Rabu, 18 Februari 2026

Ketika Rumah Tidak Lagi Menjadi Tempat Nyaman

Foto pribadi
...

Mau sampai kapan seperti ini? Tidak ada rasa saling kalah mengalah. Hanya ada aku aku dan aku, selalu menjadi pusat dari segalanya. Bukankah seharusnya rumah adalah menjadi tempat yang nyaman. Namun lagi-lagi menunjukkan diri dan ke otoriteran.

Kenapa tidak ada batasan diri. Mengapa sulit untuk merasakan kasih sayang, yang ada hanya keributan dan keributan juga keegoan demi keegoan. Mengetuk pintu hati yang sudah berpuluh tahun tapi tak juga terbuka. Mengapa tidak belajar bersyukur dan mencukupkan diri.

Ketika rumah tidak lagi menjadi tempat nyaman, ke mana lagi pelarian? Ke mana lagi mencari tenang teduh. Kali ini, hati harus lebih hati-hati dan waspada. Marah dan kecewa itu sudah pasti. Bukankah tidak boleh berdosa karena orang lain, sekalipun itu adalah relasi pertama dalam hidup. Belum genap dua bulan menjalani tahun ini, sebegitunya huru-hara yang terjadi karena perkara kecil bahkan sangat kecil namun demi kepuasan ego, segala ucapan keluar bahkan yang sampah sekalipun.

Berdoa satu-satunya jalan keluar untuk menetralkan hati. Karena banyak yang dikira bisa berubah ternyata tidak sama sekali. Sepertinya tidak akan pernah selesai, akankah benar-benar selesai setelah kematian ada dan benar-benar diizinkan oleh Tuhan? Sudah selesai? Entahlah, terlalu sulit mendeskripsikan kehidupan ini.

Ketika rumah tidak lagi menjadi tempat nyaman, setidaknya harus tetap memiliki awareness dalam diri. Tidak boleh membiarkan diri jatuh dengan kesadaran pada dosa yang merayu. Yang benar berdoalah karena berdoa adalah satu-satunya cara juga untuk mencintai dan mengampuni walau itu sulit tapi bukan mustahil untuk dilakukan.

***

Rantauprapat, 18 Februari 3026

Lusy Mariana Pasaribu 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar