Bagaimana kabar hati sepanjang tahun ini? Tentu saja banyak kepatahan bahkan lebih banyak kepatahan daripada sukacita, Kebahagiaan tidak lagi berdering. Apalagi kantong yang cukup, kenapa embel-embel anak paling tua harus selalu diutamakan sedangkan kesendirian tidak diperdulikan.
Itulah manusia, sudah tahu tidak ada yang merayakan bersama dalam rangka kesusahan, duka apalagi kesuraman dalam hidup tapi tetap membiarkan diri jatuh dalam penyesalan yang berkabung. Kenapa lupa bahwa kesendirian juga bisa memiliki hari-hari yang bermakna. Kesendirian tidak harus memilih jalan untuk punah dan menjadi seongok baterai dari manusia-manusia lemah.
Bukankah seharusnya kesendirian tidak memilih jalan untuk punah. Karena hidup adalah perjalanan dan pertarungan yang tak akan pernah punah hingga kematian menjadi teman. Lantas kenapa membiarkan diri ada pada kemalangan yang berlarut.
Hidup adalah sepi dan setiap jiwa memiliki kesepiaannya sendiri.
Hidup adalah rekam jejak dan perjalanan yang memiliki kesusahannya sendiri.
Dan benar kesendirian tidak memilih jalan untuk punah. Kesendirian juga memiliki cinta, walau cinta tidak harus memiliki kekasih jiwa. Karena cinta itu mematikan, dan jatuh cinta lah untuk mampu menghadapi kehidupan yang mematikan.
Di penghujung tahun ini, tiga puluh satu Desember pukul kosong kosong dini hari, jangan menjadi manusia-manusia bodoh di balik kata kesendirian, baik yang sendiri maupun tidak sendiri memiliki hari terakhirnya masing-masing. Lantas, Apakah harus memilih untuk punah atau bergandengan dengan doa pada sang maha untuk mampu menjalani hidup dengan segala keterbatasan.
Kepada kesendirian yang memilih jalan untuk tidak punah, tenanglah jiwamu dan berjuanglah untuk bertarung dalam jejak-jejak kehidupan sehingga mampu menjadi pohon anggur yang riap tumbuhnya.
***
Rantauprapat, Desember 2025
Lusy Mariana Pasaribu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar