Cinta, ternyata tidak mampu menghapuskan segala berita tentang luka dan luka. Bajingan, tanpa memberi jeda menghancurkan kepercayaan. Terlalu terlihat mencolok, apa salahnya jika harus diselesaikan saat itu, tapi yang didapat adalah mata dan ucapan tajam yang ingin membunuh.
Mau sampai kapan harus selalu diam dan mengerti keadaan, sepertinya juga berdiam diri adalah seni mencintai diri sendiri tidak sepenuhnya berhasil. Ada saja bajingan-bajingan berisik yang mengganggu kepala.
Entah siapa yang terlalu angkuh, tanpa memberi jeda, para bajingan liar memberikan hujan yang menetap dari bola mata telanjang. Diremehkan sudah biasa, dianggap tidak ada juga biasa, lantas kenapa harus menuntut ini dan itu.
Di sini, di hari kedua belas bulan Januari, muncul kisah-kisah rumah tanpa jendela. Brengsek, bersama hujan malam dan huruf-huruf kapital yang sama sekali tidak bernilai, jari-jari menari tanpa batasan dan menjadi pembunuh waktu agar mata tidak terlelap, ada kisah yang harus diselesaikan. Karena ada juga luka yang harus dirayakan untuk menjadi pengingat.
Hey hati, sadar dan berjaga-jagalah. Terhadap bajingan yang brengsek, yang tanpa memberi jeda memberi luka, kau bisa memaafkan tapi tidak melupakan. Kenapa harus memperdulikan kesejahteraan yang bukan kesejahteraanmu.
***
Rantauprapat, 12 Desember 2026
Lusy Mariana Pasaribu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar