Hari kedua puluh bulan pertama, sore mengerikan di 17.27, dengan mudah mengucapkan kata sampah *tai* kepada seseorang yang sudah menghidupi dari lahir, anak laki-laki yang belum genap berusia 10 tahun. Kutukan dari mana sehingga perempuan itu, selalu sial dan merasakan sakit karena perbuatan bocah laki-laki itu.
Apakah membesarkan bocah laki-laki itu adalah hal yang salah? Hampir 10 tahun sepertinya lebih banyak huru-hara dan kesialan dari pada damai sejahtera dan tenang teduh.
Ibaratnya nasi sudah menjadi bubur, mau tidak mau, ya hanya tinggal menyelesaikan bubur itu hingga selesai, seperti itu juga barangkali terhadap bocah laki-laki itu, bukankah penyesalan memang selalu datang di akhir. Sore mengerikan di 17.27 hari kedua puluh, tidak ada harmoni yang ada adalah meredupkan tawa. Ini kisah lama yang berulang-ulang-ulang terjadi hampir selama 10 tahun.
Ini tentang patah hati dan penyesalan, seluruh energi dan daya tahan tubuh hilang seketika, ada kesedihan yang terang-terangan menghampiri sore ini. Karena bukan hanya perkataan sampah yang diterima perempuan itu, luka fisik dengan sengaja diberikan bocah laki-laki itu, karena bocah itu tahu perempuan itu cacat dan tidak mempunyai daya untuk melawan apa menyelamatkan dirinya sendiri.
Di manakah harapan yang bersemayam untuk bocah laki-laki itu? Menguap entah kemana, hanya ada ratapan dan air mata. Bagaimana selepas hari ini, bagaimana nanti dengan perempuan itu? Tidak ada kata terlambat untuk belajar, apakah peribahasa itu akan berlaku untuk bocah laki-laki itu menjadi anak yang lebih baik, untuk perempuan itu apakah dia bisa belajar memberi penerimaan terhadap bocah laki-laki itu? Terlalu sulit dan rumit karena sepertinya anak laki-laki usia 9 menuju 10 tahun tidak sewajar dan sepantasnya melakukan kekerasan seperti itu.
Entah akan jadi seperti apa, bukan kehendak perempuan itu tapi kehendak sang pencipta, ini adalah keluhan perempuan itu hari ini, sore mengerikan di hari kedua puluh bulan pertama.
***
Rantauprapat, 20 Januari 2026
Lusy Mariana Pasaribu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar