Banyak konflik dan membuat badai tak terkendali, menyeret untuk kalah. Kekecewaan yang besar seperti sengatan listrik yang merambat ke seluruh tubuh. Kepala perempuan itu terasa mendidih. Seakan-akan bisu, Karena untuk mengeluarkan suara pun tidak mampu lagi karena ketika bersuara pun tidak pernah didengar.
Sudah terlalu banyak prosa demi prosa yang tertulis sebagai pelipur penat. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya untuk berdiri saja tidak mampu, rekam jejak masa lalu adalah kebodohan yang masih bertahan di dalam pikiran. Sudah sangat lama ingin kalah dan berserah pada kalah, dunia seolah tidak pernah menginginkan ada. Namun, jika tidak ada pun yang menginginkan ada akan tetap hidup, sampai masa hidup benar-benar selesai, Lantas kenapa menyusahkan diri sendiri.
Kata-kata dan juga umpatan-umpatan yang ada adalah drama yang takkan pernah usai. Tidak pernah mau sama sekali berada di posisi ini, ada di kerumunan hujan. Perempuan itu selalu disulitkan dengan percakapan-percakapan sial. Perempuan itu hanya mencumbui pagi dan malam dengan sepi dan sunyi. Berusaha terdamai dengan diri sendiri tapi sangat-sangat sulit.
Perempuan itu pernah membiarkan diri tergelincir pada dosa yang merayu, menggaduhi isi kepala dengan hal-hal yang berisik, berisi kata-kata celaka dan membumihanguskan, kemudian ia sadar itu adalah sesuatu yang tidak benar.
Dan kini, helaian kenangan yang merupakan masa lalu akan menjadi bab demi bab dalam perjalanan hidup. Perempuan itu tidak harus menjadi gagu dalam mengisi wilayah hati dan pikiran apalagi berserah pada kalah. Karena hidup tidak selalu tentang luka. Perempuan itu harusnya menyudahi keliaran-keliaran yang bertandang mengganggu hatinya, keliaran yang memberikan dampak buruk dan mengakibatkan ingin berserah pada kalah.
Ia mau menjadi perempuan yang tidak berserah pada kalah, walau sulit bukan berarti tidak bisa untuk dilakukan. Seperti puisi, terkadang kehilangan percakapan dan diurai menjadi kata-kata indah, terkadang kembali ditemukan syair-syair cinta yang indah. Ini adalah harapan demi harapan yang diterbitkan dan disemogakan oleh perempuan itu, perempuan yang tidak berserah pada kalah. Karena hidup punya kekejamannya sendiri dan bagaimana cara menjalani hidup dengan berbagai seni yang boleh untuk dipilih. Karena tidak ada sehasta apapun yang bertambah jika membiarkan diri terusik padahal hal-hal yang tidak berguna dalam hidup. Membuang air mata pada yang tidak penting tapi terkadang begitulah hidup membiarkan diri jatuh, tapi jangan bersalah pada kalah.
***
Rantauprapat, 23 April 2026
Lusy Mariana Pasaribu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar