Rabu, 30 Maret 2022

Kisah Cinta yang Ganjil

@kulturtava
...
Perempuan itu pernah berlaku terlalu berani. Kehilangan gaung suara hati. Kesadaran yang bersembunyi. Merasa merdeka mencintai. Lupa, sengaja melupa tuaian yang akan terjadi. Perempuan itu sudah kalah karena dia, dia dan dia. Kisah cinta yang ganjil buat ia menjadi pembunuh, pembunuh karakter untuk diri sendiri. Binasa yang mencelakakan pun seolah silent partner perempuan itu.

Demi mencari kenyamanan, penerimaan, perempuan itu menjadi cadas penuh hasrat. 
Tak ada ketegasan sejak awal. Cinta dan kesetiaan saja sudah tergadai kala bermain-main dengan kemalangan.

Diawali dengan kekeliruan, bukan berarti harus diakhiri dengan kesalahan yang menerus. Perempuan itu sadar diri. Pernah bukan berarti kalah. Ya, selama bumi masih ada, selama masih bernafas, ia harusnya berbalik. Kisah cinta yang ganjil tak boleh lagi buat perempuan itu, menari dalam kata apa lagi huruf-huruf mati. Perang dunia antar hati dan pikiran. Lebih baik ia menjadi camar yang sendirian ketimbang berdua, menerima simfoni indah tapi berujung duka kehancuran.

Sudah. 
Perempuan itu sudah merasa lelah dengan formalitas yang tlah dilakukan.

Kisah cinta yang ganjil itu ternyata penuh tipu daya. Harus dihentikan. BERAKHIR. Langkah perempuan itu tidak lagi harus terhambat. Tidak lagi harus kehabisan daya, kehabisan tenaga. Di sini, perempuan itu yang punya kuasa. Ia harus dan benar-benar harus menguasai diri dalam berbagai-bagai dosa yang merayu. 

***
Rantauprapat, 30 Maret 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Sabtu, 26 Maret 2022

Lelaki Tangguh

@kulturtava
...
Ia sendirian tapi sebenarnya tidak.
Kesepian namun memiliki banyak kasih sayang.
Pejuang rupiah yang sabar menunggu, menunggu kekasih jiwa yang telah menjadi masa depan. Terlebih, telah ada buah cinta yang harus dijaga dengan hati dan pikiran. Karya Tuhan yang sungguh-sungguh menakjubkan.

Hidup penuh ketidakadilan seringkali bukan. 
Jarak yang menjulang ada dalam lingkaran lelaki itu dan pohon cintanya. 
Walau demikian, ia harus tabah. Dan ya, ia mentipkan harapan yang ia semogakan dalam doa-doa yang dilangitkan pada Sang Maha.

Begitulah siklus hidup, penuh teka-teki zaman yang sulit terdefenisikan. Well, ia tetap menjaga hatinya hanya pada satu hati. Karena ia lelaki tangguh dan setia. Saat-saat nyata hidup memberikan luka, ia tetap berjuang menaklukkan kegagalan. Bangkit dari keterpurukan. 

Hari ini, lelaki tangguh itu sedang merayakan hari di mana ia dilahirkan,  berharap kesejahteraan ada dalam diri lelaki itu. Terus menghidupi bahagia. Jangan patah hati apa lagi lemah akan hal-hal yang menjatuhkan. Kebijaksanaan ada pada lelaki itu.

Selamat ulang tahun dan bertambah usia untuk lelaki tangguh itu. Yang terbaik untuk ia dan kekasih jiwa yang ada di hatinya. Semoga! 

***
Rantauprapat, 23 Maret 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Kamis, 17 Maret 2022

Perempuan Itu dan Hari Itu

@kulturtava
...
Mundurnya kontrol diri, meningkatnya kompromi perihal hal yang keliru. Hari itu adalah musim suram untuk perempuan itu. Banjir kata-kata datang menerjang.  Dalam sunyi, menjadi pembunuh untuk tidak mengasihi diri sendiri. Mati konyol dalam kebodohan. Meninggalkan kejujuran hati. Gagal bertumbuh dan berproses dengan selayaknya.

Lugu, terlihat baik yang ternyata tidak begitu. Hari itu, perempuan itu menambah sederet nilai merah di rekam jejak yang ada. Tidak berani bersuara, antara takut atau enggan. Perempuan itu bermain-main dengan kemalangan. Hari itu, perempuan itu jatuh ke titik nol. Kembali merumitkan diri sendiri, mengabaikan pentingnya menjaga awareness. Memaksa diri untuk mengiyakan pada hal yang seharusnya "tak".

Sangarnya sentuhan, belaian, menanduskan kandungan nilai yang lama dihidupi perempuan itu. Wadah kehidupan menjadi kotor. Mengerikan, mau sampai kapan perempuan itu jatuh?  Hari itu, perempuan itu tidak lagi bisa menangis. Rasa sakit yang tidak akan terlupa seolah biasa-biasa saja. Menormalkan diri terhadap hal itu. Terbukti, belati yang ada di mata perempuan itu, kini telah di bumi hanguskan. 

The power of no, hari itu tidak merdeka untuk perempuan itu. Ia tidak terbaca, bak tulisan medis yang tidak akan terbaca oleh orang awam. Bengkok dengan sengaja. Perempuan itu dan hari itu, sebuah kisah tentang kekalahan. Ia meminang rasa nyaman yang bukan menjadi haknya. Seperti penyakit yang sulit untuk diobati. Perempuan itu mencipta panas hati dan muram pada dirinya. Perempuan itu bernama, kebablasan. Perempuan oh perempuan, dasar bodoh.

Akan menjadi seperti apa perempuan itu, jika terus kebablasan saat dosa itu merayu? 

***
Rantauprapat, 17 Maret 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Rabu, 16 Maret 2022

Perempuan Itu dan Hari Ini

@kulturtava
...
Teruntuk L, perempuan Itu

Sepatutnya perempuan itu masih bersyukur untuk hari ini, dipercayakan mengulang hari di mana ia dilahirkan. Bersyukur saat-saat di mana, epilog dan narasi yang terjadi hari ini mungkin menyatakan pertanyaan dan pernyataan yang sulit terdefenisikan.

Seharusnya hari ini begitu membahagiakan untuk perempuan itu, namun untuk menghidupi bahagia itu butuh ekstra awareness. Ia tak mendapati beranda untuk dicintai, terabaikan. Mungkin beban yang sudah lama ingin di bumi hanguskan. Apa karena perempuan itu berbeda? 

Lagi-lagi, perempuan itu sadar ia masih bernafas dan tidak boleh sesuka hati menyerahkan diri pada jerat kematian. Ketika hari ini begitu sulit, terlupa atau sengaja dilupa, perempuan itu yang punya kuasa atas segala hal yang terjadi dalam hati dan pikirannya. Harus tetap berusaha untuk memerdekakan hati sendiri.

Benar, perempuan itu masih kesepian. Ia butuh rumah, butuh healing, language of love yang memberi penerimaan, terlebih saat ia mengulang hari di mana ia dilahirkan.  Butuh yang entah akan menjadi atau butuh yang hanya sekadar harapan semu. Entahlah. Perempuan itu tidak seharusnya meletakkan rasa tenteram, tenang teduh pada hal yang sudah berulang kali memberi rasa sakit. Sebab, tak ada yang benar-benar memahami perempuan itu selain diri sendiri. 

Hanya, janganlah perempuan itu lupa, masih ada hari ini, itu hanya karena kebaikan Tuhan. Setelah hari ini, setelah enam belas Maret, usia yang baru, perempuan itu harus memiliki pegangan hidup yang bijak, bertumbuh dan berproses dengan akal dan hati yang sehat.

Selamat bertambah usia untuk perempuan itu. Jangan patah dan tunduk pada kemungkinan demi kemungkinan yang menimbulkan nestaapa. Cintai dan sayangi sayangi diri sendiri. 

***
Rantauprapat, Maret 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Rabu, 09 Maret 2022

Seperti Duri yang Menusuk Lambungmu

@kulturtava
...
Pagi yang lain hari ini. Sebuah percakapan dengan banyak hujan. Hujan kebohongan dan tipu daya. Tentang rasa curiga yang lebih pada tuduhan. Waktu yang bersisian dengan hati. Tergoda pada ucapan perempuan itu. 

Kutahu, kamu lebih percaya perempuan itu dari yang harus dipercaya. Ke mana ia melangkah dan melintas, dengan tergesa kamu akan ikut. Saat langit perempuan itu berwarna pucat dan kelabu, kamu pun demikian. Menggelayutberati arah ke dalam jerat perempuan itu. Kukira ini berlebihan. Tetap saja kamu tak pernah mendengar suaraku.

Kamu tahu bahwa perempuan itu seperti duri yang menusuk lambungmu, kenapa tetap memberi ruang baginya? Menjadi hening untuk segala keseluruhan perempuan itu. Lantas untukku dan untuk cinta yang ada di hatimu, menjadi riuh yang menyebabkan kesulitan. Ini bukan hanya sebuah opini apa lagi dugaan, ini kebenaran. Ketika bersama perempuan itu, kamu tidak lagi ingat yang lain. Semakin lesap dan menjauh dari seseorang yang harusnya menjadi rumah bagiku. 

Perempuan itu sering menjadikan kamu seseorang yang tidak memiliki kasih yang paripurna.

Barangkali benar, kamu harus memberi cinta untuk perempuan itu. Namun, cinta yang lebih besar itu untuk aku dan cinta yang sudah ada di hatimu. Aku merasa sesak pagi ini. Pagi yang aneh, memberi huruf-huruf mati, rekam jejak yang beraura negatif. Buatku berada di entah. Sungguh ada rasa ingin menanduskan perempuan itu. Membumi hanguskan segala hal tentang dirinya, agar ia tidak mendekatimu. 

Jika aku bertanya padamu, siapakah yang menempati ruang paling prioritas di hati dan pikiranmu? Sepertinya, perempuan itu yang menjadi jawab. Perempuan payah, yang sungguh seperti duri yang menusuk lambungmu. Pandai bermain kata-kata. Perempuan itu benar-benar menyusahkanku. 

Kapan kamu akan mengerti perihal cinta dan mencintai, kembali ke tempat yang semestinya? Itu hanya rahasia yang benar-benar belum kuketahui jawabnya. Dan yang masih menjadi harapku, kamu akan menjadi tenang teduhku, kesejahteraan bagiku dan cinta yang sudah ada di hatimu sejak lama. 

***
Rantauprapat, 09 Maret 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Minggu, 06 Maret 2022

Prahara Perempuan Itu Hari Ini

@kulturtava
...
Etika dalam berbicara, tidak diterima perempuan itu. Dikasari, diberi kata-kata pedas. Seolah ia tidak berharga. Hari ini perempuan itu berkunjung ke dalam berbagai-bagai duka. 

Apa karena perempuan itu terbatas dalam banyak hal, ia harus membiarkan diri menerima pembiaraan seperti itu? Ia kepayahan untuk memerdekakan hati, malang. Sunyi sepi ada di hari ini.

Gagal menata hati menjadi teduh. Kisah yang terjadi hari ini buat perempuan itu terpaksa melarikan diri dari kejujuran. Berpalsu diri. Hari penuh ketidakadilan. Tidak ada senyuman, tidak ada kebaikan. Asing dan menjadi hambar.

Prahara perempuan itu hari ini, terjadi ledakan yang menyebabkan hati terluka. Waktu seolah tidak bersahabat dengan kesejahteraan. Perempuan itu adalah pengungsi, gejolak dari prahara yang terjadi hari ini. Ia sadar diri, memilih untuk menepi, diam dan tidak berkomentar. Itu hanya untuk menjaga kesehatan mental.  Menenun kebaikan bagi dirinya sendiri.

Sebelum malam ini berganti dini hari, perempuan itu ingin menghidupi penerimaan. Berdamai dengan keadaan dan diri sendiri. Untuk apa lesap dari hidup hanya karena prahara yang terjadi hari ini. 

***
Rantauprapat, 06 Maret 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Jumat, 04 Maret 2022

Menjadi Hambar

@kulturtava
...
Anda menyembunyikan saya, sebaliknya saya pun demikian. Tak ada yang benar-benar tahu kisah anda dan saya. Kisah ini begitu rumit, protagonis terlalu berani untuk menantang dan menjadi antagonis. Huh! Kemudian hening, ada penyesalan yang tidak termaafkan.

Menjadi pembangkang, itu sudah terjadi. Anda menjadi penjejak berbahaya, itu atas izin saya pula. Merasa merdeka untuk mencintai, kesalahan yang diperbuat dengan sadar. Gagal menanduskan anda perihal mengeja perasaan.

Penerimaan, itu yang saya rasa. Pertama bercengkerama, anda seperti seseorang yang tiga tahun ada di hati saya. Anda tidak keberatan memberikan ruang bagi saya dengan keseluruhan diri berserta hiasan dalam latar belakang saya. 

Saya yang terlalu berharap lebih.
Agaknya terburu-buru dengan rasa yang sungguh-sungguh mengusik. Ternyata, anda tetap tidak sehangat apa lagi semanis itu, anda punya kerumitan yang tersembunyi, pelaku kejahatan kelas berat. Mengakrabi saya demi tujuan, bebas main ke mana-mana dan di mana-mana tanpa hambatan. 

Ah, saya sudah berulang kali berada di entah karena anda. Rasa pahit yang tidak pernah singgah di tenggorokan, sudah terasa di hati saya. Anda, saya dan kita, tak akan berujung untuk itu. Tidak akan pernah menjadi, tidak akan pernah sepasang. Mungkinkah anda pernah berharap anda saya saling terikat? Tentu tidak bukan! 

Penerimaan yang saya rasa, anda membungkusnya dengan rapi. Itu hanya bualan, language of love. Bullshit!
Anda saya, tak ada dalam pilihan jalan yang sama. Untuk berada dalam narasi yang sama,  barangkali itu pun tak pernah diingini hati anda. Saya tidak senyawa dengan anda, kebenaran untuk itu. Ya, harus tetap menjaga rahasia anda dan saya. Terlalu memalukan bila terbuka. Menjadi hening yang tidak terungkap.

Kisah saya dan anda harus layu dan ditenggelamkan. Menjadi hambar! 

***
Rantauprapat, 04 Maret 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Rabu, 02 Maret 2022

Kasih yang Paling Paripurna

@kulturtava
...
Buatkan teh bu, kata bapak pagi ini. Masih melihat dan mendengar suara bapak ibu, itu merupakan kesejahteraan bagiku. Bodoh memang, sering mengumpat dalam hati. Berlaksa duri terucap dari bibir. Ingin dimengerti tanpa mau mengerti. Tidak menghidupi syukur. 

Ya,  seluruh waktu yang sudah kulalui,  kasih bapak ibu sudah mengalir.  Hari ini dan esok, jika masih memiliki esok, tenang teduhku tentunya jika masih memiliki doa-doa dari bapak ibu. Jika aku didepak dari doa-doanya bapak ibuku, aku akan menjadi seperti gelembung dan kupu-kupu yang sayapnya patah.

Mereka terbatas dalam banyak hal, namun tak henti berusaha mencipta wangi cinta. Menghidupkan sentuhan bahagia. Di rahim waktu, bapak ibuku bersikukuh berjuang menaklukkan keterbatasan, di masa tua tetap menyelesaikan kewajiban dan tanggung jawab. Sungguh, benar-benar aku harus menebar air mata yang benar lagi tulus dari hati untuk bapak ibuku, menebar doa baik. 

Ibuku sampai hari ini, masih berkata, aku tidak bisa mewariskan apa-apa, kecuali firman/ajaran Tuhan yang selalu kubaca. 
Bukankah kasih yang paling paripurna, berasal dari pada bapak ibu. Aku pun di mulai karena mereka. Pada Sang Maha, aku masih meminta, jika ada yang benar-benar harus pergi dan berakhir bernafas, itu aku. Terlalu takut kehilangan.

Dan aku, seseorang yang harus terus belajar untuk mencintai bapak ibu dengan hati. Aku harus bertumbuh dengan riap dalam hal cinta kasih untuk mereka. Sebab aku mengasihi orang tuaku.

Ya, bapak ibuku adalah kasih yang paling paripurna.

***
Rantauprapat, 02 Maret 2022
Lusy Mariana Pasaribu