Rabu, 31 Desember 2025

Sejarah di Akhir Tahun

Kulturtava
...

Haha, aku berada di pohon bara raksasa. Membakar habis kewarasanku. Ah, sialan. Aku seperti ludah yang tidak berharga, camar cacat yang sendirian. Ini sejarah di akhir tahun, asu. Berada di kerumunan hujan, chapter end year but not new year. Konyol, syair dan prosa tentang hari, esok, lusa, tetap menyayangi ternyata hanya prosa, aku hanya merasa memiliki yang ternyata hanya rasa kosong. 

Kesejahteraan ku tidak pernah menjadi kesejahteraanmu, lantas dan bodohnya berjuang menguasai diri menunggu kabar baik tapi ternyata aku hanya mencari rumah dan rumah itu tidak pernah memberikan tempat untukku. Dekapan masa lalu dan aroma masa silam dengan bebasnya tumbuh sore hari ini menjadi sejarah di akhir tahun.

Benar-benar berisik dan tidak hidup. Menyakitkan. Aku yang kesepian, dan kesepian yang meniduri sepi. Mencoba melupa tapi tak akan pernah lupa, cacat dan harus sadar diri. Ini sejarah di akhir tahun, menjadi babak demi babak isi kepala dan hati serta perasaanku. Selalu menanam bara dan luka, tidak pernah kau berpikir dan merasa bagaimana di posisiku. 

Tidak ada kegembiraan yang menghampiri di antara akhir tahun dan beberapa jam menjelang awal tahun, aku dicekam ketakutan. Ada perundung yang selalu ingin didengar dan ingin membumihanguskan aku. Muram, tenggelam, namun tetap hidup dalam kematian. Jendela tertutup di akhir Desember menyampaikan rasa sakit dan bara yang terus-menerus. Dan gampangnya mencaci maki dan memberikan tatapan yang mematikan, sebentar kemudian minta maaf dan memberikan alasan yang klise.

Ini masa-masa yang selalu memberikan rasa sakit, bergumam ingin mati dan menjumpai Tuhan, tapi sadar tidak layak dengan segala keberdosaan. Air mata di akhir tahun menjadi teman, dan dengan rela menjadi pinokio juga merelakan diri ada di hutan-hutan mati demi tercapainya replika kebahagiaan walau dengan kepura-puraan.

***

Rantauprapat, 31 Desember 2025

Lusy Mariana Pasaribu 

Kesendirian Memilih Jalan untuk Tidak Punah

Kulturtava 
...

Bagaimana kabar hati sepanjang tahun ini? Tentu saja banyak kepatahan bahkan lebih banyak kepatahan daripada sukacita, Kebahagiaan tidak lagi berdering. Apalagi kantong yang cukup, kenapa embel-embel anak paling tua harus selalu diutamakan sedangkan kesendirian tidak diperdulikan. 

Itulah manusia, sudah tahu tidak ada yang merayakan bersama dalam rangka kesusahan, duka apalagi kesuraman dalam hidup tapi tetap membiarkan diri jatuh dalam penyesalan yang berkabung. Kenapa lupa bahwa kesendirian juga bisa memiliki hari-hari yang bermakna. Kesendirian tidak harus memilih jalan untuk punah dan menjadi seongok baterai dari manusia-manusia lemah.

Bukankah seharusnya kesendirian tidak memilih jalan untuk punah. Karena hidup adalah perjalanan dan pertarungan yang tak akan pernah punah hingga kematian menjadi teman. Lantas kenapa membiarkan diri ada pada kemalangan yang berlarut.

Hidup adalah sepi dan setiap jiwa memiliki kesepiaannya sendiri.

Hidup adalah rekam jejak dan perjalanan yang memiliki kesusahannya sendiri.

Dan benar kesendirian tidak memilih jalan untuk punah. Kesendirian juga memiliki cinta, walau cinta tidak harus memiliki kekasih jiwa. Karena cinta itu mematikan, dan jatuh cinta lah untuk mampu menghadapi kehidupan yang mematikan. 

Di penghujung tahun ini, tiga puluh satu Desember pukul kosong kosong dini hari, jangan menjadi manusia-manusia bodoh di balik kata kesendirian, baik yang sendiri maupun tidak sendiri memiliki hari terakhirnya masing-masing. Lantas, Apakah harus memilih untuk punah atau bergandengan dengan doa pada sang maha untuk mampu menjalani hidup dengan segala keterbatasan. 

Kepada kesendirian yang memilih jalan untuk tidak punah, tenanglah jiwamu dan berjuanglah untuk bertarung dalam jejak-jejak kehidupan sehingga mampu menjadi pohon anggur yang riap tumbuhnya.

***

Rantauprapat, Desember 2025

Lusy Mariana Pasaribu 


Selasa, 30 Desember 2025

Hari Ini, Esok, Lusa, Tetap Menyayangi

www.Peakpx.com
...
Ternyata untuk merawat cinta yang ada itu sulit, banyak beban harus diselesaikan. Ada luka yang sulit sekali untuk hilang, 
Banyak pertanyaan-pertanyaan yang berisik di kepala. Kenapa, kenapa dan kenapa harus aku? 

Ini catatan tentang aku yang tak pernah selesai, menjadi gagu pun menjadi gamang. Ini bukan perihal tidak ikhlas, dengan gampangnya seseorang mengatakan itu. Aku muak, marah, ada di fase yang selalu mengatakan iya iya dan iya tanpa berhak melakukan perlawanan. Pada suatu hari aku dilahirkan, tapi pada suatu hari yang lain aku seperti tidak pernah ada. Seperti rumah-rumah tanpa jendela, seperti itu juga aku, sesak dan terkurung dalam pengap. 

Sudah lebih dari tiga dasawarsa ada di bumi pertiwi Indonesia selama hampir empat dasawarsa hidup lebih sering mengalami patah hati yang panjang, selama itu juga mencoba untuk berdamai, untuk mengakhiri patah hati, namun tetap saja ada luka yang sengaja ditancapkan. Dan terkadang dengan bodohnya membiarkan diri jatuh pada hujan yang basah dan dosa yang merayu.

Ini ada kejujuran yang telanjang, barangkali tidak pernah ada ikatan yang benar-benar, karena bukankah tidak akan pernah bertepuk jika hanya sebelah tangan. Tapi tidak dapat dibohongi, ini adalah relasi pertama yang dimiliki. Ini adalah nyanyian kesendirian dari camar yang terabaikan. Kemungkinan terburuk, ya tetap diabaikan sampai maut memanggil.

Dari awal itu adalah tanggung jawab, baik kurang baik keadaan, aku harus tetap memiliki kewarasan dan sadar ada beban yang harus tetap dipikul. Aku adalah pohon anggur yang tidak riap tumbuhnya, sejujurnya dan sebenarnya banyak nama-nama yang ingin ku hapus dari perjalanan hidup, tapi itu adalah kemungkinan yang tidak pernah akan terjadi. 

Karena dengan sadar juga aku tahu dan memberi peringatan di hati dan akal yang kadang-kadang liar ini, I LOVE THEM. Sebelum tahun baru dan beberapa bulan sebelum aku bertambah usia, aku akan mencoba kembali mengakhiri patah hati dan melepas bayang-bayang kebodohan yang kubiarkan ada padaku. 

Hari ini, esok, lusa, tetap menyayangi relasi pertamaku dalam hidup. Ini tentang rumah dan cerita-cerita rahasia yang memiliki plot twist di luar nalar. Aku menulis prosa malam ini untuk menjadi sejarah dalam hidup, bahwasanya aku mampu bertahan untuk kembali berdamai dan mencoba untuk tetap baik-baik saja. Melepas luka dan kesedihan, walau sulit tapi bukan tak mungkin itu berhasil.

Remember note, relasi pertama yang dimiliki. So, hari ini, esok, lusa, tetap menyayangi. Suatu hari, aku berharap bukan hanya menemukan tapi ditemukan dan dianggap ada agar terlihat walau aku terbatas dalam banyak hal. Aku ingin mampu tertawa gembira dengan ikhlas, memiliki ingatan manis yang berpendar di sela-sela dedaunan pohon anggur dan menjadi riap tumbuhnya.

***
Rantauprapat, 30 Desember 2025
Lusy Mariana Pasaribu 

Jumat, 26 Desember 2025

Pada Suatu Sore

Foto pribadi 
...

Ah, boom, ada ledakan besar terjadi. Tanpa aba-aba, tanpa pemberitahuan, kembali lagi jatuh jatuh dan jatuh, kedua kaki tak mampu bertahan, tak mampu menopang tubuh untuk melangkah sekalipun, pada suatu sore di hari kedua puluh enam bulan kedua belas, ada kejujuran yang telanjang memberitahu tentang keberadaan diri, ternyata hanya manusia lemah yang benar-benar lemah.

Sakit, sendirian, dan lebih baik tidak pernah mencoba-coba untuk keluar dari kamar pengap yang kecil dan tidak memiliki ventilasi udara. Rasanya sesak, terlebih ketika menahan tangis yang harusnya keluar.

Terlalu mengerikan bukan, apalagi di hari kedua puluh tiga di bulan kedua belas juga, untuk pertama kali serasa ditolak dan baru mendapat perkataan yang mengatakan: seharusnya kategori orang yang cacat tidak berhak mendapat bagian, CACAT! Begitu tidak adilnya kah hidup. Siapakah pernah benar-benar berhak untuk menghakimi orang lain. 

Pada suatu sore yang entah kapan, Bolehkah benar-benar menikmati waktu dengan merasa dicintai dan diterima, tanpa kejatuhan dan kejatuhan yang memberi kesialan dalam hidup. Karena sepertinya tidak ada yang benar-benar atau terlalu peduli. Jadi tidak ada gunanya jika juga terlalu terbuka dengan segala kejujuran yang telanjang.

Hari kedua puluh enam, adalah segala kisah dengan rasa sakit. Adalah segala kisah dengan kesendirian, adalah segala kisah dengan irama kesedihan. Kejatuhan hari ini adalah kisah yang berulang-ulang terjadi, sudah biasa memang tapi masih saja sakit, ketika dibiarkan sendiri. Dan memang lebih baik saja terus-menerus berada di kamar yang lembab tanpa merasakan sinar matahari, daripada memberikan pertanyaan yang tidak ada jawabannya. Kenapa, kenapa dan kenapa?

Sudah lebih dari satu dasawarsa, keadaan masih sama saja atau bahkan bisa dikatakan lebih parah. Ini adalah kisah yang berakhir pada kesendirian. Namun, bukankah kesendirian bisa memilih jalan untuk tidak punah, untuk tidak berakhir pada kata putus asa. 

Semoga, pada suatu sore yang entah kapan, sekalipun masih tetap menjadi manusia yang lemah dan segala kejatuhan, organ tubuh yang tidak mampu lagi untuk bertahan, tetaplah memiliki kewarasan dan memilih untuk tidak punah dengan segala kebodohan. Itu saja barangkali catatan untuk hari ini.

***

Rantauprapat, 26 Desember 2025

Lusy Mariana Pasaribu 

Kejujuran yang Telanjang


Selamat merayakan kehilangan, kehilangan yang sudah lama mati. Ah, ini kisah yang disembunyikan. Banyak yang diam-diam ditinggalkan, banyak juga yang tak lagi sama. 

Ini perihal kejujuran yang telanjang, keserakahan dari manusia-manusia lemah. Pria tua yang tidak sadar diri akan umur dan tingkah laku yang liar, membumihanguskan arti dari ikatan. Memberikan sentuhan-sentuhan liar yang tidak sepantasnya. Tidak tahu kapan persisnya itu dimulai dan kapan benar-benar sudah berakhir tapi belum benar-benar selesai. Perempuan tua juga yang meluluh lantakkan perasaan, yang harusnya memberi kasih sayang dan rumah yang utuh. Malahan mengeluarkan kata-kata yang menenggelamkan dan kata-kata umpatan yang penuh kutuk.

Tak ada lagi harapan yang mengalir, yang ada hanya kesia-siaan dan mau tak mau menjalani hidup dengan segala kepura-puraan dan topeng. Hanya ada kekerasan yang menyamar sebagai kata cinta. Ini adalah kejujuran yang telanjang dari seseorang yang yang terluka sangat dalam. Tak pernah pula ingin membenci, hanya merajut kata-kata untuk mengeluarkan kejujuran telanjang.

Walaupun kejujuran yang telanjang ini tak pernah menjadi artikel utama karena selalu disembunyikan, setidaknya dengan huruf- huruf mati kejujuran ini bisa melegakkan perasaan. Dalam hidup tidak akan pernah menerima kalimat "sedia aku sebelum hujan", karena selalu saja salah apalagi menerima payung untuk tidak basah karena hujan. 

Kejujuran yang telanjang kali ini, sering kali harus dejavu dengan dosa yang sudah seringkali berisik di kepala, mau tidak mau harus berdamai walau sulit. Selamat merayakan kehilangan, Bodohnya, adakah yang merayakan Kehilangan itu, atau malah merasa biasa saja karena tidak pernah ada. Setelah abjad-abjad dari kejujuran yang telanjang ini finish, tidak tahu apakah benar-benar selesai atau malah kilas balik dari kisah liar itu kembali mengganggu di kepala dengan berisiknya. 

Ini catatan tentang kejujuran yang telanjang namun tidak pernah selesai, barangkali sampai ada kematian. Ini juga latihan untuk melupa tapi sepertinya takkan pernah lupa, karena merupakan sejarah yang benar-benar kejam.

***

Rantauprapat, 26 Desember 2025

Lusy Mariana Pasaribu 

Senin, 22 Desember 2025

Mencumbui Desember yang Basah

@Kulturtava
...

Bukan hanya melulu tentang luka, ini juga tentang kantong yang tidak lagi berdering. Tanggung jawab yang harus diselesaikan, hingga mengeluarkan yang tidak perlu dikeluarkan. Desember kali ini benar-benar basah, ini bukan akhir tapi terasa seperti akhir. 

Mau tak mau, harus mencumbui Desember yang basah dengan tetap memiliki kesadaran. Sangat-sangat sulit tapi bukan tidak mungkin terjadi, ini hanya sebuah catatan dari seseorang yang menyukai huruf-huruf mati menjadi teman.

Memakai dan melepaskan topeng adalah hal yang sering dilakukan pada Desember yang basah, menutupi jejak-jejak yang harus ditutupi, jatuh cinta lah untuk mampu mencumbui Desember yang basah dengan kewarasan dan penerimaan. Karena sebenarnya terlalu banyak ketidakjujuran, terlalu rumit untuk kata sederhana tapi begitulah hidup. 

Mengakhiri tahun ini tidak tahu apa yang harus dipatahkan dan tidak tahu pula apa yang harus ditumbuhkan, kesejahteraan orang lain, kenyamanan diri sendiri dan realita hidup, seperti gagu dan gamang antara batas hidup dan mati. Seandainya saja bisa memilih, seandainya saja bisa sehat sempurna, seandainya saja bisa bergerak dan melangkah, itu hanya andai-andai yang menjadi seandainya yang takkan pernah menjadi.

Desember penuh kebisingan, ingin menertawakan tapi itu terdengar seperti kejahatan yang bodoh, tragedi di balik kenyamanan. Ada sunyi dan senyap yang menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang terkadang memberikan kegelisahan. Bagaimana pun, ada yang hilang dan ada yang akan ditemukan. Mungkin Desember kali ini menjadi Desember yang basah, namun mungkin tidak di Desember yang berikutnya, barangkali demikian.

***

22 Desember 2025

Lusy Mariana Pasaribu 

Jumat, 19 Desember 2025

Rekam Jejak dan Percakapan

Freepik
...

Ada yang menulis demikian, kadang merenung juga merasa, merasa kosong tapi hidup, kadang hampa tapi hidup harus terus berjalan, tapi yang tidak sefrekuensi dan seirama adalah yang menulis di atas tadi kembali menuliskan bagian terakhir yang berbunyi demikian: kadang kepikiran tapi terbawa perasaan sesaat. Itu sah-sah saja karena opini pribadi, tapi untuk perkara kali ini itu tidak benar. Ini bukan tentang hanya merasa tapi ini tentang rekam jejak dan percakapan yang memberi rasa sakit yang sangat-sangat sakit. 

Rasanya aneh memang berada di Desember yang basah tapi ini adalah pilihan lebih baik menjadi asing. Daripada mempertahankan cermin retak dan membiarkan satu ruangan menjadi tidak selamat.

Pada suatu hari di bulan Desember yang basah, kembali saja ada momen yang membuat jatuh pada kekalahan. Dari bola mata yang telanjang terlihat tidak ada sukacita. Di ambang penghujung Desember dan awalan Januari, apakah mampu benar-benar mengakhiri patah hati? Who know? Karena semua memiliki misteri topeng masing-masing.


Ada rekam jejak dan percakapan yang tak memiliki ujung. Seseorang berada di tengah kerumunan namun seseorang itu hanya berada di abjad-abjad yang abstrak, yang tidak pernah berkhianat. Ini tentang rekam jejak dan percakapan yang memberikan sorot mata redup. Sepanjang beberapa hari di Desember yang basah ini, dari jam ke jam berikutnya terasa sangat lama sekali untuk berganti.

Reka adegan kembali terulang terhadap kisah-kisah yang telah lama terpendam di hati seseorang itu. Begitu terasa sulit dengan hati, kembali berusaha untuk berdamai terhadap rekam jejak dan percakapan yang telah terjadi. 

***

19 Desember 2025

Lusy Mariana Pasaribu 

Kamis, 18 Desember 2025

Ini Bukan Tentang Terlalu Banyak Merasa

Kulturtava
...

Rindu dan harapan yang takkan pernah, takkan pernah menjadi. Hanya tong kosong nyaring bunyinya, tak pernah benar-benar ada ritme yang menjaga kewarasan dan kesejahteraan yang ada malah menguasai mendominasi dengan segala otoriter. Lisan yang liar dengan segala abjad yang keluar dari mulut berbisa, setan, hantu, tapi karena tak pernah berpenghasilan harus selalu diam dan menerima dengan terpaksa. Menangis juga tidak ada guna.

Ini bukan tentang terlalu banyak merasa tapi adalah fakta yang seolah-olah tak pernah terjadi. Ini adalah kisah-kisah seperti rumah tanpa jendela. Sudah sangat lama tak pernah lagi bermimpi, karena hanya sendiri dan selalu sendiri diam dan tak pernah bergerak dari kamar yang pengap dan tak berjendela.

Bagaimana lagi mampu untuk menetapkan batasan kewarasan, sementara diri sendiri tak pernah bisa keluar dari ketoksikan yang mengikat dan terpaksa terikat. Lagi-lagi ini bukan tentang terlalu banyak merasa. Sudah terlalu banyak dosa yang dirayu hanya untuk merasa baik-baik saja tapi tetap gagal. Ini tentang camar yang sendiri.

Desember penuh dengan hujan, dan ternyata harus selalu basah. Tak ada suka duka tawa, yang ada marah dan menjadi rumput liar yang ditertawakan. Delapan belas desember penuh kebisingan dan rekam jejak yang berbahaya. 

Ternyata di Desember yang penuh luka bagi orang lain bisa menjadi bahan tertawaan bagi orang lain juga. Pelaku seolah-olah menjadi korban dan korban seolah-olah menjadi pelaku. Ini hidup dan bukan tentang terlalu banyak merasa. Ini tentang seseorang yang tidak akan pernah selesai, selama masih bernafas dan dunia masih ada.

Untuk melalui beberapa jam selepas malam ini saja harus mengingat bahwa cinta ternyata harus dinilai dengan angka-angka yang cukup besar. Itulah masa lalu seharusnya tidak pernah menjadi masa kini, kehidupan yang asu benar-benar asu. Rasa-rasanya dan barangkali kebenarannya, tak pernah benar-benar saling memiliki. Sebuah cara melupa sudah diusahakan tapi ini ternyata itu sia-sia selalu saja berisik di kepala.

Kemungkinan terburuk akan tetap merusak diri sendiri. Karena dari awal sudah kalah. Hidup tapi mati dan mati tapi hidup. Terlalu berharap, terlalu takut, terlalu sulit apalagi berjuang untuk keterbatasan, anehnya itulah hidup. Jadi ini adalah cerita dan kisah dari rekam jejak yang bukan hanya tentang terlalu banyak merasa.

***

18 Desember 2025

Lusy Mariana Pasaribu 

Rabu, 17 Desember 2025

Berbau Hangus dan Keotoriteran

KOMPAS/SPY
...

Sial, tanpa aba-aba, ribut yang menggemparkan terjadi, heboh bahkan sangat-sangat heboh. Akibat dari menjadi pahlawan bagi semut di ujung jangkauan tapi boomerang bagi gajah di depan mata, miris bukan.

Mengabaikan peringatan, air mata demi tercapainya keotoriteran. Merasa hebat dan menang jika selalu didengar dan dituruti. Sampai-sampai keributan yang terjadi berbau hangus, apa yang dicari dengan lebih mementingkan semut yang ada di ujung jangkauan.

Mengabaikan wajah-wajah luka yang sendu. Bullshit jika pernah mengatakan kesejahteraanku adalah kesejahteraanmu. Yang benar adalah kehendakku harus dituruti demi kepuasan pribadi dan senyum merekah di bibir. 

Marah, tapi hanya bisa diam. Karena pada akhirnya harus selalu menurut dan menurut walaupun dengan terpaksa. Kesedihan dan kekecewaan makin dalam tapi hari terus berlanjut, mau tak mau harus berkompromi dan berpura-pura bahagia. Andai disabilitas ini tidak menjadi teman walaupun sudah berdamai tapi ini tetap saja membuat luka. Tidak lagi bisa menghilang dan pergi dengan bebas.

Apakah dalam hidup harus selalu memenuhi harapan orang lain sementara diri sendiri kepada siapa? Tak ada yang mendengar tak ada yang peduli. Barangkali sampai mati pun hingga berbau hangus harus tetap memenuhi kebutuhan orang lain demi tercapainya keotoriteran yang sempurna.

Mungkin sebaiknya, tak pernah ada dan tak pernah dilahirkan ke muka bumi jika hanya pada akhirnya akan berbau hangus dan memenuhi kehendak dan harapan dari keotoriteran orang lain.

Ah, Desember kali ini rasa-rasa terlalu penuh dengan kesialan. Harus selalu mencumbui Desember dengan dusta dan kepura-puraan, asu.

***

17 Desember 2025

Lusy Mariana Pasaribu 

Jumat, 12 Desember 2025

Ada Kesialan yang Mengganggu

@Kulturtava.
...

Lagi, lagi, ada kejadian gila yang merusak mental dan pikiran. Sesuka hati berbicara, dengan gamblangnya mengatakan, kamu tinggal duduk aja dan bukan kamu yang mencari, mengindikasikan bahwa tidak boleh berkomentar dengan selalu berkompromi. Kesialan yang mengganggu sore ini.

Lantas, apa berhak untuk menyuruh ini dan itu? Bersyukur masih bisa jadi berkat bagi orang lain, terus yang jadi berkat bagi diri sendiri siapa? Ini seperti kengerian yang menjadi nyata, disabilitas sialan. 

Bukankah lebih baik bisa memberi makan kehidupan sendiri daripada duduk manis-manis di kamar yang pengap dan menjadi beban. Ada kesialan yang mengganggu pikiran juga jiwa pada hari kedua belas bulan kedua belas. Entah ada apa dengan hari ini? Karena bukan kali ini saja terjadi demikian.

Ini seperti kekerasan yang dianggap cinta, kekerasan mental. Kenapa tidak berani bersuara dan harus selalu berpura-pura? Tidak ada yang pernah mau seperti ini, siapa yang tidak menginginkan kaki yang sempurna untuk bisa berjalan dan melangkah bahkan keluar dari rumah yang tidak seharusnya menjadi rumah dengan segala ketoksikannya. Halah, muak.

Ada kesialan yang mengganggu, well begitulah hidup. Apakah kesialan yang mengganggu ini akan bertahan sampai akhir tahun dan menjelang awal tahun? Tak ada yang tahu jawabnya.

***

Rantauprapat, 12 Desember 2025

Lusy Mariana Pasaribu 

Minggu, 16 November 2025

Demikian Kisah Pagi Ini

Kulturtava
...

Asu, ini rasanya menangis. Tapi bola mata telanjang ini tidak boleh mengeluarkan air mata. Drama pagi ini menjadi panggung manipulasi, lisan itu kembali menyakiti. Memberikan jejak dengan segala kepahitan dan luka.

Mungkin salah dan bukan mungkin lagi tapi memang selalu salah, mendapatkan ucapan tidak ada etika hanya karena minta tolong di pagi hari kira-kira pukul delapan, Apakah uang sumber segalanya mungkin saja memang iya. 

Tidak pernah mau terikat dan terbelenggu tapi apa daya, ada disabilitas yang harus disadari. Apakah harus menjadi batu dan rumput mati untuk menyenangkan dan melengkapi segala kepuasan yang dibutuhkan. Hati ini sakit tapi masih dapat mungkin menyelesaikan tanggung jawab bahkan yang bukan tanggung jawab sekalipun tapi lagi-lagi terpuruk dengan segala rekam jejak yang pernah terjadi.

Barangkali memang tak pernah ada di ingatan dan di lingkaran hidup sehingga rela mengabaikan dan menganggap tidak ada. Jadi tidak masalah tidak pernah terlihat. Karena yang menjadi faktanya, tidak ada yang memperhatikan kesusahan, tenang teduh, kesejahteraanmu. 

Lama bernarasi dan memiliki wacana untuk mengakhiri patah hati, ternyata itu impossible, karena di suatu hari yang entah kapan seperti pagi ini selalu saja ada kegagalan untuk mengakhiri patah hati. Seperti kisah-kisah rumah tanpa jendela, seperti itulah kisah pagi ini. Dasar asu, realita yang penuh huru-hara, ini adalah peringatan untuk lebih baik diam. Karena yang menjadi layar dan jendela terbuka adalah waktu adalah terbatas, Sakit bersama tapi lebih sakit ketika tidak bersama karena kelahiran tidak bisa dipilih dari keadaan yang seperti apa dan di mana, kelahiran juga memiliki rahasianya sendiri.

Demikian kisah pagi ini.

***

Rantauprapat, 16 November 2025

Lusy Mariana Pasaribu 

Kamis, 13 November 2025

Antara Kebenaran dan Sepenggal Kebencian


Pixabay
...

Bukan sekedar bersama dan baik-baik saja, ketika gesekan menggoda kenapa memilih jatuh dan menjadi batu. Monster menguasai, lelah dan muak. Kenapa lagi-lagi seperti ini? Apakah ini tandan dan awal kebisingan yang mengganggu, tak ada yang tahu.

Malam tadi hari ketiga belas di bulan kesebelas, ada kesialan menghampiri. Ada hujan menghantarkan dosa yang merayu. Antara kebenaran dan sepenggal kebencian, merasa tersakiti dan berhak untuk marah, merasa lebih benar dan mengintimidasi. Entah akan menjadi apa selepas malam ini?

Ada apa dengan hati? 

Ada kesenjangan mendominasi, seperti mengalami disabilitas, ada-ada saja keributan dibiarkan menganga dalam jiwa, ketika jauh ingin mendekat, namun ketika dekat ingin menjadi retak, tak ada lagi cinta, tak ada lagi kepedulian. Yang ada hanya kepedihan dan air mata.

Beberapa jam sebelum malam Ini habis, semoga tidak ada keheningan yang tak teruraikan, hanya berharap itu terjadi. Mata telanjang ini tidak ingin menonton layar kehidupan tentang hal-hal yang tidak seharusnya esok hari,  bullshit tentang kepura-puraan, memuakkan. 

Antara kebenaran dan sepenggal kebencian itu adalah catatan dan plot twist malam ini, masih ada empat puluh delapan hari menghabiskan tahun ini, berharap tidak menemukan hal-hal yang seperti malam ini lagi, tahu kenapa? karena tidak ingin berziarah ke masa lalu.

***

Rantauprapat, 13 November 2025

Lusy Mariana Pasaribu 


Sabtu, 01 November 2025

Kamar Sunyi dan Keheningan yang Tak Teruraikan

SHUTTERSTOCK 
...

Pukul 02.00 pagi lebih sedikit WIB, hari pertama bulan kesebelas, ada hujan kembali terulang dan dilanjutkan pukul 07.00 lebih sedikit, masih di hari yang sama hujan yang lebih besar kembali terjadi, hujan yang menghantarkan luka. Ada keheningan yang tak teruraikan, ada dosa yang merayu. 

Ada Ilalang yang tumbuh dengan liar, kamar sunyi menjadi saksi. Kenapa harus ada percakapan yang sial, ini bukan selalu bergurau tentang pahitnya hidup, bukankah harusnya ada penerimaan? Tapi kenapa sampai sekarang tidak ada belajar dari kesalahan yang sama, bagaimanapun ucapan sudah keluar dari mulut telanjang takkan pernah lagi bisa diubah, akan ada jejak yang membekas.

Cerita pukul 02 dan 07 pagi hari ini, akan menjadi catatan yang plot twist, di hari yang kapan menjadi pribadi yang saling menerima dan di hari yang ini menjadi pribadi yang ganas dan entah, apakah rasa sakit tidak menjadi pelajaran? apakah rasa sakit tidak menjadi ketakutan akan Kehilangan? 

Kamar sunyi dan keheningan yang tak teruraikan, apakah akan berlanjut di hari esok, lusa dan seterusnya?

Akhir pekan ini dan di awal bulan kesebelas tahun ini, akan menjadi ingatan yang suram. Ada ucapan yang amburadul dan kenangan membekas, ada predator berbahaya mengintai. Di kamar yang sunyi pagi ini tak ada bahasa cinta yang tersisa, yang ada seperti dosa berjalan. Ada tamu dengan keberisikan yang mengganggu kepala. 

Lelah dan benar-benar lelah, bukan hanya tentang fisik yang sudah lama tidak bersahabat tapi juga tentang mental yang  tidak waras jika terus seperti ini, masih ada enam puluh hari lagi yang harus dilalui untuk menjalani tahun ini, apakah hujan dipukul 02 dini hari akan kembali terulang? 

Tidak ingin pasrah dan menjadi dungu tapi untuk bertahan pun sulit apalagi berjuang, disabilitas ini sungguh mengganggu. Enyalah, brengsek hidup jika terus seperti ini penuh dengan kesialan demi kesialan. Kenapa dan kenapa harus ada di paragraf yang dipenuhi huruf-huruf mati dan tanpa ada pohon-pohon cinta yang memberi kehangatan dan kebahagiaan. Tapi demikianlah hidup penuh dengan huru-hara. Dan untuk mengadopsi kesejahteraan dan tenang teduh sulit untuk berhasil.

***

Rantauprapat, 01 November 2025

Lusy Mariana Pasaribu 

Selasa, 28 Oktober 2025

Setelah Percakapan yang Sial, Ada Ruang yang Tak Lagi Sama

Kulturtava 
...

Heran, perempuan itu sanggup berkata: aku yang mampus orang itu yang enak. Di mana rasa kepedulian?

Hari ini, hari kedua puluh delapan bulan kesepuluh, hari yang seharusnya menjadi sumpah pemuda untuk kemerdekaan tapi ternyata hari ini tidak menjadi merdeka bahkan tidak ada sumpah untuk kebersamaan yang ada malah terasing. Setelah percakapan yang sial, ada ruang yang tak lagi sama.

Bukankah perempuan itu juga adalah bagian dari sembilu kisah, ada dalam bagian yang merupakan pertanyaan yang tak akan pernah terjawab. Perempuan itu memilih lingkaran yang salah, memilih manusia yang dikarbit.

Sepertinya ruang yang tak lagi sama itu akan menjadi ketakutan dalam berelasi. Bagaimana esok dan nanti? Entahlah, sulit untuk membayangkannya. Ada belenggu yang tercipta setelah percakapan yang sial hari ini. 

Tidak ingin membuat mental menjadi rentan, memilih menjadi batu untuk perempuan itu. Tak ada lagi hati yang ceria untuk perempuan itu hari ini esok atau lusa, namun barangkali setelah lusa tidak ada lagi tampilan skeptis untuk perempuan itu karena bagaimanapun perempuan itu adalah ruang yang tak boleh kosong sebenarnya.

Andaikan tidak ada percakapan di sial hari ini, tidak ada ruang yang memberikan belenggu, terlalu sulitkah berproses dengan seharusnya tanpa memberikan jejak yang penuh luka? Haruskah menjadi ilalang yang tumbuh liar dengan sadar, ada ledakan hari ini yang membuat hati dan kepala berisik.

***

28 Oktober 2025

Lusy Mariana Pasaribu 

Minggu, 26 Oktober 2025

Ilalang yang Tumbuh Liar

Kulturtava 
***

Tak pernah mau dan merasakan disabilitas, menjadi Ilalang yang tumbuh liar di mana ia ada.

Sepertinya ia ada untuk menyelesaikan masalah tanpa pernah dianggap ada. Hari ke dua puluh enam bulan kesepuluh, ia tidak baik-baik saja, ia bermandikan kotoran dan sumpah serapah. Ke mana ia harus berkeluh kesah dan pulang?

Ada yang berkata, ia berharga sama seperti yang lain? Hahah, itu terlalu menyakitkan, tak pernah ia dipeluk hangat.  Lebih kepada, kehilangan.

Ia ilalang yang tumbuh liar dan berkali-kali meregang nyawa. Ia seperti kisah yang disembunyikan hujan, tak terlihat dan terbaca.  Seharusnya ia tak pernah ada, well ia tak pernah berkuasa akan hidup, terbukti ia tetap ada.

Direndahkan, dalam diam dan tangis ia dilontarkan perkataan kasar, lalu tanpa dosa dan rasa bersalah mengucapkan maaf, ia muak tapi tak berdaya. Seluruh organ tubuh yang ia punya menolak untuk baik-baik saja sudah sejak sangat lama. Mau tidak mau, Ia Ilalang yang tumbuh liar kembali berkutat dengan hari-hari dan wajah-wajah palsu.

Tak ada yang memperbolehkan untuk selalu baik-baik saja dan mendapatkan kesejahteraan karena barangkali kesejahteraan hanya menjadi teman yang asing. Dan seiring berjalannya waktu, ia kembali pulang pada kata, sebab hanya dengan kata Ia bisa bercumbu dengan leluasa tanpa hambatan dan tanpa beban. Kata adalah rumah yang menerima tanpa penghakiman dan selalu memberi penerimaan.

Dan benar ilalang yang tumbuh liar itu harus memberi penerimaan pada diri sendiri, karena tidak ada orang lain yang menerima diri kalau tidak diri sendiri.

***

Rantauprapat, 26 Oktober 2025

Lusy Mariana Pasaribu 



Senin, 13 Oktober 2025

Adakah Kamu telah Belajar?

@Kulturtava
...

Terlalu sadis, ketakutan kala terintimidasi oleh keotoriteran kamu. Sampai kapan? 

Pahitnya hidup semakin bertambah pahit ketika tertekan menghadapi kamu.  Adakah kamu telah belajar? Sepertinya sama sekali tidak pernah, kesalahan yang berulang kali kamu lakukan sampai kini kamu lakukan hingga dua turunan.

Kamu terlalu gagah untuk mau mendengar orang lain. Mau sampai kapan harus selalu didengar dan dituruti? Tidakkah kamu bisa belajar untuk menahan diri sedikit dan mengerti rasa sakit orang lain, kenapa harus selalu pongah?

Terlalu banyak ekspektasi yang kamu tuntut, bukan hanya kamu yang ingin dimengerti tetapi yang lain juga. Kamu yang memanggil kamu yang memulai, tapi kamu tidak siap menjalaninya. Mungkinkah kamu mengerti batasan? Barangkali tidak sama sekali.

Adakah kamu telah belajar? Tidak selalu menjadi bunga yang angka, Andai huruf dan angka bisa dipilih tapi ini sama sekali tidak, seperti kelahiran yang tidak bisa di reshuffle, seperti itu pula kehidupan yang tak pernah bisa dipilih lahir dari siapa dan ada di keluarga yang apa. 

Boom, ledakan terjadi pada suatu malam. Melihat dan merasakan monster yang luar biasa, hari ketiga belas bulan kesepuluh, ada perbincangan dan aksi yang akan meninggalkan luka dan menjadi rekam jejak yang buruk pada pikiran.  Sebuah narasi akan menjadi bendera hitam dalam jangka waktu yang tak ditentukan. Andai bisa memberontak dan menjadi pemberontak, air mata ini bebas terjun dari bola mata telanjang yang pada akhirnya juga tidak berbunyi.

Yang disemai, yang dituai, yang menjadi momok tidak disemai tapi dituai. Malam ini menjadi benci, menjadi amarah dan menjadi kasih yang pura-pura. Terhadap kesabaran, itu hanya omong kosong bagimu. Tak ada bunga-bunga cinta, malam ini banyak luka, hari senin, lelaki dewasa dan lelaki kecil menyimpan bara dalam hatinya. 

Adakah kamu telah belajar? Mungkin tidak akan pernah.

***

Rantauprapat, 13 Oktober 2025

Lusy Mariana Pasaribu 

Kamis, 09 Oktober 2025

Bukan Soal Bergurau dengan Pahitnya Hidup

@Kulturtava 
...

Tak semua hal harus dikompetisikan, Tapi semuanya harus diberikan penerimaan. Yang menjadi cerita pahit, ketika sudah diberikan penerimaan tapi tidak mendapat penerimaan balik. Hahah, ini bukan soal bergurau dengan pahitnya hidup, ini sejarah hidup yang sangat egois.

Burung dan kucing serta anjing yang tak dipelihara saja selalu datang, namun mengapa tidak demikian dengan manusia-manusia lemah dan liar, merasa lebih baik dengan keangkuhannya.

Terlalu mengecewakan, ini sebuah patah hati yang panjang. Ini bukan soal bergurau dengan pahitnya hidup, ini lebih dari itu. Mengapa dunia begitu berisik?

Dimana bukti dari ucapan jangan mengingat masa lalu? Bullshit, bualan tersembunyi dalam kata-kata.

Bagaimana cara menamatkan kisah toxic seperti ini? Entah, untuk pergi pun tak ada daya, terikat dan tak mampu. Api hanya tetap menjadi api, sampai umpatan kepuasan diri menjadi kenyataan, barangkali ada kesadaran, itu pun kalau ada hati jika tidak, tak ada yang tahu.

Tangisan yang keluar dari mata telanjang ternyata hanya omong kosong, Bagaimana mungkin bisa kembali merasakan ketulusan dengan memegang tangan yang mengharapkan kehangatan, itu hanya pemanis belaka dengan drama-drama di belakangnya.

Terlalu banyak pembuat kejahatan, enyahlah. Hidup ini bukan soal bergurau dengan pahitnya hidup  tapi bukankah lebih kepada tahu menempatkan cara berbicara yang benar dalam situasi dan kondisi seperti apa. Apakah harus ada kepergian dan perpisahan baru api menjadi kesadaran? Mungkin sebenarnya itu menjadi kemauan mutlak.

Ini adalah cerita yang menjadi catatan pagi hari ini. 

***

Rantauprapat, 08 Oktober 2025

Lusy Mariana Pasaribu 

Selasa, 30 September 2025

Jaga Dirimu Baik-baik

Istock photo
...

Entahlah, lelah bahkan terlalu lelah. Akankah terus seperti ini? 

Hay pembuat kejahatan,  enyahlah. Itulah yang disemogakan, namun dalam realita itu bukan yang diingini. Jaga dirimu baik-baik, seseorang berkata demikian. Karena banyak percakapan yang menjadi drama demi drama tak kunjung usai.

Kenapa memilih menikah jika tak bisa bertanggung jawab? Kenapa harus memilih untuk melahirkan banyak keturunan. Banyak yang tidak ingin didengar, dilihat dan dirasakan dari benang kusut yang terjadi.

Jaga dirimu baik-baik terkadang hanya kamuflase, karena dasar kecemasan dalam pikiran yang terutama. Bukankah sedari awal tak bisa memilih lahir di keadaan yang seperti apa. Bahkan ada di lingkaran pembuat kejahatan, juga tak pernah bisa memilih.

Sudah terlalu banyak kejadian yang tak bisa dipilih dan tak bisa berhenti, karena bagaimanapun ada lingkaran masa lalu yang terjadi sampai masa kini. Malam ini, seseorang itu tidak tahu bisa menjaga diri baik-baik saja atau tidak.

Menggigil bukan karena hujan tapi karena percakapan yang tak perlu terdengar tapi sudah terdengar, merasa paling benar dan mengintimidasi yang lain dengan sadar dan dahsyat. Kenapa tidak berpaling dari keegoan, kenapa dan kenapa?

Jaga dirimu baik-baik,  ini seperti ada di kesialan dan kenangan membekas yang tak pernah pudar. Yang akhirnya berujung kalah. Lantas, bagaimana bisa menjaga diri baik-baik? Seseorang yang berharap diri baik-baik saja, seperti berada dan tersesat dalam pohon bunga yang rindang dan ternyata itu hanya keinginan semu, karena sepertinya itu takkan pernah ada. Terlalu toxic dan bajingan serta pembuat kejahatan yang tidak pernah usai dan tidak pernah padam bersama dengan kesendirian seseorang itu.

***

Rantauprapat, 30 September 2025

Lusy Mariana Pasaribu 

Sabtu, 20 September 2025

Kebekuan Rumah yang Terasa

Di buat oleh bantuan meta al 
...

Aduh, ternyata di balik rumah yang tak selalu indah, ada saja drama-drama yang terjadi. Hujan yang tiba-tiba deras membasahi bagian rumah dengan dahsyat. Membiarkan rumah itu hancur, membiarkan tamu tak diundang menguasai rumah. Banyak yang meredup dan menyimpan luka masing-masing. Kemungkinan terburuk dari rumah ternyata tidak bisa menjadi tempat pulang.

Banyak perkara dan keegoan sehingga rumah tak lagi menjadi tempat menyembuhkan dari kehilangan karena dari rumah tersebut adalah kehilangan yang pertama, rumah juga terkadang menjadi bagian pertama mengalami penjarahan mental. Ada juga rumah yang menjadi aroma penghapus kenangan, malah menyakiti. Dari awal yang ada wara-wiri keributan dan pertengkaran. Setiap anak tak pernah ingin rumah seperti itu, tak ada pula anak yang minta dilahirkan dalam rumah seperti itu, hanya kebekuan rumah yang terasa.

Bagaimana jika sampai mati ada di rumah yang seperti itu? Karena kelahiran tidak akan pernah bisa di reshuffle. Hanya terus belajar berdamai dengan segala keadaan, tunggu tak ingin berada dan mengulang kelahiran yang seperti ini. 

Tidak pernah menduga, sampai usia sekarang, hanya perang yang terasa dalam rumah, kalau tidak dalam satu hari dalam satu minggu atau dalam satu bulan ada saja catatan-catatan yang menjadi keributan dan keributan yang terus berulang, sungguh ingin melupakannya tapi takkan pernah lupa. Terlalu takutnya sampai tak pernah merasakan bahagia.

Ya, begitulah rumah yang tak selalu sempurna dan sialnya tak diisi dengan kesempurnaan. Lagi-lagi, lagi-lagi, hanya menangis dalam diam, keadaan yang seperti ini, di rumah yang seperti ini entah sampai kapan berada dan terjadi. Bolehkah berharap di suatu yang entah kapan, rumah yang tak sempurna ini ada kabar baik yang terjadi, kabar tenang teduh dan kabar kesejahteraan. Sungguh berharap demikian.

Karena barangkali rumah yang diisi dengan manusia-manusia lemah dan juga merasa lebih baik dengan keangkuhannya tak akan pernah berubah sampai mati. 

***

Rantauprapat, 20 September 2025

Lusy Mariana Pasaribu 

Jumat, 19 September 2025

Bukankah Rumah Tak Selalu Sempurna

Dokumentasi pribadi dibuat oleh bantuan meta al
...

Rekam jejak dan ingatan masa lalu, tidak seharusnya menjadi akar pahit yang menjadi-jadi. Tidak harus menjadi acuan di masa kini. Ketika tidak ada cinta dan tidak ada rumah bahkan tidak ada jalan pulang, yang ternyata adalah perasaan yang sebenarnya tidak demikian, harusnya ada penerimaan bukan malah menuntut dan menuntut. 

Ada kesadaran, bukankah rumah tak selalu sempurna. 

Sudah berlaksa-laksa keangkuhan, kerumitan dan kapayahan serta kegagaguan serta doa-doa entah itu karena amarah atau itu karena ketulusan, selagi masih ada kesempatan, jangan terus menjadi bajingan dan merasa lebih baik. Jika kehilangan benar-benar datang, maka pertobatan dan penyesalan tiada guna.

Bukankah rumah tak selalu sempurna, tapi rumah itu harus diisi dengan kebaikan dan musim-musim yang indah. Bukan malah membiarkan musim itu atau rumah itu diisi dengan keangkuhan dan berada di ujung sunyi, jangan pula membiarkan rumah itu dirayu oleh dosa.

Sadar pula bahwasanya jangan ada kebekuan rumah dan membiarkan sekedar baik-baik saja. Jadikan rumah itu kenangan yang tak akan bisa dilupa. Rumah adalah tempat menghilangkan kesedihan, menikmati pahit dan laranya kehidupan itu adalah dalam rumah. Rumah yang diisi oleh manusia-manusia yang sudah Tuhan ijinkan sedari awal untuk bersama. 

Kepada rumah, musim, halaman yang seringkali diumpati, yang selalu disalahkan tentang sendu, air mata yang basah dan luka yang dibiarkan menganga, tetaplah menjadi rumah yang memberikan kehangatan dan meneduhkan hati yang risau, terkadang tidak tahu apa penyebab risaunya, pun yang basah oleh hujan. 

***

Rantauprapat, 19 September 2025

Lusy Mariana Pasaribu 

Rabu, 17 September 2025

Kisah Malam Ini Menjadi Catatan yang Plot Twist

http://vocal.media
...

Tenang teduh terbunuh. Bentakan membunuh. Amarah lalu lalang dalam diri. Sebegitu tidak berharganya kah? Dan Haruskah selalu berkompromi, menerima setiap ucapan dan tindakan yang melukai?

Dengan sadar dan sengaja, mempersalahkan padahal melihat dan mendengar dengan jelas. Memberikan badai sesuka hati. Ternyata memang tidak pernah bisa dijadikan rumah, lebih baik dari awal tidak pernah kembali.

Kisah malam ini menjadi catatan, bahwasanya ada yang tidak bisa diubah oleh waktu. Yang dikira-kira ada, dianggap bisa berubah, ternyata tidak semudah itu walaupun sudah pernah pergi.

September ternyata tidak selalu menjadi September ceria, banyak kegamangan dan kekakuan yang beku. Barangkali lebih baik tidak bersama, karena ketika tidak bersama pun kala itu tidak ada masalah. Yang ada malah sekarang ketika kembali pulang dan bersama sering terjadi intimidasi.

Kisah malam ini menjadi catatan yang plot twist, menabur yang baik saja hasilnya belum tentu baik apalagi menabur yang tidak baik. Well, hidup yang penuh huru-hara. Terkadang perjalanan hidup barangkali perlu untuk ditertawakan.

Sebaiknya lebih lagi bisa menahan diri dan tidak lagi menjadi pahlawan terhadap keributan yang wara-wiri di kepala. Demikian!
***
Rantauprapat, 17 September 2025
Lusy Mariana Pasaribu 

Selasa, 16 September 2025

Catatan-catatan yang Menjadi Rekam Jejak Perempuan Itu

https://vocal.media
...

Perempuan itu menangis tanpa suara, percakapan sore ini terasa panas, walaupun di kamar kecil itu ada bunyi dari dinginnya ac. 

Tak pernah berharap apalagi bermimpi tentang kepura-puraan yang seperti ini. Seperti tidak ada teman, tapi bukan pula musuh. Terlalu gamang, hanya dijadikan bahan pelengkap.

Barangkali lebih baik tak pernah ada, tapi perempuan itu tak bisa memilih untuk dilahirkan bukan. Hidup bersama dengan kesendirian. Terlalu banyak catatan-catatan yang menjadi rekam jejak perempuan itu. Tapi kenapa hanya selalu salah dan salah yang ada.

Sebisa mungkin menjadi pelengkap dan penyembuh dari kebutuhan-kebutuhan yang terlihat. Namun siapa yang menjadi penyembuh bagi perempuan itu? Sudah sangat banyak yang ingin dihapus perempuan itu dalam perjalanan hidup. Dan sangat-sangat banyak yang ingin dihapus dan terhilang. 

Suatu hari, perempuan itu ingin merasa merdeka dan memiliki catatan-catatan yang menjadi rekam jejak dengan banyak warna yang manis dan tidak selalu tentang hitam dan hitam. Tidak pula tentang kesendirian, kepura-puraan, luka, lara dan air mata. 

Di sore yang entah kapan, masih di kamar kecil yang sama kah seperti sore ini? Masih dengan bunyi ac yang sama kah, hanya berharap keadaan tidak seperti sore ini. Perempuan itu ingin merasakan damai walau tetap masih sendirian. Dan bisa menulis catatan-catatan manis dalam rekam jejak kehidupan.

***

Rantauprapat, 16 September 2025

Lusy Mariana Pasaribu 

Minggu, 14 September 2025

Antara Kesialan dan Kenangan Membekas

Kulturtava
...

Oh, kesialan macam apa ini, bulan kesembilan saja belum berlalu tapi kenangan membekas akan lisan liar terulang malam ini. Menyatu dengan kebencian yang menjadi akar pahit.

Antara kesialan dan kenangan membekas adalah mendung yang terulang. Berdarah-darah menerjemahkan kesejahteraan. Ah, siapa yang korban, siapa pula yang menginginkan kematian. Asu.

Andai kelahiran bisa di reshuffle, andai yang hanya menjadi keinginan bodoh, karena bagaimanapun kelahiran sudah terjadi. Ini adalah resah yang berulang tidak tahu sampai kapan. Hari keempat belas di bulan kesembilan malam ini, menjadi kesialan yang sudah ribuan kali berulang.

Ingin melangkah pergi tapi ini adalah jalan yang tak bisa dipilih, hanya menjalani sampai kematian memanggil. Ini merupakan jejak-jejak kelam yang terpatri dalam jiwa. Ini akibat jatuh cinta sendirian, lantas kenapa memilih untuk mencintai jika tidak siap terluka? Rasa luka yang menghujam dengan dalam. 

Ah, antara kesialan dan kenangan membekas, ada manusia-manusia bajingan dan manusia-manusia lemah yang hanya mementingkan ego dan kepuasan pribadi tanpa memikirkan efek samping yang terjadi.

Cinta yang mati tanpa kepedulian. Sandiwara yang berpura-pura. Kasih yang sudah menjadi asing. Hati yang telah menjadi hambar, dan harapan yang telah menjadi mati.

***

Rantauprapat, 14 September 2025

Lusy Mariana Pasaribu 

Rabu, 10 September 2025

Malam Ini, Perbincangan yang Sial

@Kulturtava
...

Ah, keparat. Siapa yang menabur, siapa pula yang menuai. Hari kesepuluh bulan kesembilan malam ini, menghancurkan jiwa. Lisan yang terdengar sungguh menjarah mental. 

Perbincangan yang sial, tahu seperti ini ujungnya lebih baik menjadi asing. Ada di ujung krisis, amarah yang meluap. Menyudutkan dan mempersalahkan tanpa kebenaran seutuhnya. Lebih baik menjadi liar dan jatuh pada dosa yang merayu. 

Merelakan terbunuh dan tenggelam dalam kisah rumit. Ah, percakapan yang sial ternyata bisa jadi teman. Mencumbui malam dengan kegamangan yang tak berarti. Tak hendak pula merayu untuk menjadi yang baik, menelan setiap prasangka yang ada. Bosan menjadi tertuduh tapi tak bisa melakukan apa-apa, hanya bisa bersandiwara dan berpura-pura. Ah, sial.

Ternyata menjadi hitam dan ada pemberontakan terkadang diperlukan. Melupakan sejenak segala lara. Malam ini tak ada kasih yang benar-benar kasih. Hanya tipu muslihat dan kemalangan yang ada. Air mata yang tumpah dan tertahan, dalam perbincangan yang sial malam ini.

Ah, entahlah.

***

Rantauprapat, 10 September 2025

Lusy Mariana Pasaribu 

Kamis, 04 September 2025

Tenggelam dalam Kisah Rumit

Kulturtava
...

Bertanya pada diri, apakah ia racun sehingga ia diperlakukan lain? Tenggelam dalam kisah rumit, hampir setiap hari berdansa dengan keasingan.

Korban dari kekuasaan dan luka dari lisan yang terucap. September kali ini memang menjadi luka dan ingatan yang suram. Masih ada dua puluh enam hari lagi melalui bulan ini, apakah tetap menjadi suram atau bahkan lebih suram? Tak ada yang tahu jawabnya.

Benar-benar sudah tenggelam dalam kisah rumit, tak ada yang menjadi penawar luka dan kesepian. Yang ada mental semakin terjajah. Entah di mana hak sejahtera yang seharusnya?

Walaupun malam ini semua ucap dan percakapan menorehkan luka yang teramat, tetap tak mau sesal ada dalam diri, mencoba berdamai dan tak akan mengumpat, walaupun memilih tenggelam dalam kisah rumit.

Tak ingin menjadi daun yang kering dan hati yang beaura hitam. 

***

Rantauprapat, 04 September 2025

Lusy Mariana Pasaribu 

Senin, 01 September 2025

September Kali Ini adalah Ingatan yang Suram

@Kulturtava
...

Aib, martabat hancur. Hahhha, lucu bukan. Siapa yang menjadi tersangka, siapa yang menjadi korban. Juni dua tahun lalu, adalah kisah horor dan si bajingan. September dua tahun setelahnya adalah kisah yang kembali terulang. Jijik dan menjenuhkan. 

Horor mematikan itu terasa menyesakkan. Kenapa harus selalu seperti ini? Ini ibarat rindu yang tak boleh dirindukan. Seperti lumpur di jalan yang benar harus di hindari. Sepotong kebaikan pun tidak didapati. Harus memenuhi setiap kata yang terucap dan dimau. 

Ada penjarahan mental pagi ini, hanya demi keotoriteran. Kenapa harus miliki hati yang kosong? Ada hikayat permusuhan pagi ini. Tentang rumah yang bukan benar-benar rumah. Tentang bajingan yang benar-benar bajingan. Kepedulian telah mati. 

September kali ini adalah ingatan yang suram. Ini kisah dan cerita yang tak seharusnya pernah ada,  yang benar-benar dingin. Bajingan yang brengsek dan mematikan. Tak ada bahasa cinta yang tersisa.

***

Rantauprapat, 01 September 2025

Lusy Mariana Pasaribu 

Minggu, 31 Agustus 2025

Adakah Bahasa Cinta yang Tersisa?

@Kulturtava
...

Hari ketiga puluh satu bulan kedelapan malam ini, parah bahkan benar-benar parah. Perkataan yang toxic. Jika benar-benar harus berakhir, lebih baik berakhir. Yang ada bualan, omong kosong. 

Adakah bahasa cinta yang tersisa? Sudah tidak ada dari puluhan tahun barangkali, kenapa harus memaksakan? Kemudian yang lain jadi korban. Di mana tanggung jawab yang harus ada? Fisik sudah mengalami disabilitas karena tidak ada tanggung jawab. Apakah nurani harus juga mengalami disabilitas?

Nyeri ulu hati juga tak ada bahagia yang tercipta. Kejadian yang sama terus berulang terus berulang sampai puluhan tahun. Tidak ada kabar baik yang ditunggu.  Karena kalau tidak dalam hari, dalam minggu, dalam bulan pasti saja ada ketoksikan yang terjadi. Terbukti, malam ini kejadian yang sama terulang. Jejak keburukan ada dalam rekam jejak malam ini.

Ada saja luka yang tertinggal. Lantas, sudahkah menjadi puas ketika akan sendiri. Ketika akan tinggal meninggal, seperti judul film yang ada. Adakah bahasa cinta yang tersisa? Jika benar-benar kematian akan terjadi. Ini merupakan kemarau panjang yang sepertinya tidak memiliki ujung. Inikah yang akan terus terlihat dan terasa? Benar-benar melelahkan, hanya mementingkan ego. Penuh dusta. 

Malam ini kembali berduka dan tidak ada yang berbelasungkawa. Duka sendirian dan tak ada bahasa cinta yang tersisa. Entah Seperti apa menghabiskan sisa malam ini, tapi lebih takut jika masih dipercayakan hari esok dan memulai pagi hari, pagi hari yang benar-benar pagi atau pagi hari yang akan menjadi seperti malam kelam? Entahlah.

***

Rantauprapat, 31 Agustus 2025

Lusy Mariana Pasaribu 

Senin, 11 Agustus 2025

Lagi, Seperti Dosa Berjalan

@Kulturtava 
...

Setelan sembilan hari di bulan ke delapan, tanpa ada cinta dan tenang teduh, ada kebaikan yang terlihat sebentar di hari ke sepuluh ternyata itu hanya tipu muslihat, pagi hari di hari ke sebelas, menjadi pagi kelam seperti malam yang tanpa hujung.

Lagi, seperti dosa berjalan hari ini. Hanya menuntut dan mau dimengerti, ini sejarah kematian, andai saja terjadi dan sang pemilik hidup mengizinkan benar-benar ada kematian dan nafas yang tidak ada, apakah itu benar-benar yang di mau? apakah itu sudah memuaskan hasrat dan jiwa

Inj bukan jalan yang benar karena ini bukan saling menguatkan tapi menjatuhkan. Saling memandang remeh dan merendahkan. Ini badai di hidup. Ingin keluar dari lingkungan toxic, tapi ini relasi pertama dan disabilitas yang mengganggu. Terlalu banyak resah dan dusta,  seperti dosa berjalan.

Antara mati dan hidup, selalu terkurung di kamar kecil yang sempit dan pengap. Mendengar dan melihat keributan demi keributan yang tak kunjung terselesaikan, barangkali sampai ada kematian yang benar-benar terjadi. Ini masih pagi tapi seperti malam yang benar-benar malam. Bahkan untuk melalui sepanjang hari ini pun tidak tahu dan tidak akan mampu untuk berpura-pura bodoh dan kuat.

Benar-benar berisik, sementara itu untuk melintasi riuh dan sepi dari keributan yang berisik, butuh energi yang benar-benar ekstra. Ini catatan hati yang menjadi pergumulan malam ini, eits keliru, maksudnya pagi ini.

Mungkin nanti, entah di jam yang kapan dan hari yang kapan, dan di cuaca yang bagaimana, akan lebih baik, entah karena keterpaksaan, entah karena kepura-puraan, entah karena kematian yang benar-benar terjadi, tapi semoga akan memang benar-benar akan lebih baik. Karena mendung tak selamanya kelabu.

Lelah tapi apa daya, akan terlihat apakah akan lebih baik atau tidak.  Apakah tetap seperti dosa berjalan atau tidak? Apa penerimaan dan cinta lebih dominan daripada penuntutan dan keegoan?

***

Rantauprapat, 11 Agustus 2025

Lusy Mariana Pasaribu 

Minggu, 03 Agustus 2025

Seperti Dosa Berjalan

Freepik
...

Sungguh menginginkan seseorang itu menjadi halaman terakhir bagi perempuan otoriter yang harus dituruti. Seperti sampah yang tidak pernah tuntas dibuang, selalu didaur ulang dan didaur ulang tapi tidak pernah mau kompromi. 

Perempuan otoriter itu seperti dosa berjalan. Selalu menyalakan api perlawanan dan tak pernah kalah mengalah untuk kebaikan. Andai hidup ada tombol touch dan delete, aku memilih mendelete seseorang itu agar perempuan otoriter itu merasa lebih baik walau mungkin sebenarnya tidak.

Aku terbelenggu kehidupan gamang yang kaku, seperti dosa yang berjalan, aku dihantui oleh hari-hari yang seperti itu, tampilan yang skeptis. Bagaimana tidak, perempuan otoriter itu tergenggam ambisi pasti untuk selalu di-iakan. Hanya kabut duka yang terlihat. Aku berada di kegelapan yang gelap sekali.

Berdua tapi tak bersama. Berdua seperti dosa yang berjalan. Sampai beberapa waktu yang lalu aku masih berharap, ada damai sejahtera, ada tenang teduh. Tapi itu hanya harapan belaka karena yang terjadi adalah kehidupan yang lagi-lagi skeptis.

Ini bukan juga soal penerimaan. Ini lebih kepada dosa berjalan karena perempuan otoriter itu. Perempuan itu kalah karena seseorang yang dipilih. Menanam banyak perkara di hatinya dengan cemara demi cemara yang dibangun.

Dan aku, pada suatu hari, bisa merdeka pada hal yang belum merdeka. Dan tidak jatuh pada dosa berjalan yang nyata-nyata kulihat dan kudengar. Pun aku serta isi kepalaku tidak selalu berisik tentang ekspektasi-ekspektasi yang belum terjadi. Ini catatanku di hari ketiga bulan kedelapan tahun ini. 

***

Rantauprapat, 03 Agustus 2025

Lusy Mariana Pasaribu 

Sabtu, 26 Juli 2025

Berdua tapi Tak Bersama

@Kulturtava
...

Diantara kompromi yang diusahakan berdasawarsa, dusta dan tipu muslihat yang lebih rumit terungkap. 

Hari ini, pada bulan yang ke tujuh tepat di hari ke dua puluh enam, pagi ini, aku menjadi saksinya, saksi dari rasa sakit perempuan itu, mencintai seorang diri dari laki-laki brengsek yang tidak tahu rasa cinta. Akankah hari ini cepat berlalu?

Berdua tapi tak pernah bersama.

Menua bersama kebohongan, karena kata setia yang dipelihara dan dijaga ternyata tak bertuan. Aku melihat kebohongan demi kebohongan, aku merasa sempit, terhimpit, sesak dan berada dalam kegelapan. 

Kenapa lagi-lagi aku yang disakiti? Apa saja yang menjadi saksi begitu sakitnya apalagi perempuan itu, semoga Tuhan memberi kekuatan bagi perempuan itu, dan Tuhan juga berperkara terhadap laki-laki brengsek itu. Kata maaf nggak pernah terucap dari laki-laki itu.

Cinta yang toxic, harus usai dan selesai. Berharap perempuan itu sadar dan melepaskan, karena langit mereka tak lagi bersama. Aku ingin pulang tapi tidak tahu pulang ke mana karena tempatku pulang sudah lama hancur. Begitu juga perempuan itu tadi lagi tempatnya pulang, pagi ini begitu mengerikan dan aku tak ingin mengingatnya, entah lupa atau pura-pura lupa.

Hari ke dua puluh enam bulan ke tujuh, seperti kemarau dan hujan yang saling memberikan rasa sakit, dan yang sebenarnya takkan pernah menggantikan Ingatan, namun malah memberikan rekam jejak yang membeku dalam memori.

Kenapa harus berdua tapi tak bersama? Hidup ini selalu suka mengusili bahkan terlalu suka.

***

Rantauprapat, 26 Juli 2025

Lusy Mariana Pasaribu 


Selasa, 08 Juli 2025

Cerita yang Dipilih untuk Selesai

@Kulturtava
...

Payah, sakit yang masuk diam-diam. Pernah menjadi seperti seorang malaikat, ternyata hanya bualan tersembunyi dalam kanvas putih. 

Hari kedelapan bulan ketujuh, menimbulkan rekam jejak yang menyakitkan. Malam dingin disertai gerimis menjadi malam yang kaku dan beku, pernah menjadi cerita yang menyenangkan tapi malam ini menjadi cerita yang dipilih untuk selesai. 

Menjelaskan tentang rasa sakit dan kehilangan dari cerita yang dipilih untuk selesai. Dan cerita tentang rasa sakit malam ini tidak untuk diselesaikan kepada orang lain tapi hanya dikubur dalam hati dan kepala seorang diri. 

Ada cinta malam ini tapi ada pula luka. Ada belati ada sakit tapi tidak berdarah, karena memang benar-benar cinta selalu memberikan kebahagiaan. Dan malam ini kembali menjadi perempuan tanpa kepala, cerita yang dipilih untuk selesai secepatnya akan dilupa dan sengaja terlupa.

Sialnya harus merasakan malam ini, bajingan yang harus dikompromi. Hahha, Ingin rasanya menertawakan kebodohan diri sendiri. Ah, sudahlah. Karena sudah sakit pun harus tetap bertahan.


***

Rantauprapat, 08 Juli 2025

Lusy Mariana Pasaribu 


Rabu, 30 April 2025

Ngeri Benar, Perempuan tanpa Kepala

www.wakingtimes.com
...

Ngeri benar, masih bernafas masih hidup namun menginginkan kematian karena jarak hidup dan mati seperti ingin yang meraba-raba perempuan itu. Karena sering kali ia menjadi perempuan yang tanpa kepala/kesadaran dan tanpa hati.

Ia perempuan yang sudah merasakan rumitnya gelombang ketidakadilan. Ia bertanya-tanya, apakah ia perempuan yang terlalu banyak menuntut. Tuntutan merasakan surganya keluarga, sebuah keadaan yang memberikan hangat dan nyamannya penerimaan.

Yang menjadi persoalan ia perempuan dengan kepala yang berisik. Banyak kegaduhan demi kegaduhan yang melintasi kepala perempuan itu. Terlalu banyak genangan air mata dan kebencian yang berujung dendam yang sudah bertamu dan menginap di hati perempuan itu, ia sesak dan kewalahan dengan pikiran dan diri sendiri.

Ada baiknya ia berhenti, berhenti untuk menuntut. Berhenti pula membiarkan kepala yang berisik menguasai diri dan pikiran. Sehingga luka dan duka tidak menjadi kebekuan yang menggerogoti kepala perempuan itu. Sebab jika membiarkan dirinya terus menjadi perempuan dengan kepala yang berisik, ia akan jadi perempuan dengan segala dilema yang tidak kunjung usai.

***

Rantauprapat, 04 Maret 2025

Lusy Mariana Pasaribu 

Minggu, 20 April 2025

Harapan-harapan yang Gaduh

www.majalah-elfata.com 
...

Ah, banyak pertanyaan-pertanyaan yang tidak akan ada jawabannya. Entahlah, apa yang kamu inginkan dari situasi semacam ini? Harapan-harapan yang pernah bertamu kini menjadi harapan-harapan yang gaduh.

Sejarah hati yang kamu ciptakan adalah secara hati yang gagu. Bukankah cinta tidak ada selamanya, kamu ada itu sakit tapi anehnya ketika kamu tidak ada itu jauh lebih sakit.

Hari keenam belas bulan keempat, sudah berjanji pada diri sendiri, selalu mengiyakan apa yang diminta dan apa yang yang di mau, karena jika itu adalah kebahagiaanmu tidak apa-apa. Tak jarang kamu memberikan hari kesedihan yang merajalela, namun harus tetap diam sebab tidak boleh bersuara. Kamu adalah otoriter mutlak, yang tidak akan pernah disanggah.

Apakah sifat yang selalu merasa lebih baik dan benar begitu memikat? Sehingga banyak cerita-cerita yang harus terpaksa selesai, seperti harapan-harapan yang menjadi gaduh. Karena kamu tanpa ego/kedegilan adalah sesuatu yang asing.

Yang terlihat dan terasa adalah kamu selalu berbuat sesuka kamu, mengatur burung-burung yang kamu kuasai dan kamu jerat dalam sangkar.

Semestinya, kamu menjadi sandaran! Bukan menjadi ketakutan dan membuat rasa ingin menyerah. Terlalu banyak yang mati sebelum mati karena kamu. 

***

Rantauprapat, 17 April 2025

Lusy Mariana Pasaribu 

Selasa, 15 April 2025

Kegelisahan yang Diam-diam Bertamu

Kulturtava
...

Banyak yang kukira salah, eh bukan, bukan ya aku kira salah tapi benar-benar salah. Dari bulan pertama hingga bulan keempat tahun ini, selalu saja ada kebisingan demi kebisingan yang mengganggu hati dan kepala.

Sudah tahu akhirnya akan ribut namun tetap saja itu terjadi dan memilih itu. Barangkali memang tidak bersama tidak masalah, tapi setelah pergi, kenapa kau terganggu dan selalu asik mengganggu dan minta kembali, dan plot twistnya setelah kembali, kembali kau tidak menghargai memancing keributan.

Semua kau cari tahu, tapi ada baiknya kau lebih baik diam. Bukan karena kompromi, tapi tidak apa-apa, memang itulah pilihanmu dari awal jadi tertawakan saja kisah ini. 

Aku terlalu sering mendapati diriku,  mengalami kegelisahan yang diam-diam bertamu. Dan narasi-narasi yang menggangguku, kukunci dalam puisi ku. Ramai di kepala. Diserbu masa lalu, terlalu banyak pertanyaan-pertanyaan di kepalaku ketika kau saling adu perang.

Tidak bisa kah kau terus mencintai? Tidak Bisakah kau kalah dan mengalah untuk kebaikan. Aku tetap mengamini yang baik perihal kau, untuk tidak tersesat lama dan biarkan kemarau memguasai.

Ah, patah hati kali ini tidak akan aku biarkan terjangkau oleh hatiku. Sungguh, aku benar-benar mencintaimu dan aku berharap kau juga mencintai dirimu dan tidak menyia-nyiakan cinta yang ada padamu. Kegelisahan yang diam-diam bertamu karenamu, tidak akan membuatku kecewa dan patah hati, karena ku sadar, aku denganmu sudah merdeka. Karena kegelisahan yang diam-diam bertamu adalah salah satu seni dalam proses hidup. 

***

Rantauprapat, 15 April 2025

Lusy Mariana Pasaribu 

Minggu, 06 April 2025

Tamu yang Meracau Hari-hariku

Kulturtava
...

Sangat-sangat lama terombang-ambing, lelah melumat hujan yang kau timbulkan. Lantas, apakah jika aku sudah benar-benar pergi, akan ada air mata untukku?Pertengkaran yang tidak aku tabur kenapa harus aku yang menuai akibatnya?

Berdiam dan menahan diri hanya untuk melihat kisah dari potongan perjuangan yang kau alami, ternyata hanya nyaris hujan yang kau tabur. Belum kudapati, seperti yang kau katakan, kau lakukan seperti untuk Tuhan bukan untuk manusia.

Hari keenam bulan keempat, pagi ini kau pun membuatku kuyu.  Aku kesepian, toh pada akhirnya kau hanya dengan kekuasaan mu, otoritermu, tak pernah perduli perasaanku yang terpenting kau dengan mulutmu memuaskan amarah tanpa pandang bulu tanpa embel-embel.

Akupun kehabisan energi, sedapat mungkin Jika aku masih mampu aku akan menuruti segala egomu demi kebahagiaan dan kepuasanmu. Karena waktu yang ku punya denganmu mungkin terbatas, bukan mungkin tapi memang terbatas dan selagi masih ada waktu jika itu adalah rasa sakit bagiku tapi kebahagiaan bagimu, aku akan melakukannya.

Mungkin kau terlalu nyaman menunggangi aku, padahal sebenarnya aku harusnya kau tuntun dan kau dengarkan juga. Ini, hanya sepi yang kau tawarkan dan berakhir pada sunyi yang sia-sia. Yang hampir selalu kudengar adalah kau mengatakan tak ingin ribut, ternyata kau malah berteriak.

Aku butuh rumah, bukannya janji-janji yang tidak perlu divalidasi. Terseok-seok dalam harapan. Ini menghancurkanku, tapi tak boleh kuhidupi. Tak boleh jatuh karena perkaramu. Kau memang lebih dari tamu di hidupku, tamu yang meracau hari-hariku dengan segala kebisingan. Ya,  tapi begitulah hidup, aku harus membaca dan menikmati bersamamu dengan segala seni yang ada.

Kau seperti risalah yang mengajarkanku pahit dan sedikit manisnya gelombang kehidupan. Oh, terlalu berisik waktu yang kupunya tentang notifikasi untuk menjaga kewarasan terhadapmu, tapi sudahlah. Aku tetap bertahan menjalani sisa hidup yang masih ada.

***

Rantauprapat, 06 April 2025

Lusy Mariana Pasaribu 

Sabtu, 05 April 2025

Setelah Hujan Reda

Pexels
...

Ternyata tak ada tenang yang tersisa, bahkan setelah hujan reda. Ada saja hama- hama yang menjadi pengganggu dalam kepala. Berkata sudah hambar sudah mati rasa, itu semua omong kosong. Malah biarkan jiwa raga remuk tulang-tulang patah dan menjadi binasa.

Namun kembali lagi pembalasan bukan hak perempuan itu tidak harus mengerti batasan, terlebih sungguh ada ketakutan, kedatangan seseorang dengan segala narasi dan percakapan pagi ini mengguncang jiwa dan menyadarkan bahkan memberikan rasa takut. Bagaimana setelah ini, dan akan jadi seperti apa jika sudah tua?

Terlalu asik bermain-main, terlalu menikmati umpatan-umpatan yang diciptakan. Kenapa harus terjerumus dalam lumpur ketidakberdayaan dan keterbatasan??? Berharap ada kesempatan akan kemurahan Sang Maha Besar dalam menjalani sisa akhir hidup. Sebelum menyesal dan terlambat, karena siapa yang akan mencatat sejarah dalam gaung ingatan jika bukan diri sendiri.

Teruntuk perempuan itu, jangan menjadikan ruang sunyi pada perjalanan hidup dan berusahalah setelah hujan reda untuk bisa benar-benar menikmati waktu yang ada dan memiliki sepotong kisah yang benar-benar tidak melulu tentang luka-luka. 

Setelah hujan reda, memiliki kisah dan ingatan tentang relasi pertama yang memberikan oase yang menyegarkan, melepaskan pengampunan dan kasih. Sekali lagi, beruntung perempuan itu masih memiliki kesadaran pagi ini, karena akhirnya semua hanya menjadi kenangan.

Percaya akan ada rumah yang benar-benar rumah dan memberikan wadah untuk berteduh dan mendapatkan tenang teduh yang dirindukan dan jangan menjadi asing pada sesuatu yang tidak perlu divalidasi karena bagaimanapun dari awal sudah tahu kebenarannya hanya tinggal memberikan maaf dan penerimaan.

Ya, akan ada bianglala yang berwarna setelah hujan reda. Barangkali demikian!

***

Rantauprapat, 27-28 Maret 2025

Lusy Mariana Pasaribu 

Jangan Pasrah dan Menjadi Dungu, Berbahagialah!

Fineartamerica.com
...

Sunyi kau peluk erat, sepertinya kisah yang ada memiliki sejarah kelam dalam kehidupan. Lantas, mengapa membiarkan sunyi memeluk erat dan merelakan terbunuh?

Pagi menjelma hangat, namun luka merintih (henti), ke mana kekuatan dalam kesederhanaan? 

Entah masih ada, entah sebaliknya dan jikalau ada, berarti itu: kau.

Ini drama kehidupan yang kau jalani, dan yang sering terjadi tidak jujur pada realita. Hey kau, jangan pasrah dan menjadi dungu. Kau tak lagi muda, Jalanilah sisa akhir hidup yang masih akan ada dengan syukur dan penuh harapan. Jangan lagi sunyi kau peluk erat.

Kembali miliki kekuatan dalam kesederhanaan, kau itu berharga. Jangan lain menjalani hidup dengan egois yang tidak benar, karena keegoisan akan berakhir pada penyesalan. Sudahi ketidakwarasanmu selagi ada waktu, untuk apa menyia-nyiakan hidup dengan menjadi pembangkang dan bersikap seperti bunglon yang berubah-ubah.

Jangan coba-coba lagi menikmati sejarah kelam yang pernah ada dan yang pernah kau jalani dalam hidup, jangan coba-coba lagi mencicipi dosa dan membiarkan dirimu dipeluk hangat oleh sunyi.

***

Rantauprapat, 05 April 2025

Lusy Mariana Pasaribu 

Selasa, 01 April 2025

Ini tentang Patah Hati

Pixabay
...

Maret beberapa hari yang lalu, di tengah keterbatasan dan ketidakberdayaan, perempuan itu masih berusaha untuk memberikan senyum bahagia, tiba-tiba saja saat ini menghantarkan air mata dan rasa sakit.

Mencipta sejarah baru, tengah malam yang kaku dan beku menjadi jam-jam yang kelabu. Mata telanjang perempuan itu terlalu lelah untuk menangis. Sepanjang perjalanan hidup yang telah dilalui nyaris hanya air mata yang menemani, terlalu sibuk memikirkan perkara-perkara yang lain juga terlalu egois untuk tidak memikirkan diri sendiri bahkan sampai tangan dan kaki tidak lagi berfungsi dengan sewajar-wajarnya.

Kemungkinan sebentar lagi bukan saja fisik perempuan itu yang tidak normal tapi juga kewarasan dan mental yang dipunya. Sialnya tidak ada yang perduli, seperti tengah malam buta saat ini, sendirian di keramaian, tidak ada yang perduli bukan. Tidak ada cinta dan tidak ada kebahagiaan di malam buta ni, karena yang ada tebang pilih meredupkan harapan dan sumber tawa yang harusnya ada.

Seperti jari-jari tangan yang tidak lurus bak  jelly lentur tidak bertenaga, seperti itulah hati ketika merasakan sakit yang berkepanjangan dan tidak lagi berdaya, menyerah pada kenyataan dan menyerah pada perasaan yang hancur. Ini seperti cinta tapi tersiksa, terluka tapi tidak bisa pergi. Ini seperti sejarah lama yang terus berulang sampai hari baru di bulan yang baru. Ini tentang patah hati.

Selepas tengah malam buta ini, saat cahaya matahari menunjukkan wajah, harusnya perempuan itu tidak lagi berekspektasi lebih terhadap drama-drama kehidupan yang akan dilihat dan didengar. Tidak terpikat pada harapan-harapan semu. Barangkali kejadian seperti ini kan terulang kembali di hari yang lain. 

Yang perlu dilakukan perempuan itu, selagi masih bisa hidup coba untuk egois dan hanya memikirkan diri sendiri. Karena tidak ada yang akan melihat kesusahan dan memikirkan tentang tenang teduh dan kesejahteraanmu.

***

Rantauprapat, 01 April 2025

Lusy Mariana Pasaribu 

Kamis, 27 Maret 2025

Pagi Ini dan Sebuah Percakapan

SHUTTERSTOCK
...

Jangan menangis. Ini masih terlalu pagi untuk bercengkrama dengan air mata. Tidak ingin menjadi chaos.

Terlalu banyak yang tersembunyi, banyak kebenaran yang tidak seutuhnya. Bukankah lebih baik untuk menjaga hati dengan menjaga jarak. Apakah itu yang dinamakan ketulusan, tidak menjadi sandaran bahagia untuk janji yang pernah terucap dan terjalin bahkan sampai puluhan tahun.

Terlalu kejam takdir dari perjalanan ini, ketika mendapat tuduhan terselubung dan dipersalahkan, akan mencoba tetap baik-baik saja dan menerima. 

Tak ada keharmonisan, tak ada bunyi-bunyi cinta, malah menjadi seperti permainan yang tak kunjung selesai, aneh bukan. Ini bukan soal lagi hambar atau tawar, ini benar-benar menjijikkan. Tak apa, akan ikut alur permainan ini, menyerah untuk tidak lagi kompromi, menyerah pula untuk berinteraksi. Entah hari yang kapan, akan terlihat siapa yang akan kalah. 

Pagi ini dan sebuah percakapan menyadarkan, sudahi untuk bermain-main lagi dengan hati, jangan menggubris sesuatu yang enggan untuk digubris, sampai hujan benar-benar reda. Sudahi sedihmu kawan.

Bertemanlah dengan kata-kata dan bercumbulah dengan diksi, karena dengan kata-kata bisa bercinta tanpa tapi, dan abaikan saja janji yang takkan pernah lunas. Berharap dapat melalui pagi ini dengan baik, bahkan juga selepas pagi ini atau hari ini semoga bisa tetap baik. Karena tidak ada yang benar-benar peduli jika berujung pada lingkaran chaos, yang ada hanya memperdulikan ego dan kepentingan untuk memuaskan diri pada pertengkaran dan pertengkaran.

Jadi, sudahi sedihmu kawan. Jangan mau terikat dan lepaskan api membara yang bermain-main dalam kepala. Jangan mau jadi sekarat seperti ruang lama yang tidak tertempati, lagi ada kesadaran dan kesempatan berjuanglah untuk bebaskan kesehatan diri.

***

Rantauprapat, 26 Maret 2025

Lusy Mariana Pasaribu 

Selasa, 25 Maret 2025

Siapa yang Akan Kusebut Rumah?

Pexels
...

Ini bukan soal berani atau tidak berani, ini soal memaafkan yang tak kunjung usai. Aku benci keadaan ini. Aku telah tersesat dan menjadi liar, mulutku menjadi nakal. Mengumpat dan mengucapkan kata-kata yang tidak seharusnya. 

Boom, seperti ada ledakan besar beberapa menit yang lalu, tepatnya pukul 16.07. Hari kedua puluh lima bulan ketiga tahun ini. Aku mendengar suara yang seakan ingin membunuh, pandangan yang ingin menenggelamkan ke dasar laut. 

Kembali lagi pertanyaan itu kenapa harus aku? Apakah aku harus selalu kalah dan mengalah? Akankah air mata selalu kan jadi teman, sampai menangis pun aku sulit. 

Lantas di mana semua janji yang pernah terucap? Ingin menjadi seseorang yang lebih baik, menjadi sandaran dan penolong yang lebih baik? Mata, hati dan telinga selalu sakit dengan semua janji-janji tak pernah dipenuhi.

Aku yang menderita, di tengah keterbatasan aku harus tetap berjuang untuk memiliki kesadaran dan kewarasan terhadap mentalku. Aku gemetaran, aku takut, untuk membaca kamu pun saat ini pun aku sulit. Apakah aku harus memunguti bahagia, tapi dari bahagia siapa yang harus kupunguti. Bahkan sepertinya sisa hari ini akan menjadi hujan bagiku, 

Siapa yang akan kusebut rumah jika seperti ini? Aku sendiri pun takut untuk berteduh, seakan tak ada yang menginginkan aku ada, hidup ini terlalu lucu untukku, sore hari ini aku sangat untuk melaluinya, karena jika besok aku masih ada, apa yang akan kulihat dan kudengar itu pasti lebih sakit daripada sore hari ini.

Adakah yang bisa mengeluarkan tangan dan melihat kesusahanku? Yang bisa memberikan pertolongan untuk menghilangkan kesedihan ini. 

Entah siapa yang benar-benar akan kusebut rumah? Tolong hentikan kepedihan ini. 

Hentikan!

***

Rantauprapat,  25 Maret 2025

Lusy Mariana Pasaribu