Ada yang menulis demikian, kadang merenung juga merasa, merasa kosong tapi hidup, kadang hampa tapi hidup harus terus berjalan, tapi yang tidak sefrekuensi dan seirama adalah yang menulis di atas tadi kembali menuliskan bagian terakhir yang berbunyi demikian: kadang kepikiran tapi terbawa perasaan sesaat. Itu sah-sah saja karena opini pribadi, tapi untuk perkara kali ini itu tidak benar. Ini bukan tentang hanya merasa tapi ini tentang rekam jejak dan percakapan yang memberi rasa sakit yang sangat-sangat sakit.
Rasanya aneh memang berada di Desember yang basah tapi ini adalah pilihan lebih baik menjadi asing. Daripada mempertahankan cermin retak dan membiarkan satu ruangan menjadi tidak selamat.
Pada suatu hari di bulan Desember yang basah, kembali saja ada momen yang membuat jatuh pada kekalahan. Dari bola mata yang telanjang terlihat tidak ada sukacita. Di ambang penghujung Desember dan awalan Januari, apakah mampu benar-benar mengakhiri patah hati? Who know? Karena semua memiliki misteri topeng masing-masing.
Ada rekam jejak dan percakapan yang tak memiliki ujung. Seseorang berada di tengah kerumunan namun seseorang itu hanya berada di abjad-abjad yang abstrak, yang tidak pernah berkhianat. Ini tentang rekam jejak dan percakapan yang memberikan sorot mata redup. Sepanjang beberapa hari di Desember yang basah ini, dari jam ke jam berikutnya terasa sangat lama sekali untuk berganti.
Reka adegan kembali terulang terhadap kisah-kisah yang telah lama terpendam di hati seseorang itu. Begitu terasa sulit dengan hati, kembali berusaha untuk berdamai terhadap rekam jejak dan percakapan yang telah terjadi.
***
19 Desember 2025
Lusy Mariana Pasaribu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar