Rabu, 28 Juli 2021

Sebuah Kisah tentang Kekalahan dan Perempuan Itu

@kulturtava
...
Menjadi perempuan dewasa yang bertumbuh, sungguh perempuan itu ingin. Hari ini, ia tidak berhasil menghidupi itu. Kekejaman kata yang diterimanya, buat ia layu dan mengering. Terasing dari penerimaan hidup. Jangan cengeng, berkali-kali ia mengucapkan itu. Tetap saja air mata memang ada di mata telanjangnya.

Perempuan itu kembali berdansa dengan sebuah kisah tentang kekalahan. Dibandingkan dengan perempuan lain. Sakit. Pun merasa tidak diterima. Entah sudah berapa banyak tanya di hidup perempuan itu, kenapa dan mengapa disabilitas ini melekat pada dirinya? Pertanyaan yang belum kadaluwarsa. Ia tumbuh dewasa tapi tidak seutuh dan sepenuhnya.

Hidup tapi sebenarnya mati. 
Mati tapi sebenarnya hidup. 
Entah kenapa pernyataan ini seolah menertawakan diri perempuan itu. Bodoh. Ini sebuah kisah tentang kekalahan dan perempuan itu. Ia terkadang tidak mampu menjaga kesehatan mentalnya. Sedang sakit, bersimpuh di dalam hamparan semu belaka. Berani memulai kisah baru yang tidak seharusnya dimasuki. Kemudian, membiarkan tamu masuk dengan melewati batas. 

Malam ini, perempuan itu tidak bersuka. Lari dan menjauh, benar-benar mau melakukan itu. Seandainya ia mampu, sayangnya itu mustahil. Andai yang tak akan pernah menjadi nyata. Perempuan itu bernada kebimbang raguan, ia berduka cita. Bagaimana mungkin, ia tidak terluka dan merasakan sebuah kisah tentang kekalahan jika harus menuai apa yang tidak pernah ia tabur. 

Lagi, perempuan itu bertikai dan membunuh ketenteraman hatinya sendiri. Lalu perempuan itu pergi bersama penyesalan, tak mampu memerdekakan hati sendiri. Hujan malam ini, seolah tak mengurungkan niatnya menggoda perempuan itu. Begitulah saat cinta berujung salah. Rasa yang kebablasan. Lebih tepatnya, sensitif yang kebablasan. Dasar perempuan itu.

Ya, begitulah.

***
Rantauprapat, 28 Juli 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Selasa, 27 Juli 2021

Menjadi Perempuan Dewasa yang Bertumbuh

@kulturtava
...
Aku tahu aku terbatas. Namun, tidak benar jika aku mengharapkan penerimaan lebih terhadap keterbatasanku. Tak akan ada yang benar-benar memberikan penerimaan,  tak akan ada yang benar-benar mengerti diriku kecuali diriku sendiri.

Saat ini, aku patah hati. Buatku menyenangi kesendirian. Memutar lagu-lagu melankolis yang beraroma sendu, bukan berarti aku melakukan hal-hal unfaedah. Aku tak akan putus asa, harus miliki kesadaran hati bahwa aku mampu berjuang dan menjadi perempuan dewasa yang bertumbuh dengan riap. 

Ah, entahlah. Sungguh aku takut, tapi memelihara ketakutan yang berlebih pun hanya akan menyusahkanku. Hari ini memang tidak ada cinta. Hari ini tidak ada cerita yang manis, belum tentu dengan besok atau lusa bukan. Hari ini memang seperti hari kemarin, sejarah yang tidak ingin kurasakan lagi-lagi mengunjungi ingatanku. Aku patah tapi aku tidak ingin membunuh kesehatan perasaanku.

Mengapa aku seberperasaan ini?
Mengapa aku serapuh ini? 
Karena aku perempuan dewasa yang terbatas yang membutuhkan ketidakterbatasan Tuhanku. 
Kalau aku masih bernyawa hari ini, berarti tugasku belum selesai di muka bumi. Aku tidak ingin membunuh Tuhanku karena tidak berhasil menghambarkan diri dari dosa yang merayu.

Ada atau tidak ada yang berbaris rapi untuk memberi penerimaan padaku, hari-hariku tetap harus kujalani. Aku adalah tuah rumah atas diriku sendiri, aku yang memilih untuk dikuasai apa. Dan aku memilih untuk berdamai dengan segala keberadaanku. 

***
Rantauprapat. 27 Juli 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Senin, 26 Juli 2021

Mengunjungi Ingatanku

@kulturtava
...
Lagi, lagi, dan lagi,  aku harus kalah dengan kemalangan. Hatiku basah sebab duka masa lalu kembali mengunjungi ingatanku. Namun kali ini, bukan hanya sekedar mengunjungi ingatanku malah lebih parah. Duka masa lalu kembali kurasakan. Aku kembali meniduri sepi, menyenangi kebencian. Mata telanjangku mengeluarkan air mata karena menangis pilu.

Aku tidak baik-baik saja saat ini. Terpuruk. Tidak ada damai sejahtera. Tidak ada ketenteraman hati. Kacau dan penuh kepalsuan. Tidak ada cinta yang kutemukan. Semua omong kosong. Benar-benar menyusahkan. Terlalu banyak cerita, terlalu banyak omong kosong. Penuh intrik. Penuh dusta. Terlebih malam ini, aku mengalami iklim yang buruk. 

Ketika sejarah  yang dahulu kembali terulang, ini bukti  bahwa cinta telah berujung salah. Aku merasa berduka, kehilangan arah. Kehilangan pada hal-hal yang mungkin tidak pernah kumiliki sebelumnya. Aku tak bisa membaca diriku dengan sungguh. Aku tak bisa mendefinisikan perasaanku dengan benar.

Malam ini, entah aku bisa memejamkan mataku. Terlalu marah, keadaan ini seolah menertawakan diriku. Entah sampai berapa lama, duka ini akan bertamu! Aku ingin memberontak tapi aku tak berdaya. Aku diliputi keterbatasan. Saat ini bukan hanya penerimaan yang tak kudapat, segala penerimaann pun sulit kuberikan bahkan terhadap kemalangan yang menggoda hatiku.

Tak ada cinta.
Tak ada senyuman.
Terserang sindrom keegoisan.
Aku perempuan dewasa yang payah.
Aku malah merayakan patah hati, karena kisah dan cerita dari sejarah yang dahulu mengusik pun mengunjungi ingatanku. Aku hidup tapi sebenarnya sudah mati. Mati dari linimasa kebahagiaan yang benar. 

Ah, aku ingin terpejam. Barangkali, esok terbangun dengan kesadaran hati. Barangkali saja. Mungkin, hatiku yang basah oleh genangan air mata sudah mengering.

***
Rantauprapat, 26 Juli 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Saat Cinta Berujung Salah

@kulturtava
...
Ketika yang perempuan itu meninggalkan duka luka. Tenang teduh menghilang. Berkata menerima tapi yang didapati sejarah yang dahulu kembali terulang. Cinta, cinta dan cinta. Seperti bualan belaka. Saat cinta berujung salah, maka tangis tak tertahan. Meski hanya dalam diam. 

Saat cinta berujung salah, harus kalah dengan kemalangan. Ketenteraman hati habis meleleh. Perempuan itu seperti ikan yang terperangkap dalam jala yang mencelakakan. Seperti burung yang terperangkap dalam jerat. Membuat bumi gelap pada hari cerah. Membuat hari cerah seperti malam yang pekat. Tanpa arah. 

Ketika perempuan itu memilih meninggalkan rekam jejak yang payah di hati, tegar teguh seolah kadaluwarsa. Terbawa suasana yang gelap. Tanpa oase, sesak. Keraguan, kekhawatiran akhirnya menduduki jiwa dan pikiran. Kesadaran hati perlahan-lahan lesap dan mati.

Saat cinta berujung salah ada suatu yang mematikan. Partikel udara tak lagi mampu memberikan energi yang positif. Buat jiwa terkontaminasi aura yang mudah jatuh pada kesia-siaan. 2021 tahun ini, saat cinta berujung pada kepedihan, terasa hambar. Warta yang seringkali menyusahkan kepala perempuan itu adalah patah hati dan narasi-narasi ketakutan yang berlebih. Buat hati dan pikiran alami peperangan. Menerima atau memberontak. Memaafkan atau berdamai dengan keadaan. 

Kemudian, membuat hari menjadi hari yang tidak bermakna. Saat cinta berujung salah, yang ada hanya ratapan dan kenyataan yang berujung amarah. Perempuan itu seperti gelembung dan Kupu-kupu yang sayapnya patah.

***
Rantauprapat, 25 Juli 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Selasa, 20 Juli 2021

Perempuan Itu Seperti Ikan yang Terperangkap dalam Jala yang Mencelakakan

@kulturtava
...
Perempuan itu hari ini.
Menimang dan memangku duka luka.
Menuai kecaman dari hal yang tidak pernah ditabur. 
Mengharapkan cinta, tapi yang menawarkan cinta, adalah cinta yang disertai kilatan LONGGUR. 
Menerima enggan. 
Menolak lebih enggan. 

Sial. Lagi dan lagi perempuan itu seperti ikan yang terperangkap dalam jala yang mencelakakan. Ia sulit menghambarkan diri pada kemalangan yang menggoda. Tidak diperdulikan. Terasing. Mau tak mau, perempuan itu harus menelan pedih hati. Lelah dan patah. Menjadi perempuan dewasa yang tidak bertumbuh dengan riap. 

Sejarah yang dahulu kembali terulang. Saat ini, perempuan itu menjadi saksi terhadap dirinya sendiri. Ia menjatuhkan rahasianya pada diksi. Juga dengan sadar kembali menginginkan hasrat yang berbahaya menghampiri.

Terlalu rapuh terhadap realita yang terjadi. Ketajaman dari ketidakadilan begitu menyakitkan. Ia terbawa ke tempat yang paling terpencil tanpa oase. Kemudian membuatnya merasa gelap. Malam seperti tak berlalu di hari yang cerah. Hu. Lelah.

Tidak ada cinta hari ini. Perempuan itu seperti Ikan yang terperangkap dalam jala yang mencelakakan. Tidak masa lalu, masa kini, apa lagi masa depan yang penuh teka-teki zaman yang payah, semua begitu rumit untuk diterima.

Perempuan itu tertipu dan membual terhadap dirinya sendiri.  Harus terlihat baik-baik saja. Hari ini tak mendapatkan cinta, besok seperti apa lagi?
Sepertinya hal yang beraroma manis selalu bersembunyi dari perempuan itu.

Kenapa perempuan itu yang selalu terasing dan terombang-ambing di sebuah kisah yang penuh prahara. Terjatuh dan tenggelam dalam kekalahan. Gagu, layu, dan merapuh. Akankah perempuan itu memiliki satu tempat yang bernama,  penerimaan yang benar-benar menerima? Mungkin nanti. Nanti yang berada di entah.

***
Rantauprapat, 20 Juli 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Sabtu, 17 Juli 2021

Seperti Burung yang Terperangkap dalam Jerat

@kulturtava
...
Bukankah hidup memang seperti itu. Penuh duka luka. Penuh kemalangan. Namun, saat gandum yang menaungi lorong hidup tak mampu memberikan keberterimaan. Maka labirin kehampaan akan menjadi bagian yang menduduki jiwa dan pikiran dengan dahsyat.

Ya, aku sedang menyasiksan sendiri bahwa ada seseorang yang mengalami hal seperti itu. Ada perempuan dewasa yang tidak seperti perempuan dewasa lainnya. Perempuan itu adalah perempuan yang melahirkan tangisan di detak air hidup yang dijalani. Kata Lo Ruhama di Mesopotamia semestanya, nyata tersorot di raut wajahnya. Terlebih saat dia butuh dimengerti akan keterbatasan yang melekat dalam dirinya.

Dia perempuan yang merasakan disabilitas fisik, walau tidak sepenuhnya nyata. Menimang ketidakberterimaan dari ketidakpastian yang sempurna, dari ketidakadilan hidup. Dia membiarkan dirinya terhempas karena tidak berhasil menghambarkan diri dari keinginan-keinginan yang keliru. Malah bermain-main dengan kemalangan, menjadi seseorang yang mengisi waktu luangnya pada hasrat yang berbahaya. 

Perempuan itu membuat bumi gelap pada hari cerah dan seperti Burung yang terperangkap dalam jerat. Bodoh dan tidak mengerti batasan. Bukan menjadi perempuan dewasa yang bertumbuh tapi menjadi perempuan yang berselimut hamparan semu belaka. Bersimpuh dalam keegoisan. Meniduri sepi dan merayakan hening yang teramat panjang.

Dan, bum! Lagi-lagi perempuan itu kalah saat aroma jelaga dan dosa itu merayu. Mengering dan layu pada bisikan demi bisikan yang sebenarnya belum tentu berujung pada kepastian. Dia berjalan dalam kegelapan karena mudah tergiur terhadap kekhawatiran yang berlebih. Dia perempuan yang tidak tenang teduh saat keyakinan hatinya lebih berpusat di zona yang salah, seperti zona dingin yang erotis. Entah berapa lama lagi, perempuan itu mengheningkan cipta terhadap self-awareness.

Mengapa sulit mengapresiasi diri. Perempuan itu seperti burung yang terperangkap dalam jerat. Dia berduka pada sesuatu yang sebenarnya bukan duka. Terlalu takut terhadap banyak hal. Sering bahkan teramat sering berkata :  Rest In Peace, my life. Banyak yang ingin hidup tapi dengan angkuh malah ingin mati dan membusuk seolah jiwa yang ada dalam diri perempuan itu dia yang punya. 

Apakah setelah melihat dan merasakan kemarahan Tuhan yang menyayat hati, baru perempuan itu sadar? Harusnya perempuan itu memaksa diri sendiri berbalik dari hujan yang menyapa. Bukan membinasakan diri dengan mengidap sindrom pembiaran apa lagi menyapa air hujan yang penuh nestapa yang berujung pada penyesalan yang tak termaafkaan.
Hu, sungguh aku berharap bahwa perempuan itu dapat berdampingan dengan kemalangan dan memiliki energi penerimaan, sehingga dia tidak lagi seperti Burung yang terperangkap dalam jerat.

***
Rantauprapat, 17 Juli 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Sabtu, 10 Juli 2021

Menghambarkan Diri pada Keinginan-keinginan yang Keliru

@kulturtava
...
Bagaimana dengan kemalangan? Dalam hidup pasti banyak kenyataan yang membuat diri merasakan kemalangan. Haruskah kalah-mengalah pada kemalangan yang menggoda. Oh, tentu tidak! Bukankah kita bisa memilih untuk tidak menyandarkan diri pada kegelapan yang berujung pada kepedihan.

Harus belajar menghambarkan diri dari kemalangan yang menggoda, pun terhadap keegoisan dan keinginan-keinginan yang keliru. Sulit, namun bukannya tak bisa.

Seperti ada tawa dan luka di dalam persimpangan perjalanan hidup. Kita tidak boleh larut dalam tangis karena luka itu bukan. Seperti itu pula dengan kemalangan yang menggoda, kita tidak boleh menyakiti diri sendiri karena menyerah kalah. Kita harus benar-benar berusaha untuk menghambarkan diri terhadap hal itu. Tentunya selagi kita masih bernafas dan selama bumi masih ada.


Dan, mari kita coba berdamai dengan keadaan. Mencoba menenteramkan hati. Mencoba mengerti, agar diri kita tidak menimang pahit pedih jika tidak mampu menghambarkan diri dari kemalangan yang menggoda. Ah! Biarlah kita bukan dengan sengaja mengundang hadirnya hujan kesalahan yang berselimut pada ratapan yang tidak termaafkaan.

***
Rantauprapat, 10 Juli 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Jumat, 09 Juli 2021

Membuat Bumi Gelap pada Hari Cerah

@kulturtava
...
Katamu, hidup bukan melulu tentang cinta. Lagi katamu, dunia bukan selalu tentang keberterimaan. Seperti halnya saat kau bercerita tentang cuaca yang mudah berubah, ibarat mendung yang tidak selamanya kelabu. Namun semua itu seperti bualan belaka saat kau tak menghidupi apa yang kau ucapkan. Dasar payah. Kau membuat dirimu kehilangan pada hal-hal yang bukan bagianmu. Kau menunggu cinta yang bukan menjadi cintamu.

Kau menemukan dan menjadikan seseorang kampung halamanmu padahal sesungguhnya seseorang itu adalah kampung halaman orang lain. Membuat bumi gelap pada hari cerah. Kenapa kau mencoba menggegam erat apa yang seharusnya tidak kau genggam? 

Kenapa kau harus pilu menyaksikan kesendirianmu, padahal di waktu lalu kau mengatakan bahwa kesendirian tidak selalu menjadi alasan seseorang untuk terpuruk. Kini, satu per satu perkataan yang pernah kau ucapkan hanya menjadi omong kosong. Omong kosong tentang apa itu kesadaran hati.

Jika sekiranya bisa, sudahi sikapmu yang seringkali menyusahkan dirimu sendiri. Lantas untuk apa membuat bumi gelap pada hari cerah. Menjadikan kesedihan terperangkap dengan nyata di matamu. Seharusnya kau mampu mengakhiri cinta yang bukan menjadi cintamu dan semestinya kau masih, bukan-bukan, kau harus mencintai dirimu sendiri dengan benar.

Dan, kembali lagi menghidupi apa yang pernah kau katakan. Perkataan yang berada dalam jalur yang tepat. Bukan dengan sengaja membuat bumi gelap pada hari cerah pun menjadikan kesendirian apa lagi ketidakberterimaan menjadi ancaman untuk menikmati hasrat yang berbahaya. Selagi kau masih memiliki hari ini, hargai keberdaaan dirimu sendiri dengan melakukan hal-hal yang sepatutnya. Sebab bisa jadi, esok bukan harimu lagi. Mungkin esok kau telah menjauh dan tiada. 

***
Rantauprapat, 08 Juli 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Rabu, 07 Juli 2021

Seperti Hari yang Pahit Pedih

@kulturtava
...
Untuk L! 

Pada satu titik, kau ingin berhenti. Ingin mati. Menangis dalam diam di pengapnya kamar kecil yang gelap. Entah apa yang merasukimu saat menginginkan hal itu. 

Tak ada ketenteraman hati.
Tak ada tenang teduh.
Begitu rapuh.
Seperti gelembung dan Kupu-kupu yang hilang arah.
Harimu seperti hari yang pahit pedih. 

Di suatu titik yang lain, kau ingin kembali hidup. Menjadi seseorang yang benar-benar hidup. Meninggalkan kepura-puraan yang harus terlihat baik-baik saja. Entah kapan dan suatu hari mana, titik itu akan kau hidupi. 

Kau sulit membaca dirimu sendiri. Seringkali kau membiarkan dirimu seperti sigaret yang dibiarkan menyala dan terbakar dengan sia-sia. Seperti halnya ketidaksukaanmu pada sunyi, namun kau harus meniduri sunyi dan terlelap dalam kesunyian.

Siapa dirimu? 
Bukan satu, dua kali kau tak mampu menjawab pertanyaan itu dengan benar. Kau menyerah kalah pada teka-teki zaman yang payah. Bertikai di ruang hatimu dengan banyak hal dan mau tak mau buamu berteduh dalam genggaman yang keliru.

Kau seperti berada di entah saat harimu menjadi seperti hari yang pahit pedih. Memilih pilihan yang tidak seharusnya. Namun kau seolah lupa atau sengaja melupa, seperti cuaca yang selalu berubah. Misalnya mendung tak selamanya kelabu. Seperti itu pula hidup tidak selalu mengenai kepatahan dan ketidakadilan hidup bukan. Jadi, jangan biarkan dirimu seperti cangkang kosong yang bergemuruh dan merasa hari-harimu akan menjadi hari yang seperti hari yang pahit pedih.

L, bisakah kau menjadi seseorang yang membaca dirimu dengan baik?
Tidak menjadi lebih rumit dalam hal-hal yang belum tentu berujung pada kepastian. Ah, semoga saja. 

***
Rantauprapat, 07 Juli 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Aku, Kamu Gagal Menjadi yang Pernah Terpikirkan

@kulturtava
...
Mau melakukan apa lagi, jika kebersamaan pun keberterimaan tak lagi kembali. Hanya bisa pasrah walau sebenarnya ingin memberontak. Terdiam membisu, bersama air mata yang berlinang. Aku tidak lagi menjadi selalumu, kamu pun mau tak mau tidak lagi menjadi selaluku. Aku, kamu gagal menjadi yang pernah terpikirkan.

Ada kejahatan hatiku terhadapmu, ada umpatan keji yang terlepas dariku untukmu. Aku tahu itu keliru, tapi aku tak bisa menahan diri dari kesukaran yang kamu timbulkan. Apakah aku/kamu hanya sebatas pernah saling cinta? Saling menaungi? Namun luka hati ini sulit untuk disembuhkan. Buatku rapuh dan jatuh pada dosa yang merayu.

Ya. Jika kebersamaan pun keberterimaan tak lagi kembali. Tak lagi ada saatnya untuk kita. Semua hanya omong kosong. Hanya dusta. 

Kepergiaan keberterimaan darimu, buatku fasih dengan duka luka. Buatku bertemu dengan kemalangan. Karena harapan yang kubangun terhadapmu terlampau besar. Aku mengeluh dan berkata: kenapa aku memberikan kepercayaan terhadapmu! Meletakkan kebahagiaanku padamu.. Kita tak lagi mampu berjalan beriringgan, walau aku ingin terus bersama.

Sejak ada jurang yang tak terseberangi di antara kita, aku ingin melupakanmu. Namun, hingga saat ini, aku belum mampu melakukan hal itu. Kamu adalah relasi yang terjalin pada musim hidupku dengan sangat intim. Payah memang. Ah, mungkin aku bersimpuh di dalam hamparan semu belaka. Bertahan dalam harap yang seharusnya tidak kulakukan.

Aku lelah.
Aku ingin berhenti.
Pada kenyataannya, mengeluhkan ketidakadilan ini tetaplah hanya kesia-siaan. Aku menjadi penipu, berbohong pada diriku sendiri, mengatakan bahwa aku baik-baik saja, padahal tidak sama sekali. Aku salah, harapanku kembali patah. Hilang dalam kesepian.

Hu. Jika kebersamaan pun keberterimaan tak lagi kembali. Jika aku, kamu gagal menjadi yang pernah terpikirkan. Hal itu  sangat berbahaya. Ini bukan tentang beromantika semata.  Ini tentang ketidaktahuan akan disabilitas nurani dari disabilitas fisik yang melekat dalam diri. Buatku sepi, sendiri, terasing. Aku lenyap dari ketidaksempurnaan yang nyata. Tak utuh. 

***
Rantauprapat, 26-27, 29 Maret 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Selasa, 06 Juli 2021

Lagi, Perempuan Itu Gagal Mengakhiri Patah Hati

@kulturtava
...
Andai keberterimaan benar-benar perempuan itu miliki. Andai disabilitas yang melekat padanya tidak menyusahkan dirinya sendiri. Ah, hidup memang penuh teka-teki zaman yang payah. Seringkali ia ingin mengakhiri patah hati yang merayu, tentunya patah hati yang bukan  karena romansa asmara. Yang terjadi adalah, lagi-lagi perempuan itu gagal mengakhiri patah hati yang merayu dirinya. Ia, tak bisa menolak layu. Tak bisa menolak kehampaan.

Ia, mengulang kisah dan kebodohan yang dahulu. Keterbatasan dan kesendirian buat perempuan itu mudah menyerah pada hasrat yang menggoda pun berbahaya. Dasar bodoh. Menikmati hujan yang bukan milik perempuan itu. Ketika kesadaran  hati mendekat, perempuan itu menyesal. Bertanya, kenapa harus basah oleh hujan? Membiarkan diri disetubuhi oleh angin liar, hu. 

Malangnya, perempuan itu seakan lupa bahwa perihal hidup bukan ia pemilik hidup. Karena, ketika patah hati lagi-lagi merayu,  ia tetap saja menjadi perempuan dewasa yang payah lagi aneh. Menikmati hasrat yang berbahaya. Di satu sisi, ia menjadi cerita dan mengajarkan bahasa yang benar. Di sisi yang lain, ia adalah pelaku dan terdakwa dalam sebuah adegan yang penuh episode panas, penuh duka luka. Terpeleset dan sulit melepaskan diri dari episode ini.

Ia merasa tidak penuh, tidak hidup atas hidup yang diberikan. Tidak menikmati hidup dengan sentuhan cinta yang benar. Perempuan itu ingin memiliki hidup yang bermetamorfosis dengan penerimaan. Ia tak lupa, ia masih perempuan biasa yang penuh keterbatasan yang membutuhkan ketidakterbatasan Sang Maha Sempurna. Sang Pemberi Hidup. Sesungguhnya, perempuan itu benar-benar ingin berhenti dan menyudahi kisah yang penuh sedu sedan dan duri kekhawatiran yang berlebih.

Secepatnya, perempuan itu hanya berharap mampu dan bisa mengucapkan selamat tinggal pada kebodohan hati. Merayakan kemerdekaan hati yang benar merdeka. Memiliki pagi dan malam yang baik lagi merdeka. Sekalipun masih menyasiksan sendiri bahwa hidup yang dilalui penuh disabilitas,  pun kesendirian masih saja menganga, perempuan itu sungguh berharap tidak lagi gagal mengakhiri patah hati yang menduduki sebagian jiwa dan pikiran. 

Akankah hasrat yang menggoda tidak lagi menyesatkan perempuan itu? Akankah ia mampu melepaskan diri dari berahi yang merayu? 
Entahlah

***
Rantauprapat, 06 Juli 2021
Lusy Mariana Pasaribu