Rabu, 17 Desember 2025

Berbau Hangus dan Keotoriteran

KOMPAS/SPY
...

Sial, tanpa aba-aba, ribut yang menggemparkan terjadi, heboh bahkan sangat-sangat heboh. Akibat dari menjadi pahlawan bagi semut di ujung jangkauan tapi boomerang bagi gajah di depan mata, miris bukan.

Mengabaikan peringatan, air mata demi tercapainya keotoriteran. Merasa hebat dan menang jika selalu didengar dan dituruti. Sampai-sampai keributan yang terjadi berbau hangus, apa yang dicari dengan lebih mementingkan semut yang ada di ujung jangkauan.

Mengabaikan wajah-wajah luka yang sendu. Bullshit jika pernah mengatakan kesejahteraanku adalah kesejahteraanmu. Yang benar adalah kehendakku harus dituruti demi kepuasan pribadi dan senyum merekah di bibir. 

Marah, tapi hanya bisa diam. Karena pada akhirnya harus selalu menurut dan menurut walaupun dengan terpaksa. Kesedihan dan kekecewaan makin dalam tapi hari terus berlanjut, mau tak mau harus berkompromi dan berpura-pura bahagia. Andai disabilitas ini tidak menjadi teman walaupun sudah berdamai tapi ini tetap saja membuat luka. Tidak lagi bisa menghilang dan pergi dengan bebas.

Apakah dalam hidup harus selalu memenuhi harapan orang lain sementara diri sendiri kepada siapa? Tak ada yang mendengar tak ada yang peduli. Barangkali sampai mati pun hingga berbau hangus harus tetap memenuhi kebutuhan orang lain demi tercapainya keotoriteran yang sempurna.

Mungkin sebaiknya, tak pernah ada dan tak pernah dilahirkan ke muka bumi jika hanya pada akhirnya akan berbau hangus dan memenuhi kehendak dan harapan dari keotoriteran orang lain.

Ah, Desember kali ini rasa-rasa terlalu penuh dengan kesialan. Harus selalu mencumbui Desember dengan dusta dan kepura-puraan, asu.

***

17 Desember 2025

Lusy Mariana Pasaribu 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar