Sabtu, 31 Desember 2022

Bersemi dan Layu Seperti Kembang

@kulturtava
...
Hu, kamu adalah penyesalan yang berulang. Hatiku bersemi dan layu seperti kembang untukmu. Hari ini pun kaucampakkan aku ke air yang dahsyat. Dengan sadar dan sengaja, memberi tatapan dan ucapan yang tak bermakna. Percakapan yang tidak berenergi ada karenamu.

Aku pernah rela kehilangan demi kebahagiaanmu, hahaha, saat kamu kembali tidak tahu diri, aku menertawakan kebodohan itu. Ternyata suatu kesalahan memberi mutiara pada bab*, ada perumpamaan itu. Aku memikirkan kesejahteraanmu, tapi kesejahteraanku bukan kesejahteraanmu. Relasi yang menjijikkan!

Hari ini menjadi Sabtu dan malam yang basah, aku kecewa. Aku ingin benar-benar menjalani hidup tanpa kamu. Realita dan fiksi yang tidak terbaca.

Antara aku dan kamu, banyak dosa yang merayu. Membiarkan kemalangan meraja, patah hati yang menduduki sebagian jiwa dan pikiran. Sebenarnya, ingin menjadi manusia yang tanpa hati dan kepala terhadap kamu, tapi tetap tidak mampu. Hanya berulang kali mengumpat untukmu!

Malam ini, aku seperti pohon anggur yang tidak riap tumbuhnya. Mungkinkah, selepas pergantian hari ini, kamu berubah atau aku akan tetap layu seperti kembang terhadapmu? Aku tak bisa memastikan. Aku hanya berharap tetap mampu dan bertahan saat harus ada bersamamu, sampai saat tiba waktunya, kamu'akan benar-benar pergi dan lenyap dari semestaku. 

***
Rantauprapat, 31 Desember 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Rabu, 21 Desember 2022

Seperti Batu ke Air yang Dahsyat

@kulturtava
...
Pada hari yang kedua puluh lima bulan kesebelas tahun itu, kaucampakkan perempuan itu ke air yang dalam, seperti batu ke air yang dahsyat.

Ternyata kamu datang sebagai tamu yang memberi rasa sakit. Tenaga perempuan itu seketika menghilang, bahkan untuk bernafas terengah-engah. Patah hati terperangkap dalam jiwa perempuan itu, ternyata tidak sesederhana mengenai kamu. Ada rasa sesal di hati perempuan itu, mengapa kamu begitu menyusahkan ? Bertahan lama pada rasa dan ketidakhati-hatian adalah kesalahan yang teramat. Semakin terasa sulit.

Barangkali tak pernah ada cinta untuk perempuan itu, hanya kepalsuan belaka. Bermain-main dengan kemalangan pada waktu luang. Tak pernah benar-benar ingin menjadi, 

Kamu dan perempuan itu adalah suatu kesalahan, kesalahan yang selalu dikompromi. Mengapa sulit? Kamu pernah memberikan tenang teduh kemudian kamu hantarkan perempuan itu ke tempat yang paling sunyi. Kembali kalah dan tawar hati.  Kamu seperti duri yang menusuk lambung perempuan itu.  Persembunyian dengan kamu, selesai sudah. Menjadi hambar.

Jika tanpa kamu, mau tak mau perempuan itu akan kembali menyimpan rahasia seorang diri. Tak ada lagi sayang, tak ada lagi rindu. Berakhir sebagai daun jatuh perihal mengeja perasaan tentang kamu. Antara kamu dan perempuan itu ada penyesalan yang tidak termaafkan. Kamu itu bukan rumah, dan perempuan itu juga bukan rumah bagi kamu. 

Perempuan itu ada dalam waktu kebodohan ketika mengizinkan kamu ada di hati. Kamu pria pinokio, pria yang melululantakkan perasaan bahkan harapan yang disemogakan. Barangkali sebenarnya, perempuan itu adalah ketidakpantasan yang kamu inginkan saat kamu ingin. 

***
Rantauprapat, 25 November 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Kata-katamu Seperti Angin yang Menderu

@kulturtava
...

Kamu mengulang kesalahan yang sama, menanam perih yang sengaja kulupa. Kata-katamu seperti angin yang menderu. Penuh kepalsuan. Aku sangat-sangat tidak nyaman bahkan tidak bisa berpura-pura baik-baik saja saat ini.

Terluka. Lagi, kamu pecundangi aku. Apakah kamu pernah menyesal sudah membunuku berulang kali, aku sudah lama mati untukmu. Barangkali tidak sama sekali, toh hari ini terjadi lagi dan lagi. Seperti batu ke air yang dahsyat, kaucampakkan aku. Tidak berakal, tidak tahu diri. Dengan sengaja dan sadar, mengajak pun memancingku jatuh pada dosa yang merayu. Benar-benar marah dan ribuan huruf-huruf umpatan terucap.

Patah hati. Sudah seperti kali yang habis airnya, kering kerontang. Menyakitkan. Sampai penghujung tahun, barangkali aku belum mampu bersih-bersih terhadap apa yang kamu tabur padaku. Bagaimana ketahananku, mau tak mau, rela tak rela, harus tahan. Ini paradoks hidupku. Entah aku pernah memaafkanmu, yang pasti aku membencimu.

Bersamamu aku terluka, apakah tanpamu aku tetap terluka? Kuharap tidak. Sudah terlalu lama, ada badai hebat sebab mendengar kata-katamu yang seperti angin menderu. Kuping dan hatiku panas. Di penghujung tahun, hatiku terpasung dari kesejahteraan untukmu. Apakah suatu hari nanti, akan berubah? Belum tahu jawabannya. Bisa jadi ada satu kisah manis yang tersimpan di kepala. Saat itu terjadi, aku akan buat pengakuan bahwa kamu pernah menjadi hal yang baik di semestaku. 

Aku pun akan memaafkanmu!

***
Rantauprapat, 21 Desember 2022
Lusy Mariana Pasaribu

Jumat, 25 November 2022

Kata-kata yang Tersimpan di Kepala

@kulturtava
...
Kata-kata yang Tersimpan di Kepala

Untuk pria itu, sebuah kisah yang disembunyikan dalam diam. 

Seringkali kamu sesukamu berbuat, tak ada kesopanansantunan. Menghakimi tanpa tahu latar belakang yang sebenarnya. Mungkin benar hak kamu, tapi jangan abaikan kewajibanmu. 

Ada yang terpinggirkan karena penjara otoritasmu.  Bukankah memiliki pengertian dan penerimaan bukan suatu dosa. Bersamamu, ada cinta dan amarah yang terkadang tak bisa dibedakan.

Ingin marah, mengumpat tapi sadar itu tidak menambah sehasta apa pun dalam hidup. Kamu pria yang memperlakukan tebang pilih, seperti aljabar dalam hidup. Terkadang menambah nilai hidup, terkadang mengurangi nilai hidup.

Tak pula menggurui pria itu,  hanya menuliskan prosa tentang kata-kata yang tersimpan di kepala.

Malam ini, karena pria itu, ada perempuan yang tidak tenang teduh. Sulit mengelola perasaannya. Ingin mengenyahkan kamu dari rasa sakit di hati pun pikiran.  Perempuan itu tidak pernah ingin pamit pergi, namun kamu memberikan ruang untuk pergi sebebasnya.

Bolehkah menuliskan, kamu pria yang tidak tahu diri. Boleh saja barangkali, toh sudah tertulis.

***
Rantauprapat, 25 November 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Selasa, 08 November 2022

Cerita Perempuan Itu yang Penuh Persembunyian

Pexels.com
...
Akhir-akhir ini,  perempuan itu tidak bersenyawa dengan penerimaan. Penuh persembunyian, sunyi sepi merajai hati. Penuh sesak. Entah apa yang harus dilakukan, circle perempuan itu darurat damai sejahtera. Ingin keluar tapi mustahil. Barangkali ini efek dari disabilitas nurani. 

Hari itu tidak ada cinta, hari ini pun demikian.

Banyak penyihir di persembunyian perempuan itu. Sulit menghindar dari dosa yang menjerat. Sikap dan ketidakhati-hatian berkuasa, kata-kata buat perempuan itu alami kematian. Jiwa dan kesehatan perasaan pun menjadi tak tenang teduh. Memilih untuk tidak memilih adalah kandidat terkuat pada keputusan perempuan itu malam ini.

Mau tak mau, rela tak rela, perempuan itu harus menjadi dewasa perihal managemen memaafkan.

***
Rantauprapat, 08 November 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Sabtu, 29 Oktober 2022

Khianat, Khianat

@kulturtava
...
Tidak mudah melepas kebencian, selepas khianat nyata. Cinta yang pernah berbuah, diterlantarkan dan menjadi masalah. Harapan yang disemogakan pun hancur.

Khianat, khianat. Hidup sudah rumit, semakin sulit dengan kemalangan karena khianat. Tak ada daerah bahagia hari ini, mungkin setelah matahari terbenam barangkali.

Ada hujan di halaman hati, menyesakkan. Lesap dari kesadaran diri, buat luruh dan mengeluh. Mengeluarkan kata-kata pedas, tak mampu menggugurkan helai-helai kesedihan. Gagal memerdekakan hati dan pikiran. Bagaimana nafas seolah tidak terputus, batuk terus mengganggu buat derita. Ada yang berkata, jangan terlalu banyak pikiran. Tak kunjung berhasil dilakukan.

Di sebuah pagi waktu hujan, di selasa terakhir bulan ini, ada perut yang tidak diisi karena khianat. Hidup oh hidup, selalu penuh drama. Ini tentang kesadaran ditinggalkan pergi, khianat dan khianat terjadi. Tak lagi melihat diri sendiri dengan benar, menjadi asing seasing-asingnya. 

Pagi ini seperti malam yang penuh gelisah, banyak persembunyian. Hu. Khianat, khianat buat terhenti dari kepercayaan. Di suatu hari yang entah, masih ada kah pencerahan? 
Semoga. 

***
Rantauprapat, 25 Oktober 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Catatan Perempuan Itu di Sabtu yang Basah

@kulturtava
...
Ini bukan tentang apa yang perempuan itu mau, ingin menjauh dari kebisingan. Berada di entah jauh lebih baik bagi perempuan itu tapi tak kuasa atas keinginan untuk merdeka. Tak ada rumah ramah yang memberi penerimaan, hanya kepalsuan yang nyata. Pagi ini perempuan itu kembali dalam perjalanan sedih. Penolakan dan dipersalahkan.

Ia marah pada keadaan, kenapa harus disabilitas? Membiarkan kehampaan dan kegelapan meraja. Lo ruhama di mesopotamia sepi dan sunyi. Tak ada tempat yang bisa dituju, tak ada tempat untuk pulang.

Perempuan itu seperti orang asing bagi dirinya sendiri.

Hari ini, ada patah hati di penghujung minggu, ada hujan air mata. Menjadi sabtu yang basah. Sikap yang di dapat perempuan itu buat luka terdampar di hati dan pikiran. Luka hari ini begitu sulit untuk dilupakan. Anj*ng saja tahu sikap berterima kasih tapi circle perempuan itu adalah kebalikan. 

Ini tentang catatan perempuan itu di sabtu yang basah. Menjadi korban kebodohan dan khianat menjadikan diri sebagai pelaku dan terdakwa kejahatan kelas berat. Hidup ini benar-benar tidak sopan pada perempuan itu. Ya, begitulah kenyataannya bahwa perempuan itu seperti gelembung dan kupu-kupu yang sayapnya patah di sabtu yang basah hari ini.

Sakit, kecewa, perempuan itu tidak pernah punya pilihan untuk memilih. Apa lagi yang akan terjadi selepas hari ini, haruskah tetap berpura-pura kuat dan baik-baik saja? Entahlah, Sejujurnya begitu sulit untuk mengenyahkan fakta yang sebenarnya.

***
Rantauprapat, 29 Oktober 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Minggu, 23 Oktober 2022

Yang Hilang dalam Cinta

@kulturtava
...
Berawal dari iseng, berakhir pada kepalsuan. Bermesraan dengan kata-kata manis yang sebenarnya tidak. 

Ketidakjujuran, hasrat yang menggoda. Ada gunung es kekerasan terhadap relasi, pagi ada di mana, malam ada di mana. Hati di mana, pikiran di mana, ada di entah tak pernah satu frekuensi. 

Entah sengaja atau tidak, membiarkan diri jatuh dan merayu. Yang hilang dalam cinta, membiarkan kepedihan berkuasa meraja. Kepedihan yang disengaja.

Mengabaikan nada-nada teguran yang bersenandung di hati dan pikiran. Tak mampu bertahan pada satu cinta, memberi ruang pada cinta yang lain.

Yang hilang dalam cinta, mencintai seseorang yang sudah tahu kesalahan,  berakhir tanpa pemenang. Kesia-siaan. 
Pada akhirnya, ada orang asing yang tahu kebusukan yang terjadi.

***
Rantauprapat, 23 Oktober 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Ini Bukan tentang Apa yang Perempuan Itu Mau

SHUTTERSTOCK
...
Payah, perempuan itu tidak menjaga ketenangan. Tidak berhasil mengatasi overthingking, malah cemas berlebihan. Makin terbenam dalam kekalahan. Menuntut penerimaan tapi tidak pula memberi, mau dimanusiakan tapi tidak sebaliknya.

Selalu optimis melihat selumbar di mata orang yang tidak tepat di hati, mengabaikan balok di mata perempuan itu sendiri. Kata-kata yang tidak berenergi merajai, seolah hanya tersakiti. Masih belum berhenti bermain-main dengan waktu yang senggang. 

Ini bukan tentang apa yang perempuan itu mau, bukankah tidak ada hidup yang selalu baik-baik saja. Banyak persembunyian, ketidakhati-hatian bahkan ketidakadilan. 

Perempuan itu harus memilih, bagaimana cara untuk mengelola dan menyelamatkan diri sendiri. Jika selalu jatuh pada godaan dosa yang merayu lagi menarik, akan mematikan kehidupan perempuan itu. Perlu membumikan diri dengan kenyataan hidup. Tak semua hal yang perempuan itu mau, harapkan, dan butuhkan harus dan benar-benar menjadi dalam hidup. 

Hidup ini bukan tentang apa yang perempuan itu mau,. Mau tak mau , harud dan harus belajar menghapus buterfly effect "berbeda" dan selalu dimengerti. Perempuan itu tidak boleh mengabaikan kenyataan bahwa hidup penuh teka-teki dan bukan stand up comedy apa lagi candaan belaka. 

Tak boleh mati dan lesap bersama kecemasan yang berlebih. 

***
Rantauprapat, 20 Oktober 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Selasa, 18 Oktober 2022

Lingkaran Kelam Bidadari Tanpa Sayap

@kulturtava
...
Tadinya kamu dijadikan bidadari tanpa sayap, memberikan ruang yang layak huni, penuh tawa dan tenang teduh. Pernah lama terharu akan kebaikan hati itu. Kini, bidadari tanpa sayap seperti kamu benar-benar berlayar pada kata entah. Mengecewakan.

Ternyata seperti ini yang menjadi realita. Ya, kamu adalah lingkaran kelam bidadari tanpa sayap. Memberi ekspektasi namun kini hadir dalam berbagai-bagai huruf-huruf mati hingga menghancurkan. Tak ada lagi kata-kata positif nan berenergi yang hadir. 

Kamu bidadari tanpa sayap seperti kacang yang lupa pada kulitnya, kini kamu lebih dominan untuk menjadi penghancur, pembunuhan karakter. Mengerikan. Tak ada lagi kontribusi baik yang dapat terbangun. Buat jiwa tak sehat dan tak tenang. Boom, kamu ledakan besar yang membawa luka. Sikap dan ucap yang bodo amat membuktikan bahwa kamu itu kehilangan yang tidak seharusnya disesali.

Sejak lingkaran kelam kamu sebagai bidadari tanpa sayap terbuka, lebih baik membisu dari pada bertengkar apa lagi lesap dari menjaga kesehatan perasaan. Harus berkompromi pada realita dan menerima kegagalan yang telah menjadikan kamu seorang bidadari tanpa sayap.

Terhadap hal-hal yang didengar dan dirasa dari kamu, belajar juga tak menjadi pembenci, walau demikian menyulitkan bukan berarti tidak bisa. Tak mau membasahi diri dalam budak nafsu amarah. Masih ada harapan baik yang harus dipelihara dan tidak boleh tersesat bersama lingkaran kelam bidadari tanpa sayap yang pernah dibiarkan menguasai hati dan pikiran.

***
Rantauprapat, 13-17 Oktober 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Senin, 10 Oktober 2022

Suatu Pagi di Oktober yang Basah

@kulturtava
..
Suatu Pagi di Oktober yang Basah

Ada kesadaran yang bertamu di kepala, suatu pagi di oktober yang basah. Bukannya harus mampu memiliki pegangan hidup, bukan malah menjadi malang yang malang. Masih ada support system, Sang Maha masih percayakan sandaran yang tidak akan membiarkan goyah dan jatuh.

Pagi yang dingin hari yang di bulan kesepuluh, tidak mau membiarkan diri gagal terhadap dosa yang merayu. Keterbatasan, ketidakmampuan tidak lantas buat ketidakhati-hatian merajai. Untuk apa menuai bencana karena bermain kata-kata dan huruf-huruf mati.

Pernah lama alami gangguan kesehatan jiwa, dan parahnya hal itu terjadi atas nama cinta. Dalam diam dan persembunyian, membiarkan gaya hidup bebas. Menjadi pelaku kejahatan kelas berat, dengan dalih tidak pernah memiliki pendengar yang baik, sebenarnya itu dari ego yang melekat.

Bukankah hidup tidak melulu tentang senyuman, terkadang ada juga tangis. Tidak ada faedah dari memilih hati yang jahat. Bak limbah kehidupan, ada yang harus disingkirkan. Walau sulit, belajar menjadi diri yang menghidupi hidup dengan segala sesuatunya sesuai kadar. Memiliki rasa cukup. 

Ya, suatu pagi di oktober yang basah. Bersyukur masih diselamatkan dari hati dan pikiran yang tidak seharusnya. Ada distraksi yang menghampiri, ada prosa yang menulis bahagia dan rasa harap. Ciptakan nostalgia dan rekam jejak yang beraura positif untuk kesehatan jiwa.

Percaya, tak ada yang benar-benar tahu kehidupan. Pastikan saja diri mau belajar dan bersedia untuk memberi penerimaan terhadap hal-hal yang akan terjadi dan menjadi. Sebab, apa yang menjadi artikel pilihan dan artikel utama di ragamnya bunga kehidupan, diri sendiri yang menentukan. Berusahalah tegar dan tegap. 

***
Rantauprapat, 11 Oktober 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Sabtu, 08 Oktober 2022

Menulis Kamu

@kulturtava
...
Kamu perempuan dewasa yang selalu ingin dimengerti, ingin didengar, tak pernah mau disalahkan. Kisah yang dahulu suram terjadi lagi atas ucapmu. Demi dia, kamu memberikan luka yang teramat hari ini. Menciptakan patah hati yang sulit dipulihkan. Dia yang barangkali bukan membuat kamu ada di hati.

Daun-daun berserakan buat layu. Hancur seketika. Lelah, ini kisah dan cerita yang sudah berpuluh tahun terjadi. Ada hujan deras yang kamu hadirkan. Memicu krisis damai sejahtera juga kemerosotan tenang teduh. Hari ini, dia dan kamu adalah kebencian yang tidak seharusnya bertahan di segala sesuatu yang ada. Karena itu menyusahkan. Petaka sudah terjadi.

Kemungkinan besar, hingga nafas tak tersisa, kamu akan menjadi apa yang dia mau. Ada neraka yang paling paripurna,  melululantakkan perasaan bahkan kedamaian kamu renggut. Kamu tidak pernah berhasil menjadi ratu keadilan, selalu berpihak pada dia. Entah bagaimana melewati badai hari ini, ke mana arah hidup menjadi? 

Hari kesembilan bulan kesepuluh, rawan bencana, harus waspada lebih. Sudah banyak prosa patah hati yang menulis kamu. Jejak sejarah yang pernah menghancurkan tak boleh, benar-benar tak boleh menguasai hati dan pikiran. Jujur, tak akan ada dimensi cinta hari ini. Hanya berharap mampu melewati deru prahara hari ini sebelum matahari terbenam. Tak ingin mendung di awal Oktober menjadi Oktober yang berakhir basah. 

Hingga mampu berpamitan dan mengucapkan selamat tinggal pada kemalangan ketika hari berganti. Di saat yang entah kapan, semoga ada keajaiban, ada prosa bahagia yang menulis kamu. 

***
Rantauprapat, 09 Oktober 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Minggu, 02 Oktober 2022

Basah oleh Hujan dan Perempuan Itu

@kulturtava
...
Di bawah guyuran shower kamar mandi, perempuan itu merdeka menjadi diri sendiri. Hari ini tanpa menabur ia menuai bencana. Good bye tenang teduh.  Lebih condong pada hal yang bukan bagian utama, perempuan itu yang menanggung resiko.

Basah oleh hujan, hujan air mata. Ada sang perusak menghampiri. Ia tak bebas dari jeratan tebang pilih, tak menikmati damai sejahtera. Duka di tiga puluh empat tahun, masih terus belajar untuk pembiasaan terhadap penerimaan.

Letak bahagia perempuan itu di mana? Huft, ia harusnya bisa menafsirkan sendiri. Tak ada guna dari menciptakan tragedi untuk diri sendiri, ibarat prosa patah hati yang panjang kali lebar tapi hanya diabaikan karena tak pernah terbaca. 

Namun, begitulah perempuan itu hari ini. Gagal bertumbuh, dan akhirnya dikendalikan amarah. Dan perempuan itu pun berdarah, menyakiti diri sendiri. Mungkin bila nanti, patah hati dapat terkontrol ia akan kembali menjadi perempuan yang mampu menghidupi hidup dengan segala sesuatunya.
Entah kehadiran perempuan itu pernah dianggap sebagai hadiah atau tidak. Hanya ia yang berbeda, banyak air mata, banyak persembunyian bahkan penolakan.

Siapa yang harus disalahkan? 

Tak pernah ada yang benar-benar memahami, yang memberi hati untuk menerima keberadaan diri yang berbeda dan penuh disabilitas. 

Basah oleh hujan dan perempuan itu. Kisah hari ini. Ia bukan pemberi maaf yang baik tapi yang sebenarnya  ia pun tidak akan pernah menerima maaf atas keberadaan yang terjadi.

Well, perempuan itu hari ini adalah huruf-huruf mati yang terbuang. Seperti puing-puing yang usang, diri tanpa hati dan kepala.

***
Rantauprapat, 02 Oktober 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Sabtu, 03 September 2022

Ternyata Suatu Kesalahan

@kulturtava
...
Mengerikan. Tak ada september ceria. Ternyata suatu kesalahan jika tak dianggap. Berduri hati untuk perempuan itu. Sebegitunya busuk menilai. Ia diterlantarkan. Entah pada siapa lagi berkeluh kesah. Semua jalan di block, tak ada akses terbuka. 

Ia ketakutan. Keterbatasan ternyata suatu kesalahan. Ngeri, dalam diam perempuan itu tak mampu menahan tangis, masih terlalu panjang perjalanan, huft,  entah akan menjadi seperti apa perempuan itu. 

Perempuan itu dan angin,  tak ada kepastian. Terkadang ke barat dan terkadang ke timur. Ini kisah perempuan itu dan semester ini. Ia sulit merubah hidup. Ketidakadilan hidup buat ia dikebumikan di tengah gejolak tebang pilih. Ia bertanya pada diri, apa masa depan yang disemogakan bukan miliknya?

Ternyata suatu kesalahan jika tak berpunya, tak ada meja ataupun kursi untuk berharap. Ke mana kertas-kertas yang bernilai, terbuang sia-sia kah? Ia tidak baik-baik saja. Kacau balau. Ini hari kekecewaan, hari patah hati. Dan ternyata, tak ada waktu yang tepat untuk sebuah kehilangan.

Walau demikian, hidup tak pernah boleh mati bukan dengan ketidakpenerimaan. Perempuan itu takkan menyerah pada kerajaan kesewenang-wenangan. Ia tak boleh terhenti untuk percaya, bahwa ia akan memiliki masa depan dan harapan tak boleh sirna. Ia harus memutuskan untuk mengakhiri patah hati dan melanjutkan hidup dengan kesadaran.

***
Rantauprapat, 03 September 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Rabu, 31 Agustus 2022

Bukanlah Suatu Kesalahan

@kulturtava
...
Seperti saat ini, perempuan itu diliputi kekhawatiran yang beralasan. Ini tentang harapan yang disemogakan olehnya. Entah apa dan bagaimana, ia kepayahan untuk mendapatkannya. Ia memikirkan tentang keterbatasan yang melekat di diri, disabilitas bukanlah suatu kesalahan. Tak pernah ia ingin menjadi seperti itu.

Perempuan itu bertanya, apakah kelemahan fisik itu dosa? Sering diabaikan, dianggap tak ada. Diragukan tanpa dasar yang pasti.

Bagaimana pun, perempuan itu harus berusaha menghidupi bahagia di segala kekurangan. Berbangga dengan hidup yang masih ada. Berdamai dengan keadaan, walau demikian menyulitkan. Namun, tidak berdamai dengan keadaan, itu jauh lebih sulit. Terbukti, perempuan itu pernah memiliki niat bunuh diri.

Bukanlah suatu kesalahan, jika perempuan itu tetap berharap ada keajaiban terhadap hal-hal yang disemogakan. Ia sadar bahwa tak akan bisa memaksakan skenario perjalanan hidup, berserah penuh pada pemilik hidup. Karena ini adalah sejarah hidup bagi perempuan itu, dan kebimbangan raguan tak boleh menduduki jiwa dan pikiran terlalu lama.

***
Rantauprapat, 31 Agustus 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Minggu, 28 Agustus 2022

Kepada Hati Perempuan Itu

@kulturtava
...
Sadarlah wahai perempuan, jangan menggerutu pada hal yang sudah pasti merusak suasana hati. Kau perempuan yang tidak diinginkan, barangkali hanya untuk menenteramkan kegelisahan diri.  Malang sungguh. Terlalu lelah berlari dari kejujuran. Kau perempuan payah. Tak terhitung corat-coret ada di zonamu. Untuk apa menuai dari apa yang bukan kau tanam. Menulis prosa demi prosa patah hati. 

Perempuan oh perempuan, kepada hatimu, jangan miliki segenggam rindu pada jerat yang mencelakakan. Menyusahkan diri. Kau harus bisa untuk memutus circle toxic relationship. Kepada hati perempuan itu, yakinlah tak ada cinta, tak ada sayang bila mendua. Yang hanya dikira-kira, meluangkan waktu di kala luang dan sendiri. Kau tidak bisa menuntut apa dan siapa pun. Janji dalam berbagai-bagai rayuan tabu karena itu tersembunyi.

Ibarat alunan asmara dan perjalanan penuh liku, kau butuh keberanian untuk berhenti. Diskriminasi yang tidak seharusnya, jangan lagi buatmu menjadi penghasil sampah terbaik. Bertimbun kisah tersembunyi, kisah yang belum diceritakan. Sudah cukuplah, tak usah lagi kau membangun hasrat yang tidak hasratmu, kausemaikan keinginan-keinginan bodoh bersama rintik hujan. 

Kepada hati perempuan itu, janganlah bersekutu dengan penyakit ketakutan, kesendirian, itu buat kau menyerahkan diri pada kebinasaan. Tak ada yang benar-benar menerima. Apa lagi yang tidak akan pernah menjadikan kau pilihan dan artikel utama di hari-hari yang ada. Pada kebenarannya, bukankah yang asing akan tetap menjadi asing. Senandung kelabu di cuaca mendung.

***
Rantauprapat, 28 Agustus 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Jumat, 26 Agustus 2022

Mengapa Sulit?

@kulturtava
...
Atas nama penerimaan, entah apa yang harus dilakukan perempuan itu? Berbicara dianggap sebagai penggangu, berdiam diri juga akan dipersalahkan. Mengapa sulit? Mengapa sulit bagi perempuan itu? Benar, perempuan itu tidak pernah merdeka. Seperti pohon anggur yang tidak pernah riap tumbuhnya. Harus berkompromi dengan kepala, agar hati terselamatkan. 

Dibutuhkan atau tidak. Ini tentang perjalanan yang tidak pernah direncanakan. Disabilitas, diterima atau terpaksa menerima, dan perasaan yang sulit terdefenisikan. Menerima kenyataan. Gagal bertumbuh dewasa. Definisi tidak berhasil menghambarkan diri pada jerat yang memikat. Amarah, tidak bahagia, dan aura yang suram.

Membiarkan toxic relationship, menyakiti diri. Perempuan itu tidak lagi tahan, namun harus bertahan, ada yang hilang dalam rasa,  mengeluarkan kata-kata pedas pun memberi luka. Berdamai dengan air mata, gelap dan sunyi menjadi sekutu. Mencumbui malam dengan hati yang tidak hati-hati. 

Mengapa sulit bagi perempuan itu untuk berhenti? Apa tidak ada perikemanusiaan dan perikeadilan? Apa karena perempuan itu terbatas dan berbeda? Bagaimana tidak insecure, yang sungguh terjadi sangat mengucilkan hati. Memilih menepi. Dilahirkan tanpa kekurangan, tanpa sebab akibat yang logis, perempuan itu kesulitan untuk menghidupi hidup. Bernapas pun menjadi sulit. Mengapa sulit? Tak pernah ingin sendiri. Tak pernah ingin berbeda.

Entah perempuan itu berhutang pada siapa, harus membayar dan menuai hingga menua. Dan kehidupan perempuan itu ternyata teramat lucu, tidak menabur namun menuai. Lucu yang tidak diwarnai dengan tawa. Hanya tidak tahu, ingin mempersalahkan apa dan siapa. Mengapa sulit? Kata tanya yang paling paripurna untuk perempuan itu puluhan tahun ini. Sering melakukan persembunyian, seperti kucing yang mengendap-ngedap agar tidak mengalami gangguan, tapi gagal. Telinga dan perasaan perempuan itu sering dinodai oleh taburan yang tidak diperbuat atas kehendak dirinya.

***
Rantauprapat, 26 Agustus 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Senin, 15 Agustus 2022

Cerita Perempuan Itu Hari Ini

@kulturtava
...
Self healing, berharap ada. Kesejahteraan pun menjadi. Sulit memahami kalimat 'bahagiakan dulu dirimu sendiri, baru bisa bahagiakan orang lain'. Sering tidak bisa lakukan itu, biarkan bullying dapati diri demi tenang teduh yang lain. 

Demi kebaikan perempuan itu, kamu meredam ego, kembali berada di neraka kata-kata. Akankah ada belas kasih di wujudkan, berharap untuk itu. 

Kamu terluka. 

Hujan di bulan Agustus, bisakah tidak hanya menjadi hujan air mata? Malam ini perempuan itu masih berkali-kali tidak bisa berhenti menangis. Terlalu takut melihat yang akan terjadi. Apakah tabu memberi maaf terlebih dahulu? Perempuan itu bertanya pada diri sendiri.

Merdeka untuk memaafkan dan dimaafkan, titik tamu yang disemogakan. Balada etika yang tidak seharusnya mampu menjadi pembunuh karakter. Kekecewaan yang tidak tersampaikan. Ketika kasih sayang dikalahkan nafsu amarah. 

Lembah dan hutan sakit hati akibat ucap yang dilontarkan, tidak buat hancur berkeping. Perempuan itu ingin kamu menghidupi bahagia, walau sebenarnya tidak mudah. 

Ini cerita perempuan itu hari ini, sungguh ingin yang disemogakan terjadi hari esok. Amin

***
Rantauprapat, 15 Agustus 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Sabtu, 13 Agustus 2022

Perempuan Itu Tidak Lagi Tahan

@kulturtava
...
Kalah.
Memyerah.
Menjadi sembilu. 
Terlampau banyak efek traumatis.
Perempuan itu mempertimbangkan hal yang akan dilakukan untuk mengakhiri rasa sakit, sungguh ingin menyingkirkan rasa sakit yang berpuluh tahun dialami.

Akhir-akhir ini perempuan itu tidak lagi tahan, sakit tapi hanya diabaikan. Berujung pada kematian kah atau akan terselamatkan. Ada dalam keraguan. Kerumunan duka bersama risau pun menyertai. Butir air mata tak jemu membasahi. Menjadi perempuan yang kehilangan nurani. 

Damai, tidak dijaga betul-betul. Hari ini, perempuan itu berserah penuh pada kalah. 
Hujan kebohongan, kemarahan, keegoisan bertubi menghantam. Bersembunyi di balik kata ROHANI, ternyata menjadi kata-kata sia-sia. Ini yang menjatuhkan, perempuan itu tidak lagi tahan akhirnya. 

Tentang kasih, bullshit.
Ada tapi tidak ada
Tidak ada tapi mungkin ada. 

Gagu, perempuan itu selalu ditawari kesedihan tanpa secuil bahagia. Begitu penuh kerumitan. Masa lalu, perempuan itu, dan masa depan sepertinya tidak bisa sefrekuensi. Saat-saat ini seakan menjadi musium patah hati terberat dalam hidup. Padang ilalang tumbuh dengan riap. 

Perempuan itu ingin menjaga kesehatan mental dan fisik, tapi keadaan terlalu menyulitkan. Diharapkan namun tidak sepenuhnya menjadi. Secepatnya, dalam senyap perempuan itu ingin putuskan rantai kegelapan. Konyol barangkali, seolah perempuan itu mampu. 

Hu, perempuan itu tidak ingin berkhianat dari tanggung jawab terhadap hidup, yang sungguh terjadi adalah hidup penuh ketidakadilan terhadap hal-hal yang perempuan itu jalani, pada hari ini perempuan itu tidak lagi tahan.

***
Rantauprapat, 14 Agustus 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Malamnya Perempuan Itu Semakin Kelam

@kulturtava
...
Malam ini, perempuan itu tidak memiliki cara membahagiakan diri sendiri. Tidak bergairah melakukan apa pun.

Hari ini, tanggal tiga belas Agustus, perempuan itu kembali kalah. Bersama air mata menghabiskan waktu. Ternyata tenteram tidak menjadi teman hari ini, banyak huru hara. 

Sejarah dahulu kembali terulang. Tidak ada kepedulian. Merasa mampu. Malamnya perempuan itu semakin kelam, tak ada kedewasaan. Gagal naik kelas. Perempuan itu pernah menulis, mengapa harus lari? Kemudian kembali menulis, akhirnya kau kembali. Hari ini, kisah itu terjadi lagi. Kembali atau tidak, keadaan yang memberi jawab, entah akan menjadi entah tidak. 

Malam ini menjadi hujan Agustus bagi perempuan itu, ada ketakutan, kekhawatiran yang beralasan, ada pula kelam kabut yang menguasai. O, mengapa hari-hari perempuan itu penuh kamuflase. Tak ada waktu tanpa menghadirkan kisah nyeleneh yang sempurna.

Semua salah. Tak ada yang benar-benar saling mengasihi, tak ada yang saling memaafkan. Sesudah malam ini, perempuan itu sungguh terlalu takut melihat dan mendengar keributan yang mungkin akan terjadi di dunianya.

***
Rantauprapat, 13 Agustus 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Rabu, 10 Agustus 2022

Malamnya Perempuan Itu

@kulturtava
...
Dan tangisnya tak boleh diketahui dan didengar. Sering melakukan apa yang bukan diingin. Andai tak bertemu disabilitas. Andai yang tidak pernah terjadi. Banyak kepalsuan baik di pagi maupun malam hari perempuan itu. 

Namun, malamnya perempuan itu lebih menyenangkan. Bebas berekspresi bahkan melakukan hal-hal nyeleneh yang melepaskan penat. Bukan perempuan itu tidak mengetahui bahwa hidup penuh ketidakadilan, tapi apakah benar tidak ada penerimaan yang benar-benar benar untuk dimiliki?

Perempuan itu ingin menepi dari hiruk pikuk dan balada hidup yang dijalani, walau sebentar saja. Ingin yang hanya sekadar ingin. Terlalu didikte dan harus mengiyakan lagi menurut. Harus tegar dan kuat, namun perempuan itu tidak merdeka untuk mengatakan bahwa ia lemah, sudah sangat lemah. Apakah ada yang peduli dan menyadari? 

Hari ini. 
Terlalu banyak luka yang perempuan itu rasa dan terima. Tatapan dan ucapan yang mematikan. Malamnya perempuan itu yang menenangkan, berbagi segala kesusahan di bawah guyuran shower kamar mandi.

Ia hidup tapi mati.
Ia mati tapi hidup.
Mempertanyakan kepulangan yang sangat-sangat dimau. Angkuh dan tidak ada apa-apanya, berpayung pada amarah. Diresahkan dan meresahkan, karena sesungguhnya perempuan itu takkan ke mana-mana tanpa bantuan. Lagi-lagi tentang disabilitas yang tidak terlihat.

Ia masih belajar menjadi perempuan yang berdamai dengan keadaan! Pahit namun ini adalah catatan perempuan itu hari ini.
Telah terjadi dan menjadi hambar. Pada kesempatan yang lain, apakah malamnya perempuan itu lebih baik dan memiliki makna dari sekedar menyenangkan terhadap hal-hal yang nyeleneh.


***
Rantauprapat, 10 Agustus 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Jumat, 05 Agustus 2022

Aduh! Celakalah Aku!

@kulturtava
...
Yang kesekian kali, aku malas dengan kehidupan. Menggerutu. Menikmati umpatan yang keluar demi kepuasan diri. Rencana merinci tenang teduhku menjadi gagal. Aku seolah speech delay hari ini. Menutup diri. Aduh! Celakalah aku!

Hari ini aku ditelanjangi kemarahan, patah dan menyedihkan. Memperkeruh suasana hati yang sudah keruh. Sentuhan demi sentuhan liar, kubiarkan. Problematika otomatis terjadi. Hal-hal yang sudah kupahami, lagi-lagi tidak dihidupi. Tak sanggup kugenggam awareness. Tidak hati-hati dengan rayuan. Membebastugaskan logika. 

Aduh! Celakalah aku hari ini!  Ketika aku tersesat di sudut kehilangan, malah dipermainkan waktu yang luang, sepi dan sunyi. Tak sengaja, tak sengaja, dan tak sengaja. Bukan, bukan,  yang sungguh terjadi adalah hasrat hampa dan kata abu-abu. Tidak hitam tidak putih. 

Ada apa antara kemarahan, ketidakhati-hatian dan aku? Tidak pernah terlintas di duniaku, agar aku menjadi sosak yang mencuri perhatian, entah apa yang dimau dariku. Apa aku seperti nada yang memikat? Mungkin aku terlalu terburu-buru menanggapi apa yang kulihat, kudengar, dan yang kurasakan dengan kemalangan. Barangkali otakku kutinggalkan di entah. Terlalu overthinking.

Do and don't,  aku ada di kebimbangraguan. Pasrah, lebih condong pada kata bodoh sebenarnya. Sudah tak terbilang kata goodbye terucap baik secara lisan maupun tertulis, yang ada berujung pada omong kosong. Dilanggar dan diingkar. Tidak berkualitas. Tidak bisa kumengerti. Tidak bersyukur. Kerinduan untuk mencintai diri sendiri dan berbenah, tak lagi terealisasi, dipenjarakan senyi senyap. Aduh! Celakalah aku! Jika terlalu lama diam dan takluk terus-menerus pada keinginan-keinginan yang bukan inginku. 

Aduh! Celakalah aku! Karena merumitkan diri sendiri, ibadahku menjadi sia-sia. Hampa! 

***
Rantauprapat, 05 Agustus 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Minggu, 31 Juli 2022

L dan Kisah yang Berantakan

@kulturtava
...
Terkadang seperti duri yang dicampakkan. Terkadang seperti anggur yang diinginkan. Hidup tapi mati. Mati namun masih hidup. Ambigu, menjadi cerita yang berantakan. Terlalu banyak berharap, terlalu banyak tanya, terlalu ingin dimengerti tanpa mau mengerti. 

L,  perempuan dewasa yang melankolis. Rapuh. Ya, ia tidak boleh merdeka untuk mencintai, merdeka untuk bicara. Seharusnya tidak mendatangkan musibah untuk dirinya sendiri, lagi-lagi harus pasrah dan membiarkan diri layu oleh angin timur. Malah diam dalam gelap, ia seringkali basah oleh hujan. Bersikap nyeleneh dan amburadul demi kepuasan diri. 

Pada Minggu kali ini, Minggu yang sedang murung,  ia gagal mengakhiri patah hati. Cerita yang berantakan menjadi nyata dan terulang. Menjadi camar yang sendiri. Mencintai diri sendiri, ternyata oh ternyata tidak sesederhana yang diucapkan.

L dan kisah yang berantakan, ini tentang perjalanan yang jatuh berulang dan ketidakhati-hatian dengan rayuan terhadap keinginan-keinginan sesaat. Ia merelakan sepi dan entah mencumbui keberadaan diri. Sudah banyak konflik yang ia rasakan. 

L dan drama kehidupan yang penuh hiruk pikuk, ini pun tentang kisah yang dejavu. Menjadi penjelajah malam. Menjalani mimpi yang tidak pernah diingini dan direncanakan. Hanya kepada kata yang berubah menjadi kalimat, ia bercerita. Telanjang tanpa penolakan, tanpa formalitas, tanpa rahasia.

L dan kisah yang berantakan, setelah malam ini, akan jadi seperti apa akhirnya ?
Tak ada yang benar-benar tahu. Namun, ia harusnya tahu bahwa tidak ada nilai estetik kala bermain-main dengan kisah yang berantakan itu terus-menerus. Berbahaya dan bermasalah! 

***
Rantauprapat, 31 Juli 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Jumat, 29 Juli 2022

Tempat yang Paling Sunyi

@kulturtava
...
Dengan diam-diam kembali menyerahkan diri pada jerat kematian, berkompromi dengan kesalahan, seperti seseorang yang kalah dari pertempuran. Nyaman dengan orang yang tidak seharusnya, hanya untuk menenteramkan hati,  malah merasa tertekan dan mengumpat dalam hati dengan orang yang yang memberi kasih sayang.

Jalan berliku telah dipilih.

Waktu senggang menguasai diri. Lemah saat dosa itu merayu lagi. Ini menjadi cerita yang berantakan. Dangerous. Kembali berada di tempat yang paling sunyi.  Tak lagi peduli dengan tanggung jawab pun kepercayaan, hanya ego yang melekat. Menjadi kriminal yang ganas, sebab tak mendapatkan kewaspadaan. 

Sampai kapan seperti itu?

Gagal dan kalah. Tidak menghidupi nilai-nilai yang sudah diketahui. Gagal pula memanusiakan dan dimanusiakan. Maaf, beribu bahkan berlaksa kata yang telah diucapkan, namun kata maaf hanya berujung dan bergema di tempat yang paling menyedihkan, di lorong kegelapan. Hidup begitu hampa, sesaat saja penuh kehangatan. 

Ini menyakitkan.

Hidup bukan lagi hidup. Biarkan diri kosong. Ketakutan akan kesepian. Menjadi abu-abu. Terlalu banyak kegilaan, kepura-puraan. Ada banyak rasa bersalah, banyak persembunyian, ketakutan menghantui. Seperti telah ditelanjangi. Berada di tempat yang paling sunyi telah buat diri menjadi asing. Ternyata cerita yang berantakan ini begitu rumit. 

Kesendirian yang memberi penyesalan dan dilema antara akal, hati dan hasrat. Merasa paling malang dan tersakiti, ternyata oh ternyata paling liar dan tidak terkendali. Tidak menghargai.

***
Rantauprapat, 29 Juli 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Rabu, 20 Juli 2022

Bilakah Aku Tawar Hati?

@kulturtava
...
Terkutuklah aku, jika merasa mampu seorang diri! 

Bagaimana memudahkan diri untuk berdamai akan penerimaan yang tidak didapatkan? Pertanyaan yang sulit terdefenisikan, mungkin itu hanya obsesi "nyeleneh" karena penerimaan malah harusnya bukan didapatkan tapi dimiliki diri sendiri.

Sanggupkah hidup tanpa penerimaan? Rasanya tidak. Ini bukan tentang penerimaan orang lain tapi mengenai penerimaan terhadap diri sendiri, tentang mencintai diri sendiri. 

Aku adalah makhluk istimewa yang terbatas, entah pernah diingini entah tidak, disabilitas ada padaku. Kenapa dan kenapa harus aku? Pertanyaan yang tidak akan pernah memiliki penjelasan. Seolah gimmick yang menyebabkan disabilitas ini.

Bilakah aku tawar hati? Aku akan tenang teduh. Ya, saat aku tawar hati terhadap hal-hal yang menjatuhkan, tawar hati terhadap cinta yang sebenarnya tidak cinta. Ketika aku baku tembak pada realita dan ekspektasi,  aku akan menjadi bola liar yang tidak terkontrol. Sejujurnya, untuk tawar hati terhadap hal-hal seperti itu, aku masih terus belajar pun berproses. 

Well, aku tidak akan pernah mampu seorang diri namun aku tidak berhak menuntut penerimaan orang lain terhadap diriku, bahkan di saat tidak diperjuangkan pun,  aku yang sepatutnya memiliki self- awareness agar tidak kejut dan merusak nilai-nilai hidupku.

Dan akhirnya, bilakah aku tawar hati? 
Itu hal yang baik untuk kesehatan jiwaku. 

***
Rantauprapat, 20 Juli 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Selasa, 05 Juli 2022

Kembali Kalah

@kulturtava
...
Berupaya untuk menenun hari baru, ada saja kemalangan yang menyebabkan hal itu gagal. Kembali kalah hari ini

Di bawah ketidakberdayaan,  di tengah keterbatasan
Tersesat, atas nama rasa nyaman
Menyimpan banyak bait dan syair rahasia dalam persembunyian, itu pun atas nama penerimaan yang sebenarnya bukan

Bagaimana bisa lupa, katamu yang jelas terdengar
Kali ini pun, aku akan ingkar janji, ucapmu kemudian. Kali yang telah berulang

Mau jadi  yang seperti apa? 
Sebentar A, sebentar B
Malu bersuara 
Atau sebenarnya tidak keberatan memberikan ruang bagi kebimbangraguan

Kembali kalah 
Hidup namun tidak sepenuhnya hidup
Mati namun masih memiliki hidup
Benar-benar penuh teka-teki

Ingin melepas dengan keyakinan penuh
Sesaat kemudian hening seketika, tak sanggup kehilangan

Self awareness mulai terlupa, mungkin sengaja melupa. Sore tadi,  mengulang kisah kemarin tanpa penolakan. Mati konyol. Diguyur hujan dan menjadi kupu-kupu tak berwarna. Merasa merdeka untuk mencintai

Tertidur dan terlelap
Tak berteduh dalam naungan yang tepat
Hanya pasrah, diam membatu dan seolah memberontak namun tidak sepenuhnya 
Waktu kebodohan berkuasa
Gagal mematikan jerat rayuan
lagi, lagi dan lagi. 

Sudah terlalu banyak pekarangan yang kotor, yang sengaja di tabur
Ini bukan yang pertama, kacau pun tak terkendali

Sungguh, terlalu gamang. Lesap dalam berbagai-bagai duka luka. Kesepian, kesendirian

Hanya berharap bisa kembali
Berteduh dalam naungan yang tepat
Akankah ada kesempatan untuk itu?

Di keseluruhan harap, masih terus berjuang dan memohon belas kasih Sang Pencipta langit bumi,  agar tidak lagi kalah! 

***
Rantauprapat, 05 Juli 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Minggu, 03 Juli 2022

Koma, Jeda, dan Perhentian Perempuan Itu

@kulturtava
...
Ingin berubah
Ingin berhenti
Namun tak kunjung terealisasi

Bukankah tak ada cara yang benar untuk melakukan hal-hal yang keliru

Berulang kali perempuan itu bertanya 
Berulang kali pula, hanya diam yang diterima

Apakah tak pernah terpikir, bagaimana hari perempuan itu jika kebenaran terkuak?
Kenapa harus membiarkan diri koma pada kelemahan

Aku rindu,  itu katamu pada perempuan itu 
Sementara sudah jelas tak akan pernah bisa bersama, kamu acuh, tidak peduli, yang penting kamu dapatkan apa yang kamu mau. Kamu ternyata pencuri yang berkedok baik, penjahat yang berbahaya

Malangnya, perempuan itu bodoh
Penerimaan yang diberikan, melululantakkan perasaan. Sudah terlalu banyak yang hilang. Sudah berusaha, juga sudah banyak jeda yang terjadi, lagi-lagi perhentian perempuan itu belum menemukan titik. Jatuh dan jatuh lagi, sebab tak mendapatkan penerimaan yang diharapkan, membiarkan diri menjadi korban kebodohan

Kehilangan kembali terulang.

Mau sampai kapan kita seperti ini? 
Perempuan itu bertanya 
Sampai tidak lagi bertemu, bisa dipastikan yang memberi akhir dari kekeliruan bukan perempuan itu, walau sebenarnya tidak pernah ingin. 

Mengerikan 
Tak ada tujuan yang terjadi 
Tak akan berujung pada kepastian 
Namun tetap kalah, malu bersuara 
Penyesalan yang tidak termaafkan

Kalimat yang pernah ditulis perempuan itu, memerdekakan hati sendiri itu penting, itu hanya kalimat omong kosong. Karena itu tidak dihidupi perempuan itu.

Sudah terlalu banyak luka 
Terlalu sering menyembunyikan diri di padang belantara

Entah berapa lama lagi perempuan itu harus koma, tak ada kedewasaan dan mindset jangka panjang. Keliru dengan kata penerimaan.

Lelah, tidak ingin lagi koma
Lelah untuk berjeda,  setidaknya perempuan itu sadar pun menerima kenyataan. Untuk apa meneruskan kekeliruan yang sia-sia
Kemungkinan terburuk adalah kesepian
Namun, perempuan itu tidak lagi terkungkung dalam gelap dan kehampaan. Dalam jerat malapetaka.

Apakah perhentian perempuan itu akan menjadi? Berharap akan menjadi nyata

***
Rantauprapat, 01-03 Juli 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Selasa, 26 April 2022

Perempuan Itu dan Ketidakhati-hatian

@kulturtava
...
Perempuan itu yang memulai, aku yang mengalami patah hati. Ada apa denganku? Terlalu bodoh atau terlalu melankolis. Lagi, perempuan itu mengulang masa lalu. Melakukan ketidakhati-hatian dengan sadar. Menjadi onak duri pada gandum yang menaungi.

Tak ada hujan apalagi petir, kenyataan yang perempuan itu bawa buatku lesap seketika dari kesadaran. Malam ini, kisah yang dahulu kembali terulang. Dejavu yang menyebabkan rasa sakit. Ah, mestinya ini tidak terjadi lagi. Sungguh tidak terpikir olehku, perempuan itu kembali dalam jerat rayuan keinginan-keinginan bodoh. Perempuan itu dan ketidakhati-hatian yang dilakukan adalah artikel utama di akhir Aprilku. Menyebalkan.

Ada kesedihan, luka, ketidakpercayaan yang terjadi sebab ketidakhati-hatian perempuan itu. Kenapa dan kenapa? Kenapa perempuan itu memilih jalan yang sesat? Pertanyaan yang mengusik kepalaku malam ini, mungkin juga malam-malam berikutnya yang entah sampai kapan. Pertanyaan yang tidak akan pernah memiliki penjelasan apa pun. Hu. 

Selepas yang terjadi malam ini, aku ingin memblack list perempuan itu dari hati. Benar-benar ingin. Entah ingin itu berhasil entah tidak. Yang pasti, aku memutuskan untuk tidak ikut lagi berkompromi dengan ketidakhati-hatian perempuan itu lagi.  Aku tidak mau kehilangan kewarasan sebab perempuan itu. 

***
Rantauprapat, 26 April 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Sabtu, 16 April 2022

Perempuan Itu dan Kisah Cinta yang Ganjil

@kulturtava
...
Ucapan anda hari ini memberi kesadaran. Anda dan perempuan itu berujung "Tak". Tidak lagi berteduh pada harapan akan anda. Ini bukan lagi tentang berjarak pada waktu yang tak satu waktu, lebih kepada undang-undang moral. 

Kini, perempuan itu harus mampu ikhlas. Tak layak untuk merdeka mencintai cinta orang lain. Anda memilih bahagia bersama yang lain. 

Kisah cinta yang ganjil antara anda dan perempuan itu telah sudah. Kebenarannya, satu hati, satu cinta, satu perempuan. Luka dan kesadaran ternyata mampu membuat hidup terasa hidup, perempuan itu hari ini mampu menertawakan diri sendiri. Cinta, rasa dari memori rumit. Perpisahan tak semenyakitkan itu, perempuan itu dan kisah cinta yang ganjil berakhir tanpa saling memusuhi. Tak lagi ada kebencian, tak lagi merasa paling benar. 

Jujur, sebelum hari ini, sebelum apa yang anda bukakan, perempuan itu masih berkali-kali berharap dijadikan rumah oleh anda. Selepas ucap dari anda, itu hanya harap yang tidak bisa lagi diharapkan. Entah kebetulan, entah tidak, hari ini pun tepat sebulan sesudah hari lahir  perempuan itu dan bulan ini, bulan dimana anda dilahirkan.

Perempuan itu akan menerima bahwa kisah cinta tak selalu indah, perlu penerimaan dan rasa maaf.  Anda hanyalah kenangan yang pernah menawarkan bahagia. Persinggahan sesaat. Seperti intermezo. Ah, begitulah cinta.

***
Rantauprapat, 16 April 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Rabu, 30 Maret 2022

Kisah Cinta yang Ganjil

@kulturtava
...
Perempuan itu pernah berlaku terlalu berani. Kehilangan gaung suara hati. Kesadaran yang bersembunyi. Merasa merdeka mencintai. Lupa, sengaja melupa tuaian yang akan terjadi. Perempuan itu sudah kalah karena dia, dia dan dia. Kisah cinta yang ganjil buat ia menjadi pembunuh, pembunuh karakter untuk diri sendiri. Binasa yang mencelakakan pun seolah silent partner perempuan itu.

Demi mencari kenyamanan, penerimaan, perempuan itu menjadi cadas penuh hasrat. 
Tak ada ketegasan sejak awal. Cinta dan kesetiaan saja sudah tergadai kala bermain-main dengan kemalangan.

Diawali dengan kekeliruan, bukan berarti harus diakhiri dengan kesalahan yang menerus. Perempuan itu sadar diri. Pernah bukan berarti kalah. Ya, selama bumi masih ada, selama masih bernafas, ia harusnya berbalik. Kisah cinta yang ganjil tak boleh lagi buat perempuan itu, menari dalam kata apa lagi huruf-huruf mati. Perang dunia antar hati dan pikiran. Lebih baik ia menjadi camar yang sendirian ketimbang berdua, menerima simfoni indah tapi berujung duka kehancuran.

Sudah. 
Perempuan itu sudah merasa lelah dengan formalitas yang tlah dilakukan.

Kisah cinta yang ganjil itu ternyata penuh tipu daya. Harus dihentikan. BERAKHIR. Langkah perempuan itu tidak lagi harus terhambat. Tidak lagi harus kehabisan daya, kehabisan tenaga. Di sini, perempuan itu yang punya kuasa. Ia harus dan benar-benar harus menguasai diri dalam berbagai-bagai dosa yang merayu. 

***
Rantauprapat, 30 Maret 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Sabtu, 26 Maret 2022

Lelaki Tangguh

@kulturtava
...
Ia sendirian tapi sebenarnya tidak.
Kesepian namun memiliki banyak kasih sayang.
Pejuang rupiah yang sabar menunggu, menunggu kekasih jiwa yang telah menjadi masa depan. Terlebih, telah ada buah cinta yang harus dijaga dengan hati dan pikiran. Karya Tuhan yang sungguh-sungguh menakjubkan.

Hidup penuh ketidakadilan seringkali bukan. 
Jarak yang menjulang ada dalam lingkaran lelaki itu dan pohon cintanya. 
Walau demikian, ia harus tabah. Dan ya, ia mentipkan harapan yang ia semogakan dalam doa-doa yang dilangitkan pada Sang Maha.

Begitulah siklus hidup, penuh teka-teki zaman yang sulit terdefenisikan. Well, ia tetap menjaga hatinya hanya pada satu hati. Karena ia lelaki tangguh dan setia. Saat-saat nyata hidup memberikan luka, ia tetap berjuang menaklukkan kegagalan. Bangkit dari keterpurukan. 

Hari ini, lelaki tangguh itu sedang merayakan hari di mana ia dilahirkan,  berharap kesejahteraan ada dalam diri lelaki itu. Terus menghidupi bahagia. Jangan patah hati apa lagi lemah akan hal-hal yang menjatuhkan. Kebijaksanaan ada pada lelaki itu.

Selamat ulang tahun dan bertambah usia untuk lelaki tangguh itu. Yang terbaik untuk ia dan kekasih jiwa yang ada di hatinya. Semoga! 

***
Rantauprapat, 23 Maret 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Kamis, 17 Maret 2022

Perempuan Itu dan Hari Itu

@kulturtava
...
Mundurnya kontrol diri, meningkatnya kompromi perihal hal yang keliru. Hari itu adalah musim suram untuk perempuan itu. Banjir kata-kata datang menerjang.  Dalam sunyi, menjadi pembunuh untuk tidak mengasihi diri sendiri. Mati konyol dalam kebodohan. Meninggalkan kejujuran hati. Gagal bertumbuh dan berproses dengan selayaknya.

Lugu, terlihat baik yang ternyata tidak begitu. Hari itu, perempuan itu menambah sederet nilai merah di rekam jejak yang ada. Tidak berani bersuara, antara takut atau enggan. Perempuan itu bermain-main dengan kemalangan. Hari itu, perempuan itu jatuh ke titik nol. Kembali merumitkan diri sendiri, mengabaikan pentingnya menjaga awareness. Memaksa diri untuk mengiyakan pada hal yang seharusnya "tak".

Sangarnya sentuhan, belaian, menanduskan kandungan nilai yang lama dihidupi perempuan itu. Wadah kehidupan menjadi kotor. Mengerikan, mau sampai kapan perempuan itu jatuh?  Hari itu, perempuan itu tidak lagi bisa menangis. Rasa sakit yang tidak akan terlupa seolah biasa-biasa saja. Menormalkan diri terhadap hal itu. Terbukti, belati yang ada di mata perempuan itu, kini telah di bumi hanguskan. 

The power of no, hari itu tidak merdeka untuk perempuan itu. Ia tidak terbaca, bak tulisan medis yang tidak akan terbaca oleh orang awam. Bengkok dengan sengaja. Perempuan itu dan hari itu, sebuah kisah tentang kekalahan. Ia meminang rasa nyaman yang bukan menjadi haknya. Seperti penyakit yang sulit untuk diobati. Perempuan itu mencipta panas hati dan muram pada dirinya. Perempuan itu bernama, kebablasan. Perempuan oh perempuan, dasar bodoh.

Akan menjadi seperti apa perempuan itu, jika terus kebablasan saat dosa itu merayu? 

***
Rantauprapat, 17 Maret 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Rabu, 16 Maret 2022

Perempuan Itu dan Hari Ini

@kulturtava
...
Teruntuk L, perempuan Itu

Sepatutnya perempuan itu masih bersyukur untuk hari ini, dipercayakan mengulang hari di mana ia dilahirkan. Bersyukur saat-saat di mana, epilog dan narasi yang terjadi hari ini mungkin menyatakan pertanyaan dan pernyataan yang sulit terdefenisikan.

Seharusnya hari ini begitu membahagiakan untuk perempuan itu, namun untuk menghidupi bahagia itu butuh ekstra awareness. Ia tak mendapati beranda untuk dicintai, terabaikan. Mungkin beban yang sudah lama ingin di bumi hanguskan. Apa karena perempuan itu berbeda? 

Lagi-lagi, perempuan itu sadar ia masih bernafas dan tidak boleh sesuka hati menyerahkan diri pada jerat kematian. Ketika hari ini begitu sulit, terlupa atau sengaja dilupa, perempuan itu yang punya kuasa atas segala hal yang terjadi dalam hati dan pikirannya. Harus tetap berusaha untuk memerdekakan hati sendiri.

Benar, perempuan itu masih kesepian. Ia butuh rumah, butuh healing, language of love yang memberi penerimaan, terlebih saat ia mengulang hari di mana ia dilahirkan.  Butuh yang entah akan menjadi atau butuh yang hanya sekadar harapan semu. Entahlah. Perempuan itu tidak seharusnya meletakkan rasa tenteram, tenang teduh pada hal yang sudah berulang kali memberi rasa sakit. Sebab, tak ada yang benar-benar memahami perempuan itu selain diri sendiri. 

Hanya, janganlah perempuan itu lupa, masih ada hari ini, itu hanya karena kebaikan Tuhan. Setelah hari ini, setelah enam belas Maret, usia yang baru, perempuan itu harus memiliki pegangan hidup yang bijak, bertumbuh dan berproses dengan akal dan hati yang sehat.

Selamat bertambah usia untuk perempuan itu. Jangan patah dan tunduk pada kemungkinan demi kemungkinan yang menimbulkan nestaapa. Cintai dan sayangi sayangi diri sendiri. 

***
Rantauprapat, Maret 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Rabu, 09 Maret 2022

Seperti Duri yang Menusuk Lambungmu

@kulturtava
...
Pagi yang lain hari ini. Sebuah percakapan dengan banyak hujan. Hujan kebohongan dan tipu daya. Tentang rasa curiga yang lebih pada tuduhan. Waktu yang bersisian dengan hati. Tergoda pada ucapan perempuan itu. 

Kutahu, kamu lebih percaya perempuan itu dari yang harus dipercaya. Ke mana ia melangkah dan melintas, dengan tergesa kamu akan ikut. Saat langit perempuan itu berwarna pucat dan kelabu, kamu pun demikian. Menggelayutberati arah ke dalam jerat perempuan itu. Kukira ini berlebihan. Tetap saja kamu tak pernah mendengar suaraku.

Kamu tahu bahwa perempuan itu seperti duri yang menusuk lambungmu, kenapa tetap memberi ruang baginya? Menjadi hening untuk segala keseluruhan perempuan itu. Lantas untukku dan untuk cinta yang ada di hatimu, menjadi riuh yang menyebabkan kesulitan. Ini bukan hanya sebuah opini apa lagi dugaan, ini kebenaran. Ketika bersama perempuan itu, kamu tidak lagi ingat yang lain. Semakin lesap dan menjauh dari seseorang yang harusnya menjadi rumah bagiku. 

Perempuan itu sering menjadikan kamu seseorang yang tidak memiliki kasih yang paripurna.

Barangkali benar, kamu harus memberi cinta untuk perempuan itu. Namun, cinta yang lebih besar itu untuk aku dan cinta yang sudah ada di hatimu. Aku merasa sesak pagi ini. Pagi yang aneh, memberi huruf-huruf mati, rekam jejak yang beraura negatif. Buatku berada di entah. Sungguh ada rasa ingin menanduskan perempuan itu. Membumi hanguskan segala hal tentang dirinya, agar ia tidak mendekatimu. 

Jika aku bertanya padamu, siapakah yang menempati ruang paling prioritas di hati dan pikiranmu? Sepertinya, perempuan itu yang menjadi jawab. Perempuan payah, yang sungguh seperti duri yang menusuk lambungmu. Pandai bermain kata-kata. Perempuan itu benar-benar menyusahkanku. 

Kapan kamu akan mengerti perihal cinta dan mencintai, kembali ke tempat yang semestinya? Itu hanya rahasia yang benar-benar belum kuketahui jawabnya. Dan yang masih menjadi harapku, kamu akan menjadi tenang teduhku, kesejahteraan bagiku dan cinta yang sudah ada di hatimu sejak lama. 

***
Rantauprapat, 09 Maret 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Minggu, 06 Maret 2022

Prahara Perempuan Itu Hari Ini

@kulturtava
...
Etika dalam berbicara, tidak diterima perempuan itu. Dikasari, diberi kata-kata pedas. Seolah ia tidak berharga. Hari ini perempuan itu berkunjung ke dalam berbagai-bagai duka. 

Apa karena perempuan itu terbatas dalam banyak hal, ia harus membiarkan diri menerima pembiaraan seperti itu? Ia kepayahan untuk memerdekakan hati, malang. Sunyi sepi ada di hari ini.

Gagal menata hati menjadi teduh. Kisah yang terjadi hari ini buat perempuan itu terpaksa melarikan diri dari kejujuran. Berpalsu diri. Hari penuh ketidakadilan. Tidak ada senyuman, tidak ada kebaikan. Asing dan menjadi hambar.

Prahara perempuan itu hari ini, terjadi ledakan yang menyebabkan hati terluka. Waktu seolah tidak bersahabat dengan kesejahteraan. Perempuan itu adalah pengungsi, gejolak dari prahara yang terjadi hari ini. Ia sadar diri, memilih untuk menepi, diam dan tidak berkomentar. Itu hanya untuk menjaga kesehatan mental.  Menenun kebaikan bagi dirinya sendiri.

Sebelum malam ini berganti dini hari, perempuan itu ingin menghidupi penerimaan. Berdamai dengan keadaan dan diri sendiri. Untuk apa lesap dari hidup hanya karena prahara yang terjadi hari ini. 

***
Rantauprapat, 06 Maret 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Jumat, 04 Maret 2022

Menjadi Hambar

@kulturtava
...
Anda menyembunyikan saya, sebaliknya saya pun demikian. Tak ada yang benar-benar tahu kisah anda dan saya. Kisah ini begitu rumit, protagonis terlalu berani untuk menantang dan menjadi antagonis. Huh! Kemudian hening, ada penyesalan yang tidak termaafkan.

Menjadi pembangkang, itu sudah terjadi. Anda menjadi penjejak berbahaya, itu atas izin saya pula. Merasa merdeka untuk mencintai, kesalahan yang diperbuat dengan sadar. Gagal menanduskan anda perihal mengeja perasaan.

Penerimaan, itu yang saya rasa. Pertama bercengkerama, anda seperti seseorang yang tiga tahun ada di hati saya. Anda tidak keberatan memberikan ruang bagi saya dengan keseluruhan diri berserta hiasan dalam latar belakang saya. 

Saya yang terlalu berharap lebih.
Agaknya terburu-buru dengan rasa yang sungguh-sungguh mengusik. Ternyata, anda tetap tidak sehangat apa lagi semanis itu, anda punya kerumitan yang tersembunyi, pelaku kejahatan kelas berat. Mengakrabi saya demi tujuan, bebas main ke mana-mana dan di mana-mana tanpa hambatan. 

Ah, saya sudah berulang kali berada di entah karena anda. Rasa pahit yang tidak pernah singgah di tenggorokan, sudah terasa di hati saya. Anda, saya dan kita, tak akan berujung untuk itu. Tidak akan pernah menjadi, tidak akan pernah sepasang. Mungkinkah anda pernah berharap anda saya saling terikat? Tentu tidak bukan! 

Penerimaan yang saya rasa, anda membungkusnya dengan rapi. Itu hanya bualan, language of love. Bullshit!
Anda saya, tak ada dalam pilihan jalan yang sama. Untuk berada dalam narasi yang sama,  barangkali itu pun tak pernah diingini hati anda. Saya tidak senyawa dengan anda, kebenaran untuk itu. Ya, harus tetap menjaga rahasia anda dan saya. Terlalu memalukan bila terbuka. Menjadi hening yang tidak terungkap.

Kisah saya dan anda harus layu dan ditenggelamkan. Menjadi hambar! 

***
Rantauprapat, 04 Maret 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Rabu, 02 Maret 2022

Kasih yang Paling Paripurna

@kulturtava
...
Buatkan teh bu, kata bapak pagi ini. Masih melihat dan mendengar suara bapak ibu, itu merupakan kesejahteraan bagiku. Bodoh memang, sering mengumpat dalam hati. Berlaksa duri terucap dari bibir. Ingin dimengerti tanpa mau mengerti. Tidak menghidupi syukur. 

Ya,  seluruh waktu yang sudah kulalui,  kasih bapak ibu sudah mengalir.  Hari ini dan esok, jika masih memiliki esok, tenang teduhku tentunya jika masih memiliki doa-doa dari bapak ibu. Jika aku didepak dari doa-doanya bapak ibuku, aku akan menjadi seperti gelembung dan kupu-kupu yang sayapnya patah.

Mereka terbatas dalam banyak hal, namun tak henti berusaha mencipta wangi cinta. Menghidupkan sentuhan bahagia. Di rahim waktu, bapak ibuku bersikukuh berjuang menaklukkan keterbatasan, di masa tua tetap menyelesaikan kewajiban dan tanggung jawab. Sungguh, benar-benar aku harus menebar air mata yang benar lagi tulus dari hati untuk bapak ibuku, menebar doa baik. 

Ibuku sampai hari ini, masih berkata, aku tidak bisa mewariskan apa-apa, kecuali firman/ajaran Tuhan yang selalu kubaca. 
Bukankah kasih yang paling paripurna, berasal dari pada bapak ibu. Aku pun di mulai karena mereka. Pada Sang Maha, aku masih meminta, jika ada yang benar-benar harus pergi dan berakhir bernafas, itu aku. Terlalu takut kehilangan.

Dan aku, seseorang yang harus terus belajar untuk mencintai bapak ibu dengan hati. Aku harus bertumbuh dengan riap dalam hal cinta kasih untuk mereka. Sebab aku mengasihi orang tuaku.

Ya, bapak ibuku adalah kasih yang paling paripurna.

***
Rantauprapat, 02 Maret 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Rabu, 23 Februari 2022

Merdeka Mencintai

@kulturtava
...
Wahai hati, kesadaran tidak boleh hilang. Seharusnya begitu. Saat hati sedang berbunga-bunga, yang sungguh terjadi tidak lagi berteduh pada koridor yang tepat. Terjadi penurunan kualitas,  berkompromi pada banyak hal. Merasa merdeka untuk mencintai. Tidak, tidak, tidak sama sekali.

Begitulah hati, sulit untuk menerjemahkan rasa yang hadir. Sulit untuk memerdekakan hati sendiri. Sebentar stabil sebentar kemudian labil. Cemburu pada sesuatu yang tidak berhak untuk dicemburui. Mencumbui sesuatu yang sama sekali tidak memiliki akses untuk itu.  Memperlihatkan apa lagi menyerahkan sesuatu yang harusnya masih tersembunyi.

Ketika hati merasa merdeka untuk mencintai, ini menjadi background hidup tidak bahagia. Dipenuhi kesukaran. Mengoyak pagi dan malam dengan kemalangan dan rasa bersalah. Sense of humor terlanjur tinggi. Untuk apa, berada dalam kerumunan hujan luka atas nama cinta. 

Perihal mencintai, hati tidak seharusnya merdeka mencintai. Syair-syair romantisme pun, ada batasan yang semestinya di pegang teguh, tidak menghidupi cinta yang bukan bagian diri. Apa lagi menari indah pada kenyamanan semu. Pintu hati selayaknya terkunci untuk cinta yang sedari awal sudah salah. Agar hati tak mati dan tenggelam dalam lautan luka. Akhirnya, semua alasan tentang cinta, memiliki batasan. 

Jadi bagiku, jangan dengan sengaja merasa merdeka untuk mencintai. Jangan dan jangan. Demikian saja! 

***
Rantauprapat, 23 Februari 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Selasa, 22 Februari 2022

Persembunyian dengan Anda

@kulturtava
...
Berada di padang gurun. Gersang panas. Sudah seperti semak bulus di padang belantara. Tingkah langkah beraroma panas terik. Keadaan tak baik. Banyak persembunyian dengan anda telah dilakukan. Adapun pada waktu itu adalah kesalahan yang tidak seharusnya. Terlalu suam-suam kuku.

Sudah menjadi pecundang. Memberikan ruang bagi anda untuk basah oleh hujan. Menikmati anggur yang tidak dilarutkan dengan kebenaran. Berkamuflase, karena anda banyak dusta dan formalitas terjadi. Tampil rapi ketika di luar, sementara di dalam, berantakan tak karuan. Ketika anda mengubah hal baik menjadi terbalik, tenang teduh menjadi genting, tak ada cinta dalam persembunyian dengan anda.

Atas nama rasa nyaman, kecerdasan seketika menghilang, pendidikan dan gelar akademik tidak lagi berfungsi dengan selayaknya. Ada kronologi yang menyedihkan atas terjadinya kegagalan itu, sebab menikmati waktu senggang bersama kemalangan. Tahu dari awal, bahwa anda itu "longgur", persembunyian dengan anda itu kisah tragis yang ujung-ujungnya " Sad Ending". 

Terlampau banyak ketidakwaspadaann, ketidakhati-hatian. Ada kisah tentang kekalahan yang mau tak mau membuat rasa bersalah. Untuk lepas dari anda, butuh waktu yang cukup lama. Untuk terjadi perpisahan dengan anda, butuh keberanian lebih. Pasti ada dilema, yang buat kepala pusing dan buat bumi gelap pada hari cerah. But, pasti sanggup tanpa anda. Persembunyian dengan anda harus diakhiri. Anda harus tersingkir!

***
Rantauprapat, 21-22 Februari 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Senin, 21 Februari 2022

Jika Tanpa Kita maka Saya

@kulturtava
...
Sesungguhnya saya telah menyerahkan bagian yang tidak bagianmu. Dan ini pun adalah seutuhnya kekeliruan. Saya melanggar ketetapan yang menjadi rambu yang ada. Merasa diistimewakan, diberi penerimaan, merasa hangat pelukan kamu, itu hanya rasa yang sungguh-sungguh diciptakan sendiri oleh saya.

Kamu katakan rumah itu pasti, hanya belum dapat diisi. Itu bullshit. Pembodohan karena saya percaya. Tak akan pernah ada rumah, bahkan untuk lahan pun tak akan pernah tersedia. Tak akan pernah ada kata KITA. Well, jika tanpa kita maka saya akan tetap hidup, hidup yang lebih hidup. Semoga! 

Kamu itu penambah deretan kesalahan di seluruh saya, pecahan beling yang mampu melukai. Ada cinta yang harus mati terbunuh, itu kamu. Kamu seperti tinta hitam, gelap pekat. 

Dalam luasnya jejak-jejak sejarah yang masih harus saya jalani, kamu tidak lagi boleh menjadi penjelajah dan memberi language of love pada saya. Saya kamu sudah sad ending. Muak, jijik. Begitu bodoh, membiarkan diri jatuh sejatuh-jatuhnya pada kamu.

Jika tanpa kita maka saya, akan tetap hidup. Walau demikian, seditnya pasti ada kesedihan. Ada luka yang harus disembuhkan. Sejujurnya begitu! 

***
Rantauprapat, 21 Februari 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Minggu, 20 Februari 2022

Perempuan yang Harus Melunasi Kewajiban

@kulturtava
...
Perempuan itu sakit tapi sehat, panas tapi dingin, kemarau tapi hujan. Terlalu membiarkan diri dalam teka-teki. Dipaksa untuk menerima ketidakadilan. Berkata ya untuk tidak, berkata tidak untuk ya. 

Saat tangis perempuan itu harus diredam. Di bawah guyuran shower kamar mandi, seolah ia mandi ternyata menangis tersedu, hingga ingusan dan kepala berdenyut tak karuan. Tangis perempuan itu jadi tak terdengar. Memilih dipadamkan dari pada bertengkar dengan pengusik. 

Hingga wajah memerah, perempuan itu meluangkan waktu menghabiskan detik, menit, hampir beberapa  jam berada di bawah terik matahari untuk menjauh dari kebisingan yang terdengar. Tak nikmat sama sekali.

Sebenarnya perempuan itu ingin keluar, menyembuhkan luka lara. Ia sedang terluka, tidak baik-baik saja. Namun, sadar tak ada teman atau tempat yang bisa dituju. Tak ada penerimaan yang akan didapat.

Lelah, berkata pada diri sendiri, ingin ISTIRAHAT lebih dulu. Lantas sadar, bukan ia yang punya hidup. Terlalu banyak kesalahan dan terlalu banyak dosa yang telah dicicipi.  Selagi masih bernafas, harus berbenah, esok belum tentu jadi milik perempuan itu. Ia harusnya melunasi kewajiban pada Sang Pemilik Hidup. Menjalani hidup dengan benar.  Bertanggung jawab atas ketidakadilan hidup yang dijalani. Karena hidup punya kesusahan sendiri. 

Perempuan itu harus melunasi kewajiban dengan benar. Perempuan itu punya Tuhan yang memiliki ketidakterbatasan dan tahu keterbatasan yang melekat di dirinya. Tamparan kata-kata yang seringkali didapati perempuan itu akan reda, jika berdamai dengan keadaan dan diri sendiri.

Perempuan itu tidak dan tidak ingin lagi menciptakan sinopsis yang berujung "Sad Ending" di memory yang ia punya. Dan sesungguhnya ia sadar, hidup yang masih dipunyai hari ini, tetap ada bagian yang mempesona dan itu pun pemberiannya Sang Maha.

***
Rantauprapat, 20 Februari 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Sabtu, 19 Februari 2022

Jika Tanpa Dia maka Saya

@kulturtava
...
Sepi, itu mungkin yang akan terjadi. Itu hanya kemungkinan, bisa menjadi bisa juga tidak. Karena sebenarnya masih ada dia yang lain dalam seluruhnya saya.

Dia pernah banjir kata-kata, menggoreng huruf-huruf yang menggoda. Mengusik dan hiruk pikuk di kepala saya, perlahan dibutakan dalam rasa, dibutakan kenyamanan. Perihal mengeja perasaan, saya gagal dalam seketika. Ketahanan diri saya ambruk.

Jatuh. 
Gersang.
Bodoh. 

Ah, sulit tidak merasakan getaran saat dia memberi sentuhan demi sentuhan. Dia unstoppable bicara tentang mendengarkan, tentang penerimaan. Awalnya begitu, mungkin itu marketing pemasaran untuk saya. 

Terbukti dia hanya tamu, memiliki daya pikat tapi tidak untuk rasa teduh. Dia hanya menikmati bukan untuk dinikmati. Konyol, terlalu gampang, akhirnya menjadi gamang.  Yang bersalah dalam hal ini, tentu saja saya. Bagaimana pun, yang mengizinkan dia menjamah dan memiliki akses perihal saya, ya saya sendiri.

Dia tidak seindah harapan yang saya pilih. Berlalu tanpa kata, menyimpan cerita duka. Ada jejak yang dia tinggalkan. Inilah fakta tentang proses saya yang disebabkan oleh dia.  Dia bukan lagi selayaknya oase yang menyejukkan. Saya tidak lagi boleh bersimpuh di bawah pohon cinta karena dia. 

Dia bukan lagi hasrat yang menjadi inginnya saya. Dan, jika tanpa dia maka saya akan bisa baik-baik saja. Harus bisa! 

***
Rantauprapat, 19 Februari 2022
Lusy Mariana Pasaribu