Selasa, 13 Januari 2026

Januari yang Basah dan Musim yang Angkuh

Kulturtava
...

Sialan, tidak ada tempat dan rumah untuk pulang. Bahkan untuk merasa teduh dan sekedar baik-baik saja terasa mustahil. Yang menawarkan menjadi rumah juga hanya bualan apa lagi yang diharapkan menjadi rumah, hanya omong kosong.

Ini kisah di Januari yang basah dan musim yang angkuh. Seorang perempuan yang mengharapkan penerimaan, ia tak pernah mau berbeda, tak pernah mau sendiri dan sunyi, tapi selalu harus di paksa kuat untuk memenuhi semua ekspektasi.

Hujan yang menetap hampir 24/7 selalu ada dari balik bola matanya. Kemarin, di sela waktu berdiam diri, ada gagal yang merayu dan hari ini perempuan itu hanya menonton pertunjukan,  pertunjukan yang memberikan api tanpa boleh berkomentar apapun. Karena ia harus tahu diri, lebih baik mundur teratur daripada merusak damai yang sudah dieja.

Ketika terjerat dan tenggelam pada musim yang yang angkuh, mau tak mau perempuan itu harus melepaskan sekumpulan keinginan demi terlihat baik-baik saja, walau tak berani mengais bahagia, karena hukum yang harus dipatuhi harus selalu taat ketika itu sakit dan mengorbankan diri sendiri.

Ini tentang luka, ini tentang kehilangan. Ini tentang Januari yang basah, tapi lagi-lagi harus selalu tetap memiliki praduga yang baik karena ini adalah relasi pertama yang tidak akan pernah tertukar. Siapa tahu entah di hari yang kapan dan tahun yang kapan ada bahagia yang bisa dicuri dan membiarkan dirinya dicuri dengan ikhlas, barangkali demikian.

***

Rantauprapat, 13 Januari 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar