Ternyata bahagia itu tidak selalu menular, sepertinya itu hanya kepada keberuntungan. Disabilitas atau lebih tepat ditunjukkan oleh kata-kata *cacat*, tidak pernah mau di posisi seperti ini. Hal kecil sekalipun perlu bantuan orang lain, ini adalah elegi dibalik Februari yang katanya romantis.
Kalau boleh memilih lebih baik tidak pernah ada dan dilahirkan, terlebih ketika mendapati perkataan *lelah/capek* karena membantu. Seperti tak pernah nyata dan tak pernah terlihat. Kepala ini sesak, penuh, terhadap keributan-keributan yang juga terdengar. Sial, asu.
Elegi di balik Februari, penuh dengan si pahit lidah. Kehidupan adil yang macam apa yang harus diterima, hanya ada kebinasaan. Kebekuan hati, kebekuan rumah, hanya dijadikan bahan pelengkap, hahhah, bukankah lebih baik di bumi hanguskan.
Ini kisah seorang perempuan dan huruf-huruf mati menjadi teman. Di ambang malam disertai gerimis akhir bulan itu, merasa hancur tak kala penerimaan yang dibutuhkan benar-benar tidak memberi. Hanya bersama huruf-huruf mati melepaskan kegelisahan dan cerita-cerita konyol yang mengganggu kepala.
Rumah ternyata bukan rumah.
Dan, gerimis malam ini di akhir Februari adalah elegi. Entahlah dan enyalah, cukup sulit merekayasa hati untuk menjadi baik-baik saja.
***
28 Februari 2026
Lusy Mariana Pasaribu