@kulturtava
...
Hu, kamu adalah penyesalan yang berulang. Hatiku bersemi dan layu seperti kembang untukmu. Hari ini pun kaucampakkan aku ke air yang dahsyat. Dengan sadar dan sengaja, memberi tatapan dan ucapan yang tak bermakna. Percakapan yang tidak berenergi ada karenamu.
Aku pernah rela kehilangan demi kebahagiaanmu, hahaha, saat kamu kembali tidak tahu diri, aku menertawakan kebodohan itu. Ternyata suatu kesalahan memberi mutiara pada bab*, ada perumpamaan itu. Aku memikirkan kesejahteraanmu, tapi kesejahteraanku bukan kesejahteraanmu. Relasi yang menjijikkan!
Hari ini menjadi Sabtu dan malam yang basah, aku kecewa. Aku ingin benar-benar menjalani hidup tanpa kamu. Realita dan fiksi yang tidak terbaca.
Antara aku dan kamu, banyak dosa yang merayu. Membiarkan kemalangan meraja, patah hati yang menduduki sebagian jiwa dan pikiran. Sebenarnya, ingin menjadi manusia yang tanpa hati dan kepala terhadap kamu, tapi tetap tidak mampu. Hanya berulang kali mengumpat untukmu!
Malam ini, aku seperti pohon anggur yang tidak riap tumbuhnya. Mungkinkah, selepas pergantian hari ini, kamu berubah atau aku akan tetap layu seperti kembang terhadapmu? Aku tak bisa memastikan. Aku hanya berharap tetap mampu dan bertahan saat harus ada bersamamu, sampai saat tiba waktunya, kamu'akan benar-benar pergi dan lenyap dari semestaku.
***
Rantauprapat, 31 Desember 2022
Lusy Mariana Pasaribu