Banyak yang kukira salah, eh bukan, bukan ya aku kira salah tapi benar-benar salah. Dari bulan pertama hingga bulan keempat tahun ini, selalu saja ada kebisingan demi kebisingan yang mengganggu hati dan kepala.
Sudah tahu akhirnya akan ribut namun tetap saja itu terjadi dan memilih itu. Barangkali memang tidak bersama tidak masalah, tapi setelah pergi, kenapa kau terganggu dan selalu asik mengganggu dan minta kembali, dan plot twistnya setelah kembali, kembali kau tidak menghargai memancing keributan.
Semua kau cari tahu, tapi ada baiknya kau lebih baik diam. Bukan karena kompromi, tapi tidak apa-apa, memang itulah pilihanmu dari awal jadi tertawakan saja kisah ini.
Aku terlalu sering mendapati diriku, mengalami kegelisahan yang diam-diam bertamu. Dan narasi-narasi yang menggangguku, kukunci dalam puisi ku. Ramai di kepala. Diserbu masa lalu, terlalu banyak pertanyaan-pertanyaan di kepalaku ketika kau saling adu perang.
Tidak bisa kah kau terus mencintai? Tidak Bisakah kau kalah dan mengalah untuk kebaikan. Aku tetap mengamini yang baik perihal kau, untuk tidak tersesat lama dan biarkan kemarau memguasai.
Ah, patah hati kali ini tidak akan aku biarkan terjangkau oleh hatiku. Sungguh, aku benar-benar mencintaimu dan aku berharap kau juga mencintai dirimu dan tidak menyia-nyiakan cinta yang ada padamu. Kegelisahan yang diam-diam bertamu karenamu, tidak akan membuatku kecewa dan patah hati, karena ku sadar, aku denganmu sudah merdeka. Karena kegelisahan yang diam-diam bertamu adalah salah satu seni dalam proses hidup.
***
Rantauprapat, 15 April 2025
Lusy Mariana Pasaribu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar