Minggu, 18 Januari 2026

Adakah Aku Pernah Berharga Untukmu?

Kulturtava
...

Aku tidak tahu, apakah keberadaanku memang berharga untukmu? Apakah aku adalah seseorang yang kau nanti-nanti. Karena yang kurasakan, ketika kau dirayakan beberapa kali dalam satu tahun, di mana jelas-jelas aku ada tapi tak terlihat, karena keterbatasan kakiku yang sulit untuk bergerak dan melangkah, kau tidak pernah mencari aku dan memanggilku untuk hadir. Hanya asyik dengan perayaanmu dan dana yang harus dikeluarkan, karena itu kewajiban juga untukku.

Malam ini aku tidak bahagia, aku tidak sejahtera, aku menangis tapi ku putuskan untuk tidak lagi tawar hati, karena ketika tawar hati aku yang susah. Sebenarnya sudah biasa dan sudah lebih dari 3 dasawarsa aku menerima tatapan maut yang ingin mematikan dan membunuh. 

Adakah aku pernah berharga untukmu? Sepertinya tidak walau ketika aku pertanyakan ini, jawaban sampah yang akan kudengar. Aku dan kau adalah irama dan relasi yang dekat tapi berjauhan.

Akan tetap menjalani tanggung jawabku selagi aku mampu dan berbunyi brimo, menghasilkan uang untuk mengusir ketakutan dan kecemasanmu akan uang. Selagi kau hidup, akan tetap berusaha untuk memberikan kepuasan dan memenuhi segala keinginan-keimanannya hatimu, walau aku tetap harus berdiam diri. Karena ketika aku bersuara pun tidak pernah didengar, itulah paradoks diriku malam ini. Aku adalah camar cacat yang sendirian.

Gaung ingatanku malam ini, diisi kesadaran bahwa waktu ini adalah terbatas dan aku tidak tahu siapa yang akan lebih dulu menyelesaikan pertandingannya di bumi, dan sedapat mungkin, aku tetap akan memiliki penerimaan atas luka yang kau berikan, karena kau tidak pernah menjadi teladan yang benar-benar bagiku, walau  demikian, malam ini aku tidak melarikan diri dan jatuh pada dosa yang menggoda untuk dinikmati apalagi terjebak pada hutan kebodohan yang sendu lagi liar, sekalipun aku tidak pernah berharga untukmu.

***

Rantauprapat, 18 Januari 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar