Minggu, 18 Januari 2026

Sebab Itu Aku Tidak Tawar Hati

Unsplash
...

Aku sudah benar-benar muak, menderita dalam dunia. Aku pernah menuliskan mengapa engkau tertekan hai jiwaku? Bukankah dunia ini hanya sementara. Sudah berkali-kali aku dihadapi dengan kesedihan-kesedihan bodoh. Tapi sampai saat ini aku gagal membuat jiwaku tidak tertekan. Pernah menjadi perempuan yang memakan bola matanya sendiri, dibiarkan air mata menguasai diri.

Terlalu burukkah aku sehingga aku tidak bisa mendapatkan tenang teduh dan kesejahteraan? Haruskah selama sisa hidupku hanya ada kesendirian dan memenuhi tanggung jawab? Sepertinya aku dengan sadar memilih mencintai orang lain dalam suatu hal yang harus diselesaikan tapi meracuni diri sendiri walau dengan terpaksa.

Aku bisa apa? untuk melangkah pun, aku tidak mampu sendiri. Sehat tapi sakit seperti mati tapi hidup. Aku manusia yang sudah lama menjadi pembunuh, pembunuh diriku sendiri dengan mematikan kebahagiaan yang harus kurasakan. Aku juga pernah harus memelankan suaraku, untuk kepuasan seseorang.

Terlalu banyak jejak-jejak dari tangan-tangan liar di seluruh tubuhku dan juga ucapan-ucapkan sampah yang ada di kepalaku. Tetapi semua tidak lagi berarti, aku sudah lama mati. Aku ingin tidur, Aku tidak mau menjadi penjual kesedihan dan meminta-minta penerimaan. Pernah menjadi pencuri, pencuri untuk mendapatkan perhatian tapi tak pernah tercapai.

Sakit sekali tapi, tak ada yang benar-benar peduli pada diri kita, kalau bukan kita sendiri. Karena ketika aku jatuh dari seluruh badan memar dan terluka, aku yang merasakan seorang diri, yang ada banyak umpatan yang kuterima. Aku bosan hidup, tentu saja bosan dengan segala lingkaran yang kuhadapi.  Pagi ini aku berbicara dalam kepahitan jiwaku, aku melampiaskan keluhanku. 

Yang pasti atas segala luka, aku tidak akan tawar hati. Karena celakalah aku jika aku membiarkan diriku jatuh dalam dosa yang terus-menerus, kenapa aku lupa aku masih punya Tuhan sang penguasa hidupku dan seluruh hari-hariku. Bukankah tanpa adanya izin Tuhan aku tidak akan keluar dari kandungan.

Dan bukannya hari-hari umurku hanya sedikit jadi aku tidak tahu kapan aku akan benar-benar mati, sebab itu aku tidak tawar hati. Di kesendirianku yang hingga hari ini, masih ada pemeliharaan Tuhan yang menjaga nyawaku dan keterbatasanku.

***

Rantauprapat, 18 Januari 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar