Minggu, 03 Agustus 2025

Seperti Dosa Berjalan

Freepik
...

Sungguh menginginkan seseorang itu menjadi halaman terakhir bagi perempuan otoriter yang harus dituruti. Seperti sampah yang tidak pernah tuntas dibuang, selalu didaur ulang dan didaur ulang tapi tidak pernah mau kompromi. 

Perempuan otoriter itu seperti dosa berjalan. Selalu menyalakan api perlawanan dan tak pernah kalah mengalah untuk kebaikan. Andai hidup ada tombol touch dan delete, aku memilih mendelete seseorang itu agar perempuan otoriter itu merasa lebih baik walau mungkin sebenarnya tidak.

Aku terbelenggu kehidupan gamang yang kaku, seperti dosa yang berjalan, aku dihantui oleh hari-hari yang seperti itu, tampilan yang skeptis. Bagaimana tidak, perempuan otoriter itu tergenggam ambisi pasti untuk selalu di-iakan. Hanya kabut duka yang terlihat. Aku berada di kegelapan yang gelap sekali.

Berdua tapi tak bersama. Berdua seperti dosa yang berjalan. Sampai beberapa waktu yang lalu aku masih berharap, ada damai sejahtera, ada tenang teduh. Tapi itu hanya harapan belaka karena yang terjadi adalah kehidupan yang lagi-lagi skeptis.

Ini bukan juga soal penerimaan. Ini lebih kepada dosa berjalan karena perempuan otoriter itu. Perempuan itu kalah karena seseorang yang dipilih. Menanam banyak perkara di hatinya dengan cemara demi cemara yang dibangun.

Dan aku, pada suatu hari, bisa merdeka pada hal yang belum merdeka. Dan tidak jatuh pada dosa berjalan yang nyata-nyata kulihat dan kudengar. Pun aku serta isi kepalaku tidak selalu berisik tentang ekspektasi-ekspektasi yang belum terjadi. Ini catatanku di hari ketiga bulan kedelapan tahun ini. 

***

Rantauprapat, 03 Agustus 2025

Lusy Mariana Pasaribu 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar