Sabtu, 31 Desember 2022

Bersemi dan Layu Seperti Kembang

@kulturtava
...
Hu, kamu adalah penyesalan yang berulang. Hatiku bersemi dan layu seperti kembang untukmu. Hari ini pun kaucampakkan aku ke air yang dahsyat. Dengan sadar dan sengaja, memberi tatapan dan ucapan yang tak bermakna. Percakapan yang tidak berenergi ada karenamu.

Aku pernah rela kehilangan demi kebahagiaanmu, hahaha, saat kamu kembali tidak tahu diri, aku menertawakan kebodohan itu. Ternyata suatu kesalahan memberi mutiara pada bab*, ada perumpamaan itu. Aku memikirkan kesejahteraanmu, tapi kesejahteraanku bukan kesejahteraanmu. Relasi yang menjijikkan!

Hari ini menjadi Sabtu dan malam yang basah, aku kecewa. Aku ingin benar-benar menjalani hidup tanpa kamu. Realita dan fiksi yang tidak terbaca.

Antara aku dan kamu, banyak dosa yang merayu. Membiarkan kemalangan meraja, patah hati yang menduduki sebagian jiwa dan pikiran. Sebenarnya, ingin menjadi manusia yang tanpa hati dan kepala terhadap kamu, tapi tetap tidak mampu. Hanya berulang kali mengumpat untukmu!

Malam ini, aku seperti pohon anggur yang tidak riap tumbuhnya. Mungkinkah, selepas pergantian hari ini, kamu berubah atau aku akan tetap layu seperti kembang terhadapmu? Aku tak bisa memastikan. Aku hanya berharap tetap mampu dan bertahan saat harus ada bersamamu, sampai saat tiba waktunya, kamu'akan benar-benar pergi dan lenyap dari semestaku. 

***
Rantauprapat, 31 Desember 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Rabu, 21 Desember 2022

Seperti Batu ke Air yang Dahsyat

@kulturtava
...
Pada hari yang kedua puluh lima bulan kesebelas tahun itu, kaucampakkan perempuan itu ke air yang dalam, seperti batu ke air yang dahsyat.

Ternyata kamu datang sebagai tamu yang memberi rasa sakit. Tenaga perempuan itu seketika menghilang, bahkan untuk bernafas terengah-engah. Patah hati terperangkap dalam jiwa perempuan itu, ternyata tidak sesederhana mengenai kamu. Ada rasa sesal di hati perempuan itu, mengapa kamu begitu menyusahkan ? Bertahan lama pada rasa dan ketidakhati-hatian adalah kesalahan yang teramat. Semakin terasa sulit.

Barangkali tak pernah ada cinta untuk perempuan itu, hanya kepalsuan belaka. Bermain-main dengan kemalangan pada waktu luang. Tak pernah benar-benar ingin menjadi, 

Kamu dan perempuan itu adalah suatu kesalahan, kesalahan yang selalu dikompromi. Mengapa sulit? Kamu pernah memberikan tenang teduh kemudian kamu hantarkan perempuan itu ke tempat yang paling sunyi. Kembali kalah dan tawar hati.  Kamu seperti duri yang menusuk lambung perempuan itu.  Persembunyian dengan kamu, selesai sudah. Menjadi hambar.

Jika tanpa kamu, mau tak mau perempuan itu akan kembali menyimpan rahasia seorang diri. Tak ada lagi sayang, tak ada lagi rindu. Berakhir sebagai daun jatuh perihal mengeja perasaan tentang kamu. Antara kamu dan perempuan itu ada penyesalan yang tidak termaafkan. Kamu itu bukan rumah, dan perempuan itu juga bukan rumah bagi kamu. 

Perempuan itu ada dalam waktu kebodohan ketika mengizinkan kamu ada di hati. Kamu pria pinokio, pria yang melululantakkan perasaan bahkan harapan yang disemogakan. Barangkali sebenarnya, perempuan itu adalah ketidakpantasan yang kamu inginkan saat kamu ingin. 

***
Rantauprapat, 25 November 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Kata-katamu Seperti Angin yang Menderu

@kulturtava
...

Kamu mengulang kesalahan yang sama, menanam perih yang sengaja kulupa. Kata-katamu seperti angin yang menderu. Penuh kepalsuan. Aku sangat-sangat tidak nyaman bahkan tidak bisa berpura-pura baik-baik saja saat ini.

Terluka. Lagi, kamu pecundangi aku. Apakah kamu pernah menyesal sudah membunuku berulang kali, aku sudah lama mati untukmu. Barangkali tidak sama sekali, toh hari ini terjadi lagi dan lagi. Seperti batu ke air yang dahsyat, kaucampakkan aku. Tidak berakal, tidak tahu diri. Dengan sengaja dan sadar, mengajak pun memancingku jatuh pada dosa yang merayu. Benar-benar marah dan ribuan huruf-huruf umpatan terucap.

Patah hati. Sudah seperti kali yang habis airnya, kering kerontang. Menyakitkan. Sampai penghujung tahun, barangkali aku belum mampu bersih-bersih terhadap apa yang kamu tabur padaku. Bagaimana ketahananku, mau tak mau, rela tak rela, harus tahan. Ini paradoks hidupku. Entah aku pernah memaafkanmu, yang pasti aku membencimu.

Bersamamu aku terluka, apakah tanpamu aku tetap terluka? Kuharap tidak. Sudah terlalu lama, ada badai hebat sebab mendengar kata-katamu yang seperti angin menderu. Kuping dan hatiku panas. Di penghujung tahun, hatiku terpasung dari kesejahteraan untukmu. Apakah suatu hari nanti, akan berubah? Belum tahu jawabannya. Bisa jadi ada satu kisah manis yang tersimpan di kepala. Saat itu terjadi, aku akan buat pengakuan bahwa kamu pernah menjadi hal yang baik di semestaku. 

Aku pun akan memaafkanmu!

***
Rantauprapat, 21 Desember 2022
Lusy Mariana Pasaribu