Ini bukan soal berani atau tidak berani, ini soal memaafkan yang tak kunjung usai. Aku benci keadaan ini. Aku telah tersesat dan menjadi liar, mulutku menjadi nakal. Mengumpat dan mengucapkan kata-kata yang tidak seharusnya.
Boom, seperti ada ledakan besar beberapa menit yang lalu, tepatnya pukul 16.07. Hari kedua puluh lima bulan ketiga tahun ini. Aku mendengar suara yang seakan ingin membunuh, pandangan yang ingin menenggelamkan ke dasar laut.
Kembali lagi pertanyaan itu kenapa harus aku? Apakah aku harus selalu kalah dan mengalah? Akankah air mata selalu kan jadi teman, sampai menangis pun aku sulit.
Lantas di mana semua janji yang pernah terucap? Ingin menjadi seseorang yang lebih baik, menjadi sandaran dan penolong yang lebih baik? Mata, hati dan telinga selalu sakit dengan semua janji-janji tak pernah dipenuhi.
Aku yang menderita, di tengah keterbatasan aku harus tetap berjuang untuk memiliki kesadaran dan kewarasan terhadap mentalku. Aku gemetaran, aku takut, untuk membaca kamu pun saat ini pun aku sulit. Apakah aku harus memunguti bahagia, tapi dari bahagia siapa yang harus kupunguti. Bahkan sepertinya sisa hari ini akan menjadi hujan bagiku,
Siapa yang akan kusebut rumah jika seperti ini? Aku sendiri pun takut untuk berteduh, seakan tak ada yang menginginkan aku ada, hidup ini terlalu lucu untukku, sore hari ini aku sangat untuk melaluinya, karena jika besok aku masih ada, apa yang akan kulihat dan kudengar itu pasti lebih sakit daripada sore hari ini.
Adakah yang bisa mengeluarkan tangan dan melihat kesusahanku? Yang bisa memberikan pertolongan untuk menghilangkan kesedihan ini.
Entah siapa yang benar-benar akan kusebut rumah? Tolong hentikan kepedihan ini.
Hentikan!
***
Rantauprapat, 25 Maret 2025
Lusy Mariana Pasaribu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar