Diantara kompromi yang diusahakan berdasawarsa, dusta dan tipu muslihat yang lebih rumit terungkap.
Hari ini, pada bulan yang ke tujuh tepat di hari ke dua puluh enam, pagi ini, aku menjadi saksinya, saksi dari rasa sakit perempuan itu, mencintai seorang diri dari laki-laki brengsek yang tidak tahu rasa cinta. Akankah hari ini cepat berlalu?
Berdua tapi tak pernah bersama.
Menua bersama kebohongan, karena kata setia yang dipelihara dan dijaga ternyata tak bertuan. Aku melihat kebohongan demi kebohongan, aku merasa sempit, terhimpit, sesak dan berada dalam kegelapan.
Kenapa lagi-lagi aku yang disakiti? Apa saja yang menjadi saksi begitu sakitnya apalagi perempuan itu, semoga Tuhan memberi kekuatan bagi perempuan itu, dan Tuhan juga berperkara terhadap laki-laki brengsek itu. Kata maaf nggak pernah terucap dari laki-laki itu.
Cinta yang toxic, harus usai dan selesai. Berharap perempuan itu sadar dan melepaskan, karena langit mereka tak lagi bersama. Aku ingin pulang tapi tidak tahu pulang ke mana karena tempatku pulang sudah lama hancur. Begitu juga perempuan itu tadi lagi tempatnya pulang, pagi ini begitu mengerikan dan aku tak ingin mengingatnya, entah lupa atau pura-pura lupa.
Hari ke dua puluh enam bulan ke tujuh, seperti kemarau dan hujan yang saling memberikan rasa sakit, dan yang sebenarnya takkan pernah menggantikan Ingatan, namun malah memberikan rekam jejak yang membeku dalam memori.
Kenapa harus berdua tapi tak bersama? Hidup ini selalu suka mengusili bahkan terlalu suka.
***
Rantauprapat, 26 Juli 2025
Lusy Mariana Pasaribu