Melihat foto yang di minta dengan sengaja dengan si pria Tapanuli, ada senyum yang timbul dari sudut bibir ini. Seseorang yang pernah menjadi narasi besar dalam hidup dan kini bisa dikatakan menjadi narasi kecil pun tidak lagi.
Masih senyum yang sama itu adalah komentar yang disampaikan terhadap si pria Tapanuli. Dengan lantang disampaikan, apakah berusaha untuk sengaja melupakan? Kemudian dijawab, bagaimana mungkin sengaja dilupakan sedangkan diingat saja tidak. Mungkin pertanyaan itu adalah pertanyaan sampah, yang pada akhirnya memberi celah untuk membuka kembali komunikasi.
Malam tadi hari kedua puluh sembilan bulan Januari, mengingatkan bahwa itu adalah juga tanggal yang sama ketika pernah memulai komunikasi. Masa-masa yang dirindukan kala itu.
Pernah dia membisu, penolakan si pria Tapanuli yang menjadikan satu adalah peribahasa, dia memilih mengabaikan dan pergi ke pada tujuan yang lain. Kehilangan kata, kehilangan kepercayaan, berakhir pada daun jatuh karena ternyata dia memilih rumah yang lain.
Walaupun, belum berapa lama rumah yang dia pilih ternyata bukan rumah yang dia mau, bukankah penyesalan memang selalu datang terlambat. Dan ajakan beberapa kali untuk lari kawin merupakan ketidakwarasan, jika di "ia" kan. Karena dia akan lebih sial dan susah jika bersama dengan perempuan yang diajak kawin lari dan juga tidak boleh terjadi. Si pria Tapanuli tidak boleh layu seperti rumput yang tidak berguna, dia pernah jadi kecatatan yang menawan dalam perjalanan hidup.
Malam tadi melihat gambar dirinya dan ternyata masih senyum yang sama dijumpai, di antara kebrterimaan dan riwayat luka yang terjadi, kembali berharap si pria Tapanuli kan kembali mendapatkan kesejahteraan dan tenang teduhnya walau dengan perempuan siapapun yang akan menjadi pilihan kedua, setelah gagal dengan perempuan pertama yang dipilih.
Pagi ini membayangkan masa-masa itu, ini kisah di Januari lima tahun yang lalu, masa-masa di mana berharap, menjadi selalu si pria Tapanuli tapi itu sudah lama berlalu. Masih senyum yang sama, senyum yang mempesona dari si pria Tapanuli, dan masih bisa melihat senyum itu juga merupakan hal yang menyenangkan. Berharap hal-hal yang baik tetap terjadi untuk dia dalam hidup.
***
Rantauprapat, 30 Januari 2026
Lusy Mariana Pasaribu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar