Minggu, 31 Juli 2022

L dan Kisah yang Berantakan

@kulturtava
...
Terkadang seperti duri yang dicampakkan. Terkadang seperti anggur yang diinginkan. Hidup tapi mati. Mati namun masih hidup. Ambigu, menjadi cerita yang berantakan. Terlalu banyak berharap, terlalu banyak tanya, terlalu ingin dimengerti tanpa mau mengerti. 

L,  perempuan dewasa yang melankolis. Rapuh. Ya, ia tidak boleh merdeka untuk mencintai, merdeka untuk bicara. Seharusnya tidak mendatangkan musibah untuk dirinya sendiri, lagi-lagi harus pasrah dan membiarkan diri layu oleh angin timur. Malah diam dalam gelap, ia seringkali basah oleh hujan. Bersikap nyeleneh dan amburadul demi kepuasan diri. 

Pada Minggu kali ini, Minggu yang sedang murung,  ia gagal mengakhiri patah hati. Cerita yang berantakan menjadi nyata dan terulang. Menjadi camar yang sendiri. Mencintai diri sendiri, ternyata oh ternyata tidak sesederhana yang diucapkan.

L dan kisah yang berantakan, ini tentang perjalanan yang jatuh berulang dan ketidakhati-hatian dengan rayuan terhadap keinginan-keinginan sesaat. Ia merelakan sepi dan entah mencumbui keberadaan diri. Sudah banyak konflik yang ia rasakan. 

L dan drama kehidupan yang penuh hiruk pikuk, ini pun tentang kisah yang dejavu. Menjadi penjelajah malam. Menjalani mimpi yang tidak pernah diingini dan direncanakan. Hanya kepada kata yang berubah menjadi kalimat, ia bercerita. Telanjang tanpa penolakan, tanpa formalitas, tanpa rahasia.

L dan kisah yang berantakan, setelah malam ini, akan jadi seperti apa akhirnya ?
Tak ada yang benar-benar tahu. Namun, ia harusnya tahu bahwa tidak ada nilai estetik kala bermain-main dengan kisah yang berantakan itu terus-menerus. Berbahaya dan bermasalah! 

***
Rantauprapat, 31 Juli 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Jumat, 29 Juli 2022

Tempat yang Paling Sunyi

@kulturtava
...
Dengan diam-diam kembali menyerahkan diri pada jerat kematian, berkompromi dengan kesalahan, seperti seseorang yang kalah dari pertempuran. Nyaman dengan orang yang tidak seharusnya, hanya untuk menenteramkan hati,  malah merasa tertekan dan mengumpat dalam hati dengan orang yang yang memberi kasih sayang.

Jalan berliku telah dipilih.

Waktu senggang menguasai diri. Lemah saat dosa itu merayu lagi. Ini menjadi cerita yang berantakan. Dangerous. Kembali berada di tempat yang paling sunyi.  Tak lagi peduli dengan tanggung jawab pun kepercayaan, hanya ego yang melekat. Menjadi kriminal yang ganas, sebab tak mendapatkan kewaspadaan. 

Sampai kapan seperti itu?

Gagal dan kalah. Tidak menghidupi nilai-nilai yang sudah diketahui. Gagal pula memanusiakan dan dimanusiakan. Maaf, beribu bahkan berlaksa kata yang telah diucapkan, namun kata maaf hanya berujung dan bergema di tempat yang paling menyedihkan, di lorong kegelapan. Hidup begitu hampa, sesaat saja penuh kehangatan. 

Ini menyakitkan.

Hidup bukan lagi hidup. Biarkan diri kosong. Ketakutan akan kesepian. Menjadi abu-abu. Terlalu banyak kegilaan, kepura-puraan. Ada banyak rasa bersalah, banyak persembunyian, ketakutan menghantui. Seperti telah ditelanjangi. Berada di tempat yang paling sunyi telah buat diri menjadi asing. Ternyata cerita yang berantakan ini begitu rumit. 

Kesendirian yang memberi penyesalan dan dilema antara akal, hati dan hasrat. Merasa paling malang dan tersakiti, ternyata oh ternyata paling liar dan tidak terkendali. Tidak menghargai.

***
Rantauprapat, 29 Juli 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Rabu, 20 Juli 2022

Bilakah Aku Tawar Hati?

@kulturtava
...
Terkutuklah aku, jika merasa mampu seorang diri! 

Bagaimana memudahkan diri untuk berdamai akan penerimaan yang tidak didapatkan? Pertanyaan yang sulit terdefenisikan, mungkin itu hanya obsesi "nyeleneh" karena penerimaan malah harusnya bukan didapatkan tapi dimiliki diri sendiri.

Sanggupkah hidup tanpa penerimaan? Rasanya tidak. Ini bukan tentang penerimaan orang lain tapi mengenai penerimaan terhadap diri sendiri, tentang mencintai diri sendiri. 

Aku adalah makhluk istimewa yang terbatas, entah pernah diingini entah tidak, disabilitas ada padaku. Kenapa dan kenapa harus aku? Pertanyaan yang tidak akan pernah memiliki penjelasan. Seolah gimmick yang menyebabkan disabilitas ini.

Bilakah aku tawar hati? Aku akan tenang teduh. Ya, saat aku tawar hati terhadap hal-hal yang menjatuhkan, tawar hati terhadap cinta yang sebenarnya tidak cinta. Ketika aku baku tembak pada realita dan ekspektasi,  aku akan menjadi bola liar yang tidak terkontrol. Sejujurnya, untuk tawar hati terhadap hal-hal seperti itu, aku masih terus belajar pun berproses. 

Well, aku tidak akan pernah mampu seorang diri namun aku tidak berhak menuntut penerimaan orang lain terhadap diriku, bahkan di saat tidak diperjuangkan pun,  aku yang sepatutnya memiliki self- awareness agar tidak kejut dan merusak nilai-nilai hidupku.

Dan akhirnya, bilakah aku tawar hati? 
Itu hal yang baik untuk kesehatan jiwaku. 

***
Rantauprapat, 20 Juli 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Selasa, 05 Juli 2022

Kembali Kalah

@kulturtava
...
Berupaya untuk menenun hari baru, ada saja kemalangan yang menyebabkan hal itu gagal. Kembali kalah hari ini

Di bawah ketidakberdayaan,  di tengah keterbatasan
Tersesat, atas nama rasa nyaman
Menyimpan banyak bait dan syair rahasia dalam persembunyian, itu pun atas nama penerimaan yang sebenarnya bukan

Bagaimana bisa lupa, katamu yang jelas terdengar
Kali ini pun, aku akan ingkar janji, ucapmu kemudian. Kali yang telah berulang

Mau jadi  yang seperti apa? 
Sebentar A, sebentar B
Malu bersuara 
Atau sebenarnya tidak keberatan memberikan ruang bagi kebimbangraguan

Kembali kalah 
Hidup namun tidak sepenuhnya hidup
Mati namun masih memiliki hidup
Benar-benar penuh teka-teki

Ingin melepas dengan keyakinan penuh
Sesaat kemudian hening seketika, tak sanggup kehilangan

Self awareness mulai terlupa, mungkin sengaja melupa. Sore tadi,  mengulang kisah kemarin tanpa penolakan. Mati konyol. Diguyur hujan dan menjadi kupu-kupu tak berwarna. Merasa merdeka untuk mencintai

Tertidur dan terlelap
Tak berteduh dalam naungan yang tepat
Hanya pasrah, diam membatu dan seolah memberontak namun tidak sepenuhnya 
Waktu kebodohan berkuasa
Gagal mematikan jerat rayuan
lagi, lagi dan lagi. 

Sudah terlalu banyak pekarangan yang kotor, yang sengaja di tabur
Ini bukan yang pertama, kacau pun tak terkendali

Sungguh, terlalu gamang. Lesap dalam berbagai-bagai duka luka. Kesepian, kesendirian

Hanya berharap bisa kembali
Berteduh dalam naungan yang tepat
Akankah ada kesempatan untuk itu?

Di keseluruhan harap, masih terus berjuang dan memohon belas kasih Sang Pencipta langit bumi,  agar tidak lagi kalah! 

***
Rantauprapat, 05 Juli 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Minggu, 03 Juli 2022

Koma, Jeda, dan Perhentian Perempuan Itu

@kulturtava
...
Ingin berubah
Ingin berhenti
Namun tak kunjung terealisasi

Bukankah tak ada cara yang benar untuk melakukan hal-hal yang keliru

Berulang kali perempuan itu bertanya 
Berulang kali pula, hanya diam yang diterima

Apakah tak pernah terpikir, bagaimana hari perempuan itu jika kebenaran terkuak?
Kenapa harus membiarkan diri koma pada kelemahan

Aku rindu,  itu katamu pada perempuan itu 
Sementara sudah jelas tak akan pernah bisa bersama, kamu acuh, tidak peduli, yang penting kamu dapatkan apa yang kamu mau. Kamu ternyata pencuri yang berkedok baik, penjahat yang berbahaya

Malangnya, perempuan itu bodoh
Penerimaan yang diberikan, melululantakkan perasaan. Sudah terlalu banyak yang hilang. Sudah berusaha, juga sudah banyak jeda yang terjadi, lagi-lagi perhentian perempuan itu belum menemukan titik. Jatuh dan jatuh lagi, sebab tak mendapatkan penerimaan yang diharapkan, membiarkan diri menjadi korban kebodohan

Kehilangan kembali terulang.

Mau sampai kapan kita seperti ini? 
Perempuan itu bertanya 
Sampai tidak lagi bertemu, bisa dipastikan yang memberi akhir dari kekeliruan bukan perempuan itu, walau sebenarnya tidak pernah ingin. 

Mengerikan 
Tak ada tujuan yang terjadi 
Tak akan berujung pada kepastian 
Namun tetap kalah, malu bersuara 
Penyesalan yang tidak termaafkan

Kalimat yang pernah ditulis perempuan itu, memerdekakan hati sendiri itu penting, itu hanya kalimat omong kosong. Karena itu tidak dihidupi perempuan itu.

Sudah terlalu banyak luka 
Terlalu sering menyembunyikan diri di padang belantara

Entah berapa lama lagi perempuan itu harus koma, tak ada kedewasaan dan mindset jangka panjang. Keliru dengan kata penerimaan.

Lelah, tidak ingin lagi koma
Lelah untuk berjeda,  setidaknya perempuan itu sadar pun menerima kenyataan. Untuk apa meneruskan kekeliruan yang sia-sia
Kemungkinan terburuk adalah kesepian
Namun, perempuan itu tidak lagi terkungkung dalam gelap dan kehampaan. Dalam jerat malapetaka.

Apakah perhentian perempuan itu akan menjadi? Berharap akan menjadi nyata

***
Rantauprapat, 01-03 Juli 2022
Lusy Mariana Pasaribu