Selasa, 23 Juni 2026

Kekacauan-kekacauan yang Sama

SHUTERSTSOCK 
...

Untuk perempuan itu, mengapa kau tak berubah, diantara waktu yang luruh, ucapanmu kembali memberikan sejarah yang menyakitkan, satu kata yang membekas di relung hati. Pagi ini dengan sadar dan sengaja kembali mengulang kekacauan-kekacauan yang sama, sadar melihat lengan yang tak berdaya tapi mengapa membiarkan untuk dijatuhkan.

Wahai perempuan yang lahir bulan Agustus apakah masih engkau tidak merdeka tapi jika boleh memilih tidak ada yang pernah mau dan lahir dari perempuan yang hanya mengantar riuh hujan badai dari ucap bibirnya. Algoritma yang berulang-ulang namun satu kata pagi ini merupakan hal yang menjadi artikel utama dari segala ucap yang pernah ada, amazing.

Pagi di hari kedua puluh tiga bulan keenam ada sejarah baru dalam ingatan,  memuakkan. Ini adalah dilema dari kedisabilitasan seseorang, tidak ingin menjatuhkan air mata dari mata telanjang tapi ini terlampau sakit, mungkin selama hampir empat dasawarsa, perempuan senja itu melipat satu kata itu di dalam hatinya yang ternyata menjadi duri dalam ucapan.

Haha, sudah lama tahu bahwa engkau perempuan adalah perempuan yang tidak pernah boleh untuk dibantah tapi pagi ini, baru mendengar dan melihat apa yang terjadi selama hampir hidup empat dasawarsa,  yang tersembunyi dalam kandungan hatimu.  

Pengertian yang kau ajarkan dan selalu kau ucapkan ternyata itu tidak kau hidupi, untuk apa minta maaf setelah rasa sakit yang kau tancapkan di hati atas ketidaksenanganmu terhadap kedisabilitasan seseorang yang terjadinya itu karena dirimu dan seseorang yang kau pilih untuk menjadi pendamping hidupmu. Tidak ada gunanya rasa bersalah, kekacauan-kekacauan yang sama terus berulang. 

Hari kedua puluh tiga pagi tadi, tercengang-cengang mendapati dan mendengar ucapan itu, sesungguhnya menyesal untuk semua setiap yang terjadi, harusnya memang tidak perlu ada, tapi siapa yang berhak menentukan hidup. 

Jika fisik yang dilukai itu akan sembuh seiring waktu tapi jika kata-kata yang diucapkan mau bagaimanapun berdamai dengan diri sendiri akan tetap meninggalkan jejak, mencoba untuk melupa, hahahaha, menertawakan diri sendiri di atas rasa sakit, sama-sama ulat,  sama-sama berenga, sama-sama yang didaur ulang tapi merasa lebih baik dan lebih rohani, sehingga boleh mengucapkan kata-kata sampah jika ketidaksenangan yang terjadi.

***

Rantauprapat, 23 Juni 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar