Sabtu, 29 April 2023

Saya, Perempuan Itu, dan Elegi

@kulturtava
...Perempuan itu merasa dia spesial, mendapatkan pembelaan yang terlalu. Menjijikkan. Tak tau malu. Relasi yang salah.

Cuaca panas yang ekstrem melanda diri, saya mengalami akhir bulan yang basah. Karena perempuan itu, ada rasa duka yang terjadi.

Kenapa dan mengapa perempuan itu menjadi ikatan? Bapak ibu pun memberikan tempat yang tidak seharusnya. Menjaga kewarasan terhadap perempuan itu, ah. Menyesakkan. Berulangkali kericuhan timbul sebab perempuan itu. Ia juga menyampaikan secara tertulis bahwa ia seseorang yang sakit mental. Ambigunya, perempuan itu tidak sakit mental ketika mencicipi makanan enak dan menerima duit. Hahahaha, lucu bukan.

Saya, perempuan itu dan elegi adalah kisah hari ini. Tidak ada cinta untuk perempuan itu tapi bapak ibu selalu memberi cinta. Ironisnya. Yang menjadi luka duka, saya gagal bersikap bodo amat terhadap perempuan itu.

Ah, hidup ini terlalu asyik mengusili. Penuh drama dan sandiwara.

***
Rantauprapat, 30 April 2023
Lusy Mariana Pasaribu 

Senin, 17 April 2023

Seperti Lumpur di Jalan

@kulturtava
...
Parah, berantakan, seperti lumpur di jalan, tak berharga. Berulangkali berjanji dan berulangkali ingkar. Mau menjadi seperti apa? Dengan mudah kompromi terhadap kamalangan.

Basah, sentuhan demi sentuhan liar yang mematikan dibiarkan merajai. Tak akan mampu menjadi pohon anggur yang riap tumbuhnya. Layu oleh angin timur dan barat. Tak mampu melawan godaan.

Perempuan, pria, dan hasrat yang gagu. Plin plan, kebablasan yang tidak terelakkan. April yang basah. Entah apa yang dimau, hanya kenikmatan semu. Seusai kemalangan, hanya patah hati yang ada.

Tanpa suara, senggugukan seorang saja, diabaikan. Menangis tak menyelesaikan masalah. Adakah jalan kembali? Atau dibiarkan mengeras pun membatu.

Seperti lumpur di jalan, diinjak. Begitulah kisah hari ini, panas dingin, terang gelap, hidup mati, mati hidup, tak jelas, gamang, carut marut. Hu!

Penyesalan yang tidak termaafkan!

***
Rantauprapat, 17 April 2023
Lusy Mariana Pasaribu 

Selasa, 11 April 2023

Tentang Kamu yang Saya Namakan Harapan, Ternyata Hanya Menjadi Kenangan

@kulturtava
...
Tak akan ada lagi esok, hari ini tlah pupus dan sudah. Merasakan ketidakadilan, tebang pilih. Hanya bisa menerima tanpa mendapatkan jawaban pasti. Hu, hari kesebelas bulan keempat menjadi sejarah baru bagi saya, sebab ini tentang kamu yang saya namakan harapan, ternyata hanya menjadi kenangan. Kegagalan, kesepian dan menepi. 

Hari ini seolah menjadi pemberhentian. Ada jarak hidup dan mati di April yang basah. Selepas hari ini, akan jadi seperti apa, entahlah. Kamu adalah realita hidup dengan segala kehororan. Menakutkan. Tak tersedia lagi ruang untuk saya dan kamu, tertutup sudah. Di antara saya dan kamu, ada harapan yang kini menjadi kenangan. 

Kamu adalah harapan yang lama disemogakan tapi tidak menjadi, background yang melekat padamu buat saya seperti debu yang berhamburan di jalan. Terlalu gamang dan sulit menerjemahkan kehilangan kamu.

Benar, tanpa kamu saya akan seperti berada di entah. Terlebih untuk melihat saja, sudah tak bernyali. Bagaimana pun tetap harus bertahan hidup, bersama kewarasan atau keterpaksaan. Hidup tanpa hasrat seperti hidup tapi mati dan mati tapi hidup.

Kesadaran yang bertamu di kepala, sungguh membuat kepala sakit dan rasanya mau pecah. Mengumpat di hati, meledak di pikiran. Sialnya, mau tak mau, saya harus mengusahakan untuk berdamai dengan segalanya saya agar bisa tetap menjalani hidup.

Sulit bahkan sangat sulit, namun entah di hari yang kapan, bisa saja kamu dan saya yang berbeda adalah proses yang akan buat hari saya seperti bunga, indah dan berharga.

***
Rantauprapat, 11 April 2023
Lusy Mariana Pasaribu