Selasa, 31 Desember 2024

Seseorang di dalam Kepalaku yang Bukan Aku

@kulturtava
...

Ada seseorang di dalam kepalaku yang bukan aku, seseorang yang kesejahteraannya adalah kesejahteraanku tapi kesejahteraanku bukan kesejahteraannya. Yang tanpa aba-aba dan pemberitahuan bisa menghancurkan. Aku benar mencintai, namun ia tidak pernah memiliki rasa cinta itu. Karena pernah ia ingin aku mati.

Lagi, ada seseorang di dalam kepalaku yang bukan aku, seseorang itu yang pernah buat aku membunuh. Membunuh harapan. Membunuhku dengan keberterimaan. Ia adalah rumahku. Seseorang yang menjadi tenang teduhku. Begitulah aku. Ia adalah pertanyaan-pertanyaan yang tidak kunjung habis aku pertanyakan, ingin mundur tapi ada saja yang menghalangi. Demikianlah aku.

Ya, karena ia aku sering gagal. Aku rindu namun dirumit amarah yang membara. Lagi, ada seseorang di dalam kepalaku yang bukan aku, adalah hal yang menjauhkan aku dari kenyamanan. Membawa diri pada kekosongan. Seseorang dalam kepalaku yang bukan aku terlalu berisik. Banyak perlakuan yang membuatku seperti bukan aku, mencoba memaafkan tapi melupakan, butuh waktu seumur hidup.

Bukankah ia, seseorang yang makin ke sini makin bertambah tua sepatutnya memperbaiki diri karena sudah bau tanah kuburan. Ini malah kebablasan pada dosa yang merayu. Hey, seseorang dalam kepalaku yang bukan aku gunakan kewarasanmu. Aku mulai jengkel, tidak merasakan kemerdekaan. 

Untuk hari selanjutnya, di masa depan nanti, aku berharap tidak selalu merasa sedih. Tidak mati di pekuburan sepi. Kebaikan yang pernah ditabur seperti sia-sia, dibalas dengan brutal pada nilai nol yang tidak berisi.

Namun tetap berharap seseorang di dalam kepalaku yang bukan aku tetap bahagia karena dia adalah kebahagiaanku juga.

***

Rantauprapat, 09 Agustus-Desember 2024

Lusy Mariana Pasaribu 

Kamis, 21 November 2024

Rekam Jejak yang Dahulu, Predator Berbahaya, dan Sebelum Hancur Lebur

@kulturtava
...

Kisah-kisah yang ada dalam dalam pusi ini.

Bagian 1:

Tidak pernah terpikir untuk menyerah kalah. Tidak pernah mau jatuh pada kejatuhan. Namun tanpa aba-aba ada kebisingan yang membuat hati gentar dan cemas. Rekam jejak yang dahulu kembali mencuat dalam ringkas ingatan.

Pagi ini, pagi di tanggal sembilan bulan kedelapan. Kenapa dan kenapa kenapa harus terjadi lagi? Kebisingan memberikan krisis. Kebisingan dari predator berbahaya, tidak pernah akan mengalah, keras. Kembali kepada patah. Kesejahteraan lepas, lelah menyergap tubuh. Untuk apa bertahan alih-alih tidak bahagia. Seperti ada jurang yang tak tersebrangi untuk kata damai sejahtera.

Ada lingkaran depresi, hanya keterpaksaan sampai mati barangkali. Predator berbahaya memangsa, merumitkan hidup hanya dengan masalah dan masalah. Ternyata hanya kemalangan dan mampus yang ada. Masih terlalu panjang sisa hari ini, bersetubuh dengan sepi dan ketidaktenang teduhan. Menjadi mainan mungil untuk lelaki dan perempuan itu, kenapa harus merelakan diri terhadap hal itu?

Predator berbahaya mengisahkan kisah kelam, memberi rasa pahit. Ini lebih pahit dari sekedar kopi pahit tanpa gula. Pagi ini menawarkan sarapan dengan kegaduhan dan keributan dalam kepala. Ingin membunuh duka. Dikecewakan terlalu banyak oleh khianat. 

Selamat pagi, borgin. Nga golap hian hari on. Sudah terlalu lelah, dengan diri sendiri saja tidak selesai bagaimana mampu menghadapi orang lain. Entah akan seperti apa akhir dari duka ini. Andigan do Tuhan, sae duka na balau on? Godang hian na parbelak di portibion.

Bagian 2:

Sebelum ini, merasa baik-baik saja, padahal menjadi pengusik yang berbahaya. Ketika ada getaran telepon, disetubuhi kesenangan hingga berakhir pada video call yang berulang, membicarakan hal konyol hingga berakhir pada pembicaraan sampah. Rasanya seperti ada kupu-kupu dalam perut yang menggelitik menimbulkan tawa bahagia walau ternyata itu hanya tawa palsu. 

Sebelum hancur lebur pada Agustus hari ke tiga belas, masih terbahak-bahak bercerita kebodohan.  Dan akhirnya, ditikam luka yang ternyata  sangat-sangat membinasakan. Terlalu memohon cinta, berharap pada harapan bodoh.  Satu siang pada suatu hari, mungkin bisa saja kembali tapi apakah tempat untuk berpulang adalah seseorang yang pernah disebut rumah. Teruskah mau menjadi kalah, menjadi gelisah, menjadi mengerikan hanya untuk sejarah masa lalu!

Empat puluh delapan menit sebelum tanggal tiga Agustus, menjadi awal sebelum hancur lebur, merusak rumah serta halaman-halaman, dan lima pohon di dalam halaman itu. Terlalu mudah luluh, hanya dengan kalimat "hancur kali aku inang". Kenapa harus menjadi pembunuh?

Pasti akan ada lagi rasa untuk merindukan! Pasti sulit tapi cobalah untuk menggugurkan perihal itu, itu adalah kebodohan yang dipelihara. Tak pernah ingin sendiri, namun bersama pun banyak yang dikorbankan. Banyak yang akan mati.

Sudahi ketimpanganmu. Begitu sulitkah melepaskan, yang dari awalnya tidak pernah menjadi milik! Ini permainan hidup. Ini perpisahan yang tak perlu lagi dikenang, tak perlu lagi dirayakan. Untuk apa menjadi sedih pada kesedihan yang seharusnya sudah lama terhenti. 

Berhenti jadi manusia berhati iblis.

Bagian 3:

Seperti pohon kering yang rantingnya patah dan dedaunan yang akan terbang jatuh sbab berguguran. Sering merasakan itu. Hari ini menahan sakit tapi harus ikhlas.

Agustus pagi ini, Agustus sebelum dirayakan ke lima puluh sembilan. Tidak boleh egois, tidak boleh menjadi pohon yang rantingnya patah demi seseorang. Terima kasih sebelumnya seseorang itu berkata. Seseorang yang sebenarnya adalah rumah dan memang rumah. Melihat tertawa-tawa bahagia dan tersenyum itu juga merupakan kebahagiaan. 

Sebelum ini, pernah hancur lebur karena seseorang itu. Namun tidak sanggup untuk menjadi sunyi. Hati ini menolak untuk menjadi gagu, karena terlalu berharga untuk dijadikan sunyi.

Agustus, adalah hari di mana rela kehilangan demi menyambut senyuman dan tenang teduh seseorang. Tidak terhitung sebenarnya banyak umpatan yang terucap, banyak luka yang ditimbulkan. Lagi-lagi sadar, untuk seseorang itu tidak boleh terlalu kaku, harus selalu ada maaf. 

Tetap manis walau gersang, bagaimana rasanya? Tidak untuk dibagikan kepada khalayak umum. Terkadang jadi gerimis terkadang pula jadi badai. Tetap ada kasih yang tidak boleh diingkari apalagi berkhianat, dan sampai kapanpun tidak pernah akan tuli, bisu atau buta terhadap semesta seseorang itu. Karena dahulu, hari ini dan esok seseorang itu tetap menjadi seseorang yang memiliki nilai tak terbatas. 

***

Rantauprapat, 9-13,15 Agustus 2024

Lusy Mariana Pasaribu 

Jumat, 01 November 2024

Seperti Empedu yang Pahit dan Omong Kosong tentang Kepedulian

@kulturtava
...

Malam yang penuh huru-hara, benar-benar muak bahkan sangat muak. Selalu merasa paling benar, hello, sampai kapan seperti ini. Membuat ringkas ingatan terjerat dalam kejahatan. 

Benar-benar ingin di bumihanguskan. Hidup juga seperti tidak hidup. Ini seperti anjing peliharaan dan rubah yang tidak boleh marah, tapi harus selalu tunduk. Kenapa, kenapa dan kenapa harus selalu seperti ini?

Ini seperti penyakit yang tidak akan mudah sembuh. Bahkan sampai benar-benar mati takkan pernah sembuh. Asu! Malam ini tak ada lagi kebahagiaan. Tak ada lagi tenang teduh, tak ada lagi kesejahteraan.

Kenapa harus jadi seperti empedu yang pahit, menabur gelisah. Mencipta kisah-kisah kelam. Beberapa jam yang tersisa malam ini, hanya ada marah dan memendam lara akhirnya berkabung. 

Rupanya, hanya gelap dan kesendirian yang ada. Omong kosong tentang kepedulian. 

***

Rantauprapat, 06 September 2024

Lusy Mariana Pasaribu 

Sabtu, 05 Oktober 2024

Kenapa dan Kenapa, Kenapa Harus Terjadi Lagi?

@kulturtava
...

Tawa palsu, pagi yang dingin hari ke lima bulan ke sepuluh kehancuran kembali terjadi. Kenapa dan kenapa, kenapa harus terjadi lagi?

Muak, bersama tapi tidak pernah bersama. Tak ada yang pernah sembuh dari syndrom yang mematikan. Kembali mencumbui pagi dengan kepura-puraan dan amarah yang tidak bisa dikeluarkan.

Ego menari liar melalui ucap dan tatapan yang mematikan. Kedua predator berbahaya menunjukkan taringnya. Suara itu kembali, menjadi hambar. Kekerasan dan kegagalan yang berulang, barangkali itu menjadi kesenangan para predator.

Betapa menyesakan, karena ego yang dibiarkan menari liar mengakibatkan terjadinya tidak ada rumah untuk pulang. Seperti cerita film, home sweet alone. Hancur sendirian. Kenapa dan kenapa, kenapa terjadi lagi? Harus selalu diam, berkompromi terhadap dua predator berbahaya. Tak boleh bersuara dan berkomentar. Ini seperti kisah-kisah rumah tanpa jendela.

Mau sampai kapan dan berapa lama lagi harus merasakan hal ini? Sungguh melelahkan.

***

Rantauprapat, 05 Oktober 2024

Lusy Mariana Pasaribu 

Sabtu, 31 Agustus 2024

Tergoda Anggur yang Memabukkan

@kulturtava
...

Merasa seperti cangkang kosong dan KO. Membiarkan diri berada di tempat gelap dan terlarang. Sentuhan sentuhan liar, mabuk oleh anggur manis. Menjebak diri pada perpisahan yang menyakitkan.

Apakah seperti anjing peliharaan. Dilepaskan ketika tugas selesai dan tidak dibutuhkan, barangkali juga seperti rubah yang tidak boleh cemburu. Kala panggilan dan pesan tidak direspon, tidak boleh menuntut sama sekali. Karena tidak akan merdeka bahkan tidak akan pernah. Juga tidak akan pernah mendapat jawaban ketika bertanya apakah menjadi pengganggu?

Pada Jumat suatu sore, pukul 17 lebih WIB, pada tanggal tiga puluh bulan kedelapan, di panas cuaca yang tak bersahabat, kejadian yang berulang kembali terasa menggoda, jika diteruskan akan membawa pada jurang kehancuran. Seperti kemewahan yang terlarang. Hanya tersimpan dalam kepala dan kornea telanjang, tanpa perlu untuk dibukakan pada khalayak ramai.

Ada daya pikat yang sulit untuk dielakan, jatuh dan mabuk oleh anggur manis. Ini bukan cinta, ini seperti bom yang mematikan. Tanpa menunggu waktu bisa meledak, karena terkena anggur yang memabukkan seperti jerat yang tidak tahu kapan akan lepas dan berhenti.

Terkena anggur yang memabukkan. Serasa di pojokkan, ingin lari. Malah menambah luka, tapi terkadang menikmati luka itu. Berada di hutan yang berbahaya, demikian jika ada di persimpangan dan selalu tergoda oleh dosa yang menggoda. Terluka dan dilukai apakah lantas harus membalas kembali. Bodohnya, membalas kembali dengan melukai diri, tersesat di hutan yang berbahaya. 

Sebenarnya, duka dan luka tidak seberapa, tapi sangat terlalu berisik namun tergoda oleh anggur yang memabukkan.

***

Rantauprapat, 31 Agustus 2024 

Lusy Mariana Pasaribu


Sabtu, 17 Agustus 2024

[Ulang Tahun Ibu] Mencintai Selalu dan Selamanya

Mencintai Selalu dan Selamanya
Hari ini 17 Agustus.

Hari ini Indonesia kembali merayakan kemerdekaan untuk yang ke 79 tahun.

Hari ini juga seorang perempuan yang melahirkanku merayakan hari ulang tahun yang ke 59 tahun, selamat ulang tahun untuk Indonesia terlebih selamat ulang tahun untuk perempuan itu. Ya,  perempuan itu ibuku.

Puisi mencintai selalu dan selamanya, entah tanggal dan tahun berapa itu aku tulis. Sejujurnya aku tidak lagi mengingat itu dengan pasti tapi puisi tersebut juga sudah aku posting di halaman blog pribadi dan juga blog Kompasiana, aku perlu cek ulang tanggal pasti terpost di halaman Kompasiana. Puisi ini sudah disurakan oleh teman literasi dan menjadi sampul dari artikel ini. Puisi ini  menggambarkan bagaimana perasaanku terhadap orang tuaku. Aku berharap mereka selalu mencintai walau tidak dipungkiri 42 tahun lebih mereka sudah berumah tangga banyak kerikil dan badai besar sudah menghantam mereka, walau demikian puji Tuhan mereka berhasil melaluinya hingga hari ini mereka masih bersama.

Dan puisi itu dibacakan dengan indah, oleh teman literasiku yang berasal dari daerah Lampung. Sudah cukup lama memang ini dibacakan karena hampir kurang lebih 3 tahun aku sudah tidak lagi berkecimpung dengan dunia berbagi karya dengan pembacaan puisi. Tidak tahu pasti apa yang menyebabkan itu tapi bersyukur lebih dari ratusan karyaku sudah dibacakan teman literasi dari berbagai daerah.

Untuk ibuku, sudah banyak juga puisi yang tertulis. Ibuku perempuan tangguh dengan segala hidup hiruk pikuk seorang perempuan pastinya. Aku pernah menjadi perempuan yang nakal terhadap ibuku, perempuan dewasa yang tidak pernah dewasa. Aku sering mengumpat, sering mengeluh, sering tidak tahu berterima kasih, aku sadar aku salah. Sering pula aku tidak mencintai ibuku, dasar anak payah. Tapi sejauh ini aku hidup, aku selalu meminta pada Tuhan, jika ada yang lebih dulu pergi aku berharap itu aku daripada orang tuaku terlebih daripada ibuku. Aku takut ditinggalkan mereka. Aku sangat-sangat takut. Karena ibuku ada sandaranku. 

Mencintai selalu dan selamanya seperti judul artikel ini, aku mau belajar untuk menghidupi itu hari lepas hari. Berharap juga kedua orang tuaku menghidupi ini, mencintai selalu dan selamanya bukan tidak ada badai tapi tentang menghargai komitmen. Selamat ulang tahun ibuku, bahagia selalu di hari tuamu. Bahagia selalu bersama ayah dan juga kami anak-anakmu. Bersama  cucu-cucu tak ketinggalan menantu laki-lakimu bu,  karena kalau menantumu perempuan belum tahu kapan datang, karena per tahun ini anak laki-laki ibu masih ada di bangku sekolah.

Terima kasih bu, untuk segalaku dan pengorbanan yang kau berikan. 

***

17 Agustus 2024

Lusy Mariana Pasaribu

Jumat, 16 Agustus 2024

Sembuh Lalu Kembali Bersama

@kulturtava
...

Apa harus selalu berpura-pura? Menjenuhkan jika terus seperti ini .

Lebih sudah seribu hari selalu merimbunkan telinga untuk kebodohan-kebodohan yang akan didengar. Apa merasa merdeka terhadap yang kamu lakukan? 

Tadinya mengira kamu adalah jawaban dari doa-doa yang disampaikan, ternyata kamu merayakan bersama pasangan baru yang kamu pilih. Dan yang paling menyakitkan setelah merayakan itu tidak ada perpisahan yang pasti. Dan hampir satu dasawarsa masih merayakannya dengan kesendirian.

Pernah nyaman, akan menjadikan rumah dan menjadi tujuan akhirnya menjadi patah. 

Di sini, siapa yang paling bersalah. Hampir satu dasawarsa ini terkadang masih ada rasa rindu itu, diam-diam jadi pencuri hanya untuk menikmati dan melihat postingan dan wajah dari seseorang di masa lalu. Mengelikan memang. 


Mau sampai berapa lama lagi salah paham. Seolah bisa sembuh lalu kembali bersama. Bukankah terlalu sakit untuk menyirami halaman rumah yang bukan halamanmu. Untuk apa lagi merayakan ke pura-puraan. Jangan memaksakan sembuh untuk kembali bersama yang pada akhirnya hanya menuju hancur. 

Ah, sialan. 

Seringkali mengucapkan jangan patah tapi yang ada benar-benar patah. Sudah hampir satu dasawarsa, masih saja di tempat yang sama, ini tentang cinta atau hanya obsesi. Jika ini tentang cinta, kenapa sulit untuk mengikhlaskan. Sembuh lalu kembali bersama, tidak harus selalu seperti itu jika memang bukan itu jawabannya.

Sejujur dan sebenar-benarnya, kamu tidak pernah menjadi bagian romantisme dari rayuan yang ada di artikel utama yang pernah diharapkan.

***

Rantauprapat, 16 Agustus 2024 

Lusy Mariana Pasaribu

Sabtu, 10 Agustus 2024

Kisah Seorang Perempuan Disabilitas

@kulturtava
...

Tidak tahu pasti apa yang menyebabkan, berulang kali mencari jejak terjadi tak kunjung juga dapat. Asal usul yang masih belum tahu jawabnya karena banyak pertanyaan tentang ini, pertanyaan yang tak akan habis Bagaimana rasanya? Menyesakkan sekali, mengalami kisah-kisah rumah tanpa jendela. Pengap dan sangat gelap. Terasa sesak dan sulit untuk bernafas.

Sehat tapi sakit, hidup tapi mati. Siklus kehidupan yang benar-benar memberi perih. Barangkali sendirian sampai mati, mati yang benar-benar mati.

Tatapan yang mengucilkan memberi trauma psikis. Seperti merasakan sengatan listrik bertegangan tinggi. Tidak ada seorangpun yang menginginkan disabilitas melekat pada diri. Seperti abu-abu, tidak hitam tidak putih. Menakutkan hidup seperti ini. Bahkan ketika ada kebahagiaan selalu ada kecemasan yang mengiring. Seperti ada kabut berduri, menuju hancur. 

Ini kisah seorang perempuan disabilitas, perempuan berdosa yang berpura-pura tabah. Sering mengumpat, sering tidak menerima. Yang lebih malang adalah, perempuan disabilitas itu dikelilingi oleh orang-orang yang memiliki disabilitas nurani. Seperti berada dalam lingkaran predator yang berbahaya. Memuakkan untuk perempuan itu. 

Bukan kemarin 

Bukan hari ini 

Barangkali juga bukan esok 

Entah hari yang kapan 

Perempuan itu meyakini terhadap jejak dan siluet kehidupan yang patah, terhadap nelangsa kehidupan, tentang banyak saksi mata yang membiarkan perempuan disabilitas itu terluka, ia tak akan membenci, karena dengan menyalakan tak akan mendapatkan apa-apa, dengan membenci masa lalu takkan ada masa sekarang yang akan memberikan warna bahagia. 

Perempuan disabilitas itu akan meyakini itu untuk dirinya. Karena tidak ada larangan tertulis untuk perempuan itu, untuk menyerah menjalani kehidupan. 

***

Rantauprapat, 07 Agustus 2024 

Lusy Mariana Pasaribu

Rabu, 07 Agustus 2024

Rindu dan Ketidakpastian, Diam-diam Merindukan Kamu

@kulturtava
...

Sial, tadinya berharap semestaku tanpa kamu, akan baik-baik saja, tapi dasar aku bodoh. Karena masih saja gagal untuk benar-benar selesai terhadap kamu. Jadi aku masih sering memilih gaduh dan tengkar terhadap hati dan kepalaku dan sulit untuk bersikap bodo amat. Dengan rela memilih diam-diam merindukan kamu.

Dulu aku menyukai perhatianmu, tidak tidak bukan hanya dulu tapi sampai saat ini ketika tulisan ini ada aku masih menyukai perhatianmu. Kamu masih menjadi seseorang yang melemahkan hatiku, melukaiku tapi dengan nakalnya malah membiarkan itu terjadi terus-menerus. Aku ingin berhenti terhadap kamu. Tidak ingin mengingatmu. Tapi hatiku tidak tahu cara untuk berhenti. Bertahun-tahun aku menelan marah, mematahkan harapan, entah kan berujung di mana. Biarlah seperti itu.

Biarlah ini menjadi cerita yang tersembunyi. Perjalanan yang panjang seperti lagu kehidupan. Ada sedih dan bahagia. Juga ada luka, dasar hati. Ah, sialan! membiarkan cinta tumbuh tanpa batas dan aturan. Hahah. Aku tahu dan sadar bahwa sejujur dan sebenar-benarnya tidak akan ada cinta yang benar-benar cinta antara aku dan kamu. Dan sialnya, akan ada saja tawa jika gaung ingatan perihal kita yang dahulu mengganggu isi kepalaku.

Perbincangan malam ini menitipkan pertanyaan di kepalaku, apa artinya ini? Aku termangu-mangu melihat luka yang akhirnya kembali mengganggu kepala dan diingatkan oleh waktu. Toh, aku sering terlupakan tapi untuk melupakan hatiku sulit. Banyak drama, barangkali juga dendam. Terlalu banyak tipu daya, menjadi korban, tersangka dan juga terdakwa atas peristiwa liar yang dibiarkan terjadi. Parah, membiarkan ini terjadi terus-menerus.

Karena desah nafasmu, masih berhasil mengusik kepalaku. Boom, daya tarik apa yang ada padamu hingga masih membuatku seperti ini? Terlalu gagu dan gamang, sudah sangat lama ingin melarikan diri dari bayang-bayang tentang kamu tapi malah terjebak di hutan kenangan. Asu bukan, sialan memang.

Lantas, siapa yang akan disalahkan jika aku mabuk oleh masa lalu? Kamu atau aku? Entah. Karena aku tak pernah ingin berakhir sebagai daun jatuh, walau faktanya aku masih saja jatuh.

Aku yang tak pernah cukup. Mengilai hal-hal bodoh yang berisik. Lebih dari sekali aku diam-diam merindukan kamu padahal tidak ada cinta yang benar-benar cinta perihal kita. Bukankah aku harusnya tidak mengiakan segala keliaran demi keliaran yang membuatku harus basah oleh hujan, aku harus mengusahakan agar baik-baik saja tidak malah menumbuhkan onak, hingga aku akan terbata-bata dan menjalani hidup yang tidak mudah lebih lama lagi. 

Aku pernah buas pada kepuasan. Pernah bukan berarti tidak bisa berhenti, semoga semesta mendukungku. Aku terkadang bodoh karena kenyamanan tapi bukan tidak berakal. Aku harus berhenti dari khilafku.

***

Rantauprapat, 30 Juli 2024

Lusy Mariana Pasaribu 

Minggu, 04 Agustus 2024

Perempuan Berwajah Ungu

@kulturtava
...

Banyak yang membuatku layu, tak ada rasa manis yang hinggap padaku seperti kopi pahit yang sangat pahit. Ketika banyak yang beranggapan aku seperti perempuan yang kesepian dan butuh perhatian, biarkan saja mereka dengan segala pemikirannya. Kembali kepada pilihanku tetap kesepian dan membiarkan sepi membunuhku atau aku patahkan paradigma itu.

Aku mau sudahi kedegilan hatiku, untuk apa bermain-main pada predator yang berbahaya.

Kepada aku, yang lelaki itu berkata bahwa aku perempuan yang membiarkan diri terbuai oleh rayuan sepi, menjadi perempuan yang kalah.  Apakah harus selalu kalah? Bukan, aku tidak mau seperti itu. Lelaki itu juga berkata, aku perempuan berwajah ungu, yang terlalu gagu dan gamang pada pagiku yang malam atau pada malamku yang kelabu. Cukup, aku mau belajar tuk sudahi kegelisahanku.

Pudarkan ingatan tentang jejak dan siluet yang memberikan luka. Aku harus bisa sengaja melupa pada pendulum dan siklus yang menulis segala elegi dan kehampaan. Harus pula mampu merayu pagi dan malamku agar kebahagiaan berayun-ayun di berandaku.

Kepada aku, perempuan berwajah ungu, aku tidak lagi membiarkan gerigi-gerigi hampa mempersulit pikiranku hingga buntu. Aku percaya dan akan melihat dengan mata telanjangku, masih ada yang peduli padaku, juga masih memiliki rumah tempatku berpulang.

Kepada aku, kuat dan bertahanlah, untuk apa biarkan diri mati seperti daun layu yang diterbangkan angin.

Buatlah hidupmu manis!

***

Rantauprapat, 04 Agustus 2024

Lusy Mariana Pasaribu 

Sabtu, 03 Agustus 2024

Pria yang Pernah Menjadi Rumah, Menjadi Asmara yang Saling Terikat

@kulturtava
...

Untuk pria yang pernah menjadi rumah, pria Tapanuli yang menjadi candu. Di antara kamu dan aku tidak pernah ada layar yang sungguh dan benar-benar dibuka, padahal sama-sama mengetahui saling mencintai tapi tak bisa saling memiliki. Menjadi asing yang paling asing. Terlalu burukkah untuk menjadi asmara yang saling terikat.

Mimpi yang gagal menjadi kenyataan.

Tidak menemukan jalan untuk bersama namun masih ada harap untuk merdeka terhadap asmara, seperti nikmat yang membawa sengsara. Buat apa jatuh cinta jika akhirnya hanya ada kesia-siaan.

Dalam ringkas ingatanku, aku merasa sepi dan marah karena kamu tidak menjadi jawaban dari pertanyaanku. Ah, entahlah. Ini seperti kisah cinta yang tersembunyi, diam-diam masih berusaha mencairkan keterasingan. Bertanya tentang kabar bahkan lebih dari itu, saling merisaukan. Pada kenyataannya, masih menjadi asing.

Jatuh sejatuh-jatuhnya, untuk pria Tapanuli yang menjadi candu, hari ini kamu dirayakan dalam kepalaku, walaupun tak lagi berdampingan. Kamu pria hebat, kuharap semua akan baik-baik saja. Kita bukan kita lagi, aku bukan siapa-siapa lagi, hanya bagian jejak dari masa lalu yang sangat kecil kemungkinan menjadi masa depan,  namun untuk kali ini setidaknya untuk hari ini menjadi hari yang cerah untuk kamu.

Ya, hari ini kamu jadi diksi dan kalimat yang indah dalam tulisanku. Menjadi asmara yang memiliki jejak cerah. Aku janji, tak akan menjadi pencuri hanya untuk memaksakanmu menjadi rumahku. Perlahan, semua kisah tentangmu akan menjadi halaman demi halaman yang akan tuntas terbaca di mata telanjangku. Kamu itu pernah menjadi asmara yang melukiskan kebahagiaan.

Benar, kamu pantas untuk dirayakan. Selamat memperingati hari lahir untuk pria Tapanuliku. Tertawa dan gembiralah hari ini. Tidak tahu sampai kapan, tapi hingga saat ini di bulan Agustus ini, bulan kelahiran kamu, kamu masih punya tempat tersendiri di semestaku.

***

Agustus 2024

Lusy Mariana Pasaribu 

Rabu, 31 Juli 2024

Kisah-kisah Rumah Tanpa Jendela

@kulturtava
...

Bagaimana rasanya rumah tanpa jendela? Pengap pengap dan pengap.

Lantas, untuk apa menjadikan rumah tanpa jendela?  Tidak ada sesuatu yang baik di situ.

Seperti hendak menerobos kegelapan, untuk apa memporak-porandakan isi kepala dengan segala kecemasan terhadap sesuatu yang belum tentu terjadi.

Siapa yang bertelinga hendaklah yang mendengar, jika pun tetap tidak mendengar berarti menulikan telinganya.

Segala kemarahan, kedongkolan, kebencian, was-was, kekhawatiran yang berlebih seringkali dipertahankan di hati juga pikiran, padahal itu semua tidak menambah sehasta apapun pada hidup.  Iya, seperti rumah tanpa jendela. Tidak ada cinta tidak ada kebahagiaan tidak ada damai sejahtera apalagi tenang teduh. Dan sering kali memilih itu. Dan hari ini  masih gagal terhadap hal itu.

Terbunuh atau membiarkan diri terbunuh dengan segala hantu-hantu yang ada di pikiran, hantu-hantu kekhawatiran yang berkeliaran dan tumbuh di dalam kepala.  Di atas ranjang pagi ini, ketika pasang surut kehidupan, harus terus belajar dewasa, mematakan kemalangan dan sepi yang di cptakan sendiri agar tidak menjadi rumah tanpa jendela.

Setelah pagi ini, pasti akan ada lagi drama yang terjadi. Pening dan pusing. Dan akan banyak kisah-kisah rumah tanpa jendela yang hilir mudik di dalam kepala, wajar jika cemas tapi kembali kepada pilihan apa yang harus diambil, 

Memilih menjadikan rumah tanpa jendela atau sebaliknya!

***

Rantauprapat, 22 Juli 2024

Lusy Mariana Pasaribu 

Selasa, 30 Juli 2024

Singgah Bukan Sungguh

@kulturtava
...

Cinta itu tidak harus memiliki, ini sedang terjadi. Seorang yang seperti kamu, singgah bukan sungguh. Tak pernah ada kata tulus, vitamin love tidak pernah kamu berikan. 

Tanpa disangka-sangka kamu hadir, tanda tanya besar di kepala? Seperti pertanyaan-pertanyaan yang membuat ku mengumpat. 

Singgah bukan sungguh. Tadinya aku disetubuhi harapan lalu mati dan terhempas, terbuang seperti abu yang tidak berarti. Barangkali, tanpa pernah kuduga dan kupikir sebelumnya kamu terlalu lelah bermain-main, tiada tempat berteduh hingga menjatuhkan pilihan kepadaku. Akhirnya aku yang sakit sendirian, takut kehilangan kamu yang bukan siapa-siapaku.

Kamu singgah bukan sungguh, kembali menjadi asing tanpa kita. 

***

Rantauprapat, 30 Juli 2024

Lusy Mariana Pasaribu 




Senin, 29 Juli 2024

Intermezzo, Merelakan dari Ketidakrelaan dan Untuk Apa Biru Karena Rindu

@kulturtava
...

Hanya persinggahan dan intermezzo, bullshit. Membuat muak, menjadi satu hanya peribahasa. Seolah mengajak memori tak akan pernah pudar, kenapa harus bergentayangan di dalam saraf-saraf otak. Harus bisa mengatasi intermezzo yang menjadi pengganggu. Sbab kamu hanya sepotong ingatan yang tidak akan berarti apa-apa.

Seperti ada bom yang meledak dalam diri. Ada yang hilang, kesejahteraan mental yang terkikis. Pernah direbahkan oleh cinta, melebur semesta dengan hasrat dan hujan deras yang membasah bumi. Untuk apa biru karena rindu, rindu sendirian barangkali.

Ada kebodohan ada kebahagiaan. Apa artinya ini? Seperti kesenjangan pada disabilitas. 

Berulang-ulang selama ini berkhianat pada harap. Untuk apa sebenarnya hidup? Untuk siapa sebenarnya menangis? Harus diupayakan dan memiliki kesadaran: merelakan dari ketidakrelaaan, untuk menjadi pantas atas ketidakpantasan yang sudah bosan untuk dilakukan. 

Dan ketahuilah, sudah berusaha untuk tidak lagi terjebak ketika dosa itu merayu. Harus bisa dan terbiasa. Karena tak mau ada irama kesedihan yang tak berujung. Tidak ingin berakhir sebagai daun jatuh. Pernah mabuk oleh anggur manis, pernah mabuk oleh kekasih. Entah kekasih yang seperti apa, kekasih yang pernah benar-benar ada atau sama sekali hanya ilusi.

Pernah mengatakan tidak ada ruang untuk cinta yang lain. Sudah pernah menuliskan, asing tanpamu bila tidak ada lagi cinta. Yang ada, hanya menumbuhkan onak duri. Pertanyaan maukah kau jadi kekasihku, itu jadi pertanyaan yang menjijikan. Karena tidak ada kebenaran yang benar-benar tulus dari itu.

Tidak harus tahu dan mencari tahu tentang hal yang tidak perlu tahu. Sebuah cara melupa harus dilakukan dan diupayakan. Harus memiliki kesadaran. Lagi, untuk apa biru karena rindu. Belajar untuk menerima. Karena pada akhirnya bersama tidak harus sama. Tidak mau mencuri yang bukan menjadi bagian diri.

Karena ada yang datang, dan ada yang pergi. Rasanya sakit dan amat sakit ketika tertolak dan ditolak. Sengaja dilupakan. Ah, entahlah. Walaupun hanya intermezo yang pernah ada harus belajar merelakan dari ketidakrelaan dan pada suatu hari tidak lagi biru karena rindu.

***

Rantauprapat, 26 Juli 2024

Lusy Mariana Pasaribu

Sabtu, 27 Juli 2024

Semesta Saya Tanpa Kamu


@kulturtava
 ..

Tidak ingin berakhir sebagai daun jatuh. Pernah mabuk oleh anggur manis, pernah mabuk oleh kekasih. Entah kekasih yang seperti apa, kekasih yang pernah benar-benar ada atau sama sekali hanya ilusi.

Pernah mengatakan tidak ada ruang untuk cinta yang lain. Sudah pernah menuliskan, asing tanpamu bila tidak ada lagi cinta. Yang ada, hanya menumbuhkan onak duri. Pertanyaan maukah kau jadi kekasihku, itu jadi pertanyaan yang menjijikan. Karena tidak ada kebenaran yang benar-benar tulus dari itu.

Tidak harus tahu dan mencari tahu tentang hal yang tidak perlu tahu. Sebuah acara melupa harus dilakukan dan diupayakan. Harus memiliki kesadaran, untuk apa biru karena rindu. 

Belajar untuk menerima. Karena pada akhirnya bersama tidak harus sama. Tidak mau mencuri yang bukan menjadi bagian diri.

Karena ada yang datang, dan ada yang pergi. Rasanya sakit dan amat sakit ketika tertolak dan ditolak. Sengaja dilupakan. Ah, entahlah.

***

Rantauprapat, 26 Juli 2024

Lusy Mariana Pasaribu 

Perempuan yang Ketakutan dan Rekam Jejak yang Payah

Pixabay.com
...

Perempuan itu ketakutan. Tidak pernah cukup waktu dia merasa tenang teduh. Kehilangan damai sejahtera. Sendiri. Rekam jejak yang payah kembali terulang. Brengsek. 

Kenapa dan kenapa kebisingan tidak pernah menjauh pergi. Tidak pernah mengerti, sudah bersama untuk berapa kali dasawarsa tapi tak pernah henti-hentinya untuk berdamai. 

Perempuan itu muak.

Ada saja kebisingan yang mengundang kemarau. Benar-benar rusuh dan patah. Kenapa tidak berakhir saja hari ini. Mau sampai kapan berlanjut? 

Ada kisah yang belum usai dan kembali ke permukaan. Iya ini kisah perempuan itu dan rekam jejak yang payah. Perempuan yang ketakutan tentang drama hidup yang terjadi. 

Ingin marah tapi tak tahu kepada siapa marahnya. Ini seperti kisah sepi yang berpenghuni banyak makhluk. Dari keseluruhan hari-hari perempuan itu barangkali mayoritas dipenuhi belasungkawa. Malang. 


Pada suatu hari nanti, mungkinkah perempuan itu memiliki langit cerah. Hingga bisa berdiam diri dengan teduh. 

Ini bukan catatan biasa lebih kepada kegaduhan demi kegaduhan yang mengganggu kepala perempuan itu. 

Di sini, perempuan yang yang ketakutan itu berharap mata telanjang yang ia punya akan pernah menangis bukan karena hal-hal yang membuat ia menyesal untuk lahir dan lebih sering memilih kematian yang tak kunjung ada. 

Melelahkan.

***

Rantauprapat, 26 Juli 204

Lusy Mariana Pasaribu 

Jumat, 26 Juli 2024

Di Balik Tawa

@kuulturtava
...

Perlahan semuanya berubah, hal yang kita mimipikan telah usai. Kita berjalan dan menjalani hidup masing-masing, suka duka kita tanggung sendiri.

Sedih dan bahagia tak lagi kita nikmati. Rumah yang pernah kita impikan hanya sebatas angan-angan.

Kita tidak pernah dewasa satu sama lain, terlalu sibuk dengan egonya masing-masing. Hidupku dan juga hidupmu terlalu berantakan dan aku menambahnya dengan persimpangan yang akhirnya dipilih. Tapi keegoisanku dan berantakannya hidupku, buat aku ingin berpetualang dan mencari apa itu arti hidup sesungguhnya.

Dan sekarang kita usai, hanya tinggal kenangan. Kenangan yang menjadi rekam jejak dalam gaung ingatanku. Tidak di sadari semuanya berubah, kita yang dekat kini benar-benar menjauh, hampa yang di rasa. Malam menakutkan mencari kesibukan agar rasa sedih bisa pulih. Tapi, nyatanya tetap mengusik dan akhirnya terpikirkan, hal yang lalu tak dapat lagi di nikmati.

Sekarang di antara kita tak ada lagi yang bisa diusahakan karena telah saling melukai hati. Sepertinya kamu memblokir segala hal tentangku. Mungkin aku tidak seperti impianmu! Namun aku tak mau berlarut-larut dalam kejauhan.

Karena sejauh ini masih ada harap yang aku semogakan tentang kamu. Aku mau menua dan mau bersamamu selamanya. 

Masih ada cinta tentang Kita. Entah bagaimana, aku masih larut dalam kesedihan. Aku memelihara kebodohanku karena nyatanya, aku masih seseorang yang bersembunyi dibalik tawa. Aku lupa aku luka.

Mungkinkah? 

Mungkinkah kita akan kembali bersama? 

Mungkinkah semesta mengizinkan kita untuk itu? 

Aku hanya berharap masih ada kesempatan untuk itu. 

Aku tidak tahu realita akan mengijinkan dan memberikan kabar baik atau malah sebaliknya. Karena dibalik ketawa banyak kemungkinan dan kemustahilan yang terjadi. 

Bersamamu ada cinta. Tidak denganmu akan terasa asing. Karena denganmu aku pernah biru karena rindu. Aku tidak mau patah dan berakhir di pelataran sepi. Kamu adalah harap yang masih aku semogakan. 

***

Natadecoco dan Lusy Mariana Pasaribu 

Juli 2024

Rabu, 24 Juli 2024

Yang Pernah Kusebut Rumah

Th Medium
...

Ingin bisu dan membisu, tapi sudah lebih dari satu dasawarsa itu acapkali gagal. Untuk tahun-tahun berikutnya, aku belum bisa memastikan. Bisa membisu namun bisa juga gagal untuk membisu.

Karena baru-baru ini aku mendapati pertanyaan dari kamu yang pernah kusebut rumah. Kalau aku mati datangnya kau dek? Aku dengan jelas mengatakan tidak. Karena aku benci keadaan kita. Entah kebencian apa yang mendasari.

Kepada kamu yang pernah kusebut rumah, baik-baik sajalah di sana. Jangan merelakan dirimu mati karena kebodohan, aku benci mendengar suaramu yang mengatakan "hancur kali aku inang". Jangan seperti itu, aku merasa bersalah. 

Sesekali bisa mendengar tawa dan ceritamu saja aku sudah cukup, pernah aku tergesa memiliki keputusan barangkali juga kamu pun begitu, dan aku mengakui kesenjangan yang ada di antara kita mayoritas adalah kegagalanku. 

Ketika aku mendengar, deru nafasmu yang tersendat, seketika itu juga aku merasa hancur. Mengingat interaksi, juga daya tarik yang pernah ada, aku menyesal waktu itu dengan keputusanku, aku benar-benar berharap kamu akan baik-baik saja.

Aku takkan pernah sengaja lupa tentang kamu, rekam jejak yang pernah ada akan seperti halaman buku yang pada akhirnya akan tertutup. Namun bukan pula, hancur dan memusnahkan. Kepada kamu yang pernah kusebut rumah, siapapun pemilik rumah yang akan kamu tuju, kuat dan bertahanlah. Jangan jadikan rumahmu tanpa jendela. Panas, menggelap dan penuh keributan. 

Yang pernah kusebut rumah, entah juga pernah menyebutku sebagai rumah, mari menabur harapan demi harapan baik untuk kita masing-masing. Dan barangkali ke depan kita akan kembali bisa saling bercerita dengan titik-titik yang menjadi garis dalam kehidupan kita masing-masing. 

Karena kita adalah titik yang takkan pernah menjadi garis.

***

Rantauprapat, 24 Juli 2024

Lusy Mariana Pasaribu 


Sabtu, 20 Juli 2024

Perempuan Hujan


@kulturtava
***

Kenyamanan yang masih dirindukan. Hidupnya terlalu sangat lucu, karena terlalu lucu untuk menawarkan tawa saja sulit. Du du du du, terlalu bercanda bukan. Terlalu usil, yang sangat-sangat usil. 

Ia seperti perempuan hujan, dingin. Kesejahteraan dan tenang teduh seperti usaha menjaring angin. Ingin digapai tapi tak kunjung dapat. 

Kebisingan yang membatu, takkan pernah usai. Kepedulian yang mati, ia perempuan bodoh. Untuk apa menjadikan diri perempuan hujan, haruskah ia membatu untuk segala hal yang terjadi? 

Berulang kali berharap, berulang kali patah. 

Tanpa ujung. Tanpa jeda. Kekonyolan dua kepala merusak isi otak perempuan itu. Pada suatu malam, perempuan itu terlalu hambar dan ramai dengan pertanyaan demi pertanyaan yang menguasai kepala. 

La la la, perempuan itu ingin tertawa tapi apa daya. Ia terlalu kaku, tertuju pada hal-hal yang toxic. Pemikiran yang harus ENYAH! BODOH. 

Mestinya perempuan hujan itu, tidak merelakan tubuh dan pikiran mementahkan harapan untuk bahagia. Walau jalan terjal yang akan dilalui, perempuan hujan tidak boleh dan tidak harus ada pada kerumunan hujan. 

Pada suatu malam yang lain, perempuan hujan barangkali akan amnesia pada kisah-kisah duka yang pasti akan terjadi lagi. 

Dududududu, perempuan hujan itu akan kembali bisa tertawa dengan hujan yang menciptakan kenangan dengan segala huru-haranya. Biarkan saja! Karena tanpa adanya hujan, hidup tidak akan lengkap. Bukankah begitu!

***

Rantauprapat, 20 Juli 2024

Lusy Mariana Pasaribu

Kamis, 18 Juli 2024

Mengapa Perempuan Itu Berbeda?



@kulturtava
***
Perempuan dewasa yang tak dewasa. Disabilitas yang bukan disabilitas. Sakit tapi sehat. Ada tapi tidak terlihat barangkali.

Mengapa perempuan itu berbeda? Dia takkan pernah sama seperti perempuan lainnya. Ingin berdamai dan menerima, gagl dan gagal lagi. Jatuh yang entah yang sudah beberapa kali. Benarkah perempuan itu pernah dianggap dan diterima?

Dia sudah seperti perempuan hujan. Hari-hari dipenuhi air mata, entah perempuan itu menangis untuk siapa.

Apatis. 

Mengerikan bukan! Mengapa perempuan itu berbeda? Untuk mengejar harapan, dia sudah hambar. Hasrat yang dia miliki, sudah lama sudah lama bertumbangan apalagi di saat-saat dia tak mampu untuk berdiri dengan kedua kakinya. 

Tidak ada cinta. Tidak ada kebahagiaan 

Ini sebuah cerita yang sangat biasa, telalu biasa bahkan tidak mendapatkan empati dari yang dibutuhkan. Dia menertawakan diri sendiri karena ini.

Ini seperti syndrom dan trauma untuk perempuan itu.

***

Rantauprapat, 18 Juli 2024

Lusy Mariana Pasaribu

Rabu, 17 Juli 2024

Pada Suatu Pagi

@kulturtava
...

Kukira rumah ternyata tidak sama sekali. Sengaja melupa, tapi tidak semudah yang ada di pikiran. Pada suatu pagi di bulan ketujuh tahun ini, pada hari ke tujuh belas kembali mengulang kesalahan yang sama. Kesalahan yang pernah menjadi candu, payah. 

Aku pernah menggilai segala hal tentang ia, menjadi pemburu kenyamanan. Entah ia benar-benar pernah ada atau aku yang terlalu bodoh. Karena hingga saat ini aku dan ia takkan pernah pulang ke rumah yang sama. 

Aku perempuan dewasa yang mungkin tak pernah dewasa menghadapi ia, mudah sekali jatuh bahkan hanya dengan melihat ia, terlebih lagi yang lain tentang ia. Sudah banyak luka juga air mata yang tercipta karena ia, tapi aku tak jenuh-jenuhnya membiarkan ia menguasai hati dan pikiran.

Sial memang, aku yang berharap tapi ia yang semena-mena. Kisah yang harusnya sudah lama usai, namun tak pernah berhasil untuk benar-benar usai padaku. Ini adalah cerita yang sudah terlalu lama disembunyikan olehku. Aku takut, aku sendiri. 

Seharusnya aku tidak seperti ini. 

Ini seperti syndrom yang mematikan. Bukankah aku harus lebih mencintai diriku sendiri, mencintai dengan benar. 

***

Rantauprapat, 17 Juli 2024

Lusy Mariana Pasaribu

Senin, 15 Juli 2024

Pada Suatu Hari


@Kulturtava
...

Sendirian. Seakan tak ada yang berpihak padaku. Mungkinkah terlupakan. 

Lagi-lagi. Lagi-lagi tubuh ini tidak bersahabat. Ah, siapa tersangka di balik fobia ku terhadap ketidaksetaraan tubuh ini? Aku nggak tahu jawabnya. 

Hingga hari ini, masih saja selalu begitu.

Baru saja hujan air mata membasahi wajahku, deras aku menangis tak ada yang tahu. Karena aku hanya seorang diri saat ini. Sungguh aku takut, tak ada harapan untuk berdiri lagi. Aku gemetar, kedua kakiku tak mampu berpijak untuk berdiri.

Aku tak bisa sengaja melupa kan hal ini. Tapi aku tak mau pula ada hujan sepanjang hari yang menemani hariku. Aku harus hentikan tangisku. Kukira kemalangan yang ada padaku tapi ternyata tidak sebegitu malang.

Buktinya aku masih bisa menyembunyikan rasa sakitku hanya pada tulisan ini. Ini hari adalah hari di mana aku sendiri mengalami rasa sakit tapi aku bisa juga menertawakan rasa sakit itu. Aku memilih diam dan tidak menjadi huru-hara pada huru-hara orang lain. 

Aku tak ingin diratapi. Tak ingin pula merusuhkan hati. 

Pada suatu hari, aku akan benar-benar siap untuk menghadapi kenyataan akan rasa sakitku. Kemudian, aku hanya bisa berdoa akan ada yang benar-benar menjadi rumahku nanti untuk bisa memiliki keikhlasan dan penerimaan terhadap diriku.

Aku sakit. Mengalami perih. Namun, tak ingin menjadi kali yang habis airnya. Ini hanya catatanku hari ini.

***

Rantauprapat, 15 Juli 2024

Lusy Mariana Pasaribu 

Jumat, 15 Maret 2024

Balada Perempuan Itu

@kulturtava
***

Cuaca yang sedang menghampiri perempuan itu hujan deras pun akan disertai badai kencang. Ia kehilangan kepercayaan, rapuh. Ini bukan lagi tentang disabilitas, ini lebih dari itu.

Entah apa lagi yang harus perempuan itu lakukan?

Tersudut walau bukan karena taburan yang ia perbuat. Tak mampu bersuara, hanya menangis di dalam kamarnya yang sempit lagi pengap.

Lingkaran di mana perempuan itu berada, adalah dunia yang penuh dengan tipu.

Sisa hari ini terlalu panjang untuk dilewati, perempuan itu penuh dengan banyak ketakutan. Ia tak pernah ingin menjadi seperti ini, terlebih bukan sejak lahir menjadi anak berkebutuhan khusus. 

Kini, untuk berdiri apa lagi berlarian saja ia tidak lagi mampu. Ada banyak luka di perempuan itu, tapi tidak akan ada yang peduli. Tak ada yang pernah terasa mudah untuk ia. Boom, banyak ledekan, ledakan, kisah yang tidak pernah boleh keluar dari dirinya.

Bagaimana dengan esok hari? Hari yang seharusnya ia dirayakan, sepertinya semua hanya nol untuk perempuan itu. Ia kelaparan bahkan kehausan kasih juga penerimaan. Apakah akan ada cinta yang tersesat untuk ia di kemudian hari? Ah, entahlah.

Ia sudah terlalu lelah, namun untuk bercerita saja tak memiliki tempat untuk itu. Ini adalah balada perempuan itu, berharap esok ia akan baik-baik saja, setidaknya satu hari saja, hari di mana ia harus dirayakan.

***

Rantauprapat, 15 Maret 2024

Lusy Mariana Pasaribu 


Minggu, 10 Maret 2024

Ah, Entahlah

@kulturtava
***

Sungguh, akan menjadi kesusahan diri! Bersekutu dengan sesuatu yang asing, sekedar formalitas untuk apa?

D*mn. Borjong!

Berantakan yang diciptakan sendiri. Sebenar dan sejujurnya muak dengan semua ini. Perayaan yang membosankan. Bukan lagi kata-kata yang sekedar kata, ini lebih dari itu.

Kali ini bukan hanya gerimis tapi hujan deras yang disertai batu. Antara komedi dan tekanan hidup. Kanan dan kiri tersudutkan.

Ada kesedihan diam-diam yang nyata. Ini pun menjadi musim yang tidak akan terurai dengan baik. Ah, entahlah. Hanya keheningan yang ada, tidak ada kepedulian. 

Cerita duka masa lalu belum sembuh, kini akan ada luka baru. Siapa yang mampu merangkul, pertanyaan yang gak akan ada jawaban. Inilah duka yang harus dirasakan dan belajar untuk diterima. 

Yang mana di sebut rumah? Hanya ada tanah gersang. Boom, ledakan besar akan terjadi. Kepiting kecil yang malang. Kisah yang tak akan pernah selesai hingga ada perpisahan yang abadi.

***

Rantauprapat, 10 Maret 2024

Lusy Mariana Pasaribu 


Selasa, 09 Januari 2024

Hari Ini Ada Sepotong Kisah yang Harus Usai

@kulturtava
...

Ternyata aku tidak pernah ada dalam daftar itu, itu hanya ekspektasiku belaka. Bulan pertama hari kesembilan dan hari kesepuluh, setelah jeda tiga tahun, hari ini kejujuran terbuka, menyakitkan sekali. Januari efek yang ternyata sangat berefek.

Lama bertanya-tanya dalam hati, nah setelah terungkap yang sebenarnya, damn aku malah mengutuk diri ini sendiri, bisa-bisanya aku menjadi pohon yang tidak riap tumbuhnya. Memberikan hati, kepercayaan, ternyata sejak awal tidak pernah dianggap.

Aku perempuan naif yang mengejar cinta dan harapan, menulis puisi puisi cinta yang ternyata hanya omong kosong. Aku ingin bersamamu, kalimat yang bisa membuat jatuh dan luluh. Asu!

Malam ini bahkan setelah hari berganti, aku mengumpati diriku sendiri, aku gagal memvalidasi kenyamanan yang kurasa, aku lesap dari kesadaran. Hari ini, ada sepotong kisah yang harus usai yang benar-benar usai. 

Terima kasih kamu, kejujuran malam ini menyadarkanku siapa aku. Dan benar seperti kamu kata, aku memang menangis dan aku tidak bisa membendung air mataku atas kejujuran yang kamu ucapkan. Tapi setidaknya itu sudah membuatku lebih lega dan pikiran-pikiran itu tidak lagi mengganggu kepalaku.

Aku adalah perempuan yang terlalu gagu menerjemahkan perasaan yang terlanjur singgah dan ditawarkan oleh kenyamanan dari kamu, itu adalah kesalahan yang pernah kubuat. Bagiku itu tetap adalah kesalahan manis yang pernah kurasakan, setidaknya karena kamu aku pernah merasakan huru-hara karena cinta. 

Ini adalah Januari yang penuh efek bagiku malam ini. 

***

Rantauprapat, 10 Januari 2024

Lusy Mariana Pasaribu