Rabu, 31 Juli 2024

Kisah-kisah Rumah Tanpa Jendela

@kulturtava
...

Bagaimana rasanya rumah tanpa jendela? Pengap pengap dan pengap.

Lantas, untuk apa menjadikan rumah tanpa jendela?  Tidak ada sesuatu yang baik di situ.

Seperti hendak menerobos kegelapan, untuk apa memporak-porandakan isi kepala dengan segala kecemasan terhadap sesuatu yang belum tentu terjadi.

Siapa yang bertelinga hendaklah yang mendengar, jika pun tetap tidak mendengar berarti menulikan telinganya.

Segala kemarahan, kedongkolan, kebencian, was-was, kekhawatiran yang berlebih seringkali dipertahankan di hati juga pikiran, padahal itu semua tidak menambah sehasta apapun pada hidup.  Iya, seperti rumah tanpa jendela. Tidak ada cinta tidak ada kebahagiaan tidak ada damai sejahtera apalagi tenang teduh. Dan sering kali memilih itu. Dan hari ini  masih gagal terhadap hal itu.

Terbunuh atau membiarkan diri terbunuh dengan segala hantu-hantu yang ada di pikiran, hantu-hantu kekhawatiran yang berkeliaran dan tumbuh di dalam kepala.  Di atas ranjang pagi ini, ketika pasang surut kehidupan, harus terus belajar dewasa, mematakan kemalangan dan sepi yang di cptakan sendiri agar tidak menjadi rumah tanpa jendela.

Setelah pagi ini, pasti akan ada lagi drama yang terjadi. Pening dan pusing. Dan akan banyak kisah-kisah rumah tanpa jendela yang hilir mudik di dalam kepala, wajar jika cemas tapi kembali kepada pilihan apa yang harus diambil, 

Memilih menjadikan rumah tanpa jendela atau sebaliknya!

***

Rantauprapat, 22 Juli 2024

Lusy Mariana Pasaribu 

Selasa, 30 Juli 2024

Singgah Bukan Sungguh

@kulturtava
...

Cinta itu tidak harus memiliki, ini sedang terjadi. Seorang yang seperti kamu, singgah bukan sungguh. Tak pernah ada kata tulus, vitamin love tidak pernah kamu berikan. 

Tanpa disangka-sangka kamu hadir, tanda tanya besar di kepala? Seperti pertanyaan-pertanyaan yang membuat ku mengumpat. 

Singgah bukan sungguh. Tadinya aku disetubuhi harapan lalu mati dan terhempas, terbuang seperti abu yang tidak berarti. Barangkali, tanpa pernah kuduga dan kupikir sebelumnya kamu terlalu lelah bermain-main, tiada tempat berteduh hingga menjatuhkan pilihan kepadaku. Akhirnya aku yang sakit sendirian, takut kehilangan kamu yang bukan siapa-siapaku.

Kamu singgah bukan sungguh, kembali menjadi asing tanpa kita. 

***

Rantauprapat, 30 Juli 2024

Lusy Mariana Pasaribu 




Senin, 29 Juli 2024

Intermezzo, Merelakan dari Ketidakrelaan dan Untuk Apa Biru Karena Rindu

@kulturtava
...

Hanya persinggahan dan intermezzo, bullshit. Membuat muak, menjadi satu hanya peribahasa. Seolah mengajak memori tak akan pernah pudar, kenapa harus bergentayangan di dalam saraf-saraf otak. Harus bisa mengatasi intermezzo yang menjadi pengganggu. Sbab kamu hanya sepotong ingatan yang tidak akan berarti apa-apa.

Seperti ada bom yang meledak dalam diri. Ada yang hilang, kesejahteraan mental yang terkikis. Pernah direbahkan oleh cinta, melebur semesta dengan hasrat dan hujan deras yang membasah bumi. Untuk apa biru karena rindu, rindu sendirian barangkali.

Ada kebodohan ada kebahagiaan. Apa artinya ini? Seperti kesenjangan pada disabilitas. 

Berulang-ulang selama ini berkhianat pada harap. Untuk apa sebenarnya hidup? Untuk siapa sebenarnya menangis? Harus diupayakan dan memiliki kesadaran: merelakan dari ketidakrelaaan, untuk menjadi pantas atas ketidakpantasan yang sudah bosan untuk dilakukan. 

Dan ketahuilah, sudah berusaha untuk tidak lagi terjebak ketika dosa itu merayu. Harus bisa dan terbiasa. Karena tak mau ada irama kesedihan yang tak berujung. Tidak ingin berakhir sebagai daun jatuh. Pernah mabuk oleh anggur manis, pernah mabuk oleh kekasih. Entah kekasih yang seperti apa, kekasih yang pernah benar-benar ada atau sama sekali hanya ilusi.

Pernah mengatakan tidak ada ruang untuk cinta yang lain. Sudah pernah menuliskan, asing tanpamu bila tidak ada lagi cinta. Yang ada, hanya menumbuhkan onak duri. Pertanyaan maukah kau jadi kekasihku, itu jadi pertanyaan yang menjijikan. Karena tidak ada kebenaran yang benar-benar tulus dari itu.

Tidak harus tahu dan mencari tahu tentang hal yang tidak perlu tahu. Sebuah cara melupa harus dilakukan dan diupayakan. Harus memiliki kesadaran. Lagi, untuk apa biru karena rindu. Belajar untuk menerima. Karena pada akhirnya bersama tidak harus sama. Tidak mau mencuri yang bukan menjadi bagian diri.

Karena ada yang datang, dan ada yang pergi. Rasanya sakit dan amat sakit ketika tertolak dan ditolak. Sengaja dilupakan. Ah, entahlah. Walaupun hanya intermezo yang pernah ada harus belajar merelakan dari ketidakrelaan dan pada suatu hari tidak lagi biru karena rindu.

***

Rantauprapat, 26 Juli 2024

Lusy Mariana Pasaribu

Sabtu, 27 Juli 2024

Semesta Saya Tanpa Kamu


@kulturtava
 ..

Tidak ingin berakhir sebagai daun jatuh. Pernah mabuk oleh anggur manis, pernah mabuk oleh kekasih. Entah kekasih yang seperti apa, kekasih yang pernah benar-benar ada atau sama sekali hanya ilusi.

Pernah mengatakan tidak ada ruang untuk cinta yang lain. Sudah pernah menuliskan, asing tanpamu bila tidak ada lagi cinta. Yang ada, hanya menumbuhkan onak duri. Pertanyaan maukah kau jadi kekasihku, itu jadi pertanyaan yang menjijikan. Karena tidak ada kebenaran yang benar-benar tulus dari itu.

Tidak harus tahu dan mencari tahu tentang hal yang tidak perlu tahu. Sebuah acara melupa harus dilakukan dan diupayakan. Harus memiliki kesadaran, untuk apa biru karena rindu. 

Belajar untuk menerima. Karena pada akhirnya bersama tidak harus sama. Tidak mau mencuri yang bukan menjadi bagian diri.

Karena ada yang datang, dan ada yang pergi. Rasanya sakit dan amat sakit ketika tertolak dan ditolak. Sengaja dilupakan. Ah, entahlah.

***

Rantauprapat, 26 Juli 2024

Lusy Mariana Pasaribu 

Perempuan yang Ketakutan dan Rekam Jejak yang Payah

Pixabay.com
...

Perempuan itu ketakutan. Tidak pernah cukup waktu dia merasa tenang teduh. Kehilangan damai sejahtera. Sendiri. Rekam jejak yang payah kembali terulang. Brengsek. 

Kenapa dan kenapa kebisingan tidak pernah menjauh pergi. Tidak pernah mengerti, sudah bersama untuk berapa kali dasawarsa tapi tak pernah henti-hentinya untuk berdamai. 

Perempuan itu muak.

Ada saja kebisingan yang mengundang kemarau. Benar-benar rusuh dan patah. Kenapa tidak berakhir saja hari ini. Mau sampai kapan berlanjut? 

Ada kisah yang belum usai dan kembali ke permukaan. Iya ini kisah perempuan itu dan rekam jejak yang payah. Perempuan yang ketakutan tentang drama hidup yang terjadi. 

Ingin marah tapi tak tahu kepada siapa marahnya. Ini seperti kisah sepi yang berpenghuni banyak makhluk. Dari keseluruhan hari-hari perempuan itu barangkali mayoritas dipenuhi belasungkawa. Malang. 


Pada suatu hari nanti, mungkinkah perempuan itu memiliki langit cerah. Hingga bisa berdiam diri dengan teduh. 

Ini bukan catatan biasa lebih kepada kegaduhan demi kegaduhan yang mengganggu kepala perempuan itu. 

Di sini, perempuan yang yang ketakutan itu berharap mata telanjang yang ia punya akan pernah menangis bukan karena hal-hal yang membuat ia menyesal untuk lahir dan lebih sering memilih kematian yang tak kunjung ada. 

Melelahkan.

***

Rantauprapat, 26 Juli 204

Lusy Mariana Pasaribu 

Jumat, 26 Juli 2024

Di Balik Tawa

@kuulturtava
...

Perlahan semuanya berubah, hal yang kita mimipikan telah usai. Kita berjalan dan menjalani hidup masing-masing, suka duka kita tanggung sendiri.

Sedih dan bahagia tak lagi kita nikmati. Rumah yang pernah kita impikan hanya sebatas angan-angan.

Kita tidak pernah dewasa satu sama lain, terlalu sibuk dengan egonya masing-masing. Hidupku dan juga hidupmu terlalu berantakan dan aku menambahnya dengan persimpangan yang akhirnya dipilih. Tapi keegoisanku dan berantakannya hidupku, buat aku ingin berpetualang dan mencari apa itu arti hidup sesungguhnya.

Dan sekarang kita usai, hanya tinggal kenangan. Kenangan yang menjadi rekam jejak dalam gaung ingatanku. Tidak di sadari semuanya berubah, kita yang dekat kini benar-benar menjauh, hampa yang di rasa. Malam menakutkan mencari kesibukan agar rasa sedih bisa pulih. Tapi, nyatanya tetap mengusik dan akhirnya terpikirkan, hal yang lalu tak dapat lagi di nikmati.

Sekarang di antara kita tak ada lagi yang bisa diusahakan karena telah saling melukai hati. Sepertinya kamu memblokir segala hal tentangku. Mungkin aku tidak seperti impianmu! Namun aku tak mau berlarut-larut dalam kejauhan.

Karena sejauh ini masih ada harap yang aku semogakan tentang kamu. Aku mau menua dan mau bersamamu selamanya. 

Masih ada cinta tentang Kita. Entah bagaimana, aku masih larut dalam kesedihan. Aku memelihara kebodohanku karena nyatanya, aku masih seseorang yang bersembunyi dibalik tawa. Aku lupa aku luka.

Mungkinkah? 

Mungkinkah kita akan kembali bersama? 

Mungkinkah semesta mengizinkan kita untuk itu? 

Aku hanya berharap masih ada kesempatan untuk itu. 

Aku tidak tahu realita akan mengijinkan dan memberikan kabar baik atau malah sebaliknya. Karena dibalik ketawa banyak kemungkinan dan kemustahilan yang terjadi. 

Bersamamu ada cinta. Tidak denganmu akan terasa asing. Karena denganmu aku pernah biru karena rindu. Aku tidak mau patah dan berakhir di pelataran sepi. Kamu adalah harap yang masih aku semogakan. 

***

Natadecoco dan Lusy Mariana Pasaribu 

Juli 2024

Rabu, 24 Juli 2024

Yang Pernah Kusebut Rumah

Th Medium
...

Ingin bisu dan membisu, tapi sudah lebih dari satu dasawarsa itu acapkali gagal. Untuk tahun-tahun berikutnya, aku belum bisa memastikan. Bisa membisu namun bisa juga gagal untuk membisu.

Karena baru-baru ini aku mendapati pertanyaan dari kamu yang pernah kusebut rumah. Kalau aku mati datangnya kau dek? Aku dengan jelas mengatakan tidak. Karena aku benci keadaan kita. Entah kebencian apa yang mendasari.

Kepada kamu yang pernah kusebut rumah, baik-baik sajalah di sana. Jangan merelakan dirimu mati karena kebodohan, aku benci mendengar suaramu yang mengatakan "hancur kali aku inang". Jangan seperti itu, aku merasa bersalah. 

Sesekali bisa mendengar tawa dan ceritamu saja aku sudah cukup, pernah aku tergesa memiliki keputusan barangkali juga kamu pun begitu, dan aku mengakui kesenjangan yang ada di antara kita mayoritas adalah kegagalanku. 

Ketika aku mendengar, deru nafasmu yang tersendat, seketika itu juga aku merasa hancur. Mengingat interaksi, juga daya tarik yang pernah ada, aku menyesal waktu itu dengan keputusanku, aku benar-benar berharap kamu akan baik-baik saja.

Aku takkan pernah sengaja lupa tentang kamu, rekam jejak yang pernah ada akan seperti halaman buku yang pada akhirnya akan tertutup. Namun bukan pula, hancur dan memusnahkan. Kepada kamu yang pernah kusebut rumah, siapapun pemilik rumah yang akan kamu tuju, kuat dan bertahanlah. Jangan jadikan rumahmu tanpa jendela. Panas, menggelap dan penuh keributan. 

Yang pernah kusebut rumah, entah juga pernah menyebutku sebagai rumah, mari menabur harapan demi harapan baik untuk kita masing-masing. Dan barangkali ke depan kita akan kembali bisa saling bercerita dengan titik-titik yang menjadi garis dalam kehidupan kita masing-masing. 

Karena kita adalah titik yang takkan pernah menjadi garis.

***

Rantauprapat, 24 Juli 2024

Lusy Mariana Pasaribu 


Sabtu, 20 Juli 2024

Perempuan Hujan


@kulturtava
***

Kenyamanan yang masih dirindukan. Hidupnya terlalu sangat lucu, karena terlalu lucu untuk menawarkan tawa saja sulit. Du du du du, terlalu bercanda bukan. Terlalu usil, yang sangat-sangat usil. 

Ia seperti perempuan hujan, dingin. Kesejahteraan dan tenang teduh seperti usaha menjaring angin. Ingin digapai tapi tak kunjung dapat. 

Kebisingan yang membatu, takkan pernah usai. Kepedulian yang mati, ia perempuan bodoh. Untuk apa menjadikan diri perempuan hujan, haruskah ia membatu untuk segala hal yang terjadi? 

Berulang kali berharap, berulang kali patah. 

Tanpa ujung. Tanpa jeda. Kekonyolan dua kepala merusak isi otak perempuan itu. Pada suatu malam, perempuan itu terlalu hambar dan ramai dengan pertanyaan demi pertanyaan yang menguasai kepala. 

La la la, perempuan itu ingin tertawa tapi apa daya. Ia terlalu kaku, tertuju pada hal-hal yang toxic. Pemikiran yang harus ENYAH! BODOH. 

Mestinya perempuan hujan itu, tidak merelakan tubuh dan pikiran mementahkan harapan untuk bahagia. Walau jalan terjal yang akan dilalui, perempuan hujan tidak boleh dan tidak harus ada pada kerumunan hujan. 

Pada suatu malam yang lain, perempuan hujan barangkali akan amnesia pada kisah-kisah duka yang pasti akan terjadi lagi. 

Dududududu, perempuan hujan itu akan kembali bisa tertawa dengan hujan yang menciptakan kenangan dengan segala huru-haranya. Biarkan saja! Karena tanpa adanya hujan, hidup tidak akan lengkap. Bukankah begitu!

***

Rantauprapat, 20 Juli 2024

Lusy Mariana Pasaribu

Kamis, 18 Juli 2024

Mengapa Perempuan Itu Berbeda?



@kulturtava
***
Perempuan dewasa yang tak dewasa. Disabilitas yang bukan disabilitas. Sakit tapi sehat. Ada tapi tidak terlihat barangkali.

Mengapa perempuan itu berbeda? Dia takkan pernah sama seperti perempuan lainnya. Ingin berdamai dan menerima, gagl dan gagal lagi. Jatuh yang entah yang sudah beberapa kali. Benarkah perempuan itu pernah dianggap dan diterima?

Dia sudah seperti perempuan hujan. Hari-hari dipenuhi air mata, entah perempuan itu menangis untuk siapa.

Apatis. 

Mengerikan bukan! Mengapa perempuan itu berbeda? Untuk mengejar harapan, dia sudah hambar. Hasrat yang dia miliki, sudah lama sudah lama bertumbangan apalagi di saat-saat dia tak mampu untuk berdiri dengan kedua kakinya. 

Tidak ada cinta. Tidak ada kebahagiaan 

Ini sebuah cerita yang sangat biasa, telalu biasa bahkan tidak mendapatkan empati dari yang dibutuhkan. Dia menertawakan diri sendiri karena ini.

Ini seperti syndrom dan trauma untuk perempuan itu.

***

Rantauprapat, 18 Juli 2024

Lusy Mariana Pasaribu

Rabu, 17 Juli 2024

Pada Suatu Pagi

@kulturtava
...

Kukira rumah ternyata tidak sama sekali. Sengaja melupa, tapi tidak semudah yang ada di pikiran. Pada suatu pagi di bulan ketujuh tahun ini, pada hari ke tujuh belas kembali mengulang kesalahan yang sama. Kesalahan yang pernah menjadi candu, payah. 

Aku pernah menggilai segala hal tentang ia, menjadi pemburu kenyamanan. Entah ia benar-benar pernah ada atau aku yang terlalu bodoh. Karena hingga saat ini aku dan ia takkan pernah pulang ke rumah yang sama. 

Aku perempuan dewasa yang mungkin tak pernah dewasa menghadapi ia, mudah sekali jatuh bahkan hanya dengan melihat ia, terlebih lagi yang lain tentang ia. Sudah banyak luka juga air mata yang tercipta karena ia, tapi aku tak jenuh-jenuhnya membiarkan ia menguasai hati dan pikiran.

Sial memang, aku yang berharap tapi ia yang semena-mena. Kisah yang harusnya sudah lama usai, namun tak pernah berhasil untuk benar-benar usai padaku. Ini adalah cerita yang sudah terlalu lama disembunyikan olehku. Aku takut, aku sendiri. 

Seharusnya aku tidak seperti ini. 

Ini seperti syndrom yang mematikan. Bukankah aku harus lebih mencintai diriku sendiri, mencintai dengan benar. 

***

Rantauprapat, 17 Juli 2024

Lusy Mariana Pasaribu

Senin, 15 Juli 2024

Pada Suatu Hari


@Kulturtava
...

Sendirian. Seakan tak ada yang berpihak padaku. Mungkinkah terlupakan. 

Lagi-lagi. Lagi-lagi tubuh ini tidak bersahabat. Ah, siapa tersangka di balik fobia ku terhadap ketidaksetaraan tubuh ini? Aku nggak tahu jawabnya. 

Hingga hari ini, masih saja selalu begitu.

Baru saja hujan air mata membasahi wajahku, deras aku menangis tak ada yang tahu. Karena aku hanya seorang diri saat ini. Sungguh aku takut, tak ada harapan untuk berdiri lagi. Aku gemetar, kedua kakiku tak mampu berpijak untuk berdiri.

Aku tak bisa sengaja melupa kan hal ini. Tapi aku tak mau pula ada hujan sepanjang hari yang menemani hariku. Aku harus hentikan tangisku. Kukira kemalangan yang ada padaku tapi ternyata tidak sebegitu malang.

Buktinya aku masih bisa menyembunyikan rasa sakitku hanya pada tulisan ini. Ini hari adalah hari di mana aku sendiri mengalami rasa sakit tapi aku bisa juga menertawakan rasa sakit itu. Aku memilih diam dan tidak menjadi huru-hara pada huru-hara orang lain. 

Aku tak ingin diratapi. Tak ingin pula merusuhkan hati. 

Pada suatu hari, aku akan benar-benar siap untuk menghadapi kenyataan akan rasa sakitku. Kemudian, aku hanya bisa berdoa akan ada yang benar-benar menjadi rumahku nanti untuk bisa memiliki keikhlasan dan penerimaan terhadap diriku.

Aku sakit. Mengalami perih. Namun, tak ingin menjadi kali yang habis airnya. Ini hanya catatanku hari ini.

***

Rantauprapat, 15 Juli 2024

Lusy Mariana Pasaribu