Haha, aku berada di pohon bara raksasa. Membakar habis kewarasanku. Ah, sialan. Aku seperti ludah yang tidak berharga, camar cacat yang sendirian. Ini sejarah di akhir tahun, asu. Berada di kerumunan hujan, chapter end year but not new year. Konyol, syair dan prosa tentang hari, esok, lusa, tetap menyayangi ternyata hanya prosa, aku hanya merasa memiliki yang ternyata hanya rasa kosong.
Kesejahteraan ku tidak pernah menjadi kesejahteraanmu, lantas dan bodohnya berjuang menguasai diri menunggu kabar baik tapi ternyata aku hanya mencari rumah dan rumah itu tidak pernah memberikan tempat untukku. Dekapan masa lalu dan aroma masa silam dengan bebasnya tumbuh sore hari ini menjadi sejarah di akhir tahun.
Benar-benar berisik dan tidak hidup. Menyakitkan. Aku yang kesepian, dan kesepian yang meniduri sepi. Mencoba melupa tapi tak akan pernah lupa, cacat dan harus sadar diri. Ini sejarah di akhir tahun, menjadi babak demi babak isi kepala dan hati serta perasaanku. Selalu menanam bara dan luka, tidak pernah kau berpikir dan merasa bagaimana di posisiku.
Tidak ada kegembiraan yang menghampiri di antara akhir tahun dan beberapa jam menjelang awal tahun, aku dicekam ketakutan. Ada perundung yang selalu ingin didengar dan ingin membumihanguskan aku. Muram, tenggelam, namun tetap hidup dalam kematian. Jendela tertutup di akhir Desember menyampaikan rasa sakit dan bara yang terus-menerus. Dan gampangnya mencaci maki dan memberikan tatapan yang mematikan, sebentar kemudian minta maaf dan memberikan alasan yang klise.
Ini masa-masa yang selalu memberikan rasa sakit, bergumam ingin mati dan menjumpai Tuhan, tapi sadar tidak layak dengan segala keberdosaan. Air mata di akhir tahun menjadi teman, dan dengan rela menjadi pinokio juga merelakan diri ada di hutan-hutan mati demi tercapainya replika kebahagiaan walau dengan kepura-puraan.
***
Rantauprapat, 31 Desember 2025
Lusy Mariana Pasaribu