Senin, 23 Maret 2026

Katanya Berharga

Kulturtava
...

Ada yang mengatakan perempuan itu berharga, nyatanya tidak sama sekali. Itu hanya perkataan tapi perbuatan sama sekali tidak mengindikasikan hal itu. Yang ada ia selalu sendiri dan terkurung dalam kamar sempit. Semua sibuk dengan dunianya tanpa pernah bertanya bagaimana perasaan perempuan itu.

Apa kabar kepedulian? apakah sudah begitu mahal,  sehingga enggan untuk perduli.

Katanya berharga tapi itu hanya bualan belaka. Tidak semua pertanyaan ada jawabannya seperti pertanyaan kenapa harus perempuan itu yang seperti itu, kenapa ia yang berbeda? Kenapa organ tubuhnya enggan untuk berkompromi dan menjadi lebih sehat.

Rasanya makin bertambah usia hari-hari terlalu semakin sunyi dan sepi, seperti tidak ada nyawa. Ini bukan sekedar prasangka atau rasa sensitifitas, ini lebih kepada kebenaran yang katanya berharga. Andai perempuan itu tidak seperti itu, boleh dikatakan tidak cacat barangkali juga perempuan itu akan menikmati hari-hari, bisa tertawa berlari dan berjalan dengan kakinya. 

Andai, itulah andai jika akan pernah menjadi nyata. Siang ini hari kedua puluh tiga bulan ketiga, kepala perempuan itu terlalu berisik dengan tawa-tawa mereka yang membiarkan ia sendirian di tengah kesendirian. Yang katanya berharga ternyata tidak ada kesetaraan. Barangkali seperti inilah hidup, yang katanya berharga adalah keindahan yang tak pernah terlihat sama sekali.

Yang katanya berharga, itu adalah kisah dari seorang perempuan yang memiliki catatan-catatan kecil dan sepotong hari dalam lipatan waktu dan seringkali ada pada kisah antara tingginya langit dan bumi, tak terjangkau yang tak tersentuh untuk diterima orang lain.

Perempuan itu kecewa dan ada air mata yang secara otomatis membasahi wajah, sepertinya tidak hari yang dilewati tanpa perjuangan untuk berdamai dengan segala luka. Luka itu tidak pernah ia tabur tapi harus ia tuai, mungkin itu juga salah satu seni untuk menikmati hidup. Menabur tanpa menuai barangkali.

***

Rantauprapat, 23 Maret 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Senin, 16 Maret 2026

Hey Enam Belas Maret

Unsplash 
...

Ketemu lagi dengan tanggal ini, tanggal di mana dilahirkan. Tak pernah di beri pilihan dan tak pernah memilih lahir di keluarga yang seperti apa, namun ada di semesta ini adalah kisah-kisah dengan rasa syukur yang menggetarkan hati. Walaupun sebenarnya ada rasa pesimis dan juga skeptis terhadap hari-hari, terkadang sudah lama ingin mati, terkadang juga sadar bahwa hidup yang punya itu bukan kita. Lebih sering menyembunyikan luka dari tatapan-tatapan itu.

Hey enam belas Maret, kembali lagi bernostalgia dan hari ini diingatkan untuk bersyukur atas pertambahan usia. Masih dipercayakan sandaran untuk bertahan menjalani sisa hidup. Bersyukur dan berdoa pada pemilik hidup untuk nikmat yang ada. Tidak boleh ada yang terlewat kecuali dengan doa hari ini. Romantisme Maret ada di enam belas Maret, itu sejarah hidup seseorang. Mencintai tanggal lahir, hey enam belas Maret, teruslah berjuang setidaknya dengan segala daya hingga akhir. 

Berharap, memiliki damai sejahtera dan tenang teduh. Cerita-cerita hidup tidak selalu tentang kisah-kisah rumah tanpa jendela, tidak pula selalu tenggelam dalam sendu. Karena tentang rumah memiliki karakter yang masing-masing. Hey enam belas maret, ketika pun hari ini menjadi ruang sunyi untukmu yang dilahirkan hari ini, tidak apa-apa itu adalah perjalanan hidup, tetaplah memiliki kesadaran diri. Siapa yang akan mencatat hari ini kecuali dirimu sendiri, bahkan ketika hari ini adalah tanggal yang terlupakan sekalipun itu pun menjadi kenangan.

Selamat untuk seseorang yang bertambah usia di enam belas Maret hari ini, tetaplah sehat. Hari ini adalah sepotong kisah dari perjalanan seseorang. Karena itu adalah hal yang dirindukan. Sekali lagi, selamat ulang tahun untuk seseorang, untuk kamu perempuan itu. Semoga lampu-lampu dalam akal dan pikiran tidak begitu berisik dengan banyak gangguan.

Nikmati hari ini semoga menjadi sejarah kenangan yang manis.

***

Rantauprapat, Maret 2026

Lusy Mariana Pasaribu 


Jumat, 13 Maret 2026

Berhenti di Halaman yang Sama

Kulturtava 
...

Geli, menggelikan. Kehidupan yang telanjang seakan penuh kejutan. Ternyata tidak berhenti di halaman yang sama. Tidak satu peribahasa, yang satu ada di jalan a dan yang satu lagi ada di jalan z.

Bagaimana mungkin mampu menahan diri?

Janji demi janji yang terucap namun terlupakan, hari ketiga belas bulan ketiga menyadarkan untuk tidak terlalu terusik dengan segala hidup dan tidak mau diusik. Menyakitkan.

Sungguh percakapan tadi adalah penyesalan, karena perjalanan ke depan masih terlalu panjang. Ketika mengatakan masih memiliki saja sudah bersyukur padahal itu semua omong kosong, barangkali sebenarnya ketika sudah tiada dan tidak lagi merasakan kehadiran baru benar-benar menyesal. Melupakan janji, hahhah. Berhenti di halaman yang sama sepertinya tidak demikian. Ini adalah catatan hari ketiga sebelum usia bertambah, tentang kalimat-kalimat panjang yang sepertinya tidak akan pernah selesai hingga maut memisahkan.

Ada di persimpangan dan menjadi perantara itu menyakitkan, mendengar dan melihat itu adalah kesalahan yang harusnya tidak terjadi. Siang hari yang menyebalkan, siang hari yang menjadi huru-hara dan menimbulkan kepala yang berisik. Terlalu memuakkan, sesak. Bagaimana rasanya terkurung dan tidak bisa bergerak kemana-mana. Yang dikira bisa memberikan penerimaan dan bisa berhenti di halaman yang sama ternyata tidak sama sekali. Apakah benar-benar cinta atau benar-benar tulus?

***

Rantauprapat, 13 Maret 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Senin, 09 Maret 2026

Ada Apa dengan Malam Ini?

Kulturtava 
...

Hu, boom. Ledakan yang telah lama padam kembali hidup dengan dahsyat. Satu malam dan percakapan yang tidak berenergi membangkitkan trauma. Ada apa dengan malam ini? Sial.

Cerita di balik obrolan yang tidak manis, berharap masih ada tenang teduh. Tetap melangitkan harapan-harapan baik. Bukankah seharusnya lebih baik menahan kata-kata daripadta mengucapkan hal yang sampah.

Ada apa dengan malam ini? Kenapa membiarkan mata itu kembali basah, ada ketakutan dari kekecewaan, kegelisahan yang begitu. Tidak lagi mau terulang kepada kejadian-kejadian yang lalu, terperangkap dalam kisah sedih. Keputusan-keputusan yang dahulu tidak lagi memang bisa diubah namun keputusan-keputusan yang sekarang harus benar-benar pikirkan untuk jangka panjang.

Ada apa dengan malam ini? Ada apa dengan hati? Berharap selepas malam ini, kondisi jauh lebih baik. Tidak ada lagi hujan , tidak ada lagi kemarau yang berkepanjangan. Tidak boleh dan tidak akan membiarkan ini menjadi pertarungan yang tidak berkepanjangan. Kabut lembah di malam kesembilan bulan ketiga, menjadi ruang untuk menahan diri lebih baik dan tidak menjadi batu sandungan. Tidak menjadi sialan yang akan tetap sial.

Barangkali demikian.

***

Rantauprapat, 09 Maret 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Jumat, 06 Maret 2026

Aku Pernah

Aku Pernah
...

Ketika rumah tidak lagi menjadi tempat nyaman, aku pernah mengalami kelucuan yang aneh. Pernah pula ingin menjadi senyawa kimia alami yang meredakan ternyata gagal. Sebisa mungkin tidak membiarkan sayap-sayap itu patah, hahahaha, ternyata aku yang berulang-ulang patah.

Pernah membenci, seperti jaringan kanker yang tersebar tanpa terdeteksi, hingga terseok-seok dan menjadi pencuri kebahagiaan yang hebat, lagi-lagi terpuruk dengan liar. Aku adalah gandum yang layu sebelum masak, disabilitas sialan. Adakah disabilitas juga kecacatan, kecacatan yang menawan? Barangkali tidak.

Adakah yang bersedia menjadi tempat aku pulang? Sejauh ini, hanya seperti katak dalam tempurung. Bulan demi bulan adalah bulan yang mengerikan, hari-hari yang basah dan musim yang angkuh. Pernah memilih berdiam diri, lagi-lagi banyak hal yang berisik di kepala,  mengganggu kesejahteraan dan tenang teduh.

Ini bulan di mana aku dilahirkan, entah kelahiran yang pernah diharapkan atau tidak sama sekali, ingin selalu merasa cukup. Cukup yang benar-benar cukup atau cukup dalam arti benar-benar tidak cukup. Ini adalah catatan hati dan kejujuran yang telanjang. Pernah menjadi perempuan yang memakan bola matanya sendiri, mau makan segala gelisah dari mata itu. 

Aku pernah bahkan masih ada dalam lingkaran manusia-manusia lemah lagi berisik.

Sebelum hari keenam belas bulan ketiga, dengan segala keluh kesah aku memilih untuk tidak punah. Sedikitpun cinta yang tersisa dalam diri harus diikuti pengampunan dan belas kasih. Bagaimanapun tidak dibutuhkannya aku, akulah yang membutuhkan. Karena hari ini, esok, lusa, hingga ada di persimpangan usia yang baru di hari keenam belas bulan Maret, berulang-ulang sadar memilih tetap menyayangi. 

Pada suatu hari, aku akan mampu untuk mengakhiri patah hati yang bersemayam dan tenang teduh tanpa dihantui kisah-kisah rumah tanpa jendela, tanpa kebahagian dan penerimaan.

***

Rantauprapat, 06 Maret 2026

Lusy Mariana Pasaribu