Sangat-sangat lama terombang-ambing, lelah melumat hujan yang kau timbulkan. Lantas, apakah jika aku sudah benar-benar pergi, akan ada air mata untukku?Pertengkaran yang tidak aku tabur kenapa harus aku yang menuai akibatnya?
Berdiam dan menahan diri hanya untuk melihat kisah dari potongan perjuangan yang kau alami, ternyata hanya nyaris hujan yang kau tabur. Belum kudapati, seperti yang kau katakan, kau lakukan seperti untuk Tuhan bukan untuk manusia.
Hari keenam bulan keempat, pagi ini kau pun membuatku kuyu. Aku kesepian, toh pada akhirnya kau hanya dengan kekuasaan mu, otoritermu, tak pernah perduli perasaanku yang terpenting kau dengan mulutmu memuaskan amarah tanpa pandang bulu tanpa embel-embel.
Akupun kehabisan energi, sedapat mungkin Jika aku masih mampu aku akan menuruti segala egomu demi kebahagiaan dan kepuasanmu. Karena waktu yang ku punya denganmu mungkin terbatas, bukan mungkin tapi memang terbatas dan selagi masih ada waktu jika itu adalah rasa sakit bagiku tapi kebahagiaan bagimu, aku akan melakukannya.
Mungkin kau terlalu nyaman menunggangi aku, padahal sebenarnya aku harusnya kau tuntun dan kau dengarkan juga. Ini, hanya sepi yang kau tawarkan dan berakhir pada sunyi yang sia-sia. Yang hampir selalu kudengar adalah kau mengatakan tak ingin ribut, ternyata kau malah berteriak.
Aku butuh rumah, bukannya janji-janji yang tidak perlu divalidasi. Terseok-seok dalam harapan. Ini menghancurkanku, tapi tak boleh kuhidupi. Tak boleh jatuh karena perkaramu. Kau memang lebih dari tamu di hidupku, tamu yang meracau hari-hariku dengan segala kebisingan. Ya, tapi begitulah hidup, aku harus membaca dan menikmati bersamamu dengan segala seni yang ada.
Kau seperti risalah yang mengajarkanku pahit dan sedikit manisnya gelombang kehidupan. Oh, terlalu berisik waktu yang kupunya tentang notifikasi untuk menjaga kewarasan terhadapmu, tapi sudahlah. Aku tetap bertahan menjalani sisa hidup yang masih ada.
***
Rantauprapat, 06 April 2025
Lusy Mariana Pasaribu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar