Pukul 02.00 pagi lebih sedikit WIB, hari pertama bulan kesebelas, ada hujan kembali terulang dan dilanjutkan pukul 07.00 lebih sedikit, masih di hari yang sama hujan yang lebih besar kembali terjadi, hujan yang menghantarkan luka. Ada keheningan yang tak teruraikan, ada dosa yang merayu.
Ada Ilalang yang tumbuh dengan liar, kamar sunyi menjadi saksi. Kenapa harus ada percakapan yang sial, ini bukan selalu bergurau tentang pahitnya hidup, bukankah harusnya ada penerimaan? Tapi kenapa sampai sekarang tidak ada belajar dari kesalahan yang sama, bagaimanapun ucapan sudah keluar dari mulut telanjang takkan pernah lagi bisa diubah, akan ada jejak yang membekas.
Cerita pukul 02 dan 07 pagi hari ini, akan menjadi catatan yang plot twist, di hari yang kapan menjadi pribadi yang saling menerima dan di hari yang ini menjadi pribadi yang ganas dan entah, apakah rasa sakit tidak menjadi pelajaran? apakah rasa sakit tidak menjadi ketakutan akan Kehilangan?
Kamar sunyi dan keheningan yang tak teruraikan, apakah akan berlanjut di hari esok, lusa dan seterusnya?
Akhir pekan ini dan di awal bulan kesebelas tahun ini, akan menjadi ingatan yang suram. Ada ucapan yang amburadul dan kenangan membekas, ada predator berbahaya mengintai. Di kamar yang sunyi pagi ini tak ada bahasa cinta yang tersisa, yang ada seperti dosa berjalan. Ada tamu dengan keberisikan yang mengganggu kepala.
Lelah dan benar-benar lelah, bukan hanya tentang fisik yang sudah lama tidak bersahabat tapi juga tentang mental yang tidak waras jika terus seperti ini, masih ada enam puluh hari lagi yang harus dilalui untuk menjalani tahun ini, apakah hujan dipukul 02 dini hari akan kembali terulang?
Tidak ingin pasrah dan menjadi dungu tapi untuk bertahan pun sulit apalagi berjuang, disabilitas ini sungguh mengganggu. Enyalah, brengsek hidup jika terus seperti ini penuh dengan kesialan demi kesialan. Kenapa dan kenapa harus ada di paragraf yang dipenuhi huruf-huruf mati dan tanpa ada pohon-pohon cinta yang memberi kehangatan dan kebahagiaan. Tapi demikianlah hidup penuh dengan huru-hara. Dan untuk mengadopsi kesejahteraan dan tenang teduh sulit untuk berhasil.
***
Rantauprapat, 01 November 2025
Lusy Mariana Pasaribu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar