Tak semua hal harus dikompetisikan, Tapi semuanya harus diberikan penerimaan. Yang menjadi cerita pahit, ketika sudah diberikan penerimaan tapi tidak mendapat penerimaan balik. Hahah, ini bukan soal bergurau dengan pahitnya hidup, ini sejarah hidup yang sangat egois.
Burung dan kucing serta anjing yang tak dipelihara saja selalu datang, namun mengapa tidak demikian dengan manusia-manusia lemah dan liar, merasa lebih baik dengan keangkuhannya.
Terlalu mengecewakan, ini sebuah patah hati yang panjang. Ini bukan soal bergurau dengan pahitnya hidup, ini lebih dari itu. Mengapa dunia begitu berisik?
Dimana bukti dari ucapan jangan mengingat masa lalu? Bullshit, bualan tersembunyi dalam kata-kata.
Bagaimana cara menamatkan kisah toxic seperti ini? Entah, untuk pergi pun tak ada daya, terikat dan tak mampu. Api hanya tetap menjadi api, sampai umpatan kepuasan diri menjadi kenyataan, barangkali ada kesadaran, itu pun kalau ada hati jika tidak, tak ada yang tahu.
Tangisan yang keluar dari mata telanjang ternyata hanya omong kosong, Bagaimana mungkin bisa kembali merasakan ketulusan dengan memegang tangan yang mengharapkan kehangatan, itu hanya pemanis belaka dengan drama-drama di belakangnya.
Terlalu banyak pembuat kejahatan, enyahlah. Hidup ini bukan soal bergurau dengan pahitnya hidup tapi bukankah lebih kepada tahu menempatkan cara berbicara yang benar dalam situasi dan kondisi seperti apa. Apakah harus ada kepergian dan perpisahan baru api menjadi kesadaran? Mungkin sebenarnya itu menjadi kemauan mutlak.
Ini adalah cerita yang menjadi catatan pagi hari ini.
***
Rantauprapat, 08 Oktober 2025
Lusy Mariana Pasaribu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar