Sabtu, 27 Maret 2021

Perempuan Itu dan Sebuah Kisah tentang Kekalahan

S2222s2sssss22222222s
@kulturtava
...
Untuk perempuan itu,
Ah, dia marah, kecewa dan berantakan.
Lupa pada kebenaran. Saat dosa itu merayu lagi, dia menikmati waktu bersama kemalangan. Dia kalah pada kenyamanan semu. Mengalah pada dosa.

Perempuan itu jatuh pada persinggahan yang salah. Menawarkan luka yang menyakitkan untuk diri sendiri. Dia sekarat, tunduk tanpa memberontak. Berulang-ulang menikmati waktu luangnya pada hasrat yang menggoda. Sebuah kisah tentang kekalahan perempuan itu. Sungguh-sungguh payah dan angkuh.

Dia sedang merana. Detik, menit, jam, dan hari ini sebuah kisah tentang kekalahan ada pada perempuan itu. Sore ini hujan jatuh, bernada tangisan. Kekalahan ini terlalu berat untuk dia, namun apa daya. Dia rela tersesat di hutan sendu demi lapisan kebodohan. Kembali terjaga. Malu dan penuh umpatan. Mencampakkan kesadaran. Memusuhi sesuatu yang tak seharusnya dilakukan. Dasar bodoh.

Sebuah kisah tentang kekalahan. Memperkosa makna hidup yang benar hari ini. Dilumat jerit keegoisan. Menebar kekacauan. Menimbulkan badai dan mematikan. Perempuan itu bersengketa pada hasrat yang bukan milik dirinya sendiri. Menjelma debu, tak merasakan keteduhan pun kedamaian.

Perempuan itu kembali diam, terlelap dalam duka. 

***
Rantauprapat, 24 Maret 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Jumat, 26 Maret 2021

Kamu Gagal Menjadi yang Kupikirkan

@kulturtava
...
Ketika kamu bersikap yang tak seharusnya, menciptakan jarak yang melebar antara kita. Pun memberi jurang yang tak terseberangi. Kamu gagal menjadi yang kupikirkan. Ada peta yang berbeda kini. 

Ternyata, semua hanya omong kosong tentang rasa sayang yang kamu ucapkan. Rekam jejak yang payah pun tercatat di semestaku karenamu. Sepertinya kehadiranmu itu telah direncanakan dan itu hanya untuk memberi rasa sakit.

Kamu gagal menjadi yang kupikirkan. Dang tarpilit au di ho. Ho pe dang tarpilit di au. Ya, kamu/aku tak lagi terpilih untuk menjadi kita. Tak lagi menjadi air yang tenang.

Dahulu, aku sungguh ingin menjadi selalumu. Kini tidak lagi. Sebuah cara melupa akan kulakukan agar kisah kita benar-benar kulepaskan. Walau sebenarnya itu sulit. Terpaksa lalu terbiasa. Terhadap ketakutan dan kesedihan yang terperangkap dalam mata telanjangku, aku akan coba memaafkanmu. Memanggil ketabahan dan keberanian juga kebahagiaan. 

Teruntuk A, terima kasih sudah membuatku tersandera oleh untaian kata-kata manismu. Menghempaskan rasaku pada kesia-siaan. Bersama air mata, aku harus melarikan diri dari harapan untuk bersamamu. Ah, tentang kita. Aku sudah benar-benar kalah.

Walau karena kepayahanmu, sejarah yang dahulu kembali terulang. Dengan sadar. Aku berjanji perempuan, aku tidak akan menahanmu untuk bertahan dalam keegoisan karena aku. Kamu telah gagal menjadi yang kupikirkan, tidak ada perasaan cinta yang didapatkan. Hu, dan untuk kita ternyata satu hanya peribahasa.

Begitulah tentang cinta, ada yang memulai, ada yang mengakhiri. Menjadi namun tidak demikian dengan memiliki.

***
Rantauprapat, 23 Maret 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Dingin Menjalari Percakapan Kita

@kulturtava
...
Inikah yang dinamakan bertahan dalam keegoisan. Bertahan dalam harap. Sudah tahu, ada hati yang ingin berpisah. Sudah tahu, tak bisa menerima keseluruhan diri, kenapa memaksakan diri untuk bertahan.

Ada amarah. Lama sudah, dingin menjalari percakapan kita. Terlalu takut. Terlalu rapuh. Buatku jatuh pada dosa yang merayu. Payah memang. Sudah jelas yang kau mau, aku tak ingin menganggu dirimu lagi. Kau gagal menjadi yang kupikirkan.

Rekam jejak yang menyakitkan ada di hatiku. Keinginan mataku telah berhenti darimu, tak lagi menjadi selalumu. Hari ini, dengan sadar aku menjauh dan melangkah ke arah yang berbahaya. Ada sebuah kisah tentang kekalahan yang kulakukan.

Dingin yang menjalari percakapan kita buatku alami dilema. Kekalahan rasaku. Dan yang kutuai adalah semak duri. Mempertanyakan, kenapa kau semudah itu menyerah dan berhenti dari kisah kita? Mengakhiri semua kenangan, dan berakhir di bulan Maret, bulan kelahiranku. 

Ah, hanya bisa meniduri sepi. Menjadi tapi tidak memiliki. Merasakan tapi berujung ratapan. Sepertinya tentang kita, memiliki tidak berpihak padaku.

***
Rantauprapat, 25 Maret 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Senin, 22 Maret 2021

Rekam Jejak yang Payah

@kulturtava
...
Kenapa harus aku, harus aku yang berbeda. Disabilitas ini sungguh menyulitkanku. Entah sudah berapa lama sebenarnya tersisih dan terasing. Menyimpan luka. Ada rekam jejak yang payah di dalam hati.

Tawa dan penerimaan seperti omong kosong. Apakah tak pernah benar-benar menerima keterbatasan. Terasa begitu sunyi, penuh duka luka. Bersama air mata. Menangis dalam diam. 

Tanpa diinginkan, realita mampu membuat jarak pada hati. Karena ada rekam jejak yang payah pun merumitkan diri. Adakah benar-benar mampu mengapresiasi diri, menerima keberdaan diri seutuhnya.

Aku lelah. Ingin berjenti. Berhenti bertahan dalam harap. 

***
Rantauprapat, 22 Maret 2021
Lusy Mariana Pasaribu 



Dahulu, Aku Ingin Menjadi Selalumu

@kulturtava
...
Kukira, kesejahteraanku adalah kesejahteraanmu. Perkiraanku keliru. Kini itu hanya omong kosong. Aku sudah meletakkan asa untuk bersamamu. Kuakui. Dahulu, aku ingin menjadi selalumu. Namun tidak lagi.

Roham nga mubah. Dang tarpilit ho di au. Ada kecemburuan yang tak bisa kupahami memang. Sudahlah, aku/kamu hanya jarak yang tak bisa ditempuh.

Hatiku telah dingin, sedingin dinihari terhadapmu. Memang ada kengerian dan ketakutanku juga benci untukmu. Aku sungguh ingin lupa tentangmu. Aku sudah kalah. Jatuh. Dan berakhir. Jika ini tentangmu. Tak lagi mampu kalah-mengalah demi kebersamaan.

Tadinya, aku berharap bahwa kamu adalah jawaban dari pertanyaanku. Jawaban dari ketakutanku. Hingga, aku ingin menjadi selalumu. Sekarang ini, hati dan logikamu tak terima lagi keterbatasanku. Perlahan, kenanganmu yang tertinggal akan terhapus dari linimasa hatiku. 

Jujur, aku sakit dan terluka. Aku sering berpura-pura. Aku ingin beristirahat. Tak mengisi ruang dalam hatiku dengan beraromantika asmara.  Maret, menjadi bulan yang memerlukan kekuatan lebih untuk menjalani. Ada perpisahan yang bertamu. Dan ada kesadaran untuk menerima kenyataan.

Ya, luka ini tak begitu mudah untuk sembuh. Hu, bagaiman pun. Dahulu, aku ingin menjadi selalumu. Ya, hanya dahulu. Aku tak mungkin lupa, aku sudah kehilangan kepercayaan terhadapmu. 

***
Rantauprapat, 20 Maret 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Sabtu, 20 Maret 2021

Tetapi yang Dituai adalah Semak Duri

@kulturtava
...
Namun apa daya, jika yang ditabur belum tentu dituai. Ini bicara tentang harapan yang baik. Saat ingin menghinggap, dipaksa berhenti berjuang. Tak lagi ada keseiramaan.

Kali ini, tak lagi kuasa untuk menggapai. Yang ditabur adalah asa bahagia, tetapi yang dituai adalah semak duri. Begitu rapuh. Ini cerita dan catatan perjalanan hidup yang menjadi sejarah.

Ada kekalahan di satu hati karena hati yang lain. Perbedaan keberterimaan, ada kesenjangan yang payah. Akhirnya kembali terpaksa lalu terbiasa untuk sebuah kehilangan. Dan perlu kata merdeka untuk kalimat, SELAMAT TINGGAL. Perlu benar-benar belajar untuk itu. 

Bum. Tetapi yang dituai adalah semak duri. Kenyataan itu memmberi kesedihan. Entah bagaimana, ada saat rasanya ingin mati. Bodoh memang. Namun, begitulah hidup, saat gandum yang menaungi tak lagi mampu menjadi air gula yang manis bagi hati.

Bersama derasnya ratapan yang keluar dari mata telanjang, sungguh ingin melepaskan kesesakan hati. Demi keberlangsungan kesejahteraan diri, berusaha untuk tidak menyusahkan diri terhadap tuaian yang dirasa.

Ya, belajar menerima kenyataan hidup. Mengabaikan sesuatu yang tak berfaedah di dalam hidup. Terlebih, ketika yang dituai adalah semak duri, tetap tegar. Putuskan pilihan untuk bangkit.

***
Rantauprapat, 18 Maret 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Jumat, 19 Maret 2021

Tak Lagi Menjadi Air yang Tenang

@kulturtava
...
Ternyata saat tak ada keberterimaan dari gandum yang ada di hati, itu begitu menyesakkan. Tersembunyi, tak pernah terlihat. Suaranya tak pernah terdengar. Bercumbu dengan sepi. Terasing. 

Yang seharusnya menjaga dan memelihara, tak lagi menjadi air yang tenang. Buat jiwa gelisah dan kuatir. Tidak merasakan tenang teduh. Ingin menghilang dan berada di entah.

Itu adalah pilihan yang harus dipilih. Menyelamatkan diri sendiri. Seandainya, gandum yang diinginkan itu benar-benar tak menjadi air yang tenang dalam kurun waktu yang panjang, sekiranya itu sungguh terjadi. Jangan merusak sejarah hidup yang masih ada. Tolong putar balik, untuk apa merasakan pahit seutuhnya. Beri air gula yang manis bagi diri sendiri. Karena keterbatasan yang ada pada diri, tidak akan mudah dipahami dan menjadi tanggung jawab  yang lain. Sekalipun itu gandum yang menaungi.

Mata telanjangmu jangan terlalu lebar memandang pada hal yang merumitkan diri sendiri. Tergelincir. Menyulam cerita hidup dengan kerimbunan mara bahaya. Persiapkan diri untuk hal-hal yang manis dan juga untuk hal-hal yang pahit sekalipun. Sudah cukup dewasa untuk memilih.

Kendati yang terjadi dalam semesta itu merupakan ketidakseiramaan. Coba untuk bersikap bodo amat. Mengheningkan cipta akan hura hara yang terdengar. Tidak pula menjelma pada kesunyian. Sedingin dinihari, berlari menjauh dari keriuhan hidup.

Ya, jika sekiranya yang tampak, tak lagi menjadi air yang tenang. Walau sulit, datangilah kesadaran diri. Selamatkan diri sendiri. Karena sebenarnya, gandum yang diharapkan itu pun akan sibuk ke sana ke mari dengan semestanya sendiri.

Apakah harus terjerembab pada ranting yang rapuh? Tidak seharusnya begitu bukan. Dirimu tetaplah dirimu, selamatkan diri sendiri! Hidup tidak langsung berakhir, ketika hati yang diinginkan tak lagi menjadi air yang tenang. Kumpulkan semua keberanian yang masih ada, ini saatnya membersihkan dan memperbaiki diri. Ingat usia! 

***
Rantauprapat, 19 Maret 2021
Lusy Mariana Pasaribu 


Kamis, 18 Maret 2021

Boasa Mubah Roham?

@kulturtava
...
Begitulah hati, datang dan pergi. Rapuh. Bertahan dalam keegoisan 
Bertahan dalam harapan. Konyol bukan. Mubah roham. Kenapa? Kenapa hatimu berubah? 
Seketika aku menitikkan air mata. Meratapi kesedihan. Aku tidak makan dan tidur dengan baik. Tidak memperdulikan keberadaanku dengan seutuhnya.

Satu kata yang kurasakan, menyesal.
Ya, aku menyesal akan kehadiranmu. Menyesal kenapa saat itu kau bertanya, bagaimana jika kau memasuki kehidupanku! Demikian, hati dan genggamanmu tak bisa dipaksakan. Memilih untuk pulang atau pergi. Itu adalah pilihan. Berkali-kali aku berharap, namun aku tahu itu tak ada gunanya kini. Untuk apa bertahan dalam harapan, sementara diri sendiri sadar bahwa itu harus dipadamkan. Karena akan berujung pada kesia-siaan.

Hatimu telah berubah. Kerinduan dan ketidakrinduanku tak lagi mampu bersuara. Boasa mah mubah roham? Aku lama mempertanyakan hal itu. Namun saat ini, aku tak ingin lagi menunggumu. Tak ingin lagi menujumu. Biarlah kau laju ke mana yang diinginkan hatimu. Keterasingan ini, tak ingin hatiku lagi mencairkan.

Tertinggal kenangan. Aku menyesal mengenal dirimu, tapi aku sadar aku tak berhak menghakimimu. Karena ada bahagia yang tercipta darimu. Sesungguhnya, kau itu adalah pertanyaan yang menyusahkanku. Sangat-sangat menyusahkan diriku.

***
Rantauprapat, 17 Maret 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Rabu, 17 Maret 2021

Peta yang Sudah Berbeda

@kulturtava
...
Perempuan itu berdosa terhadap dirinya sendiri. Hari ini, ia membiarkan dirinya terluka. Merasakan kesedihan. Berharap akan sesuatu. Ah, sekiranya sesuatu itu tak berkhianat pada harap. Ya, perempuan itu sadar bahwa peta yang sudah berbeda ada di perjalanan hidup yang ia lalui.

Ini hanya tentang ketidakseiramaan yang tak lagi bisa diharapkan. Tentang kerinduan. Juga tentang kesedihan. Perempuan itu tidak tahu sebelumnya bahwa jatuh cinta yang terjalin dalam jangka waktu singkat, membuat musim patah hati begitu menyesakkan.

Namun. Perempuan itu tahu, bahwa ia harus menerima. Walau dengan terpaksa lalu terbiasa. Peta yang sudah berbeda ini, membutuhkan kesabaran dan keberanian dari dalam diri perempuan itu sendiri. Malam ini, ia tak bisa menahan diri dari hujan duka luka yang membuat air mata berjatuhan dari mata telanjangnya. Merasakan senyap, sepi dan sunyi. 

Sudah dipastikan. Peta yang sudah berbeda pada perempuan itu menjadikan ia kehilangan kepercayaan. Menuai yang seharusnya tidak ia tuai. Risau dan tidak baik-baik saja. 

Hey perempuan, jangan biarkan sulit dan rumit menguasai hati dan pikiranmu. Kau tahu, kau itu istimewa. Jangan paksakan genggamanmu terhadap sesuatu yang tidak ingin digenggam. Yang jelas, selama kau masih bernafas dan selama bumi masih ada. Harapan itu tak akan sirna. Jangan patahkan hatimu karena peta yang sudah berbeda itu. Abaikan saja sesuatu yang harus kau abaikan.

***
Rantauprapat, 16 Maret 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Aku Merindu, Kuyakin Kau Tahu

@kulturtava
...
Kita dipertemukan tapi sepertinya tidak untuk disatukan. Jika bertahannya aku membuatmu tersiksa, aku akan berusaha ikhlas untuk melepaskanmu.  Walau aku sendiri merasakan sakit.

Kita sama-sama tahu keterbatasanku.  Jika kini, kamu ragu dan tidak siap bertanggung jawab atas keterbatasanku, aku akan berusaha ikhlas kamu pergi. Walau aku sendiri ingin, kamu jangan pernah pergi.

Aku tak tahu, apakah waktuku telah habis denganmu. Tapi, setelah keputusanmu untuk berpisah, diam-diam, aku masih mencari tahu tentang kamu. Padahal, aku yang terluka dan patah hati. Kamu yang melemahkan hatiku tapi aku masih gemar menulis puisi patah hati. Mendengar lagu-lagu patah hati. Ahh.

Aku merindu. 
Kuyakin kau tahu. 
Rindu tanpa kata dan suara. Salahkah bila aku masih berharap? 
Mungkin ya, mungkin juga tidak.
Masihkah ada hasratmu untuk kembali ke arahku? Aku merindu, tapi aku takut! 
Bolehkah aku merindumu? 

Terima kasih, karena tidak pergi ke mana-mana. Dari kejauhan, aku masih bisa melihatimu. Barangkali, karena aku terlanjur memberi kepercayaan dan rasa terhadapmu. Aku tak tahu kabarmu saat ini, entah merindukanku juga? Atau sedah menikmati kebebasanmu tanpa ada aku. 

Terlihat begitu rumit. Akuy mengalami rasa sakit tapi kenapa aku harus tetap merindu. Aku belum bisa hentikan rindu ini. Hu, aku bisa tersenyum karena merindu. Lalu, aku menangisi diriku. Mengeluarkan air mata, karena sadar telah kehilangan.

Ah, rindu! 
Kenapa harus bertamu di hatiku. Membuatku gelisah.  Ya, aku merindu. Aku memutuskan untuk menikmati rindu ini.

***
Rantauprapat, 09 Maret 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Selasa, 16 Maret 2021

Perempuan Itu dan 16 Maret

@kulturtava
...
Realita menurunkan satu demi satu cerita yang tersembunyi. Lagi-lagi harus memaksa diri untuk berani, pernah bersama dan terlelap dalam harap. Karena keterbatasan dan ketidakberterimaan, kini terdapat kesenjangan pada hidup. Banyak yang menjadi tapi tidak memiliki. Terasa redup. Membuat dia menyendiri, menyepi bersama keraguan yang berarus gaduh. 

Dalam riuhnya kehidupan, dia perempuan yang pernah menerkam keyakinan hatinya terhadap harap yang diharapkan. Sorot matanya sering terlihat ketakutan. Kesedihan merajalela dalam dirinya. Genangan air mata seringkali bercumbu dengan semesta hidup perempuan itu.

Namun, sesungguhnya perempuan itu sadar, bahwa ia hanya sampah yang di daur ulang. Dan jika kini, jika hari ini, hari kelahiran perempuan itu dan tepat di 16 Maret, ia masih ada dan bernafas, itu hanya karena kesempatan dan kasih kebaikan Tuhan. Perempuan itu ingin berdansa pada keberterimaan. Menghidupi bahagia. Bukan pula tidak akan ada badai, tidak akan ada penolakan. Namun, ia harus memelihara diri dari kesukaran. Hingga ia tidak memakamkan diri pada kebodohan hati.

Ada di 16 Maret hari ini dan bertahan sejauh ini, itu bukan hasil usaha perempuan itu. Itu hanya pemberian Sang Maha Sempurna.

Ya, kuharap perempuan itu tetap merindukan harapan baik terjadi dalam hidupnya. Menerima keberadaan diri seutuhnya. Tidak dengan sengaja menciptakan ratapan yang merumitkan diri sendiri.  Apa lagi menikmati euforia kegaduhan hanya demi menikmati hasrat yang berbahaya dan berujung pada penyesalan yang tak termaafkaan.

Sungguh, aku ingin perempuan itu bermetamorfosis pada kata "merdeka". Ya, memerdekakan hati sendiri itu hal yang sangat penting. Mencintai diri dengan merdeka. Selepas hari kelahiran perempuan itu, pasti akan terlihat ketidakadilan dan disabilitas nurani, kuharap ia tetap menjadi perempuan yang tabah. Berkontemplasi akan hidup yang masih menganugerahi ia cinta. 

Karena, hidup perempuan itu tak akan berakhir di dalam kemalangan yang terjadi. Bukankah, Tuhan itu romantis. Saat ada duka, bisa ada suka. Yang hendak kukatakan, perempuan itu boleh saja sedih dan gentar. Namun, tidak sekali-kali mati dalam pekuburan sepi. Apa lagi menjadi cangkang kosong yang tak bercahaya. 

Ah, aku menyemogakan yang terbaik untuk perempuan itu. Kuharap, ia benar-benar akan mengalami kebahagiaan. Dan, aku ingin mengucapkan selamat ulang tahun untuk perempuan itu. Semoga ia, dalam kemurahan Tuhan. Untukmu, perempuan itu. Perempuan yang berelasi intim dalam hidupku. Biarlah aku melangitkan harapan indah ini.

Karena perempuan itu adalah aku. Dan aku melangitkan harapan baik untuk diriku sendiri. Itu tidak ada salahnya bukan. Akhirnya, selamat bertambah usia buatku. 

***
Rantauprapat, Maret 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Minggu, 14 Maret 2021

Bersama Hening Malam

@kulturtava
...
Ada ragu yang mengikat rasa. Menimbulkan keterasingan. Menjadi namun tidak demikian dengan memiliki. Terpaksa lalu terbiasa. Bercumbu dengan duka kehilangan. Bersama hening malam, tiduri sepi. Tersisa kenangan.

Ah, sekiranya perasaan tak pernah benar-benar hidup. Tak pernah benar-benar berhasrat. Mungkin luka ini tak begitu sakit. Seperti inilah cinta, seni yang menimbulkan banyak emosi. Pada yang diharapkan, mungkin ini adalah akhir cerita cinta.

Bersama hening malam, terpenjara sepi. Akhirnya sebuah ketidakpastian yang sempurna mengambil keputusan besar. Jeda yang berjarak dan berpisah tuk meningglkan. Menyendiri, alami kerumitan yang teramat.

Duka kehilangan, telah menyayat hati. Bersama hening malam, tentang cinta yang pernah terjalin, ingin rasanya tak pernah tahu.

***
Rantauprapat, 14 Maret 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Sabtu, 13 Maret 2021

Terpaksa Lalu Terbiasa

@kulturtava
...
Salahkah bila diriku terlalu mencintaimu
Jangan tanyakan mengapa, karena aku tak tahu
Aku pun tak ingin bila, kau pergi tinggalkan aku
Masih adakah hasratmu tuk mencintaiku lagi? 

Ah, lirik lagu di atas. Lirik lagu yang ditulis Maia Estianty, merupakan gambaran nyata dari perasaan cinta perempuan itu.

Sekiranya satu bukan hanya peribahasa untuk cinta yang ia yakini. Namun sepertinya, cinta itu telah berkhianat pada harap. Membuat patah hati. Cinta hanya menjadi tapi tidak memiliki. Begitu menggetarkan jiwa perempuan itu. Kehilangan arah.

Mengatakan ikhlas berpisah, namun itu gagal. Hanya omong kosong. Yang terjadi adalah, terpaksa lalu terbiasa. Terpaksa. Ya, mau tak mau harus melepaskan. Lalu terbiasa akan kehilangan. Dan membuat perempuan itu terbawa hilang, melarikan diri dari harapan untuk bersama. 

Cinta yang pernah terikat, sudah terlepas. Karena datang hanya untuk melakukan upacara persinggahan. Terasa begitu dingin, menurunkan mendung di mata perempuan itu. Begitulah cinta yang perempuan itu pernah semogakan, hanya menjadi tidak memiliki. Terpaksa lalu terbiasa. Berlinang air mata.

Ya, sebenarnya perempuan itu marah.
Pada perpisahan.
Pada cinta yang menjadi tapi tidak memiliki.
Pada hasrat yang bukan milik perempuan itu lagi.

Masih adakah hati yang bersedia menerima? Di selasar sepi, ada keterasingan di dalam hati perempuan itu. Ada kecemasan demi kecemasan menerpa. Jejak yang tertinggal. Gelisah menerkam jiwa perempuan itu.

Bum. Salah satu kampung halaman perempuan itu telah menjadi kenangan di sejarah hidup yang ia miliki.

***
Rantauprapat, 13 Maret 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Jumat, 12 Maret 2021

Menjadi tapi Tidak Memiliki

@kulturtava
...
Perpisahan dari relasi yang terjalin pada kurun waktu singkat bisa lebih berbahaya rasa sakit dan kepatahan hati yang terasa dari pada relasi pada kurun waktu yang terjalin bertahun.

Takut. 
Kesepian.
Duka.
Kehilangan.
Rindu. 

Ah, sekiranya cinta yang menjadi benar-benar memiliki. Perasaan hancur, mulai layu. Inilah akibat tak hati-hati dengan hati. Terasa begitu hampa, saat cinta yang diharapkan, hanya menjadi cinta yang menjadi tapi tidak memiliki.

Merelakan diri mengalami kerumitan. Menjejali diri dengan sampah kejahatan. Menikmati kebodohan yang berujung pada kepedihan. Dasar hati. Payah. 

Menipu diri sendiri. Sering terjaga, berdiam diri bersama hening malam. Hujan turun berkali-kali dari mata telanjang. Yang tanpa daya dipaksa berhenti dan beraksi dengan musim luka yang dahsyat.

Entah ke mana harus pulang? 
Saat cinta hanya menjadi tapi tidak memiliki! Sulit untuk dipahami memang. Hanya takut! 

***
Rantauprapat, 12 Maret 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Hidup dan Cinta, Seni yang Menimbulkan Banyak Emosi

@kulturtava
...
Ah, menyulitkan memang. 
Sebab ini hidup yang bukan benar-benar hidup. Tidak ada kesediaan menerima yang sungguh-sungguh.
Pertanyaan seperti, kenapa dan mengapa tidak selalu ada jawaban. Disabilitas yang menyeret diri jatuh pada dosa yang merayu. Melahirkan kemarahan, kesepian dan dosa. 

Hu, kehabisan hasrat untuk menikmati hidup.
Dikira itu kepercayaan dan cinta. 
Namun hanya untuk memberi rasa sakit dan meninggalkan.
Cinta yang menjadi tapi tidak memiliki. Melahirkan ketakutan, kecemasan, dan kehilangan.

Dalam diam yang panjang, terkadang menyesali semuanya. Apa selama hidup, kemalangan seolah enggan beranjak dari hidup. Pada suatu hari yang lain, ingin mati. Bukan hanya karena cinta yang memberi luka dan patah hati. Terlebih karena hidup yang tanpa adanya keberterimaan.

Takut sendiri.
Takut kegelapan.
Hanya itu yang setia ada pada hidup.
Kehabisan kepercayaan.
Terhadap hidup.
Terhadap cinta.
Menjadi pencuri di halaman beranda dunia yang sunyi sepi.
Sering mata terbuka untuk mengundang tamu-tamu yang tak seharusnya masuk, demi kenyamanan sesaat. 

Menjadi gelisah dan gentar. Tawar hati. Sungguh mengusik dan tertekan. Mencipta sejarah yang penuh riwayat luka.
Hidup dan cinta, seni yang menimbulkan banyak emosi. Ingin berada di entah, melarikan diri dari kenyataan hidup. Sayangnya itu mustahil. Yang bisa dilakukan hanya berpura-pura dan bersembunyi.

Lantas, jika terus berkutat pada ketidakberdayaan dan ketidakberterimaan, bagaimana mungkin akan mendapatkan ketenangan teduhan. Mendapatkan kemurahan Tuhan dalam menjalani hidup yang tersisa!

***
Rantauprapat, 11 Maret 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Rabu, 10 Maret 2021

Jika Bertahanku Itu adalah Sakitmu

@kulturtava
...
Tiga, empat, dan tujuh Maret adalah rentetan waktu di mana kita berjeda, berjarak dan meninggalkan. Tak ada lagi kesediaan untuk menerima. Tak ada lagi percakapan yang berenergi.

Jika bertahanku itu adalah sakitmu, aku ikhlas kamu pergi. Aku yang memaksakan diri. Aku yang egois jika meletakkan kebahagiaanku padamu. 

Bukan pula hanya berpura-pura membiarkanmu pergi. Jika tidak denganku, kamu tidak tersiksa dan bisa merasakan bahagia. Biarlah aku yang menahan rasa sakit ini, aku harus bebaskan dirimu. Kamu tidak harus bertanggung jawab atas keterbatasanku.

Lukaku tak akan lebih dalam. Aku hanya memilih diam dan menepi. Jika setelah tidak denganmu, mencintai dan dicintai bukan menjadi bagianku, aku akan mempersiapkan diri untuk itu. 

Aku tak akan bertahan dalam keegoisan. Menahanmu untuk bersamaku. Jika bertahanku itu adalah sakitmu, lebih baik duniaku tanpa kamu. Aku tak ingin menjadi beban hidup untukmu.

Aku pasrah. 
Karena cinta dan mencintai bukan melulu tentang kepemilikan.

***
Rantauprapat, 10 Maret 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Selasa, 09 Maret 2021

Berjalan dalam Kegelapan, Tidak!

@kulturtava
 ...
Musim patah hati datan dan kembali tiba padaku. Sepi, duka sendiri berkerumun ke arahaku. Ya. Karena patah hati, aku berjalan dalam kegelapan. Tidak tahu, ke mana aku pergi. 

Entah kenapa, aku membiarkan diriku berjalan dalam kegelapan. Seperti cangkang kosong, aku sendiri tahu, hidup bukan melulu tentang patah hati. Bukan pula selalu tentang kepahitan. Entah kenapa pula, aku melarikan diri dari kesadaran. Aku gelisah dan membenci hidup, padahal sesungguhnya bukan aku yang memiliki hidupku. Terlalu angkuh.

Ketika yang kusemogakan berkhianat pada harap, aku tidak boleh mencuri yang bukan bagianku. Aku bertahan dalam keegoisan. Bukan malah berserah sepenuhnya pada Sang Maha Sempurna. Kenapa aku harus berdenyut dan biarkan diri pergi berjalan dalam kegelapan dalam jangka waktu yang sangat lama? Ah, dasar bodoh. Ya, aku bodoh. 

Harusnya aku terjaga dan menjaga diriku dari kesukaran yang kurasa. Karena hidup tidak berhenti hanya karena aku patah hati. Untuk apa, aku memperkosa makna dan arti hidupku sendiri dengan terus berjalan dalam kegelapan? Untuk apa, aku hanya mementingkan urusan patah hati! 

Tidak!
Aku tidak boleh seperti ini. Aku tak boleh terpuruk dan merelakan kekosongan merenggut kesejahteraanku. Aku boleh menangis, tapi bukan pasrah dan menghanguskan harapanku akan menikmati hidup. Aku harus mengendalikan diri dan jangan sampai berputus asa!

Aku tak boleh kehilangan harapan!!!

***
Rantauprapat, 09 Maret 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Senin, 08 Maret 2021

Kita Telah Menjadi Sejarah

@kulturtava
...
Tak ada kesediaan untuk menerima. Mau tak mau, harus melarikan diri harapan untuk bersama. Sebuah cara melupa dilakukan, agar tidak tersesat di hutan sendu. Ya, kita telah menjadi sejarah. 

Aku terjerat pada waktu yang malang, bagaimana tidak, sebelum ini, kamu yang datang dan ingin memasuki kehidupanku. Seketika, ada kebimbang raguan pada hatimu. Kamu mengasingkan aku dalam seketika. Kamu berkhianat pada harap yang kusemogakan. Kamu memaksaku, memaksa untuk tidak menjadikanmu hasrat untuk kumiliki.

Kamu pernah kujadikan sebagai aroma penghapus kenangan dari kisah laluku. Ternyata kamu pun memilih menjadi kisah laluku. Kembali aku menanggung duka kehilangan. Aku berharap, kamu akan merasakan apa yang kurasakan. Sakitnya ditinggalkan tanpa penjelasan.

Aku merasa sedih dan gentar. Menjadi kecut dan tawar hati. Jangan lagi mengharapkan aku, itu katamu kepadaku. Nada datarmu, buat aku kembali pada hujan. Hujan air mata. Dan, kali ini, kamu benar-benar pertanyaan yang menyusahkanku. Karena sepertinya, aku tak mampu dan tak akan bisa mencairkan keterasingan yang ada di hati.

Aku diam tak bersuara lagi untukmu, ada kerapuhan yang tersisa darimu. Terdapat jurang yang tak terseberangi, kamu sungguh-sungguh merupakan ketidakpastian yang sempurna untukku. Kamu telah memberikan riwayat luka pada hatiku yang belum seutuhnya sembuh dari luka. 

Terima kasih, kamu.
Seseorang yang sudah membuatku kembali pada kesendirian. Dan kita benar-benar telah menjadi sejarah.

***
Rantauprapat, 08 Maret 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Minggu, 07 Maret 2021

Melarikan Diri dari Harapan untuk Bersamamu, Berlinang Air Mata

@kulturtava
...
Saat sejarah yang dahulu kembali terulang, kepingan ingatan masa lalu menyeret diri pada kemarahan, kesepian, kecemasan, ketakutan.

Kukira, kesejahteraanku merupakan kesejahteraanmu. Ternyata itu hanya perkiraanku. Kenapa harus aku? Kenapa harus aku yang berbeda? Aku sehat tapi sebenarnya aku sudah sangat lama sakit. Awalnya kamu bersedia menerima, kini kamu katakan itu hanya topeng dan kepura-puraan. Dengan nada datar, kamu membuatku terhempas.

Aku sedih dan terluka saat merasakan penolakanmu. Aku bisu membeku, sebenarnya aku ingin marah dan memberontak. Apa karena aku berbeda, aku tak bisa berteduh dalam genggamanmu? Kamu buatku memiliki harapan, merasakan ketulusan hatimu. Seketika aku berada dalam jurang yang tak terseberangi.

Sejak kamu bernada datar, aku kesulitan. Kata-kataku selalu tak terdengar, sedang kata-katamu itu adalah hak mutlak yang tak boleh diabaikan. Ketika kamu ingin jeda yang berjarak dan akhirnya menenggelamkan hati pada perpisahan, aku harus terima tanpa penjelasan yang pasti. Dan, hampir setiap malam aku terjaga, menunggu kepastian kamu.

Akhirnya, hari ini, menjelang tanggal kelahiranku, rela tak rela, mau tak mau, aku harus bebaskan diriku dari hasrat untuk menggapaimu. Selepas hari ini, kita sah menjadi sejarah. Selamat menjadi KENANGAN! Kamu sudah memberi ledakan yang sangat keras di hatiku. Menghentakkanku ke nestapa yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Kini, hujan membasahi mataku. Sekarang, aku seperti huruf mati yang tak bermakna.

Penolakanmu.
Ketidakberterimaanmu. 
Meredupkan hasratku untuk menikmati hidup. Mungkin aku bodoh, tapi aku tak bisa menahan diri dari kesukaran yang kurasa. Aku kembali tersesat di sejarah dan labirin yang dahulu.

Dan aku, telah jatuh pada dosa yang merayu diriku. Penuh amarah dan umpatan keji. Aku memilih cara yang keliru demi melupa tentang rasa sakit yang kamu berikan. Pernahkah kamu berpikir, aku dibayangi ketakutan akan hidup yang kujalani.

Entah kenapa. Kali ini, aku merelakan patah hati menduduki jiwa dan pikiranku dalam waktu yang lama. Entah sampai berapa lama. Karena patah hati ini, aku mengumbar duka luka, mengumbar huru hara, mengumbar sedu sedan. Meratapi hidup. Berlinang air mata.

Aku ingin mendekatimu. 
Aku ingin mencintaimu lebih.
Tetap saja, kamu ingin menjauhkan diri dariku. Ya, aku tak bisa memaksakan diriku terhadapmu. Aku tersesat di hutan sendu. Kamu meninggalkan riuh suram muram padaku. Melemahkan hatiku. Kamu telah melukaiku, tahukah kamu rasanya disakiti. Dalam marah. Aku harap kamu akan tahu rasanya disakiti!

Selepas apa yang kamu katakan hari ini, aku berjanji perempuan : aku tak akan mengganggumu. Aku akan melarikan diri dari harapan untuk bersamamu. Karena itu adalah bahaya yang menyakitkan. Bahaya yang bisa membuatku tersesat pada putus asa. 

Ah sudahlah, aku hanya perempuan biasa yang merasakan duka luka karena patah hati.

Kurasa, bukan-bukan, kukira, salah-salah, kuyakin. Pada hari yang lain, di suatu hari yang entah kapan, aku akan berhenti mencintaimu. Mata telanjangku tak akan menangisi ratapan yang kamu tinggalkan.

***
Rantauprapat, 07 Maret 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Sabtu, 06 Maret 2021

Lagi, Aku Jatuh pada Dosa yang Merayu

@kulturtava
...
Karena patah hati sedang berkuasa atasku, kubiarkan diriku tersandung jatuh pada dosa yang merayu. Menikmati sensani demi sebuah kenyamanan yang sebenarnya sia-sia. 

Aku marah.
Aku kecewa.
Bodoh dan payah. 
Pendosa yang angkuh. Dilacurkan oleh angin patah hati. Tak ada self awareness pada duniaku hari ini.

Gairah yang salah meraihku. Hilang dari kebenaran. Lagi, aku jatuh pada dosa yang merayu. Aku menyalahkan diriku sendiri tapi tetap itu adalah kesengajaan yang kulakukan untuk menyelamatkan perasaan patah hati yang kurasakan.

Ratapan yang seharusnya tidak kurasakan. Aku yang bersimpuh di dalam hamparan semu. Menikmati tanpa memiliki, menikmati hujan yang bukan bagian hidupku. Menipu hati nuraniku. 

Mestinya patah hati tak membuatku jatuh pada dosa yang merayu. Namun itu gagal kulakukan. Pertanyaan demi pertanyaan mengepung kepalaku, mengapa harus aku? Menjadikanku seseorang yang lemah. Ada suasana gelap yang terasa, menghirup udara yang pengap. 

Sebenarnya, aku merasa menyesal bahkan ketakutan. Penyesalan yang tidak termaafkaan. Waktuku penuh kemalangan. Tidak berdaya saat realita yang kusemogakan berkhianat pada harap. Aku sehat tapi sakit, telah lama sebenarnya mati. 

Sekarang ini, aku kehilangan jati diri. Tak ada ketenteraman. Tak ada kesediaan untuk menerima kenyataan pada disabilitas yang menghantuiku dan itu sebenarnya bukan disabilitas. Aku jengah pada diriku sendiri. Telah mati di pekuburan sepi.

Aku membuat pertikaian pada hati dan nalarku. Menghilangkan damai sejahtera dan tenang teduh dari hatiku. Ada sayatan luka baru yang kuciptakan sendiri, menambah duka pada duniaku. Bersama kebodohan, aku jatuh pada dosa yang merayu. Menciptakan kisah baru yang menjadi sejarah penuh riwayat luka.

Ahhh, kemarau hati buatku mengheningkan cipta dari kemalangan yang harus kutinggal pergi. Aku ingin memberontak, tapi hasrat berbahaya dengan lancang dan binalnya telah memasang jerat untuk membuatku tersesat.

Ini narasi luka hati, yang menyeretku mendekati nestapa. Aku benar-benar pendosa yang angkuh lagi payah!

***
Rantauprapat, 06 Maret 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Kini, Apakah Satu Hanya Peribahasa?

@kulturtava
...
Perempuan itu ingin berbahagia. Seseorang yang ia duga yang akan memberikan tenang teduh, ternyata digelayutberati kebimbang raguan. Seseorang itu lebih memilih berjarak. Sepertinya, rasa sayang dan keberterimaan hanya omong kosong. Ketika keberterimaan ditinggal pergi, yang terjadi adalah luka duka. 

Tak ada lagi kesediaan untuk menerima.  

Kini, apakah satu hanya peribahasa? Sepertinya itu akan menjadi nyata. Karena pada akhirnya, hati tak bisa dipaksakan. Setelah tidak dengan seseorang itu, perempuan itu akan kembali sendiri.

Bukan pula, perempuan itu ingin menambah luka. Nyatanya, kepergiaan seseorang yang diharapkan itu sungguh telah menjadi riwayat luka. Mengapa, cinta yang baru tumbuh di hati perempuan itu telah memudar secepat ini? Namun, perempuan itu berusaha untuk tidak kehilangan kesadaran hati.

Dasar hati, payah. Menikmati tanpa memiliki itu rasanya sakit, ahhh. Seseorang itu datang dengan membawa penerimaan yang berujung penolakan. Ya. Setidaknya perempuan itu pernah merasa begitu bahagia bersama seseorang itu.

Perempuan itu ingin menuju entah. Membatu dan bersembunyi dari semestanya. Sebuah cara melupa ingin dilakukan, agar melupa tentang rasa sakit. Walau sebenarnya itu hanya omong kosong. Karena yang sebenarnya bisa dilakukan perempuan itu hanya menulis puisi patah hati, menulis untuk melepaskan kesesakan jiwa.

Kini, apakah satu hanya peribahasa? 
Entah, karena perempuan itu masih berharap lebih. Ia masih menyemogakan seseorang itu. Ingin mencairkan keterasingan yang ada, ingin mencintai lebih. Bagi perempuan itu, sungguh tak ingin satu hanya menjadi peribahasa.

Hanya bisa meniduri sepi. Menunggu dan mau tak mau tetap menerima. Walau pada ujungnya, mungkin akan mengatakan : selamat jalan, CINTA! Selamat menjadi kenangan.

***
Rantauprapat, 05 Maret 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Kamis, 04 Maret 2021

Kau Memilih Untuk Berjarak

@kulturtava
...
Kau yang datang dan memasuki kehidupanku. Entah apa yang terjadi, hingga ada ragu di dalam hatimu. Hatiku patah atas pilihanmu. 

Dan kenapa harus Maret? 
Maret di bulan kelahiranku, ada keterasingan yang menggoda hatimu. 

Kenapa harus Maret, kau memilih untuk berjarak dan berpisah. Sesak rasanya, bagaimana setelah tidak denganmu. Aku tak bisa menahan diri dari isak tangisku.

Aku memilih dan menjatuhkan hati padamu bukan berdasar pada kebodohan. Tapi caramu bersikap dan memperlakukan diriku itu adalah keberterimaan yang membuat hatiku nyaman.

Sesungguhnya, aku masih berharap bila apa yang kau rasakan akan termentahkan.

Aku akan memberi jeda pada hati kita berdua, berpikir tentang pilihan yang tepat. Jika pun akhirnya harus ada jurang yang tak terseberangi di antara kita, mau tak mau, rela tak rela. Aku harus menerima itu.

***
Rantauprapat, 04 Maret 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Rabu, 03 Maret 2021

Keterasingan yang Menggoda

@kulturtava
...
Diam.
Abai. 
Ada keterasingan yang terasa. Di sini, aku tak menikmati rasa yang harusnya berpadanan. Apakah tak ada lagi kesediaan untuk menerima? Apa hanya omong kosong?

Aku gamang. 
Aku patah hati.
Entah ini akan berlangsung berapa lama?

Mungkin keterasingan yang menggoda ini, akan menjadi jawaban dari ketakutanku. Mungkin aku/kamu, hanya sedang bercanda sebelumnya. Mempermainkan hati. Sepertinya, lagi-lagi aku akan larut dalam duka kehilangan.

Terima kasih, kamu. 
Seseorang yang pernah mengisi semestaku dengan keberterimaan.
Terima kasih, kamu. 
Seseorang yang akhirnya ragu dan membangun jurang yang tak terseberangi di antara hati kita.

Aku yang terlalu mudah memberikan rasa atau kamu memang hanya ajang coba-coba pada hatiku? Keterasingan yang menggoda ini, sungguh menyusahkan hatiku. Membuatku sesak. Maret kali ini menjadi Maret yang penuh haru sepertinya. Bagaimana tidak, ini bulan kelahiranku. Namun, menjadi bulan di mana aku dihantui rasa takut.

Katanya sayang, lantas di mana rasa sayangmu?

Pernyataan demi pernyataan yang ada dalam percakapan kita kemarin, apakah sudah mementahkan keyakinan hatimu? Melarutkan penyesalan padamu! 

Menangis. 
Terluka. 
Itu yang aku kerjakan dan rasakan malam ini. Dan harapanku padamu memberikan jalan yang keliru. 

Jujur, aku lebih memilih kembali ke masa di mana kamu belum memasuki kehidupanku. Aku sendiri tapi hatiku tidak terluka karena cinta, aku mendapat cinta, tapi cinta itu akhirnya terikat pada keraguan.

Tetapi tentang kamu. Kamu dan kehadiranmu di hidupku adalah perjalanan yang menghantarkanku pada titik kesadaran. Bahwa aku harus bahagia dulu dengan diriku sendiri, kemudian aku bisa menikmati bahagia bersama orang lain.

Dari awal memasuki kehidupanku, kamu sudah tahu keterbatasan yang ada padaku. Aku pun sebaliknya. Sekarang kamu sedang digelayutberati kebimbang raguan. Dan aku terima seperti apa nantinya keputusan kamu. Kini hanya sebuah kalimat, "aku minta maaf untuk sifatku". Itu yang kamu sampaikan . Dan aku hanya bisa mengatakan aku akan coba memaafkanmu. 

Kalau pun kamu tidak akan menetap pada duniaku dan kita memilih untuk berjarak, aku tak akan membencimu. Ini hati yang tidak mudah dimengerti dan dipahami.

Suatu hari nanti, selepas malam ini. Kuduga, bukan hanya menduga-duga, kuyakin aku akan mampu mengakhiri patah hati yang merayu diriku. Aku tahu sulit, bukan berarti aku tak mampu memelihara diri dari kesukaran ini.

***
Rantauprapat, 03 Maret 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Aku Berjanji Perempuan

@kulturtava
...
Aku berjanji perempuan, akan menghidupi bahagia. Menjadi kuat saat ketidakadilan hidup sedang bercumbu denganku. Mencintai diriku sendiri. Bahagia dengan apa yang ada padaku, sehingga aku bisa merasakan bahagia bersama orang lain.

Pada kesalahan masa lalu, aku berjanji perempuan, tidak akan mempersalahkan diriku sendiri. Tidak membiarkan cemas dan khawatir yang berlebih menduduki jiwa dan pikiranku dalam kapasitas yang tidak seharusnya.

Aku tahu, walau aku menghidupi bahagia, bukan berarti kesejahteraan akan selalu beriringgan dengan kenyataan hidup. Saat aku akan dikuliti waktu yang malang, yang harus kulakukan adalah keberterimaan. Dan tanpa ragu, mempercayakan seluruh hidupku pada pemeliharaan Tuhan.

***
Rantauprapat, 03 Maret 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Selasa, 02 Maret 2021

Perempuan Itu dan Pemeliharaan Tuhan

Painting by Arthur Briginsky
...
Lama perempuan itu dalam kecemasan. Mengkhawatirkan sesuatu yang jelas tidak menambah sehasta apa pun dalam hidup. Lesu karena keluh kesah. Menambah kedukaan sebab pelihara patah hati.

Jatuh pada ratapan yang menggoda. 

Dan, ada kebahagiaan yang terasa pada perempuan itu. Dalam bulan yang ketiga, bulan kelahiran perempuan itu, ada kesadaran yang bertamu di kepala perempuan itu. 

Ia merasa memiliki tahun kemurahan dari Sang Pemberi Hidup. Perempuan itu dalam pemeliharaan Tuhan. Ia terkadang ragu pada masa depan. Tapi masa depan yang sebenarnya, ia pun tak tahu.

Sebab sesungguhnya, yang perlu perempuan itu lakukan adalah percaya dan melakukan bagian dengan benar. Selalu merindu pengharapan yang benar. Tidak lagi mencumbui dosa yang merayu bahkan terjerat dalam waktu yang malang.

Saat kemudian, gandum yang ada di hati perempuan itu menjadi lalang. Harusnya ia miliki self awareness, dan tidak merasa seperti gelembung dan kupu-kupu yang hilang kendali.

Malam ini, perempuan itu ingin menghidupi bahagia. Berharap kebahagiaan akan benar-benar menjadi bagian dalam hidup. Ia ingin mampu untuk mencairkan keterasingan di antara hati dan nalar.

Perempuan itu berkata : aku berjanji perempuan, akan berusaha mencintai diriku sendiri dengan segala keberadaan, keterbatasan dan keberterimaan. Hingga pemeliharaan Tuhan yang sudah perempuan terima, akan terus bergelora dan meluas pada dalam keindahan.

Karena berada dalam pemeliharaan Tuhan, adalah berkat yang berlimpah bagi perempuan itu.

***
Rantauprapat, 02 Maret 2021
Lusy Mariana Pasaribu