Rindu dan harapan yang takkan pernah, takkan pernah menjadi. Hanya tong kosong nyaring bunyinya, tak pernah benar-benar ada ritme yang menjaga kewarasan dan kesejahteraan yang ada malah menguasai mendominasi dengan segala otoriter. Lisan yang liar dengan segala abjad yang keluar dari mulut berbisa, setan, hantu, tapi karena tak pernah berpenghasilan harus selalu diam dan menerima dengan terpaksa. Menangis juga tidak ada guna.
Ini bukan tentang terlalu banyak merasa tapi adalah fakta yang seolah-olah tak pernah terjadi. Ini adalah kisah-kisah seperti rumah tanpa jendela. Sudah sangat lama tak pernah lagi bermimpi, karena hanya sendiri dan selalu sendiri diam dan tak pernah bergerak dari kamar yang pengap dan tak berjendela.
Bagaimana lagi mampu untuk menetapkan batasan kewarasan, sementara diri sendiri tak pernah bisa keluar dari ketoksikan yang mengikat dan terpaksa terikat. Lagi-lagi ini bukan tentang terlalu banyak merasa. Sudah terlalu banyak dosa yang dirayu hanya untuk merasa baik-baik saja tapi tetap gagal. Ini tentang camar yang sendiri.
Desember penuh dengan hujan, dan ternyata harus selalu basah. Tak ada suka duka tawa, yang ada marah dan menjadi rumput liar yang ditertawakan. Delapan belas desember penuh kebisingan dan rekam jejak yang berbahaya.
Ternyata di Desember yang penuh luka bagi orang lain bisa menjadi bahan tertawaan bagi orang lain juga. Pelaku seolah-olah menjadi korban dan korban seolah-olah menjadi pelaku. Ini hidup dan bukan tentang terlalu banyak merasa. Ini tentang seseorang yang tidak akan pernah selesai, selama masih bernafas dan dunia masih ada.
Untuk melalui beberapa jam selepas malam ini saja harus mengingat bahwa cinta ternyata harus dinilai dengan angka-angka yang cukup besar. Itulah masa lalu seharusnya tidak pernah menjadi masa kini, kehidupan yang asu benar-benar asu. Rasa-rasanya dan barangkali kebenarannya, tak pernah benar-benar saling memiliki. Sebuah cara melupa sudah diusahakan tapi ini ternyata itu sia-sia selalu saja berisik di kepala.
Kemungkinan terburuk akan tetap merusak diri sendiri. Karena dari awal sudah kalah. Hidup tapi mati dan mati tapi hidup. Terlalu berharap, terlalu takut, terlalu sulit apalagi berjuang untuk keterbatasan, anehnya itulah hidup. Jadi ini adalah cerita dan kisah dari rekam jejak yang bukan hanya tentang terlalu banyak merasa.
***
18 Desember 2025
Lusy Mariana Pasaribu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar