketidakpenerimaan yang seseungguhnya.

***
Rantauprapat, 19 Agustus 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Sabtu, 14 Agustus 2021

Tentang Suatu Hari Lain

@kulturtava
...
Perempuan itu pernah jatuh dan jatuh cinta pada anda. 
Pernah bukan berarti masih jatuh cinta pada anda!
Tak ada lagi kesediaan untuk menerima. Cukup, perempuan itu sudah lama berhenti. Dan ada sisi baik berhenti dari anda, mengurangi rasa sakit.

Kemudian, anda yang meluangkan waktu untuk memasuki wilayah perempuan itu. Saat ia bertanya, lalap itu yang anda jawab dan katakan. Perempuan itu sesungguhnya tidak pernah bermaksud mengusik, andalah yang terlalu ketus. Lagi, meninggalkan rekam jejak yang payah.

Pada akhirnya, tentang suatu hari yang lain.  Tidak ada berita untuk itu. Itu harapan yang tidak boleh lagi diharapkan. Sepertinya dahulu pun, anda tidak pernah tulus. Perempuan itu saja yang keliru, meletakkan kebahagiaan pada anda. 

Perempuan itu benar-benar marah pada anda. Ia, diajarkan memaafkan tapi kali ini sikap ketus anda, membuat perempuan itu terbawa emosi yang berlebihan. Sial bagi perempuan itu, ia pernah menulis puisi manis untuk anda. Ternyata itu hanya imanjinasi perempuan itu. Hanya omong kosong belaka.

Setelah perpisahan yang disepakati, kali ini tanpa airmata ratapan. Perempuan itu teguh menyakini, tentang suatu hari yang lain. Itu tak akan pernah menjadi nyata antara ia dan anda. Jika kemudian, anda kembali memasuki kehidupan perempuan itu, ia akan mewaspadai perasaan yang hadir. Berhati-hati, takut baper yang kebablasan merasuk secara langsung.

Perempuan itu tidak lagi ingin menjadi Ikan yang terperangkap dalam jala yang mencelakakan karena anda. Karena antara anda dan ia, tidak ada cinta yang benar-benar benar. Anda dan perempuan itu adalah ketidakpastian yang sempurna.

***
Rantauprapat, 13 Agustus 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Kamis, 12 Agustus 2021

Kita adalah Ketidakpastian

@kulturtava
...
Kebodohan kala itu.

Pada harapanku,  aku pernah menginginkan sebuah rumah denganmu. Rumah yang memberi penerimaannya kamu terhadap ketakutan pun keterbatasanku. Begitu ingin, hingga lupa bahwa kamu bak kilatan LONGGUR yang bernama bahaya. 

Andai, aku bisa terus berandai-andai untuk menjadi selalumu. Aku juga tahu, itu andai yang tak pernah mungkin terjadi. Karena hidup terus memberikan realita. Realitanya adalah kita adalah KETIDAKPASTIAN dari KETIDAKMUNGKINAN. Tidak bisa aku terus menjadi PEMBOHONG untuk diriku sendiri karena merawat cinta padamu.

Mau tak mau, harus melepaskan. Walau sulit dilakukan. Ingin menuju matamu. Menjadi semogamu. Tak berdaya, karena aku yang akan jauh lebih terluka. Banyak yang akan tersakiti jika melakukan itu. Aku pernah menemukan titik kenyamanan saat ada di dekatmu. Larik dari sepasang matamu adalah hal yang bernama cinta yang pernah tumbuh di hatiku. Cinta yang keliru menuju jalannya. Hingga tak akan pernah bisa dihahalkan.  Bukan tak bisa, tapi terlampau sulit.

Kala itu, kisah sepi dan kacau seketika bisa terlepas. Denganmu, aku pernah rela kalah-mengalah dan terperangkap pada rima yang penuh sajak romantisme. Walau tak selamanya, penuh dengan dialog dan percakapan yang berenergi.

Sering aku bersedih setelah membaca dan mengingat harapan yang terbangun terhadapmu. Karena sampai saat ini, kamu masih sibuk di kepalaku. Aku pernah menginginkan sebuah rumah denganmu. Pernah bukan berarti aku  masih menginginkan hal itu. Karena aku tahu, kamu adalah cinta yang berujung salah pada awal pun akhirnya.

Walau sebenarnya perkara kepemilikan hati, itu sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar. Itu saja. Namun, siapa yang menguasai hati, itu bisa dipilih.

***
Rantauprapat, 20 Juli sd 11 Agustus 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Rabu, 11 Agustus 2021

Lagi, Perempuan Itu Seperti Ikan yang Terperangkap dalam Jala yang Mencelakakan

@kulturtava
...
Perempuan itu dan sebuah kisah kekalahan.

Keterbatasan.
Sendiri. 
Takut. 
Khawatir yang berlebih.
Dosa yang merayu.
Enggan namun tidak bisa menolak.
Membuka gelap dan membawanya masuk.
Membiarkan lagu patah hati bersenandung dengan indah. 
Layu dan menjadi duka. Tegar teguh seolah kadaluwarsa dan Rest In Peace.

Mencintai cinta orang lain. Menuntut penerimaan lebih. Bukankah itu menunjukkan kekeliruan. Sepertinya oksigen kesadaran sudah mengasing dari hati.  Mengapa hal yang benar, sulit menetap di musim hidup? Bermain-main dalam waktu yang malang. Lagi dan lagi perempuan itu seperti Ikan yang terperangkap dalam Jala yang mencelakakan. Buat diri berjalan dalam kegelapan. Lesap dan terbunuh dari tenang teduh. Parah. Payah. Bum,  Sial bukan. 

Kata-kata, ingin berhenti. Ingin menyudahi kisah yang berbahaya. Lagi-lagi gagal. Kalah dan hancur berkeping saat tidak ada yang mampu memahami. Ilustrasi demi ilustrasi yang merayu diri tentang romantika kebahagiaan terlalu menduduki jiwa dan pikiran. Hingga lupa tentang hidup yang memang tidak pernah adil. Ketidakberhasilan, keterasingan bukan semestinya buat jiwa bermekaran pada hari-hari yang sendu. Ya, seperti Ikan yang terperangkap dalam jala yang mencelakakan.

Hu, rumit memang. Bahkan jauh lebih rumit.
Saat diri bertanya berulang kali, rasa sayang yang seperti apa yang ada? 
Ternyata, hanya diam panjang yang menjadi penghuni tetap di setiap jawaban.

Ada yang menawarkan penerimaannya. Penerimaan yang beraroma manis. 
Memberikan cinta.
Cinta yang membuat diri merasakan nikmatnya peraduan hasrat yang menggoda.
Tapi cinta itu cintanya orang lain.
Menolak, tak mampu.
Menerima, lebih tak mampu.

Ingin menjalani hidup yang seperti apa? 
Apakah sanggup menyembunyikan diri dari kesalahan? 
Meninggalkan kepura-puraan.
Seolah membual. Ingin berhenti, ternyata kekalahan yang tercipta. Sejarah yang dahulu kembali terulang. Menjadi perusak. Menjadi pelaku dan terdakwa dalam penembakan yang buat detik air hidup berhenti.

Sampai berapa lama lagi,  bercengkrama dan basah oleh hujan yang tak seharusnya? 
Apakah akan ada jalan yang berbeda untuk perempuan itu? 
Secepatnya, ia harus menemukan jawabannya. Agar tidak menjadi abu-abu. Dan melahirkan prahara bahkan penyesalan yang tak termaafkaan.

Malam tadi, perempuan itu sadar untuk berhenti dan menyudahi kisah yang berbahaya itu.

***
Rantauprapat,  20 Juli sd 10 Agustus 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Senin, 09 Agustus 2021

Perempuan Itu, Telah Jatuh

@kulturtava
...
Perempuan itu bingung menggangap kamu sebagai apa, kekasih kepunyaannya atau bukan. Dikatakan kekasih, bisa. Dikatakan bukan siapa-siapa juga bisa. Jika bersentuhan, ingin rasanya menolak. Jika ada keberpisahan, rindu rasanya nampak terlihat. Terlebih ciuman liar yang pernah terjadi, sulit dilupakan. Ah, entahlah. 

Sedapat mungkin, perempuan itu ingin terlihat wow setiap ada kamu. Berdandan selayaknya perempuan dewasa, mungkin untuk menyenangkan hatimu. Haha. 

Aku ingin berhenti, perempuan itu sudah berkata berulang kali. Berulang kali pula itu tidak terjadi. Sialnya, perempuan itu malah menikmati fase-fase itu. Padahal tak pernah ada janji yang terucap darimu, janji menyemai kebersamaan sekalipun. 

Bodoh. Perempuan dan pria itu telah jatuh. Jatuh hati dan jatuh pada ratapan yang menggoda. Tanpa aba-aba, kamu melakukan aksi yang tak pernah dibayangkan perempuan itu. Kini, kamu mengikuti apa yang dimau, BERHENTI dan membatasi diri. 

Terasing dan keparat. Perempuan itu malah menangis. Kenapa menyesali kepergianmu. Padahal sesungguhnya perempuan itu mengerti, bahwa ia dan kamu sulit untuk dihalalkan. Tetap saja, kamu masih mengusik kepala perempuan itu. Perhatian yang masih kamu berikan, pertanyaan seperti : bagaimana keadaanmu? Kenapa tadi menangis? Ha, perempuan itu butuh kamu. Tidak ingin kamu bersikap dingin, lagi-lagi kebimbang raguan ada. Dan lagi, ia kalah pada keterbatasan yang terlihat. 

Parahnya, perempuan itu masih berharap kamu kembali memberikan perhatian lebih. Harap yang tak lagi boleh terjadi. Ya, kamu si pria borjong. Pria brengs*k yang telah mululuhkan perempuan itu dalam waktu singkat. Perempuan itu lagi-lagi menerima kekalahan yang kejam, bertanya, kenapa harus basah oleh hujan? 

Kamu pria brengs*k yang menyebalkan. Sungguh-sungguh menyebalkan. Perempuan itu ingin menggigit kamu dengan sangat teramat sakit. Dan entah sudah berapa banyak puisi yang perempuan itu tulis untuk menggambarkan perasaan terhadap kamu.

Mau tak mau, rela tak rela, mampu tak mampu. Perempuan itu harus benar-benar berhenti kali ini. 

***
Rantauprapat, 08 Agustus 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Minggu, 08 Agustus 2021

Dan Lagi

@kulturtava
...
Apakah hasrat yang menggoda itu, begitu memikat? Mungkin tidak. Mungkin perempuan itu terlalu lelah, tak lagi sanggup untuk menolak. Lebih tak sanggup untuk menerima.

Dan lagi,
Perempuan itu tersesat dan tak tahu arah pulang. Seperti berada di semak belukar kehidupan, tak mendapat oase yang meneduhkan. Ia seperti daun-daun mati. Yang tampak mata hanya kekosongan. Sulit menahan diri dari kesedihan, kebimbang raguan ada di dalam diri. Tak menghidupi keberterimaan. Terkadang seperti ini, terkadang seperti itu. Kebanyakan seperti entah, tak terbaca.

Wajah sendu perempuan itu mengandung ratapan yang sulit terdefenisikan. Jatuh sejatuh m-jatuhnya bersama hujan. Hujan air mata.

Mendung tak selamanya kelabu, perempuan itu tahu dengan pasti. Dan lagi, ia gagal bangkit dari keterpurukan sebab kelabu itu. Langit hatinya dibiarkan menghitam. Benar-benar menangis. Terluka oleh kebodohan. Menahan pedih perih. Perempuan itu menjadi saksi terhadap dirinya sendiri, saksi akan kekejaman hidup. Mau tak mau, meniduri sepi. Meniduri sepi yang menggigit.

Hari ini, perempuan itu serba salah atas sikapnya sendiri. Sulit berkata ia untuk ia, dan sulit berkata tidak untuk tidak. Menolak enggan, menerima pun enggan. Menjadi abu-abu. Entah sampai kapan, perempuan itu tidak bisa melawan perasaan yang keliru. Ia perempuan dewasa yang berada dalam ketidakpastian.

Kini, perempuan ingin berhenti.
Lalu esok, apakah perempuan itu masih ingin berhenti dari hasrat yang menggoda? Yang terjadi, ia tidak diacuhkan. Sakit dan terdampar dalam kehampaan. 
Entah, perempuan itu akan menemukan jawabnya. 

Dan lagi, hari ini perempuan itu kembali berdansa dengan sebuah kekalahan. Menangis seorang diri dalam kesunyian diri.
Mungkin perempuan itu tidak pernah diinginkan malah tidak pernah dianggap ada! 
Mungkin dan sangat mungkin.

***
Rantauprapat, 07 Agustus 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Kamis, 05 Agustus 2021

Pernah Bukan Berarti

@kulturtava
...
Perempuan itu pernah gagal mengakhiri patah hati, bukan berarti harus selalu gagal. Ia benar perempuan dewasa yang payah bukan berarti tak bisa bertumbuh dengan riap. Saat lagi-lagi tak mampu menghambarkan diri dari keinginan-keinginan yang keliru, itu bukan bicara tentang  kesengajaan. Lebih kepada, sensitif yang kebablasan.

Saat cinta berujung salah perempuan itu pernah,
Membuat bumi gelap pada hari cerah 
Mengalami hari-hari yang pahit pedih
Seperti Burung yang terperangkap dalam jerat 
Juga seperti Ikan yang terperangkap dalam jala yang mencelakakan 
Bahkan bak gelembung dan Kupu-kupu yang sayapnya patah.

Kemudian, ketika perempuan itu gagal menerjemahkan cinta.
Ia pernah, 
Merasakan ratapan yang seharusnya tidak dirasakan 
Menjadi perusak dan membunuh ketenteraman hatinya
Menciptakan rahasia demi rahasia yang berbahaya di pagi dan malamnya. 
Bersimpuh dalam hasrat yang menggoda.
Bertahan dalam keegoisan.

Kemarin, ia mendapatkan percakapan yang berenergi.
Pernah bukan berarti harus selalu jatuh pada waktu yang malang. Sulit pasti. Tetap harus berusaha membaca diri sendiri. Mungkin perempuan itu terlalu kesepian. Bukan mungkin, ia sengaja melupa tentang hakikat hidup dan membiarkan dirinya tenggelam dalam kesepian. Seharusnya perempuan itu tidak begitu, begitulah saat tidak bisa berdamai dengan keadaan. 

Jatuh, patah, dan lesap dari kebenaran. 

Perempuan itu pernah bersama sebuah kisah tentang kekalahan. Pernah bukan berarti harus, harus selalu kalah-mengalah pada kemalangan.

***
Rantauprapat, 31 Juli 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Rabu, 28 Juli 2021

Sebuah Kisah tentang Kekalahan dan Perempuan Itu

@kulturtava
...
Menjadi perempuan dewasa yang bertumbuh, sungguh perempuan itu ingin. Hari ini, ia tidak berhasil menghidupi itu. Kekejaman kata yang diterimanya, buat ia layu dan mengering. Terasing dari penerimaan hidup. Jangan cengeng, berkali-kali ia mengucapkan itu. Tetap saja air mata memang ada di mata telanjangnya.

Perempuan itu kembali berdansa dengan sebuah kisah tentang kekalahan. Dibandingkan dengan perempuan lain. Sakit. Pun merasa tidak diterima. Entah sudah berapa banyak tanya di hidup perempuan itu, kenapa dan mengapa disabilitas ini melekat pada dirinya? Pertanyaan yang belum kadaluwarsa. Ia tumbuh dewasa tapi tidak seutuh dan sepenuhnya.

Hidup tapi sebenarnya mati. 
Mati tapi sebenarnya hidup. 
Entah kenapa pernyataan ini seolah menertawakan diri perempuan itu. Bodoh. Ini sebuah kisah tentang kekalahan dan perempuan itu. Ia terkadang tidak mampu menjaga kesehatan mentalnya. Sedang sakit, bersimpuh di dalam hamparan semu belaka. Berani memulai kisah baru yang tidak seharusnya dimasuki. Kemudian, membiarkan tamu masuk dengan melewati batas. 

Malam ini, perempuan itu tidak bersuka. Lari dan menjauh, benar-benar mau melakukan itu. Seandainya ia mampu, sayangnya itu mustahil. Andai yang tak akan pernah menjadi nyata. Perempuan itu bernada kebimbang raguan, ia berduka cita. Bagaimana mungkin, ia tidak terluka dan merasakan sebuah kisah tentang kekalahan jika harus menuai apa yang tidak pernah ia tabur. 

Lagi, perempuan itu bertikai dan membunuh ketenteraman hatinya sendiri. Lalu perempuan itu pergi bersama penyesalan, tak mampu memerdekakan hati sendiri. Hujan malam ini, seolah tak mengurungkan niatnya menggoda perempuan itu. Begitulah saat cinta berujung salah. Rasa yang kebablasan. Lebih tepatnya, sensitif yang kebablasan. Dasar perempuan itu.

Ya, begitulah.

***
Rantauprapat, 28 Juli 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Selasa, 27 Juli 2021

Menjadi Perempuan Dewasa yang Bertumbuh

@kulturtava
...
Aku tahu aku terbatas. Namun, tidak benar jika aku mengharapkan penerimaan lebih terhadap keterbatasanku. Tak akan ada yang benar-benar memberikan penerimaan,  tak akan ada yang benar-benar mengerti diriku kecuali diriku sendiri.

Saat ini, aku patah hati. Buatku menyenangi kesendirian. Memutar lagu-lagu melankolis yang beraroma sendu, bukan berarti aku melakukan hal-hal unfaedah. Aku tak akan putus asa, harus miliki kesadaran hati bahwa aku mampu berjuang dan menjadi perempuan dewasa yang bertumbuh dengan riap. 

Ah, entahlah. Sungguh aku takut, tapi memelihara ketakutan yang berlebih pun hanya akan menyusahkanku. Hari ini memang tidak ada cinta. Hari ini tidak ada cerita yang manis, belum tentu dengan besok atau lusa bukan. Hari ini memang seperti hari kemarin, sejarah yang tidak ingin kurasakan lagi-lagi mengunjungi ingatanku. Aku patah tapi aku tidak ingin membunuh kesehatan perasaanku.

Mengapa aku seberperasaan ini?
Mengapa aku serapuh ini? 
Karena aku perempuan dewasa yang terbatas yang membutuhkan ketidakterbatasan Tuhanku. 
Kalau aku masih bernyawa hari ini, berarti tugasku belum selesai di muka bumi. Aku tidak ingin membunuh Tuhanku karena tidak berhasil menghambarkan diri dari dosa yang merayu.

Ada atau tidak ada yang berbaris rapi untuk memberi penerimaan padaku, hari-hariku tetap harus kujalani. Aku adalah tuah rumah atas diriku sendiri, aku yang memilih untuk dikuasai apa. Dan aku memilih untuk berdamai dengan segala keberadaanku. 

***
Rantauprapat. 27 Juli 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Senin, 26 Juli 2021

Mengunjungi Ingatanku

@kulturtava
...
Lagi, lagi, dan lagi,  aku harus kalah dengan kemalangan. Hatiku basah sebab duka masa lalu kembali mengunjungi ingatanku. Namun kali ini, bukan hanya sekedar mengunjungi ingatanku malah lebih parah. Duka masa lalu kembali kurasakan. Aku kembali meniduri sepi, menyenangi kebencian. Mata telanjangku mengeluarkan air mata karena menangis pilu.

Aku tidak baik-baik saja saat ini. Terpuruk. Tidak ada damai sejahtera. Tidak ada ketenteraman hati. Kacau dan penuh kepalsuan. Tidak ada cinta yang kutemukan. Semua omong kosong. Benar-benar menyusahkan. Terlalu banyak cerita, terlalu banyak omong kosong. Penuh intrik. Penuh dusta. Terlebih malam ini, aku mengalami iklim yang buruk. 

Ketika sejarah  yang dahulu kembali terulang, ini bukti  bahwa cinta telah berujung salah. Aku merasa berduka, kehilangan arah. Kehilangan pada hal-hal yang mungkin tidak pernah kumiliki sebelumnya. Aku tak bisa membaca diriku dengan sungguh. Aku tak bisa mendefinisikan perasaanku dengan benar.

Malam ini, entah aku bisa memejamkan mataku. Terlalu marah, keadaan ini seolah menertawakan diriku. Entah sampai berapa lama, duka ini akan bertamu! Aku ingin memberontak tapi aku tak berdaya. Aku diliputi keterbatasan. Saat ini bukan hanya penerimaan yang tak kudapat, segala penerimaann pun sulit kuberikan bahkan terhadap kemalangan yang menggoda hatiku.

Tak ada cinta.
Tak ada senyuman.
Terserang sindrom keegoisan.
Aku perempuan dewasa yang payah.
Aku malah merayakan patah hati, karena kisah dan cerita dari sejarah yang dahulu mengusik pun mengunjungi ingatanku. Aku hidup tapi sebenarnya sudah mati. Mati dari linimasa kebahagiaan yang benar. 

Ah, aku ingin terpejam. Barangkali, esok terbangun dengan kesadaran hati. Barangkali saja. Mungkin, hatiku yang basah oleh genangan air mata sudah mengering.

***
Rantauprapat, 26 Juli 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Saat Cinta Berujung Salah

@kulturtava
...
Ketika yang perempuan itu meninggalkan duka luka. Tenang teduh menghilang. Berkata menerima tapi yang didapati sejarah yang dahulu kembali terulang. Cinta, cinta dan cinta. Seperti bualan belaka. Saat cinta berujung salah, maka tangis tak tertahan. Meski hanya dalam diam. 

Saat cinta berujung salah, harus kalah dengan kemalangan. Ketenteraman hati habis meleleh. Perempuan itu seperti ikan yang terperangkap dalam jala yang mencelakakan. Seperti burung yang terperangkap dalam jerat. Membuat bumi gelap pada hari cerah. Membuat hari cerah seperti malam yang pekat. Tanpa arah. 

Ketika perempuan itu memilih meninggalkan rekam jejak yang payah di hati, tegar teguh seolah kadaluwarsa. Terbawa suasana yang gelap. Tanpa oase, sesak. Keraguan, kekhawatiran akhirnya menduduki jiwa dan pikiran. Kesadaran hati perlahan-lahan lesap dan mati.

Saat cinta berujung salah ada suatu yang mematikan. Partikel udara tak lagi mampu memberikan energi yang positif. Buat jiwa terkontaminasi aura yang mudah jatuh pada kesia-siaan. 2021 tahun ini, saat cinta berujung pada kepedihan, terasa hambar. Warta yang seringkali menyusahkan kepala perempuan itu adalah patah hati dan narasi-narasi ketakutan yang berlebih. Buat hati dan pikiran alami peperangan. Menerima atau memberontak. Memaafkan atau berdamai dengan keadaan. 

Kemudian, membuat hari menjadi hari yang tidak bermakna. Saat cinta berujung salah, yang ada hanya ratapan dan kenyataan yang berujung amarah. Perempuan itu seperti gelembung dan Kupu-kupu yang sayapnya patah.

***
Rantauprapat, 25 Juli 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Selasa, 20 Juli 2021

Perempuan Itu Seperti Ikan yang Terperangkap dalam Jala yang Mencelakakan

@kulturtava
...
Perempuan itu hari ini.
Menimang dan memangku duka luka.
Menuai kecaman dari hal yang tidak pernah ditabur. 
Mengharapkan cinta, tapi yang menawarkan cinta, adalah cinta yang disertai kilatan LONGGUR. 
Menerima enggan. 
Menolak lebih enggan. 

Sial. Lagi dan lagi perempuan itu seperti ikan yang terperangkap dalam jala yang mencelakakan. Ia sulit menghambarkan diri pada kemalangan yang menggoda. Tidak diperdulikan. Terasing. Mau tak mau, perempuan itu harus menelan pedih hati. Lelah dan patah. Menjadi perempuan dewasa yang tidak bertumbuh dengan riap. 

Sejarah yang dahulu kembali terulang. Saat ini, perempuan itu menjadi saksi terhadap dirinya sendiri. Ia menjatuhkan rahasianya pada diksi. Juga dengan sadar kembali menginginkan hasrat yang berbahaya menghampiri.

Terlalu rapuh terhadap realita yang terjadi. Ketajaman dari ketidakadilan begitu menyakitkan. Ia terbawa ke tempat yang paling terpencil tanpa oase. Kemudian membuatnya merasa gelap. Malam seperti tak berlalu di hari yang cerah. Hu. Lelah.

Tidak ada cinta hari ini. Perempuan itu seperti Ikan yang terperangkap dalam jala yang mencelakakan. Tidak masa lalu, masa kini, apa lagi masa depan yang penuh teka-teki zaman yang payah, semua begitu rumit untuk diterima.

Perempuan itu tertipu dan membual terhadap dirinya sendiri.  Harus terlihat baik-baik saja. Hari ini tak mendapatkan cinta, besok seperti apa lagi?
Sepertinya hal yang beraroma manis selalu bersembunyi dari perempuan itu.

Kenapa perempuan itu yang selalu terasing dan terombang-ambing di sebuah kisah yang penuh prahara. Terjatuh dan tenggelam dalam kekalahan. Gagu, layu, dan merapuh. Akankah perempuan itu memiliki satu tempat yang bernama,  penerimaan yang benar-benar menerima? Mungkin nanti. Nanti yang berada di entah.

***
Rantauprapat, 20 Juli 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Sabtu, 17 Juli 2021

Seperti Burung yang Terperangkap dalam Jerat

@kulturtava
...
Bukankah hidup memang seperti itu. Penuh duka luka. Penuh kemalangan. Namun, saat gandum yang menaungi lorong hidup tak mampu memberikan keberterimaan. Maka labirin kehampaan akan menjadi bagian yang menduduki jiwa dan pikiran dengan dahsyat.

Ya, aku sedang menyasiksan sendiri bahwa ada seseorang yang mengalami hal seperti itu. Ada perempuan dewasa yang tidak seperti perempuan dewasa lainnya. Perempuan itu adalah perempuan yang melahirkan tangisan di detak air hidup yang dijalani. Kata Lo Ruhama di Mesopotamia semestanya, nyata tersorot di raut wajahnya. Terlebih saat dia butuh dimengerti akan keterbatasan yang melekat dalam dirinya.

Dia perempuan yang merasakan disabilitas fisik, walau tidak sepenuhnya nyata. Menimang ketidakberterimaan dari ketidakpastian yang sempurna, dari ketidakadilan hidup. Dia membiarkan dirinya terhempas karena tidak berhasil menghambarkan diri dari keinginan-keinginan yang keliru. Malah bermain-main dengan kemalangan, menjadi seseorang yang mengisi waktu luangnya pada hasrat yang berbahaya. 

Perempuan itu membuat bumi gelap pada hari cerah dan seperti Burung yang terperangkap dalam jerat. Bodoh dan tidak mengerti batasan. Bukan menjadi perempuan dewasa yang bertumbuh tapi menjadi perempuan yang berselimut hamparan semu belaka. Bersimpuh dalam keegoisan. Meniduri sepi dan merayakan hening yang teramat panjang.

Dan, bum! Lagi-lagi perempuan itu kalah saat aroma jelaga dan dosa itu merayu. Mengering dan layu pada bisikan demi bisikan yang sebenarnya belum tentu berujung pada kepastian. Dia berjalan dalam kegelapan karena mudah tergiur terhadap kekhawatiran yang berlebih. Dia perempuan yang tidak tenang teduh saat keyakinan hatinya lebih berpusat di zona yang salah, seperti zona dingin yang erotis. Entah berapa lama lagi, perempuan itu mengheningkan cipta terhadap self-awareness.

Mengapa sulit mengapresiasi diri. Perempuan itu seperti burung yang terperangkap dalam jerat. Dia berduka pada sesuatu yang sebenarnya bukan duka. Terlalu takut terhadap banyak hal. Sering bahkan teramat sering berkata :  Rest In Peace, my life. Banyak yang ingin hidup tapi dengan angkuh malah ingin mati dan membusuk seolah jiwa yang ada dalam diri perempuan itu dia yang punya. 

Apakah setelah melihat dan merasakan kemarahan Tuhan yang menyayat hati, baru perempuan itu sadar? Harusnya perempuan itu memaksa diri sendiri berbalik dari hujan yang menyapa. Bukan membinasakan diri dengan mengidap sindrom pembiaran apa lagi menyapa air hujan yang penuh nestapa yang berujung pada penyesalan yang tak termaafkaan.
Hu, sungguh aku berharap bahwa perempuan itu dapat berdampingan dengan kemalangan dan memiliki energi penerimaan, sehingga dia tidak lagi seperti Burung yang terperangkap dalam jerat.

***
Rantauprapat, 17 Juli 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Sabtu, 10 Juli 2021

Menghambarkan Diri pada Keinginan-keinginan yang Keliru

@kulturtava
...
Bagaimana dengan kemalangan? Dalam hidup pasti banyak kenyataan yang membuat diri merasakan kemalangan. Haruskah kalah-mengalah pada kemalangan yang menggoda. Oh, tentu tidak! Bukankah kita bisa memilih untuk tidak menyandarkan diri pada kegelapan yang berujung pada kepedihan.

Harus belajar menghambarkan diri dari kemalangan yang menggoda, pun terhadap keegoisan dan keinginan-keinginan yang keliru. Sulit, namun bukannya tak bisa.

Seperti ada tawa dan luka di dalam persimpangan perjalanan hidup. Kita tidak boleh larut dalam tangis karena luka itu bukan. Seperti itu pula dengan kemalangan yang menggoda, kita tidak boleh menyakiti diri sendiri karena menyerah kalah. Kita harus benar-benar berusaha untuk menghambarkan diri terhadap hal itu. Tentunya selagi kita masih bernafas dan selama bumi masih ada.


Dan, mari kita coba berdamai dengan keadaan. Mencoba menenteramkan hati. Mencoba mengerti, agar diri kita tidak menimang pahit pedih jika tidak mampu menghambarkan diri dari kemalangan yang menggoda. Ah! Biarlah kita bukan dengan sengaja mengundang hadirnya hujan kesalahan yang berselimut pada ratapan yang tidak termaafkaan.

***
Rantauprapat, 10 Juli 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Jumat, 09 Juli 2021

Membuat Bumi Gelap pada Hari Cerah

@kulturtava
...
Katamu, hidup bukan melulu tentang cinta. Lagi katamu, dunia bukan selalu tentang keberterimaan. Seperti halnya saat kau bercerita tentang cuaca yang mudah berubah, ibarat mendung yang tidak selamanya kelabu. Namun semua itu seperti bualan belaka saat kau tak menghidupi apa yang kau ucapkan. Dasar payah. Kau membuat dirimu kehilangan pada hal-hal yang bukan bagianmu. Kau menunggu cinta yang bukan menjadi cintamu.

Kau menemukan dan menjadikan seseorang kampung halamanmu padahal sesungguhnya seseorang itu adalah kampung halaman orang lain. Membuat bumi gelap pada hari cerah. Kenapa kau mencoba menggegam erat apa yang seharusnya tidak kau genggam? 

Kenapa kau harus pilu menyaksikan kesendirianmu, padahal di waktu lalu kau mengatakan bahwa kesendirian tidak selalu menjadi alasan seseorang untuk terpuruk. Kini, satu per satu perkataan yang pernah kau ucapkan hanya menjadi omong kosong. Omong kosong tentang apa itu kesadaran hati.

Jika sekiranya bisa, sudahi sikapmu yang seringkali menyusahkan dirimu sendiri. Lantas untuk apa membuat bumi gelap pada hari cerah. Menjadikan kesedihan terperangkap dengan nyata di matamu. Seharusnya kau mampu mengakhiri cinta yang bukan menjadi cintamu dan semestinya kau masih, bukan-bukan, kau harus mencintai dirimu sendiri dengan benar.

Dan, kembali lagi menghidupi apa yang pernah kau katakan. Perkataan yang berada dalam jalur yang tepat. Bukan dengan sengaja membuat bumi gelap pada hari cerah pun menjadikan kesendirian apa lagi ketidakberterimaan menjadi ancaman untuk menikmati hasrat yang berbahaya. Selagi kau masih memiliki hari ini, hargai keberdaaan dirimu sendiri dengan melakukan hal-hal yang sepatutnya. Sebab bisa jadi, esok bukan harimu lagi. Mungkin esok kau telah menjauh dan tiada. 

***
Rantauprapat, 08 Juli 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Rabu, 07 Juli 2021

Seperti Hari yang Pahit Pedih

@kulturtava
...
Untuk L! 

Pada satu titik, kau ingin berhenti. Ingin mati. Menangis dalam diam di pengapnya kamar kecil yang gelap. Entah apa yang merasukimu saat menginginkan hal itu. 

Tak ada ketenteraman hati.
Tak ada tenang teduh.
Begitu rapuh.
Seperti gelembung dan Kupu-kupu yang hilang arah.
Harimu seperti hari yang pahit pedih. 

Di suatu titik yang lain, kau ingin kembali hidup. Menjadi seseorang yang benar-benar hidup. Meninggalkan kepura-puraan yang harus terlihat baik-baik saja. Entah kapan dan suatu hari mana, titik itu akan kau hidupi. 

Kau sulit membaca dirimu sendiri. Seringkali kau membiarkan dirimu seperti sigaret yang dibiarkan menyala dan terbakar dengan sia-sia. Seperti halnya ketidaksukaanmu pada sunyi, namun kau harus meniduri sunyi dan terlelap dalam kesunyian.

Siapa dirimu? 
Bukan satu, dua kali kau tak mampu menjawab pertanyaan itu dengan benar. Kau menyerah kalah pada teka-teki zaman yang payah. Bertikai di ruang hatimu dengan banyak hal dan mau tak mau buamu berteduh dalam genggaman yang keliru.

Kau seperti berada di entah saat harimu menjadi seperti hari yang pahit pedih. Memilih pilihan yang tidak seharusnya. Namun kau seolah lupa atau sengaja melupa, seperti cuaca yang selalu berubah. Misalnya mendung tak selamanya kelabu. Seperti itu pula hidup tidak selalu mengenai kepatahan dan ketidakadilan hidup bukan. Jadi, jangan biarkan dirimu seperti cangkang kosong yang bergemuruh dan merasa hari-harimu akan menjadi hari yang seperti hari yang pahit pedih.

L, bisakah kau menjadi seseorang yang membaca dirimu dengan baik?
Tidak menjadi lebih rumit dalam hal-hal yang belum tentu berujung pada kepastian. Ah, semoga saja. 

***
Rantauprapat, 07 Juli 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Aku, Kamu Gagal Menjadi yang Pernah Terpikirkan

@kulturtava
...
Mau melakukan apa lagi, jika kebersamaan pun keberterimaan tak lagi kembali. Hanya bisa pasrah walau sebenarnya ingin memberontak. Terdiam membisu, bersama air mata yang berlinang. Aku tidak lagi menjadi selalumu, kamu pun mau tak mau tidak lagi menjadi selaluku. Aku, kamu gagal menjadi yang pernah terpikirkan.

Ada kejahatan hatiku terhadapmu, ada umpatan keji yang terlepas dariku untukmu. Aku tahu itu keliru, tapi aku tak bisa menahan diri dari kesukaran yang kamu timbulkan. Apakah aku/kamu hanya sebatas pernah saling cinta? Saling menaungi? Namun luka hati ini sulit untuk disembuhkan. Buatku rapuh dan jatuh pada dosa yang merayu.

Ya. Jika kebersamaan pun keberterimaan tak lagi kembali. Tak lagi ada saatnya untuk kita. Semua hanya omong kosong. Hanya dusta. 

Kepergiaan keberterimaan darimu, buatku fasih dengan duka luka. Buatku bertemu dengan kemalangan. Karena harapan yang kubangun terhadapmu terlampau besar. Aku mengeluh dan berkata: kenapa aku memberikan kepercayaan terhadapmu! Meletakkan kebahagiaanku padamu.. Kita tak lagi mampu berjalan beriringgan, walau aku ingin terus bersama.

Sejak ada jurang yang tak terseberangi di antara kita, aku ingin melupakanmu. Namun, hingga saat ini, aku belum mampu melakukan hal itu. Kamu adalah relasi yang terjalin pada musim hidupku dengan sangat intim. Payah memang. Ah, mungkin aku bersimpuh di dalam hamparan semu belaka. Bertahan dalam harap yang seharusnya tidak kulakukan.

Aku lelah.
Aku ingin berhenti.
Pada kenyataannya, mengeluhkan ketidakadilan ini tetaplah hanya kesia-siaan. Aku menjadi penipu, berbohong pada diriku sendiri, mengatakan bahwa aku baik-baik saja, padahal tidak sama sekali. Aku salah, harapanku kembali patah. Hilang dalam kesepian.

Hu. Jika kebersamaan pun keberterimaan tak lagi kembali. Jika aku, kamu gagal menjadi yang pernah terpikirkan. Hal itu  sangat berbahaya. Ini bukan tentang beromantika semata.  Ini tentang ketidaktahuan akan disabilitas nurani dari disabilitas fisik yang melekat dalam diri. Buatku sepi, sendiri, terasing. Aku lenyap dari ketidaksempurnaan yang nyata. Tak utuh. 

***
Rantauprapat, 26-27, 29 Maret 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Selasa, 06 Juli 2021

Lagi, Perempuan Itu Gagal Mengakhiri Patah Hati

@kulturtava
...
Andai keberterimaan benar-benar perempuan itu miliki. Andai disabilitas yang melekat padanya tidak menyusahkan dirinya sendiri. Ah, hidup memang penuh teka-teki zaman yang payah. Seringkali ia ingin mengakhiri patah hati yang merayu, tentunya patah hati yang bukan  karena romansa asmara. Yang terjadi adalah, lagi-lagi perempuan itu gagal mengakhiri patah hati yang merayu dirinya. Ia, tak bisa menolak layu. Tak bisa menolak kehampaan.

Ia, mengulang kisah dan kebodohan yang dahulu. Keterbatasan dan kesendirian buat perempuan itu mudah menyerah pada hasrat yang menggoda pun berbahaya. Dasar bodoh. Menikmati hujan yang bukan milik perempuan itu. Ketika kesadaran  hati mendekat, perempuan itu menyesal. Bertanya, kenapa harus basah oleh hujan? Membiarkan diri disetubuhi oleh angin liar, hu. 

Malangnya, perempuan itu seakan lupa bahwa perihal hidup bukan ia pemilik hidup. Karena, ketika patah hati lagi-lagi merayu,  ia tetap saja menjadi perempuan dewasa yang payah lagi aneh. Menikmati hasrat yang berbahaya. Di satu sisi, ia menjadi cerita dan mengajarkan bahasa yang benar. Di sisi yang lain, ia adalah pelaku dan terdakwa dalam sebuah adegan yang penuh episode panas, penuh duka luka. Terpeleset dan sulit melepaskan diri dari episode ini.

Ia merasa tidak penuh, tidak hidup atas hidup yang diberikan. Tidak menikmati hidup dengan sentuhan cinta yang benar. Perempuan itu ingin memiliki hidup yang bermetamorfosis dengan penerimaan. Ia tak lupa, ia masih perempuan biasa yang penuh keterbatasan yang membutuhkan ketidakterbatasan Sang Maha Sempurna. Sang Pemberi Hidup. Sesungguhnya, perempuan itu benar-benar ingin berhenti dan menyudahi kisah yang penuh sedu sedan dan duri kekhawatiran yang berlebih.

Secepatnya, perempuan itu hanya berharap mampu dan bisa mengucapkan selamat tinggal pada kebodohan hati. Merayakan kemerdekaan hati yang benar merdeka. Memiliki pagi dan malam yang baik lagi merdeka. Sekalipun masih menyasiksan sendiri bahwa hidup yang dilalui penuh disabilitas,  pun kesendirian masih saja menganga, perempuan itu sungguh berharap tidak lagi gagal mengakhiri patah hati yang menduduki sebagian jiwa dan pikiran. 

Akankah hasrat yang menggoda tidak lagi menyesatkan perempuan itu? Akankah ia mampu melepaskan diri dari berahi yang merayu? 
Entahlah

***
Rantauprapat, 06 Juli 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Jumat, 23 April 2021

Pada Segala Patah Hati, Aku Ingin Memiliki Penerimaan

@kulturtava
...
Bukan pernah aku sengaja mengingini mengalami kerumitan pun patah hati. Merasakan ratapan pun hari-hari yang aneh. Ya, begitulah hidup. Apa yang tak pernah diinginkan malah menjadi dan memiliki. Dan parahnya itu mengenai patah hati.

Ah. Selama bumi masih ada. Selama aku masih bernafas. Selalu ada luka dan patah hati. Aku pun tak ingin berlama-lama untuk menyangkal itu. Hari ini, terlebih dari sore hingga malam beberapa jam tadi, aku sulit memelihara diri dari kesukaran. Ada keterasingan yang terasa. Huruf-huruf mati seketika merasuk dalam jiwaku. Tak ada lagi cinta malam ini. Tak ada lagi kesediaan untuk dipahami. Tak ada lagi rindu. Entah mengapa, patah hati ini terjerembab pada jiwa dan pikiranku.

Menyebalkan memang. Patah hati karena lagi-lagi ada insinuasi yang kuterima. Begitu pedih. Sejarah yang dahulu kembali terulang. Ingin melepaskan diri. Ingin memberontak, tapi tak berdaya. Inilah ketidakpastian yang sempurna. Teka-teki zaman. Ketidakadilan hidup, penuh ilustrasi yang penuh kepalsuan. 

Namun aku tahu, jika terus berkutat pada patah hati, aku yang terluka. Aku paham, patah yang kurasakan ini, buatku menyadari bahwa aku terbatas dan membutuhkan ketidakterbatasan Sang Maha Sempurna di duniaku. Hingga pada segala patah hati, aku ingin memiliki penerimaan. Belajar menerima kenyataan untuk menerima segala patah hati, sekalipun itu berasal dari gandum yang ada di hatiku. Tidak seharusnya dan tidak benar, jika karena keterbatasanku, aku menuntut lebih atas penerimaan yang kubutuhkan.

Karena hanya aku sendiri yang bisa mengontrol segala rasa yang bergemuruh di jiwaku. Aku sendiri pula yang bisa menyelamatkan kesehatan perasaanku. Dan hanya aku yang bisa mengalahkan patah hati dan mengalami tenang teduh. Sungguh, aku benar-benar tak ingin memiliki perkelahian dengan diriku sendiri. Apa lagi mengalami rasa dari kata Lo Ruhama di Mesopotamia kehidupanku.

***
Lusy Mariana Pasaribu 
Rantauprapat, 23 April 2021

Minggu, 18 April 2021

Lagi, Perempuan Itu dan Sebuah Kisah tentang Kekalahan

@kulturtava
...
Ya, perempuan itu ada di sana. Di dalam rahasia yang tak ingin diketahui. Ada penyesalan yang tak termaafkaan. Saat ia tidak menerima penerimaan, saat ia tidak lagi memahami dirinya sendiri, entah kenapa ia jatuh pada godaan yang merayu. Menikmati waktu senggangnya bersama ratapan lagi hasrat yang bukan milik perempuan itu.

Ada relasi yang terjalin, namun tidak seharusnya terjalin.

Hingga malam kedelapan belas bulan keempat, perempuan itu terhempas. Ia lagi-lagi menerima kenyataan bahwa ia tidak pernah terpilih. Bodoh memang. Getaran kekecewaan segera tumbuh di hati perempuan itu. Ia sadar dari awal telah bermain-main dengan kemalangan. Salah dan keliru. Kalah-mengalah untuk hal yang tidak seharusnya.

Ini sebuah kisah tentang kekalahan perempuan itu. Bukan memelihara diri dari kesukaran, malah menjadi lalang pada gandum yang ia miliki. Perempuan itu menjadi pelaku sebuah kedzoliman, untuk mati di pekuburan sepi. Melarikan diri dari kesedihan yang menjalari dengan menikmati hasrat yang berbahaya, hanya semu. Kini, terjatuh dalam lubang kekalahan yang paling menyakitkan. Tersesat di hutan sendu. Ah, perempuan itu telah mengalami kekeringan hati.

Perempuan itu bersembunyi di balik kata lugu. Saat ini, ia dilingkupi ketakutan. Ia marah, kecewa, akan apa yang telah dilakukan. Begitu bodoh. Begitu picik. Menyia-nyiakan cinta demi cinta yang penuh kedurjanaan. Perempuan itu muak pada diri sendiri. Belindung atas nama kelemahan, namun pada kenyataannya, kelemahan itu adalah alat untuk menerima tingkah laku yang menjijikkan. Dan itu dengan sadar dinikmati. Lagi, perempuan itu menciptakan kisah tentang sebuah kekalahan. Hu, ia menagisi kebodohan diri sendiri. Menjadi seseorang yang terasing dan keparat. Payah.

Selepas malam ini, perempuan itu ingin pulang dan berbalik arah dari arah yang menyesatkan. Tidak lagi mencumbui apa lagi bersekutu dengan rentetan kemalangan. Sungguh, perempuan itu telah kalah dan benar-benar ingin mengalami metamorfosis ke dalam pemulihan yang benar.

***
Lusy Mariana Pasaribu 
Rantauprapat, 18 April 2021

Sabtu, 10 April 2021

Tuduhan Terselubung, Begitu Pedih

@kulturtava
...
Ada insinuasi yang kuterima darimu. Begitu pedih. Aku tak bisa menahan diri dari kesukaran yang kau berikan. Kembali aku pada hujan deras yang paling deras. Rekam jejak yang menyakitkan perasaanku ada hari ini. Sejarah yang dahulu kembali terulang. Yang kutuai adalah semak duri.

Tuduhan terselubung/insinuasi tentang pikiranku, buatku jatuh pada dosa yang merayu. Benci, marah, kecewa, sendiri. Ah, kenapa harus aku yang berbeda. Ini sebuah kisah tentang kekalahanku. Aku tidak baik-baik saja. Bahkan untuk memahami diriku sendiri, itu tak bisa kulakukan. Terlalu sakit atas apa yang kudengar.

Sudahlah, aku yang keliru. Aku yang selalu salah. Untuk apa bertahan dalam harapan. Harapan dipahami olehmu, diriku sendiri pun tak mampu memahami diriku. Aku benar-benar ingin beranjak, menjauh sejauh-jauhnya darimu. Walau aku tahu, itu akan menyulitkan. Namun sepertinya tak ada beda, kau tetap ada atau tidak,  aku tetap terluka. Tak terlihat dan terasing.

Lagi, aku harus kalah dengan kemalangan. Dingin sudah kembali menjalari relasi antara aku dan kau. Aku lelah. Butuh menepi dan berdiam diri. Beristirahat darimu. Tak ingin mata telanjangku basah oleh genangan air, namun aku gagal untuk itu. Ada patah hati yang menduduki jiwa dan pikiranku. 

Kubiarkan hasrat yang salah bertamu di hatiku. Jatuh pada ratapan yang seharusnya tidak kurasakan. Menikmati hujan yang bukan milikku. Aku tak lagi menjadi diriku. Entah sampai berapa lama lagi, aku harus menanggung duka luka ini. Sudah lama sekali, aku terpaksa untuk terbiasa mempersiapkan diri atas trauma psikis yang mau tak mau harus kualami. Jika sekiranya kesendirian ini tak pernah ada. Jika sekiranya keberterimaan sungguh ada. 

Disabilitas ini sungguh menyulitkanku. Begitu pedih, menyesakkan. Insinuasi yang kuterima adalah rekam jejak yang menyakitkan.
Andai kau tahu. 
Sungguh aku tak pernah ingin berbeda.
Tak ingin memiliki disabilitas.
Tak ingin patah atas yang terlihat dan terdengar olehku. 
Mungkin kau tak akan pernah tahu, karena mungkin sebenarnya aku tak pernah kau anggap ada. 

***
Rantauprapat, 10 April 2021
Lusy Mariana Pasaribu

Sabtu, 27 Maret 2021

Perempuan Itu dan Sebuah Kisah tentang Kekalahan

S2222s2sssss22222222s
@kulturtava
...
Untuk perempuan itu,
Ah, dia marah, kecewa dan berantakan.
Lupa pada kebenaran. Saat dosa itu merayu lagi, dia menikmati waktu bersama kemalangan. Dia kalah pada kenyamanan semu. Mengalah pada dosa.

Perempuan itu jatuh pada persinggahan yang salah. Menawarkan luka yang menyakitkan untuk diri sendiri. Dia sekarat, tunduk tanpa memberontak. Berulang-ulang menikmati waktu luangnya pada hasrat yang menggoda. Sebuah kisah tentang kekalahan perempuan itu. Sungguh-sungguh payah dan angkuh.

Dia sedang merana. Detik, menit, jam, dan hari ini sebuah kisah tentang kekalahan ada pada perempuan itu. Sore ini hujan jatuh, bernada tangisan. Kekalahan ini terlalu berat untuk dia, namun apa daya. Dia rela tersesat di hutan sendu demi lapisan kebodohan. Kembali terjaga. Malu dan penuh umpatan. Mencampakkan kesadaran. Memusuhi sesuatu yang tak seharusnya dilakukan. Dasar bodoh.

Sebuah kisah tentang kekalahan. Memperkosa makna hidup yang benar hari ini. Dilumat jerit keegoisan. Menebar kekacauan. Menimbulkan badai dan mematikan. Perempuan itu bersengketa pada hasrat yang bukan milik dirinya sendiri. Menjelma debu, tak merasakan keteduhan pun kedamaian.

Perempuan itu kembali diam, terlelap dalam duka. 

***
Rantauprapat, 24 Maret 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Jumat, 26 Maret 2021

Kamu Gagal Menjadi yang Kupikirkan

@kulturtava
...
Ketika kamu bersikap yang tak seharusnya, menciptakan jarak yang melebar antara kita. Pun memberi jurang yang tak terseberangi. Kamu gagal menjadi yang kupikirkan. Ada peta yang berbeda kini. 

Ternyata, semua hanya omong kosong tentang rasa sayang yang kamu ucapkan. Rekam jejak yang payah pun tercatat di semestaku karenamu. Sepertinya kehadiranmu itu telah direncanakan dan itu hanya untuk memberi rasa sakit.

Kamu gagal menjadi yang kupikirkan. Dang tarpilit au di ho. Ho pe dang tarpilit di au. Ya, kamu/aku tak lagi terpilih untuk menjadi kita. Tak lagi menjadi air yang tenang.

Dahulu, aku sungguh ingin menjadi selalumu. Kini tidak lagi. Sebuah cara melupa akan kulakukan agar kisah kita benar-benar kulepaskan. Walau sebenarnya itu sulit. Terpaksa lalu terbiasa. Terhadap ketakutan dan kesedihan yang terperangkap dalam mata telanjangku, aku akan coba memaafkanmu. Memanggil ketabahan dan keberanian juga kebahagiaan. 

Teruntuk A, terima kasih sudah membuatku tersandera oleh untaian kata-kata manismu. Menghempaskan rasaku pada kesia-siaan. Bersama air mata, aku harus melarikan diri dari harapan untuk bersamamu. Ah, tentang kita. Aku sudah benar-benar kalah.

Walau karena kepayahanmu, sejarah yang dahulu kembali terulang. Dengan sadar. Aku berjanji perempuan, aku tidak akan menahanmu untuk bertahan dalam keegoisan karena aku. Kamu telah gagal menjadi yang kupikirkan, tidak ada perasaan cinta yang didapatkan. Hu, dan untuk kita ternyata satu hanya peribahasa.

Begitulah tentang cinta, ada yang memulai, ada yang mengakhiri. Menjadi namun tidak demikian dengan memiliki.

***
Rantauprapat, 23 Maret 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Dingin Menjalari Percakapan Kita

@kulturtava
...
Inikah yang dinamakan bertahan dalam keegoisan. Bertahan dalam harap. Sudah tahu, ada hati yang ingin berpisah. Sudah tahu, tak bisa menerima keseluruhan diri, kenapa memaksakan diri untuk bertahan.

Ada amarah. Lama sudah, dingin menjalari percakapan kita. Terlalu takut. Terlalu rapuh. Buatku jatuh pada dosa yang merayu. Payah memang. Sudah jelas yang kau mau, aku tak ingin menganggu dirimu lagi. Kau gagal menjadi yang kupikirkan.

Rekam jejak yang menyakitkan ada di hatiku. Keinginan mataku telah berhenti darimu, tak lagi menjadi selalumu. Hari ini, dengan sadar aku menjauh dan melangkah ke arah yang berbahaya. Ada sebuah kisah tentang kekalahan yang kulakukan.

Dingin yang menjalari percakapan kita buatku alami dilema. Kekalahan rasaku. Dan yang kutuai adalah semak duri. Mempertanyakan, kenapa kau semudah itu menyerah dan berhenti dari kisah kita? Mengakhiri semua kenangan, dan berakhir di bulan Maret, bulan kelahiranku. 

Ah, hanya bisa meniduri sepi. Menjadi tapi tidak memiliki. Merasakan tapi berujung ratapan. Sepertinya tentang kita, memiliki tidak berpihak padaku.

***
Rantauprapat, 25 Maret 2021
Lusy Mariana Pasaribu