Sabtu, 31 Agustus 2024

Tergoda Anggur yang Memabukkan

@kulturtava
...

Merasa seperti cangkang kosong dan KO. Membiarkan diri berada di tempat gelap dan terlarang. Sentuhan sentuhan liar, mabuk oleh anggur manis. Menjebak diri pada perpisahan yang menyakitkan.

Apakah seperti anjing peliharaan. Dilepaskan ketika tugas selesai dan tidak dibutuhkan, barangkali juga seperti rubah yang tidak boleh cemburu. Kala panggilan dan pesan tidak direspon, tidak boleh menuntut sama sekali. Karena tidak akan merdeka bahkan tidak akan pernah. Juga tidak akan pernah mendapat jawaban ketika bertanya apakah menjadi pengganggu?

Pada Jumat suatu sore, pukul 17 lebih WIB, pada tanggal tiga puluh bulan kedelapan, di panas cuaca yang tak bersahabat, kejadian yang berulang kembali terasa menggoda, jika diteruskan akan membawa pada jurang kehancuran. Seperti kemewahan yang terlarang. Hanya tersimpan dalam kepala dan kornea telanjang, tanpa perlu untuk dibukakan pada khalayak ramai.

Ada daya pikat yang sulit untuk dielakan, jatuh dan mabuk oleh anggur manis. Ini bukan cinta, ini seperti bom yang mematikan. Tanpa menunggu waktu bisa meledak, karena terkena anggur yang memabukkan seperti jerat yang tidak tahu kapan akan lepas dan berhenti.

Terkena anggur yang memabukkan. Serasa di pojokkan, ingin lari. Malah menambah luka, tapi terkadang menikmati luka itu. Berada di hutan yang berbahaya, demikian jika ada di persimpangan dan selalu tergoda oleh dosa yang menggoda. Terluka dan dilukai apakah lantas harus membalas kembali. Bodohnya, membalas kembali dengan melukai diri, tersesat di hutan yang berbahaya. 

Sebenarnya, duka dan luka tidak seberapa, tapi sangat terlalu berisik namun tergoda oleh anggur yang memabukkan.

***

Rantauprapat, 31 Agustus 2024 

Lusy Mariana Pasaribu


Sabtu, 17 Agustus 2024

[Ulang Tahun Ibu] Mencintai Selalu dan Selamanya

Mencintai Selalu dan Selamanya
Hari ini 17 Agustus.

Hari ini Indonesia kembali merayakan kemerdekaan untuk yang ke 79 tahun.

Hari ini juga seorang perempuan yang melahirkanku merayakan hari ulang tahun yang ke 59 tahun, selamat ulang tahun untuk Indonesia terlebih selamat ulang tahun untuk perempuan itu. Ya,  perempuan itu ibuku.

Puisi mencintai selalu dan selamanya, entah tanggal dan tahun berapa itu aku tulis. Sejujurnya aku tidak lagi mengingat itu dengan pasti tapi puisi tersebut juga sudah aku posting di halaman blog pribadi dan juga blog Kompasiana, aku perlu cek ulang tanggal pasti terpost di halaman Kompasiana. Puisi ini sudah disurakan oleh teman literasi dan menjadi sampul dari artikel ini. Puisi ini  menggambarkan bagaimana perasaanku terhadap orang tuaku. Aku berharap mereka selalu mencintai walau tidak dipungkiri 42 tahun lebih mereka sudah berumah tangga banyak kerikil dan badai besar sudah menghantam mereka, walau demikian puji Tuhan mereka berhasil melaluinya hingga hari ini mereka masih bersama.

Dan puisi itu dibacakan dengan indah, oleh teman literasiku yang berasal dari daerah Lampung. Sudah cukup lama memang ini dibacakan karena hampir kurang lebih 3 tahun aku sudah tidak lagi berkecimpung dengan dunia berbagi karya dengan pembacaan puisi. Tidak tahu pasti apa yang menyebabkan itu tapi bersyukur lebih dari ratusan karyaku sudah dibacakan teman literasi dari berbagai daerah.

Untuk ibuku, sudah banyak juga puisi yang tertulis. Ibuku perempuan tangguh dengan segala hidup hiruk pikuk seorang perempuan pastinya. Aku pernah menjadi perempuan yang nakal terhadap ibuku, perempuan dewasa yang tidak pernah dewasa. Aku sering mengumpat, sering mengeluh, sering tidak tahu berterima kasih, aku sadar aku salah. Sering pula aku tidak mencintai ibuku, dasar anak payah. Tapi sejauh ini aku hidup, aku selalu meminta pada Tuhan, jika ada yang lebih dulu pergi aku berharap itu aku daripada orang tuaku terlebih daripada ibuku. Aku takut ditinggalkan mereka. Aku sangat-sangat takut. Karena ibuku ada sandaranku. 

Mencintai selalu dan selamanya seperti judul artikel ini, aku mau belajar untuk menghidupi itu hari lepas hari. Berharap juga kedua orang tuaku menghidupi ini, mencintai selalu dan selamanya bukan tidak ada badai tapi tentang menghargai komitmen. Selamat ulang tahun ibuku, bahagia selalu di hari tuamu. Bahagia selalu bersama ayah dan juga kami anak-anakmu. Bersama  cucu-cucu tak ketinggalan menantu laki-lakimu bu,  karena kalau menantumu perempuan belum tahu kapan datang, karena per tahun ini anak laki-laki ibu masih ada di bangku sekolah.

Terima kasih bu, untuk segalaku dan pengorbanan yang kau berikan. 

***

17 Agustus 2024

Lusy Mariana Pasaribu

Jumat, 16 Agustus 2024

Sembuh Lalu Kembali Bersama

@kulturtava
...

Apa harus selalu berpura-pura? Menjenuhkan jika terus seperti ini .

Lebih sudah seribu hari selalu merimbunkan telinga untuk kebodohan-kebodohan yang akan didengar. Apa merasa merdeka terhadap yang kamu lakukan? 

Tadinya mengira kamu adalah jawaban dari doa-doa yang disampaikan, ternyata kamu merayakan bersama pasangan baru yang kamu pilih. Dan yang paling menyakitkan setelah merayakan itu tidak ada perpisahan yang pasti. Dan hampir satu dasawarsa masih merayakannya dengan kesendirian.

Pernah nyaman, akan menjadikan rumah dan menjadi tujuan akhirnya menjadi patah. 

Di sini, siapa yang paling bersalah. Hampir satu dasawarsa ini terkadang masih ada rasa rindu itu, diam-diam jadi pencuri hanya untuk menikmati dan melihat postingan dan wajah dari seseorang di masa lalu. Mengelikan memang. 


Mau sampai berapa lama lagi salah paham. Seolah bisa sembuh lalu kembali bersama. Bukankah terlalu sakit untuk menyirami halaman rumah yang bukan halamanmu. Untuk apa lagi merayakan ke pura-puraan. Jangan memaksakan sembuh untuk kembali bersama yang pada akhirnya hanya menuju hancur. 

Ah, sialan. 

Seringkali mengucapkan jangan patah tapi yang ada benar-benar patah. Sudah hampir satu dasawarsa, masih saja di tempat yang sama, ini tentang cinta atau hanya obsesi. Jika ini tentang cinta, kenapa sulit untuk mengikhlaskan. Sembuh lalu kembali bersama, tidak harus selalu seperti itu jika memang bukan itu jawabannya.

Sejujur dan sebenar-benarnya, kamu tidak pernah menjadi bagian romantisme dari rayuan yang ada di artikel utama yang pernah diharapkan.

***

Rantauprapat, 16 Agustus 2024 

Lusy Mariana Pasaribu

Sabtu, 10 Agustus 2024

Kisah Seorang Perempuan Disabilitas

@kulturtava
...

Tidak tahu pasti apa yang menyebabkan, berulang kali mencari jejak terjadi tak kunjung juga dapat. Asal usul yang masih belum tahu jawabnya karena banyak pertanyaan tentang ini, pertanyaan yang tak akan habis Bagaimana rasanya? Menyesakkan sekali, mengalami kisah-kisah rumah tanpa jendela. Pengap dan sangat gelap. Terasa sesak dan sulit untuk bernafas.

Sehat tapi sakit, hidup tapi mati. Siklus kehidupan yang benar-benar memberi perih. Barangkali sendirian sampai mati, mati yang benar-benar mati.

Tatapan yang mengucilkan memberi trauma psikis. Seperti merasakan sengatan listrik bertegangan tinggi. Tidak ada seorangpun yang menginginkan disabilitas melekat pada diri. Seperti abu-abu, tidak hitam tidak putih. Menakutkan hidup seperti ini. Bahkan ketika ada kebahagiaan selalu ada kecemasan yang mengiring. Seperti ada kabut berduri, menuju hancur. 

Ini kisah seorang perempuan disabilitas, perempuan berdosa yang berpura-pura tabah. Sering mengumpat, sering tidak menerima. Yang lebih malang adalah, perempuan disabilitas itu dikelilingi oleh orang-orang yang memiliki disabilitas nurani. Seperti berada dalam lingkaran predator yang berbahaya. Memuakkan untuk perempuan itu. 

Bukan kemarin 

Bukan hari ini 

Barangkali juga bukan esok 

Entah hari yang kapan 

Perempuan itu meyakini terhadap jejak dan siluet kehidupan yang patah, terhadap nelangsa kehidupan, tentang banyak saksi mata yang membiarkan perempuan disabilitas itu terluka, ia tak akan membenci, karena dengan menyalakan tak akan mendapatkan apa-apa, dengan membenci masa lalu takkan ada masa sekarang yang akan memberikan warna bahagia. 

Perempuan disabilitas itu akan meyakini itu untuk dirinya. Karena tidak ada larangan tertulis untuk perempuan itu, untuk menyerah menjalani kehidupan. 

***

Rantauprapat, 07 Agustus 2024 

Lusy Mariana Pasaribu

Rabu, 07 Agustus 2024

Rindu dan Ketidakpastian, Diam-diam Merindukan Kamu

@kulturtava
...

Sial, tadinya berharap semestaku tanpa kamu, akan baik-baik saja, tapi dasar aku bodoh. Karena masih saja gagal untuk benar-benar selesai terhadap kamu. Jadi aku masih sering memilih gaduh dan tengkar terhadap hati dan kepalaku dan sulit untuk bersikap bodo amat. Dengan rela memilih diam-diam merindukan kamu.

Dulu aku menyukai perhatianmu, tidak tidak bukan hanya dulu tapi sampai saat ini ketika tulisan ini ada aku masih menyukai perhatianmu. Kamu masih menjadi seseorang yang melemahkan hatiku, melukaiku tapi dengan nakalnya malah membiarkan itu terjadi terus-menerus. Aku ingin berhenti terhadap kamu. Tidak ingin mengingatmu. Tapi hatiku tidak tahu cara untuk berhenti. Bertahun-tahun aku menelan marah, mematahkan harapan, entah kan berujung di mana. Biarlah seperti itu.

Biarlah ini menjadi cerita yang tersembunyi. Perjalanan yang panjang seperti lagu kehidupan. Ada sedih dan bahagia. Juga ada luka, dasar hati. Ah, sialan! membiarkan cinta tumbuh tanpa batas dan aturan. Hahah. Aku tahu dan sadar bahwa sejujur dan sebenar-benarnya tidak akan ada cinta yang benar-benar cinta antara aku dan kamu. Dan sialnya, akan ada saja tawa jika gaung ingatan perihal kita yang dahulu mengganggu isi kepalaku.

Perbincangan malam ini menitipkan pertanyaan di kepalaku, apa artinya ini? Aku termangu-mangu melihat luka yang akhirnya kembali mengganggu kepala dan diingatkan oleh waktu. Toh, aku sering terlupakan tapi untuk melupakan hatiku sulit. Banyak drama, barangkali juga dendam. Terlalu banyak tipu daya, menjadi korban, tersangka dan juga terdakwa atas peristiwa liar yang dibiarkan terjadi. Parah, membiarkan ini terjadi terus-menerus.

Karena desah nafasmu, masih berhasil mengusik kepalaku. Boom, daya tarik apa yang ada padamu hingga masih membuatku seperti ini? Terlalu gagu dan gamang, sudah sangat lama ingin melarikan diri dari bayang-bayang tentang kamu tapi malah terjebak di hutan kenangan. Asu bukan, sialan memang.

Lantas, siapa yang akan disalahkan jika aku mabuk oleh masa lalu? Kamu atau aku? Entah. Karena aku tak pernah ingin berakhir sebagai daun jatuh, walau faktanya aku masih saja jatuh.

Aku yang tak pernah cukup. Mengilai hal-hal bodoh yang berisik. Lebih dari sekali aku diam-diam merindukan kamu padahal tidak ada cinta yang benar-benar cinta perihal kita. Bukankah aku harusnya tidak mengiakan segala keliaran demi keliaran yang membuatku harus basah oleh hujan, aku harus mengusahakan agar baik-baik saja tidak malah menumbuhkan onak, hingga aku akan terbata-bata dan menjalani hidup yang tidak mudah lebih lama lagi. 

Aku pernah buas pada kepuasan. Pernah bukan berarti tidak bisa berhenti, semoga semesta mendukungku. Aku terkadang bodoh karena kenyamanan tapi bukan tidak berakal. Aku harus berhenti dari khilafku.

***

Rantauprapat, 30 Juli 2024

Lusy Mariana Pasaribu 

Minggu, 04 Agustus 2024

Perempuan Berwajah Ungu

@kulturtava
...

Banyak yang membuatku layu, tak ada rasa manis yang hinggap padaku seperti kopi pahit yang sangat pahit. Ketika banyak yang beranggapan aku seperti perempuan yang kesepian dan butuh perhatian, biarkan saja mereka dengan segala pemikirannya. Kembali kepada pilihanku tetap kesepian dan membiarkan sepi membunuhku atau aku patahkan paradigma itu.

Aku mau sudahi kedegilan hatiku, untuk apa bermain-main pada predator yang berbahaya.

Kepada aku, yang lelaki itu berkata bahwa aku perempuan yang membiarkan diri terbuai oleh rayuan sepi, menjadi perempuan yang kalah.  Apakah harus selalu kalah? Bukan, aku tidak mau seperti itu. Lelaki itu juga berkata, aku perempuan berwajah ungu, yang terlalu gagu dan gamang pada pagiku yang malam atau pada malamku yang kelabu. Cukup, aku mau belajar tuk sudahi kegelisahanku.

Pudarkan ingatan tentang jejak dan siluet yang memberikan luka. Aku harus bisa sengaja melupa pada pendulum dan siklus yang menulis segala elegi dan kehampaan. Harus pula mampu merayu pagi dan malamku agar kebahagiaan berayun-ayun di berandaku.

Kepada aku, perempuan berwajah ungu, aku tidak lagi membiarkan gerigi-gerigi hampa mempersulit pikiranku hingga buntu. Aku percaya dan akan melihat dengan mata telanjangku, masih ada yang peduli padaku, juga masih memiliki rumah tempatku berpulang.

Kepada aku, kuat dan bertahanlah, untuk apa biarkan diri mati seperti daun layu yang diterbangkan angin.

Buatlah hidupmu manis!

***

Rantauprapat, 04 Agustus 2024

Lusy Mariana Pasaribu 

Sabtu, 03 Agustus 2024

Pria yang Pernah Menjadi Rumah, Menjadi Asmara yang Saling Terikat

@kulturtava
...

Untuk pria yang pernah menjadi rumah, pria Tapanuli yang menjadi candu. Di antara kamu dan aku tidak pernah ada layar yang sungguh dan benar-benar dibuka, padahal sama-sama mengetahui saling mencintai tapi tak bisa saling memiliki. Menjadi asing yang paling asing. Terlalu burukkah untuk menjadi asmara yang saling terikat.

Mimpi yang gagal menjadi kenyataan.

Tidak menemukan jalan untuk bersama namun masih ada harap untuk merdeka terhadap asmara, seperti nikmat yang membawa sengsara. Buat apa jatuh cinta jika akhirnya hanya ada kesia-siaan.

Dalam ringkas ingatanku, aku merasa sepi dan marah karena kamu tidak menjadi jawaban dari pertanyaanku. Ah, entahlah. Ini seperti kisah cinta yang tersembunyi, diam-diam masih berusaha mencairkan keterasingan. Bertanya tentang kabar bahkan lebih dari itu, saling merisaukan. Pada kenyataannya, masih menjadi asing.

Jatuh sejatuh-jatuhnya, untuk pria Tapanuli yang menjadi candu, hari ini kamu dirayakan dalam kepalaku, walaupun tak lagi berdampingan. Kamu pria hebat, kuharap semua akan baik-baik saja. Kita bukan kita lagi, aku bukan siapa-siapa lagi, hanya bagian jejak dari masa lalu yang sangat kecil kemungkinan menjadi masa depan,  namun untuk kali ini setidaknya untuk hari ini menjadi hari yang cerah untuk kamu.

Ya, hari ini kamu jadi diksi dan kalimat yang indah dalam tulisanku. Menjadi asmara yang memiliki jejak cerah. Aku janji, tak akan menjadi pencuri hanya untuk memaksakanmu menjadi rumahku. Perlahan, semua kisah tentangmu akan menjadi halaman demi halaman yang akan tuntas terbaca di mata telanjangku. Kamu itu pernah menjadi asmara yang melukiskan kebahagiaan.

Benar, kamu pantas untuk dirayakan. Selamat memperingati hari lahir untuk pria Tapanuliku. Tertawa dan gembiralah hari ini. Tidak tahu sampai kapan, tapi hingga saat ini di bulan Agustus ini, bulan kelahiran kamu, kamu masih punya tempat tersendiri di semestaku.

***

Agustus 2024

Lusy Mariana Pasaribu