Lagi, lagi, ada kejadian gila yang merusak mental dan pikiran. Sesuka hati berbicara, dengan gamblangnya mengatakan, kamu tinggal duduk aja dan bukan kamu yang mencari, mengindikasikan bahwa tidak boleh berkomentar dengan selalu berkompromi. Kesialan yang mengganggu sore ini.
Lantas, apa berhak untuk menyuruh ini dan itu? Bersyukur masih bisa jadi berkat bagi orang lain, terus yang jadi berkat bagi diri sendiri siapa? Ini seperti kengerian yang menjadi nyata, disabilitas sialan.
Bukankah lebih baik bisa memberi makan kehidupan sendiri daripada duduk manis-manis di kamar yang pengap dan menjadi beban. Ada kesialan yang mengganggu pikiran juga jiwa pada hari kedua belas bulan kedua belas. Entah ada apa dengan hari ini? Karena bukan kali ini saja terjadi demikian.
Ini seperti kekerasan yang dianggap cinta, kekerasan mental. Kenapa tidak berani bersuara dan harus selalu berpura-pura? Tidak ada yang pernah mau seperti ini, siapa yang tidak menginginkan kaki yang sempurna untuk bisa berjalan dan melangkah bahkan keluar dari rumah yang tidak seharusnya menjadi rumah dengan segala ketoksikannya. Halah, muak.
Ada kesialan yang mengganggu, well begitulah hidup. Apakah kesialan yang mengganggu ini akan bertahan sampai akhir tahun dan menjelang awal tahun? Tak ada yang tahu jawabnya.
***
Rantauprapat, 12 Desember 2025
Lusy Mariana Pasaribu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar