Jumat, 26 Desember 2025

Pada Suatu Sore

Foto pribadi 
...

Ah, boom, ada ledakan besar terjadi. Tanpa aba-aba, tanpa pemberitahuan, kembali lagi jatuh jatuh dan jatuh, kedua kaki tak mampu bertahan, tak mampu menopang tubuh untuk melangkah sekalipun, pada suatu sore di hari kedua puluh enam bulan kedua belas, ada kejujuran yang telanjang memberitahu tentang keberadaan diri, ternyata hanya manusia lemah yang benar-benar lemah.

Sakit, sendirian, dan lebih baik tidak pernah mencoba-coba untuk keluar dari kamar pengap yang kecil dan tidak memiliki ventilasi udara. Rasanya sesak, terlebih ketika menahan tangis yang harusnya keluar.

Terlalu mengerikan bukan, apalagi di hari kedua puluh tiga di bulan kedua belas juga, untuk pertama kali serasa ditolak dan baru mendapat perkataan yang mengatakan: seharusnya kategori orang yang cacat tidak berhak mendapat bagian, CACAT! Begitu tidak adilnya kah hidup. Siapakah pernah benar-benar berhak untuk menghakimi orang lain. 

Pada suatu sore yang entah kapan, Bolehkah benar-benar menikmati waktu dengan merasa dicintai dan diterima, tanpa kejatuhan dan kejatuhan yang memberi kesialan dalam hidup. Karena sepertinya tidak ada yang benar-benar atau terlalu peduli. Jadi tidak ada gunanya jika juga terlalu terbuka dengan segala kejujuran yang telanjang.

Hari kedua puluh enam, adalah segala kisah dengan rasa sakit. Adalah segala kisah dengan kesendirian, adalah segala kisah dengan irama kesedihan. Kejatuhan hari ini adalah kisah yang berulang-ulang terjadi, sudah biasa memang tapi masih saja sakit, ketika dibiarkan sendiri. Dan memang lebih baik saja terus-menerus berada di kamar yang lembab tanpa merasakan sinar matahari, daripada memberikan pertanyaan yang tidak ada jawabannya. Kenapa, kenapa dan kenapa?

Sudah lebih dari satu dasawarsa, keadaan masih sama saja atau bahkan bisa dikatakan lebih parah. Ini adalah kisah yang berakhir pada kesendirian. Namun, bukankah kesendirian bisa memilih jalan untuk tidak punah, untuk tidak berakhir pada kata putus asa. 

Semoga, pada suatu sore yang entah kapan, sekalipun masih tetap menjadi manusia yang lemah dan segala kejatuhan, organ tubuh yang tidak mampu lagi untuk bertahan, tetaplah memiliki kewarasan dan memilih untuk tidak punah dengan segala kebodohan. Itu saja barangkali catatan untuk hari ini.

***

Rantauprapat, 26 Desember 2025

Lusy Mariana Pasaribu 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar