Ah, keparat. Siapa yang menabur, siapa pula yang menuai. Hari kesepuluh bulan kesembilan malam ini, menghancurkan jiwa. Lisan yang terdengar sungguh menjarah mental.
Perbincangan yang sial, tahu seperti ini ujungnya lebih baik menjadi asing. Ada di ujung krisis, amarah yang meluap. Menyudutkan dan mempersalahkan tanpa kebenaran seutuhnya. Lebih baik menjadi liar dan jatuh pada dosa yang merayu.
Merelakan terbunuh dan tenggelam dalam kisah rumit. Ah, percakapan yang sial ternyata bisa jadi teman. Mencumbui malam dengan kegamangan yang tak berarti. Tak hendak pula merayu untuk menjadi yang baik, menelan setiap prasangka yang ada. Bosan menjadi tertuduh tapi tak bisa melakukan apa-apa, hanya bisa bersandiwara dan berpura-pura. Ah, sial.
Ternyata menjadi hitam dan ada pemberontakan terkadang diperlukan. Melupakan sejenak segala lara. Malam ini tak ada kasih yang benar-benar kasih. Hanya tipu muslihat dan kemalangan yang ada. Air mata yang tumpah dan tertahan, dalam perbincangan yang sial malam ini.
Ah, entahlah.
***
Rantauprapat, 10 September 2025
Lusy Mariana Pasaribu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar