Jumat, 06 Maret 2026

Aku Pernah

Aku Pernah
...

Ketika rumah tidak lagi menjadi tempat nyaman, aku pernah mengalami kelucuan yang aneh. Pernah pula ingin menjadi senyawa kimia alami yang meredakan ternyata gagal. Sebisa mungkin tidak membiarkan sayap-sayap itu patah, hahahaha, ternyata aku yang berulang-ulang patah.

Pernah membenci, seperti jaringan kanker yang tersebar tanpa terdeteksi, hingga terseok-seok dan menjadi pencuri kebahagiaan yang hebat, lagi-lagi terpuruk dengan liar. Aku adalah gandum yang layu sebelum masak, disabilitas sialan. Adakah disabilitas juga kecacatan, kecacatan yang menawan? Barangkali tidak.

Adakah yang bersedia menjadi tempat aku pulang? Sejauh ini, hanya seperti katak dalam tempurung. Bulan demi bulan adalah bulan yang mengerikan, hari-hari yang basah dan musim yang angkuh. Pernah memilih berdiam diri, lagi-lagi banyak hal yang berisik di kepala,  mengganggu kesejahteraan dan tenang teduh.

Ini bulan di mana aku dilahirkan, entah kelahiran yang pernah diharapkan atau tidak sama sekali, ingin selalu merasa cukup. Cukup yang benar-benar cukup atau cukup dalam arti benar-benar tidak cukup. Ini adalah catatan hati dan kejujuran yang telanjang. Pernah menjadi perempuan yang memakan bola matanya sendiri, mau makan segala gelisah dari mata itu. 

Aku pernah bahkan masih ada dalam lingkaran manusia-manusia lemah lagi berisik.

Sebelum hari keenam belas bulan ketiga, dengan segala keluh kesah aku memilih untuk tidak punah. Sedikitpun cinta yang tersisa dalam diri harus diikuti pengampunan dan belas kasih. Bagaimanapun tidak dibutuhkannya aku, akulah yang membutuhkan. Karena hari ini, esok, lusa, hingga ada di persimpangan usia yang baru di hari keenam belas bulan Maret, berulang-ulang sadar memilih tetap menyayangi. 

Pada suatu hari, aku akan mampu untuk mengakhiri patah hati yang bersemayam dan tenang teduh tanpa dihantui kisah-kisah rumah tanpa jendela, tanpa kebahagian dan penerimaan.

***

Rantauprapat, 06 Maret 2026

Lusy Mariana Pasaribu 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar