Minggu, 26 Oktober 2025

Ilalang yang Tumbuh Liar

Kulturtava 
***

Tak pernah mau dan merasakan disabilitas, menjadi Ilalang yang tumbuh liar di mana ia ada.

Sepertinya ia ada untuk menyelesaikan masalah tanpa pernah dianggap ada. Hari ke dua puluh enam bulan kesepuluh, ia tidak baik-baik saja, ia bermandikan kotoran dan sumpah serapah. Ke mana ia harus berkeluh kesah dan pulang?

Ada yang berkata, ia berharga sama seperti yang lain? Hahah, itu terlalu menyakitkan, tak pernah ia dipeluk hangat.  Lebih kepada, kehilangan.

Ia ilalang yang tumbuh liar dan berkali-kali meregang nyawa. Ia seperti kisah yang disembunyikan hujan, tak terlihat dan terbaca.  Seharusnya ia tak pernah ada, well ia tak pernah berkuasa akan hidup, terbukti ia tetap ada.

Direndahkan, dalam diam dan tangis ia dilontarkan perkataan kasar, lalu tanpa dosa dan rasa bersalah mengucapkan maaf, ia muak tapi tak berdaya. Seluruh organ tubuh yang ia punya menolak untuk baik-baik saja sudah sejak sangat lama. Mau tidak mau, Ia Ilalang yang tumbuh liar kembali berkutat dengan hari-hari dan wajah-wajah palsu.

Tak ada yang memperbolehkan untuk selalu baik-baik saja dan mendapatkan kesejahteraan karena barangkali kesejahteraan hanya menjadi teman yang asing. Dan seiring berjalannya waktu, ia kembali pulang pada kata, sebab hanya dengan kata Ia bisa bercumbu dengan leluasa tanpa hambatan dan tanpa beban. Kata adalah rumah yang menerima tanpa penghakiman dan selalu memberi penerimaan.

Dan benar ilalang yang tumbuh liar itu harus memberi penerimaan pada diri sendiri, karena tidak ada orang lain yang menerima diri kalau tidak diri sendiri.

***

Rantauprapat, 26 Oktober 2025

Lusy Mariana Pasaribu 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar