Sabtu, 20 September 2025

Kebekuan Rumah yang Terasa

Di buat oleh bantuan meta al 
...

Aduh, ternyata di balik rumah yang tak selalu indah, ada saja drama-drama yang terjadi. Hujan yang tiba-tiba deras membasahi bagian rumah dengan dahsyat. Membiarkan rumah itu hancur, membiarkan tamu tak diundang menguasai rumah. Banyak yang meredup dan menyimpan luka masing-masing. Kemungkinan terburuk dari rumah ternyata tidak bisa menjadi tempat pulang.

Banyak perkara dan keegoan sehingga rumah tak lagi menjadi tempat menyembuhkan dari kehilangan karena dari rumah tersebut adalah kehilangan yang pertama, rumah juga terkadang menjadi bagian pertama mengalami penjarahan mental. Ada juga rumah yang menjadi aroma penghapus kenangan, malah menyakiti. Dari awal yang ada wara-wiri keributan dan pertengkaran. Setiap anak tak pernah ingin rumah seperti itu, tak ada pula anak yang minta dilahirkan dalam rumah seperti itu, hanya kebekuan rumah yang terasa.

Bagaimana jika sampai mati ada di rumah yang seperti itu? Karena kelahiran tidak akan pernah bisa di reshuffle. Hanya terus belajar berdamai dengan segala keadaan, tunggu tak ingin berada dan mengulang kelahiran yang seperti ini. 

Tidak pernah menduga, sampai usia sekarang, hanya perang yang terasa dalam rumah, kalau tidak dalam satu hari dalam satu minggu atau dalam satu bulan ada saja catatan-catatan yang menjadi keributan dan keributan yang terus berulang, sungguh ingin melupakannya tapi takkan pernah lupa. Terlalu takutnya sampai tak pernah merasakan bahagia.

Ya, begitulah rumah yang tak selalu sempurna dan sialnya tak diisi dengan kesempurnaan. Lagi-lagi, lagi-lagi, hanya menangis dalam diam, keadaan yang seperti ini, di rumah yang seperti ini entah sampai kapan berada dan terjadi. Bolehkah berharap di suatu yang entah kapan, rumah yang tak sempurna ini ada kabar baik yang terjadi, kabar tenang teduh dan kabar kesejahteraan. Sungguh berharap demikian.

Karena barangkali rumah yang diisi dengan manusia-manusia lemah dan juga merasa lebih baik dengan keangkuhannya tak akan pernah berubah sampai mati. 

***

Rantauprapat, 20 September 2025

Lusy Mariana Pasaribu 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar