Kamis, 30 Januari 2025

Di Mata Perempuan Itu Hanya Nyaris Hujan

Istockphoto.com
...

Seandainya saja waktu bisa dilipat, diatur, mungkin di mata perempuan itu bukan hanya nyaris hujan yang ada tapi ada pula pelangi yang berwarna.

Namun sejarah kata-kata tidak gampang untuk dilupakan, terlebih sejarah perbuatan dan amukan yang membara, sungguh menjadi luka. Keterbatasan ini membuat sulit, pelampiasan dan pelampiasan, apa perempuan itu harus selalu menjadi pelampiasan? 

Barangkali juga perempuan itu hanya berupa huruf-huruf dan paragraf mati yang tidak memiliki nilai. Di mata perempuan itu hanya nyaris hujan, seperti dianggap dan tidak. Seringkali tidak memiliki kesadaran, bukan itu ingin perempuan itu tapi itu yang terjadi dan mengakibatkan mental yang tidak sehat. 

Yang menjadi kebodohan perempuan itu, lemah pada yang namanya romantisme kasih sayang. Sakit, seperti tidak dianggap tapi kejadian sore itu di bulan pertama hari ke tiga puluh di kamar yang sempit lagi pengap tanpa ventilasi udara, perempuan itu harus menanam luka di dalam hati agar tidak menjadi bumerang bagi banyak orang. Karena ketika pun perempuan itu bersuara, tidak akan pernah didengar yang ada malah akan dipersalahkan dan disudutkan. 

Sore itu perempuan itu kalah dan di matanya hanya nyaris hujan, sungguh perempuan itu ingin keluar dari penjara yang berbahaya terus-menerus dan menemukan kebebasan, kepala perempuan itu sedang dipenuhi amarah, banyak praduga akan hidup. Kemudian pada suatu hari, perempuan itu akan mengalami tenang teduh dan benar-benar menikmati hidup dan di mata perempuan itu tidak lagi hanya nyaris hujan.

***

Rantauprapat, 30 Januari 2025

Lusy Mariana Pasaribu 

Minggu, 05 Januari 2025

Pada Suatu Pagi di Bulan Januari

@kulturtava
...

Seseorang di dalam kepalaku yang bukan aku kembali membuat aku dalam huru-hara, kehidupan yang begitu sulit. Ini masih bulan Januari apakah aku harus mati di pekuburan sepi. 

Pada suatu pagi di bulan Januari, dimulai hari ketiga tidak tahu sampai hari ke berapa atau bulan ke berapa ini akan terus berlanjut. Ini bukan sepenggal cerita tapi ini kisah yang berulang, sudah lebih dari empat dasawarsa tapi lagi-lagi kalah, lagi-lagi hancur. Sungguh menyesakkan. 

Ada jarak yang tak tersebrangi, pandangan dan ucapan sungguh memberikan luka dan benci. Bukan aku yang memilih tapi aku yang terluka. Terpuruk, apakah hingga momen penting di bulan Januari ini tepatnya pada hari ke dua puluh dua tidak akan ada cinta yang diingat.

Kenapa tidak kalah dan mengalah untuk menang tapi malah sibuk meributkan hal yang tidak perlu diributkan, bukankah dari awal sudah tahu tidak akan pernah bisa memaksa orang untuk berubah kecuali diri sendiri dulu lebih dulu berubah. 

Dalam cerita hidup juga tidak harus selalu menjadi tokoh utama bukan, hei seseorang yang ada di dalam kepalaku yang bukan aku tolong kalian mengalah untuk kebaikan bersama. Bukan hanya kamu yang lelah tapi aku juga. Di mana janjimu yang mengatakan untuk berubah dan mengalah untuk kebaikan,  itu hanya omong kosong kah? 

Apakah setelah memang benar-benar ada kematian yang terjadi, kamu baru benar-benar mau berubah, dan menyesali setiap apa yang kamu lakukan dan ucapkan. 

Namun sungguh aku berharap, selepas hari ini minggu pertama di bulan pertama ada kebaikan yang terjadi untuk seseorang yang ada di dalam kepalaku yang bukan aku. Sehingga pada suatu pagi di bulan Januari di hari yang entah ke berapa aku akan melihat dan mendengar kebaikan-kebaikan itu nyata. Dan ada cinta yang kembali hadir dan aku akan merayakan kata-kata indah di dalam puisiku. 

***

Rantauprapat, 05 Januari 2025

Lusy Mariana Pasaribu