Jumat, 12 Juni 2026

Di Bawah Langit Juni yang Dingin

Pixabay 
...

Ah, seandainya saudara itu bisa dipilih. Setelah kepergian orang tua, ternyata banyak hama yang seperti bajingan, bahkan baru saja mengatakan aku untuk pergi keluar dari rumah orang tuaku, barangkali engkau mengisi pikiran dengan angin.

Di bawah langit Juni yang dingin, diam-diam menginginkan kehancuranku. Banyak perkataan yang tidak berfaedah, hanya ada percakapan yang tidak berguna. Berkata kasar dan mengumpat kepadaku.  

Bukan aku yang mempersalahkan tapi dari mulutmu sendirilah yang mempersalahkan engkau,  yang harus menjadi tempat sandaran tapi malah tidak sama sekali. Bibirmu lah yang akan menjadi saksi untuk menentang dirimu sendiri, dilahirkan sebagai yang pertama tapi kelakuan minus , nol.

Senyapnya keadilan setelah orang tua tidak ada. Salahkah dan terhinakah aku memilih masa depan, memilih perempuan menjadi pendamping hidupku,  apakah harus aku selalu menjadi sepatu roda berputar pun kemana engkau ingin. Di Bawah Langit Juni yang dingin, terlebih di hari kedua belas bulan keenam keadaan ini sedang tidak baik-baik saja. 

Salahkah ada orang asing yang masuk ke dalam hidupku, ada di tengah-tengah duniaku yang menjadi pilihan masa depanku? engkau mengatakan pilihanku Itu kotoran, sepertinya engkau sudah menggeletar terhadap emas dan rupiah.  Dan ternyata yang dikandung hatimu itu hanya tipu daya.

Suaraku tidak pernah berarti dan tidak pernah terdengar setelah orang tuaku tidak ada, begitu hina aku bagimu. Harusnya rantingku menghijau dan mengandalkan engkau. Tapi aku salah, hari ini engkau memperlihatkan siapa dirimu sebenarnya, engkau melahirkan kejahatan dan kebinasaan. Seperti pohon anggur yang gugur buahnya, apa yang merangsang engkau untuk menjadi seperti ini? Hartakah, atau kekuasaankah? Kenapa engkau menjadi manusia yang pertama lahir di keluarga ini? tidak pernah menjadi teladan.

Ingin menangkap aku, mengurung aku dalam sangkarmu. Manusia sialan kamu semuanya, ah, seandainya saudara bisa dipilih. Padahal sebenarnya aku bukan tidak perduli. Aku hanya ingin lebih menjaga batasan, karena ada masa di mana, aku hanya butuh diriku sendiri tanpa perlu untuk menjelaskan apapun. Bagaimana masa depanku, apakah itu harus berdasarkan pilihan kamu semuanya. 

Aku hanya ingin memeluk romantisme bersama keluarga pilihanku bukan hanya memeluk kesia-siaan yang sudah lama tertanam dalam diriku, apalagi menanggung penderitaan yang tidak harus aku tanggung. Apalagi karena kamu-kamu semua aku akan mencerai beraikan rumah tanggaku, itu tidak akan menjadi pilihanku. Tidak mau lagi terikat akan omong kosong itu. Di Bawah langit Juni yang dingin, Aku berharap bisa hidup dengan tenang dan tentram bersama keluarga yang kupilih.

***

Rantauprapat, 12 Juni 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar