Sabtu, 28 Februari 2026

Elegi di Balik Februari

Kulturtava
...

Ternyata bahagia itu tidak selalu menular, sepertinya itu hanya kepada keberuntungan. Disabilitas atau lebih tepat ditunjukkan oleh kata-kata *cacat*, tidak pernah mau di posisi seperti ini. Hal kecil sekalipun perlu bantuan orang lain, ini adalah elegi dibalik Februari yang katanya romantis.

Kalau boleh memilih lebih baik tidak pernah ada dan dilahirkan, terlebih ketika mendapati perkataan *lelah/capek* karena membantu. Seperti tak pernah nyata dan tak pernah terlihat. Kepala ini sesak, penuh, terhadap keributan-keributan yang juga terdengar. Sial, asu.

Elegi di balik Februari, penuh dengan si pahit lidah. Kehidupan adil yang macam apa yang harus diterima, hanya ada kebinasaan. Kebekuan hati, kebekuan rumah, hanya dijadikan bahan pelengkap, hahhah, bukankah lebih baik di bumi hanguskan.

Ini kisah seorang perempuan dan huruf-huruf mati menjadi teman.  Di ambang malam disertai gerimis akhir bulan itu, merasa hancur tak kala penerimaan yang dibutuhkan benar-benar tidak memberi. Hanya bersama huruf-huruf mati melepaskan kegelisahan dan cerita-cerita konyol yang mengganggu kepala.

Rumah ternyata bukan rumah.

Dan, gerimis malam ini di akhir Februari adalah elegi. Entahlah dan enyalah, cukup sulit merekayasa hati untuk menjadi baik-baik saja.

***

28 Februari 2026

Lusy Mariana Pasaribu 


Jumat, 20 Februari 2026

Kelucuan yang Aneh

Foto pribadi
...

Ada apa dengan malam ini? Terlalu hebat perempuan itu berkata, sudah ku jual-jualanmu! Seolah uang itu adalah untuk pribadi. Merasa lucu, lucu yang aneh. Perempuan itu berkata terlalu enak dan marah, karena suaminya direndahkan. Hello, suami seperti apa yang harusnya dibanggakan dia.

Nggak pernah mau dan tak pernah ingin dia kembali. Belum genap dua belas bulan dia kembali, terlalu banyak keributan, ego yang terlalu tinggi dan merasa dibutuhkan. Kenapa harus semua yang seperti ini? menuai, menuai dan menuai namun tidak pernah menabur, semua yang buruk dan menuai semua akibat itu. Ingin marah ingin mengumpat, perempuan itu tadi berkata , apakah semua harus mengerti, sepertinya tidak pernah ada yang mengerti karena tidak pernah ada di posisi yang seperti ini.

Punya kaki tapi tidak bisa digunakan punya tangan tapi tak bisa digunakan. Sekolah tinggi nan jauh tapi hanya jadi pajangan ijazah itu. Andai bisa melangkah, berdiri dan berjalan sudah lama memang tidak pernah ada lagi, hanya duduk tenang diatas kasur yang sungguh tidak membuat nyaman.

Perempuan itu hanya memikirkan perasaan suami, memuakkan. Ini adalah tragedi menuai tanpa menabur, ini adalah kelucuan yang aneh. Ini adalah pola yang berulang, adakah yang pernah mau seperti ini? Sendiri dan sendiri,  semut yang menanggung banyak beban gajah. Ini juga adalah jejak dari kesalahan yang tertimbun, ini adalah kecacatan yang mau tak mau harus dijalani hingga mati.

Ucapan dan pemikiran perempuan itu tadi adalah sampah yang mau tak mau menjadi rekam jejak di perjalanan. Bagaimana nanti jaga jarak, memang seperti itu lebih baik daripada bicara sesukanya dan tidak punya etika. Selepas malam ini akan terlihat akan menjadi batas yang asing atau tidak. 

Hari ini adalah, hari yang paripurna dengan kelucuan yang aneh. Hari kedua puluh bulan kedua, hari yang diisi dengan helaian kenangan yang buruk. Menjadi kata-kata yang tidak bermakna, entahlah. Terlalu takut, gagu dan gamang. Apa benar selalu mengerti karena sepertinya tidak pernah sama sekali, tapi ya sudahlah. Asu, toh juga bukan kita yang punya kehidupan ini. Ingin meminta mati tapi sadar masih banyak dosa, jika diizinkan mati akan seperti apa kehidupan selepas kematian? Terlalu rumit hidup atau mati.

***

Rantauprapat, 20 Februari 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Rabu, 18 Februari 2026

Ketika Rumah Tidak Lagi Menjadi Tempat Nyaman

Foto pribadi
...

Mau sampai kapan seperti ini? Tidak ada rasa saling kalah mengalah. Hanya ada aku aku dan aku, selalu menjadi pusat dari segalanya. Bukankah seharusnya rumah adalah menjadi tempat yang nyaman. Namun lagi-lagi menunjukkan diri dan ke otoriteran.

Kenapa tidak ada batasan diri. Mengapa sulit untuk merasakan kasih sayang, yang ada hanya keributan dan keributan juga keegoan demi keegoan. Mengetuk pintu hati yang sudah berpuluh tahun tapi tak juga terbuka. Mengapa tidak belajar bersyukur dan mencukupkan diri.

Ketika rumah tidak lagi menjadi tempat nyaman, ke mana lagi pelarian? Ke mana lagi mencari tenang teduh. Kali ini, hati harus lebih hati-hati dan waspada. Marah dan kecewa itu sudah pasti. Bukankah tidak boleh berdosa karena orang lain, sekalipun itu adalah relasi pertama dalam hidup. Belum genap dua bulan menjalani tahun ini, sebegitunya huru-hara yang terjadi karena perkara kecil bahkan sangat kecil namun demi kepuasan ego, segala ucapan keluar bahkan yang sampah sekalipun.

Berdoa satu-satunya jalan keluar untuk menetralkan hati. Karena banyak yang dikira bisa berubah ternyata tidak sama sekali. Sepertinya tidak akan pernah selesai, akankah benar-benar selesai setelah kematian ada dan benar-benar diizinkan oleh Tuhan? Sudah selesai? Entahlah, terlalu sulit mendeskripsikan kehidupan ini.

Ketika rumah tidak lagi menjadi tempat nyaman, setidaknya harus tetap memiliki awareness dalam diri. Tidak boleh membiarkan diri jatuh dengan kesadaran pada dosa yang merayu. Yang benar berdoalah karena berdoa adalah satu-satunya cara juga untuk mencintai dan mengampuni walau itu sulit tapi bukan mustahil untuk dilakukan.

***

Rantauprapat, 18 Februari 3026

Lusy Mariana Pasaribu 

Selasa, 17 Februari 2026

Senyawa Kimia Alami yang Meredakan

Foto pribadi
...

Hal-hal kecil yang dijaga untuk cinta tetap hidup ternyata juga menghianati. Tidak menjadi senyawa kimia alami yang meredakan, malah jadi boomerang. Sudah bau tanah, tapi masih menjadi sosok yang kurang perhatian, harus selalu dimengerti, bullshit.

Menuntut tanpa mau dituntut.

Kenapa repot-repot menyusahkan diri. Orang-orang itu saja tidak pernah menganggap ada dan menganggap penting. Ketika yang diharapkan menjadi tempat pulang dan menjadi senyawa kimia yang alami yang meredakan, menyatakan diri sama sekali tidak layak, anggap saja seperti angin, berhembus begitu saja, entah ke mana.

Hey perempuan, mau sampai kapan seperti itu. Minta saja kepada Tuhan supaya seseorang itu mati, dan tidak menjadi bahan kesusahan di hatimu. Begitu saja repot. Bukankah ada dan tidak ada seseorang itu, kau akan sama saja. Seharusnya kau lebih merdeka setelah seseorang itu tidak ada.

Gila bukan, ini kisah singa yang berkuasa dengan semut-semut yang selalu harus tunduk dan taat. Februari katanya bulan romantis, itu tidak berlaku untuk setiap orang barangkali. Karena Februari bisa saja sial, buktinya terjadi malam ini. Hujan sedang turun deras-derasnya ditambah umpatan, pandangan dan cara bicara yang tajam dari perempuan itu.

Senyawa kimia alami yang meredakan, itu hanya tinggal kata-kata. Bahkan air mata saja enggan jatuh malam ini. Antara rasa marah kepala puyeng, fobia masa lalu dan anomali terhadap perempuan itu.

***

Rantauprapat, 17 Februari 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Bagaimana Mungkin Membiarkan Sayap-Sayap Itu Patah?

Pxhere.com 
...

Hei otak dan hati sialan, kenapa kamu sekali marah? Karena tindakan dan perkataan hal-hal kecil membuat terluka dengan mudah. Bukankah hidup tidak ada yang seperti jalan tol, lurus tanpa hambatan.

Tapi begitulah hidup, seringkali membiarkan kejadian demi kejadian menjadi gandum yang layu sebelum masak. Namun, tidak boleh terbawa perasaan untuk jatuh ke dalam hal-hal yang tidak seharusnya, jatuh pada dosa yang berharga.

Bukankah lebih banyak kebaikan yang terima daripada rasa sakit, ada hal-hal kecil yang harus dijaga untuk cinta tetap hidup. Bagaimana mungkin membiarkan sayap-sayap itu patah? cinta dari mereka adalah kekuatan, mereka tidak boleh dilupakan. Bagaimana mungkin membiarkan sayap-sayap itu patah? Karena otak kecil yang sering kali kalah, lebih baik merajalela di balik puisi bukan pada kenyataan. Tidak ada kebahagiaan ketika membiarkan diri digerogoti kenakalan karena terbawa perasaan yang naif.

Karena ketika sadar atau tidak sadar membiarkan sayap-sayap itu patah, akan ada sakit hati yang menjadi sebuah alasan untuk tidak memiliki rasa syukur. Lebih baik diam, ketika hati memang sakit. Berhenti jadi mainan perasaan yang tidak benar, kehidupan itu seni dan harmoni yang bisa dipilih menjadi seperti apa berjalan dan berujung.

Lantas, untuk apa memilih membiarkan sayap-sayap itu patah kalau masih bisa untuk tidak dikatakan.

***

Rantauprapat, 17 Februari 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Jumat, 13 Februari 2026

Seperti Jaringan Kanker Tersebar tanpa Terdeteksi

Kulturtava 
...

Rasa sakit ini seperti jaringan kanker tersebar tanpa terdeteksi, sepertinya tidak ada yang pernah mau menjadi beban, seandainya juga tidak cacat tidak akan pernah mau begitu dibantu bahkan ke kamar mandi sekalipun/ urusan-urusan pribadi yang seharusnya orang lain tidak tahu.

Haruskah menyalakan? Keadaan kaki yang sulit bergerak atau jari-jari tangan yang tidak lagi lurus yang bahkan tidak lagi bisa menulis belakangan. Seandainya punya senyawa kimia yang meredakan, hahah. Akankah pada suatu hari bisa lebih bahagia? Kepada siapa harus berkeluh kesah? Tidak ada tempat rumah yang dituju/tidak ada tempat pulang.


Catatan siang ini, tidak ada seni yang bisa menenangkan. Semua kalah pada ucapan dan tatapan itu. Padahal sudah jelas ada kesenjangan keterbatasan, namun tidak ada kalah mengalah dan pengertian. Ternyata tidak semua niat baik dibalas dengan kebaikan.

Mau seberapa banyak lagi, apakah tidak cukup dengan rela kehilangan. Tidak ada juga yang mau membiarkan kotoran tercecer di mana-mana. Karena tidak berhak bertanya, kenapa harus aku yang seperti ini? Menuai tanpa menabur.  Ternyata gandum yang layu sebelum ia masak, sekarang adalah aku.

Kesedihan siang ini adalah badai yang tidak pernah dikira akan datang.  Tadinya berpikir benar-benar ada kaberterimaan. Haruskah semua tentang uang, betapa mengerikannya badai hari ini. Seperti jaringan kanker tersebar tanpa terdeteksi, seperti itulah rasa sakit yang dirasakan. Ada yang mengatakan, pelangi datang sehabis hujan, apakah terjadi dengan kejadian siang ini? tak ada yang tahu jawabnya.

Tidak ada romansa, tidak ada karena kemesraan, tetap harus sendiri dan tidak boleh berisik menebarkan rasa sakit jadi bercintalah dengan huruf-huruf yang menjadi teman karena ia tidak akan menjadi hakim yang memberi tuntutan dan mengotori isi kepala.

***

Rantauprapat, 13 Februari 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Senin, 09 Februari 2026

Benar-benar Pencuri Kebahagiaan yang Hebat

Foto pribadi 
...

Apa yang sebenarnya dicari? Kesombongan berkedok kasih sayang atau gaya hidup yang hedonis. Hari kesembilan bulan kedua, benar-benar menjadi pencuri kebahagiaan yang hebat. Tapi akan coba memahami, rela kehilangan demi kebahagiaan seseorang.

Ada senyum pagi ini tapi bisa saja itu adalah senyum yang berbohong. Anomali dari tenang teduh. Ada juga neraka yang tersirat namun pagi ini neraka itu menjadi neraka yang indah. Siapa yang peduli? Entahlah.

Walau demikian, kisah pagi ini setidaknya bisa mendapatkan kata terima kasih sudah bersyukur. Katika banyak latar belakang yang terjadi di balik itu, ketakutan akan kematian menyadarkan lebih baik kehilangan dari pada merasakan penyesalan ketika tidak bisa memberikan kebahagiaan.

Benar-benar pencuri kebahagiaan yang hebat, hari ini setidaknya kembali berhasil menghadapi post power syndrome yang sudah lama merajalela. Hari ini masih bisa menggagalkan keegoisan diri, besok belum tentu. Jadi bener lah kalimat yang mengatakan kesusahan sehari cukup untuk sehari.

Cerita pagi ini adalah romantisme yang akan terekam dalam memori, dan tidak ada penyesalan yang terjadi pagi ini.

***

Rantauprapat, 09 Februari 

Lusy Mariana Pasaribu 

Selasa, 03 Februari 2026

Bagaimana Jika Ibu Sudah Tidak Ada?

Freepik
...

Hampir menuju dua puluh empat jam pertanyaan ini mengganggu di kepala, sakit sesak dan tiba-tiba menangis, khawatir yang berlebihan. Pertanyaan bagaimana jika ibu sudah tidak ada, adalah alasan kenapa sudah sejak lama meminta kepada Tuhan, jika boleh lebih dulu pergi dan tidak ada di bumi ini adalah bukan ibu.

Sampai dengan pagi ini, di dalam frame lensa kehidupan ibu masih ada. Masih bisa merasakan romantisme dengan ibu, kasih sayang, ocehan-ocehan, pertengkaran kecil maupun besar, kemudian perbaikan, mendengar suara dan melihat senyumannya ibu, itu adalah kebaikan yang Tuhan percayakan. Namun, masih saja ada embel-embel yang membuat ketakutan itu makin besar, perlakuan yang diterima, juga bagaimana nanti itu menjalani hari ke depan terlebih tentang support system dan finansial, bagaimana jika Ibu sudah tidak ada? rumah bukan lagi rumah dan tidak lagi tempat pulang.

Dan bagaimana juga, jika yang lebih dulu pergi dan meninggalkan adalah benar-benar ibu? Benar-benar menjadi kesusahan, menangis, dan akan menjadi kesendirian yang tanpa batas. Merasa bersalah jika tidak menyelesaikan tanggung jawab setelah benar-benar jika ibu yang lebih dulu pergi, sunyi dan sepi, atau bahkan seperti batu cadas yang keras dan kaku. Berharap tang Maha mengijinkan, jika yang lebih dulu pergi itu bukan ibu.

Pagi ini, ketidaknyamanan terasa penuh di hati, ada sesal juga kenapa sebelum  pertanyaan yang mengganggu di kepala ada, pernah memberontak bahkan pernah juga sulit untuk memaafkan ibu. Selepas pagi ini, semoga tidak lagi tersesat dan benar-benar benar dalam keharusan bersikap untuk ibu.

Bukankah ibu adalah seseorang yang sudah lalu lalang dengan segala kepahitan tanpa keluhan. Dan Hampir seluruh waktu yang dijalani ibu adalah tentang berjuang dan meninggalkan rasa sakit, demi tanggung jawab dan kewajiban yang bukan seharusnya dipikul oleh ibu. 


Pada akhirnya, masih berharap yang benar-benar lebih dulu pergi itu bukan ibu. Yang dirasakan adalah lebih baik meninggalkan, karena jika yang lebih dulu pergi adalah bukan ibu, dunia akan baik-baik saja, tidak ada kesusahan yang harus dihadapi, karena ibu bisa berdiri sendiri dan bisa berjalan sendiri, dan ibu bukan tunawisma yang harus diurus dari hal-hal kecil, tapi entah apa yang disemogakan dan diharap akan terjadi di dalam poros waktu kehidupan.

***

Rantauprapat, 03 Februari 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Senin, 02 Februari 2026

Kecacatan yang Menawan

Pixabay
...

Seperti jaringan kanker yang bisa tersebar tanpa terdeteksi, tapi itulah rasa sakit dan trauma yang bergaul dengan manja pada kehidupan. Ada yang mengatakan, belajarlah mencintai ujianmu karena yang mengujimu juga sedang mencintaimu, terlalu sulit untuk menghidupi kalimat itu.

Bagaimana rasanya diabaikan, ada tapi dianggap tidak ada. Bagaimana rasanya semut kecil dihimpit banyak gajah yang besar. Muli dainang, dang na solo, itulah sakit tapi tak berdarah. Entah Seperti apa alur kehidupan ini bahkan setelah bulan Maret nanti, usia akan bertambah, adakah yang ingat? atau itu adalah tanggal yang terlupakan.

Diam dan memiliki tidak berkomentar apapun. Sudah terlalu biasa untuk diabaikan, tidak ada pernah melihat bagaimana kesendirian dan kesepian, bagaimana rasanya sakit yang berkepanjangan, bagaimana terlukanya tidak bisa berdiri sendiri, tidak bisa berjalan sendiri, bagaimana rasanya menjadi Camar cacat yang sendirian, walau untuk melegakan perasaan sering dikatakan kecacatan yang menawan, tapi bukankah cacat adalah cacat.

Muli dainang, bahkan kalimat itu tidak pernah terdengar sekalipun. Beberapa hari lagi romantisme Februari akan selesai dan memasuki bulan yang baru yaitu bulan Maret, bulan di mana ruang yang masih kosong terpampang dengan nyata dengan notifikasi yang tidak pernah berbunyi tentang berdua dan kebahagiaan. Tidak apa-apa, tidak dirayakan.

Genangan air selalu ada dalam kubang kenangan, seperti jaringan kanker yang tersebar tanpa terdeteksi. Sepertinya memang bulan Maret yang dalam beberapa hari lagi akan datang, masih akan sama, menjadi hal-hal yang biasa saja atau malah hambar. Ah, ini sulit dimengerti tapi ini bukan hoaks yang harus dinikmati apalagi. 

***

02 Februari 2026

Lusy Mariana Pasaribu