Jumat, 26 Desember 2025

Kejujuran yang Telanjang


Selamat merayakan kehilangan, kehilangan yang sudah lama mati. Ah, ini kisah yang disembunyikan. Banyak yang diam-diam ditinggalkan, banyak juga yang tak lagi sama. 

Ini perihal kejujuran yang telanjang, keserakahan dari manusia-manusia lemah. Pria tua yang tidak sadar diri akan umur dan tingkah laku yang liar, membumihanguskan arti dari ikatan. Memberikan sentuhan-sentuhan liar yang tidak sepantasnya. Tidak tahu kapan persisnya itu dimulai dan kapan benar-benar sudah berakhir tapi belum benar-benar selesai. Perempuan tua juga yang meluluh lantakkan perasaan, yang harusnya memberi kasih sayang dan rumah yang utuh. Malahan mengeluarkan kata-kata yang menenggelamkan dan kata-kata umpatan yang penuh kutuk.

Tak ada lagi harapan yang mengalir, yang ada hanya kesia-siaan dan mau tak mau menjalani hidup dengan segala kepura-puraan dan topeng. Hanya ada kekerasan yang menyamar sebagai kata cinta. Ini adalah kejujuran yang telanjang dari seseorang yang yang terluka sangat dalam. Tak pernah pula ingin membenci, hanya merajut kata-kata untuk mengeluarkan kejujuran telanjang.

Walaupun kejujuran yang telanjang ini tak pernah menjadi artikel utama karena selalu disembunyikan, setidaknya dengan huruf- huruf mati kejujuran ini bisa melegakkan perasaan. Dalam hidup tidak akan pernah menerima kalimat "sedia aku sebelum hujan", karena selalu saja salah apalagi menerima payung untuk tidak basah karena hujan. 

Kejujuran yang telanjang kali ini, sering kali harus dejavu dengan dosa yang sudah seringkali berisik di kepala, mau tidak mau harus berdamai walau sulit. Selamat merayakan kehilangan, Bodohnya, adakah yang merayakan Kehilangan itu, atau malah merasa biasa saja karena tidak pernah ada. Setelah abjad-abjad dari kejujuran yang telanjang ini finish, tidak tahu apakah benar-benar selesai atau malah kilas balik dari kisah liar itu kembali mengganggu di kepala dengan berisiknya. 

Ini catatan tentang kejujuran yang telanjang namun tidak pernah selesai, barangkali sampai ada kematian. Ini juga latihan untuk melupa tapi sepertinya takkan pernah lupa, karena merupakan sejarah yang benar-benar kejam.

***

Rantauprapat, 26 Desember 2025

Lusy Mariana Pasaribu 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar