Ada yang mengatakan perempuan itu berharga, nyatanya tidak sama sekali. Itu hanya perkataan tapi perbuatan sama sekali tidak mengindikasikan hal itu. Yang ada ia selalu sendiri dan terkurung dalam kamar sempit. Semua sibuk dengan dunianya tanpa pernah bertanya bagaimana perasaan perempuan itu.
Apa kabar kepedulian? apakah sudah begitu mahal, sehingga enggan untuk perduli.
Katanya berharga tapi itu hanya bualan belaka. Tidak semua pertanyaan ada jawabannya seperti pertanyaan kenapa harus perempuan itu yang seperti itu, kenapa ia yang berbeda? Kenapa organ tubuhnya enggan untuk berkompromi dan menjadi lebih sehat.
Rasanya makin bertambah usia hari-hari terlalu semakin sunyi dan sepi, seperti tidak ada nyawa. Ini bukan sekedar prasangka atau rasa sensitifitas, ini lebih kepada kebenaran yang katanya berharga. Andai perempuan itu tidak seperti itu, boleh dikatakan tidak cacat barangkali juga perempuan itu akan menikmati hari-hari, bisa tertawa berlari dan berjalan dengan kakinya.
Andai, itulah andai jika akan pernah menjadi nyata. Siang ini hari kedua puluh tiga bulan ketiga, kepala perempuan itu terlalu berisik dengan tawa-tawa mereka yang membiarkan ia sendirian di tengah kesendirian. Yang katanya berharga ternyata tidak ada kesetaraan. Barangkali seperti inilah hidup, yang katanya berharga adalah keindahan yang tak pernah terlihat sama sekali.
Yang katanya berharga, itu adalah kisah dari seorang perempuan yang memiliki catatan-catatan kecil dan sepotong hari dalam lipatan waktu dan seringkali ada pada kisah antara tingginya langit dan bumi, tak terjangkau yang tak tersentuh untuk diterima orang lain.
Perempuan itu kecewa dan ada air mata yang secara otomatis membasahi wajah, sepertinya tidak hari yang dilewati tanpa perjuangan untuk berdamai dengan segala luka. Luka itu tidak pernah ia tabur tapi harus ia tuai, mungkin itu juga salah satu seni untuk menikmati hidup. Menabur tanpa menuai barangkali.
***
Rantauprapat, 23 Maret 2026
Lusy Mariana Pasaribu