Senin, 23 Januari 2023

Balada Disabilitas dan Perempuan Itu

@kulturtava
...
Adakah seorang ibu yang menyuruh anak perempuannya mati, minum racun? Ternyata ada. Bahkan ibu itu pernah membunuh anaknya, memasukkan kepala ke dalam bak mandi. 

Ia, ibu yang tidak pernah menghidupi diri sebagai ibu. Tak pernah memikirkan kesejahteraan anaknya. Trauma psikis. Auto imun. Disabilitas. Anak perempuan ibu itu bukan anak-anak lagi, tapi anak itu gagal bertumbuh. 

Anak perempuan itu tidak mampu untuk berdiri sekalipun, bukan hanya disabilitas fisik namun tlah disabilitas psikis. Karena ulah ibu yang tlah melahirkannya. Kalau toh pada akhirnya ia harus mati dengan racun dan itu atas perintah ibunya, untuk apa anak perempuan itu ada dan dilahirkan. Sesungguhnya telah lama mati dan terbunuh, menjadi mayat tanpa bau. 

Hari lepas hari, hanya menjadi pengemis yang mengharapkan kasih tulus. Tak pernah ada selama bernyawa, hanya mengumpat dan memberontak seorang diri. Balada disabilitas, tak mampu walaupun ingin lepas dan terbebas. Korban pembunuhan yang tragis. 

Anak perempuan itu ingin mengakhiri hidup dan melakukan perintah ibunya, tapi ke mana mencari racun, berjalan pun tak mampu. Malang. Andai kematian anak perempuan itu menjadi, ibu yang melahirkannya pun tidak akan pernah menyesal, ucapannya adalah kalau mati ya ditanam. 

Hanya menertawakan diri sendiri, senyum sinis, air mata yang ingin ditumpahkan pun tak berkoordinasi dengan baik. Kali ini, air mata tak menjadi teman yang sejalan. Rentang dua hari berturut-turut, per hari kedua puluh dua, tidak bisa terbaca entah sampai kapan, hanya rasa trauma yang tercipta. Dusta dan kepura-puraan. Ibunya lebih baik dan bangga, ketika berhasil memberikan mutiara kepada bab* ketimbang kepada anak perempuannya.

Anak perempuan itu tidak berhak mempersalahkan siapa-siapa atas disabilitas dan trauma psikis yang melekat. Entah seperti apa menjalani sisa hari ini, persetan dengan cinta, persetan dengan keterbatasan. Anak perempuan itu kalah dan ada dalam waktu kebodohan. Basah oleh hujan, menikmati hasrat liar yang bukan haknya. 

Dengan kerelaan, memberikan dosa yang dahsyat menjamah dan terpuaskan atas dirinya. Anak perempuan itu berpikir, setidaknya satu atau dua jam, sengaja melupa atas rasa sakit yang sedang merajai. Dan terbukti benar, haha. Namun, anak perempuan itu tetaplah anak perempuan yang gagal bertumbuh. Ada penyesalan yang tidak termaafkan. Layu oleh angin timur. Pion yang penuh elegi, pohon anggur yang tidak riap tumbuhnya. Seperti penjepit pakaian yang tua dan usang dan tidak terpakai, tak dibutuhkan lagi.

Hu, menyakitkan. Ini balada disabilitas dari anak perempuan itu. Penuh sesak dan huruf-huruf mati yang tidak bermakna. Biarlah kuat dan mampu menjalani realita hidup, ketika akan terbunuh di masa selanjutnya. Barangkali ibunya akan meminta ulang. 

***
Rantauprapat, 23 Januari 2023
Lusy Mariana Pasaribu 

Minggu, 22 Januari 2023

Seperti Sekam yang Dihamburkan Angin'

@kulturtava
...
Ha, lucu yang menyakitkan. Benar-benar benci hari ini. Hari kedua puluh dua bulan pertama. Omong kosong tentang cinta hari ini. Memuakkan. Teramat banyak noda dalam cinta yang dipertahankan, terpaksa dipertahankan tepatnya.

Seperti sekam yang dihamburkan angin, tak bermakna, tak bernyawa. Mempertanyakan komitmen kebersamaan yang tlah dipertahankan, untuk apa? Yang menjadi hanya rekam jejak yang suram. Air mata yang tak ingin dikeluarkan, keluar dengan sendirinya disertai rasa benci. 

Sudah demo besar-besaran terhadap ucap dan sikap yang terjadi tapi tak pernah ditanggapi. Kenapa terjadi lagi hari ini, di mana kesejahteraan yang harusnya dilakukan? Ego dan keotoriteran yang merajalela. Mungkin sebaiknya hari ini tidak pernah ada, luka dan luka yang diberikan. Ada perempuan yang gagal bertumbuh hari ini dan memilih mengurung dirinya di kamar yang pengap.

Drama hari ini sungguh buat tawa sinis, umputan demi umpatan bahkan adegan fisik yang menakjubkan. Fakta dan fiksi yang sempurna, menyesakkan. Terkadang, tak mampu untuk bertahan tapi kehidupan bukan yang dimau. Terkadang ingin menerima hak yang seharusnya tapi kewajiban pun tidak pernah dilakukan.

Andai, hari ini tidak seperti sekam yang dihamburkan angin, pasti ada kesejahteraan dan tenang teduh. Pasti ada rumah tempat tinggal yang seutuhnya. Bak elegi pion yang terluka, pemulung yang mencari keberterimaan. Entah, esok lebih baik walau hanya sekedar ketidaksengajaan.

Hidup ini memang lucu bukan. Sedang terluka dan terbunuh, hampir menjadi mayat, namun masih bisa tersenyum palsu. Dahsyat luar biasa.

***
Rantauprapat, 22 Januari 2023
Lusy Mariana Pasaribu 

Senin, 16 Januari 2023

Ia, Air Mata, dan Huruf-huruf Mati

@kulturtava
...
Ia memang berbeda, disabilitas. Itu bukan inginnya, hari keenam belas bulan pertama sudah sangat memberi realita yang pahit. Ia butuh sandaran dan pengertian lebih, namun tak akan pernah ada yang tulus. Lemah semakin lemah, tak ada tenang'teduh.

Ketidakadilan hidup adalah hari ini dan hari itu. Tak ada cinta. Omong kosong tentang cinta. Ia seorang anak yang bukan anak-anak lagi, ah seandainya ia bisa dewasa. Malangnya ia lebih parah dari anak-anak. Untuk berdiri sendiri pun tidak mampu. Tak bisa kerjakan apa-apa tanpa bantuan.

Ia menangis, kenapa harus berbeda. Terbengkalai seperti mesin usang yang tua. Adakah yang perduli tangisnya, ibu atau bapaknya? Ia sering dibiarkan seorang diri di dalam rumah yang kecil. Ia hanya tunduk pasrah, menjalani sisa hidup yang sudah sangat lama ia tak ingin. Ia sudah lama mati, terbunuh.

Ia seperti pohon anggur yang tidak riap tumbuhnya, layu oleh angin timur. Tak ingin mengumpat, tak ingin patah hati tapi masih saja gagal. Tak pernah mudah memerdekakan hati sendiri bukan. Ia terbuang, dari awal ia tak pernah diharapkan barangkali. Hanya candaan yang terlanjur menjadi. Parah.

Ah, hidup ini penuh teka-teki yang berbahaya. Januari ternyata masih basah, penuh air mata. Hidup ini juga misteri, pikiran yang tidak terpikirkan pun bisa dipikirkan. Terluka, menangis atas apa yang terjadi. Tergantung bagaimana ia memandang proses hidup. 

Hari keenam belas dari tiga ratus enam puluh lima hari, apa yang pun sudah terjadi dan akan terjadi berikutnya, ia harus berjuang untuk menjalani kisah-kisahnya. Berbeda dan disabilitas, tidak pernah ia mau tapi ia juga sadar hidup ini bukan tentang apa yang iamau. Jadi ia memilih untuk tidak memilih. Tidak menjadi dirinya sendiri pun lebih baik, berpura-pura baik-baik saja kan ia lakukan, agar tidak menerima kata-kata yang penuh huruf-huruf mati dan menimbulkan rasa sakit.

Karena tak akan yang benar-benar mengerti ia, ini realita hidup.

***
Rantauprapat, 16 Januari 2023
Lusy Mariana Pasaribu 

Sabtu, 07 Januari 2023

Lenyap Seperti Bayangan

@kulturtava
...
Ia ingin lenyap seperti bayangan, hilang seketika. Ada tapi tak ada, sehat tapi sakit. Harus memedulikan air mata yang lain namun air matanya tak akan pernah ada yang peduli.

Hari ketujuh bulan pertama, tanda-tanda perusuh menghampiri. Tak ada cinta, tak ada yang dapat dimiliki. Mau tak mau berpura-pura tersenyum walau pedih perih sebenarnya. Untuk tidak menjadi cemoohan.

Ia kesepian, hari-hari yang membosankan. Gagal menghambarkan diri pada jerat dosa. Tak dapat membaca malam ini, bak mentari yang meredup. Lenyap seperti bayangan. 

Andai ada kesempatan lain untuk ia, namun hidup bukan tentang andai tapi realita. Dan ini bukan tentang apa yang ia mau. Tak boleh memilih karena ia tak pernah terpilih. Fana. Ketidakadilan hidup sedang bermain-main, menertawakan segala tentang ia. Keras, menyakitkan. Tak boleh mengeluarkan suara, dalam diam ia menahan tangisannya.

Mencoba dan harus berhasil menetramkan rasa berduka yang ia alami hari ini. Sangat sulit, ia harus menjadi tenang teduh untuk bisa menguasai diri. Tidak menjadi duri apa lagi badai bagi dirinya sendiri. 

***
Rantauprapat, 07 Januari 2023
Lusy Mariana Pasaribu 

Kamis, 05 Januari 2023

Air Mata

@kulturtava
...
Kenapa kau hanya membagi air hujan untuknya? Hujan air mata. Selalu ia salah pada pemandanganmu. Ia kau biarkan kelaparan dilahap keinginanmu yang lebih prepare pada orang lain. Heran memang.

Terkadang, kau perlu menurunkan standarmu untuk memperhatikan. Ia memang lemah, tak berdaya, tak bisa apa-apa tanpa bantuan tapi bukan pula ia tak punya perasaan. Sering sembunyi-sembunyi mencari perhatianmu tapi entahlah.

Tak ada kepemilikan antara kau dan ia, bukan siapa-siapa. Sepi, gila, tak ada tenang teduh, hanya air mata. Realita dan ketidakadilan hidup sedang bermain-main dan berguyon dengannya. Ia sedang dipecundangi dan ditertawakan. 

Kelaparan bukan melulu tentang perutnya tapi, ia tersesat dan kegilaan pun menjadi. Rekam jejak yang payah terjadi, menimbun emosi negatif,  karena kau melepas gara. Air hujan yang baru kaucampakkan buat ia menjadi layu seperti kembang.

Kau anggap ia dungu, ia hanya perempuan yang gagal bertumbuh. Dengan kata-kata, kau bunuh segala yang menjadi inginnya. Air hujan yang dahsyat sungguh sangat menakutkan baginya.

***
Rantauprapat, 05 Januari 2023
Lusy Mariana Pasaribu 

Senin, 02 Januari 2023

Ia Layu Seperti Rumput yang Tak Berguna

@kulturtava
...
Ah, kiranya tak seperti ini. Hujan duka, lara, kemalangan menghampiri. Yang selalu terjadi dan terjadi lagi, auto imun pun disabilitas buat tersisih.

Ia layu seperti rumput yang tak berguna, hari ini basah oleh hujan lebat kesepian yang teramat. Realita menghancurkan segala harapan. Baginya, disabilitas sangat menakutkan, tapi ketidakberterimaan yang dahsyat lebih menakutkan.

Entah ada yang memikirkan kesejahteraan untuknya, peduli air matanya, atau belas kasih tulus. Ia seperti ditelan ke dalam dunia orang mati, tak memiliki siapapun. Sendiri!

Kemarin dulu, kini, mungkin juga esok, ia tak akan pernah dianggap ada seutuhnya. Sepi dan ia adalah koordinasi yang tak terlepaskan. Hu, ini tentang kengerian yang berbahaya. Sepertinya hati yang tulus tidak menjadi untuk nya namun hati yang terpasung selalu ia terima.

Mencuri penerimaan, andai bisa dilakukan, ia akan lakukan itu. Ia layu seperti rumput yang tak berguna, kisah yang berantakan. Adakah yang dapat membuat ia memiliki rasa yang berbeda dari hari ini, suatu hari nanti?

***
Rantauprapat, 02 Januari 2023
Lusy Mariana Pasaribu