Ini tentang kenapa harus basah oleh hujan? Tentang kehilangan kepercayaan, juga tentang bara yang sengaja dijatuhkan dengan kata-kata sampah. Januari adalah kejujuran yang telanjang. Ada hati yang jatuh berkali-kali, ada keributan yang terus-menerus ada dan menjadi.
Juga tentang masa depan yang tidak pernah dipedulikan, hanya dijadikan pemuas dari nafsu dari keinginan-keinginan bodoh. Siapa yang perduli kesejahteraannya, kehidupan yang sial bukan. Ini Januari jadi awal mula patah hati yang tercipta tapi tak pernah diingini, seorang perempuan cacat dengan segala serpihan hati.
Banyak ilalang yang tumbuh liar, perempuan itu selalu ada di persimpangan antara hidup dan mati. Perempuan itu tidak pernah baik-baik saja, tapi siapa yang akan menyadari itu. Ia adalah kali yang habis airnya. 365 hari akan di hadapi dengan segala kepalsuan disertai dengan dunia yang kejam yang benar-benar kejam.
Januari adalah kejujuran yang telanjang, ini juga tentang seorang perempuan dan sepatu yang tidak pernah terpakai, perempuan ini tidak akan pernah bisa memakai sepatu karena kakinya yang sebelah lebih kecil daripada kakinya yang lain, untuk berdiri sendiri saja ia tidak mampu apalagi untuk berjalan terlebih berlari.
Barangkali tidak ada yang pernah mau menjadi perempuan yang hanya berteman dengan huruf-huruf mati, menjadi perempuan tua dengan segala keterbatasan. Sudah terlalu banyak kisah selama kurang lebih tiga dasawarsa pada hati perempuan itu. Tidak ada rumah tempat ia pulang, juga tak ada rindu yang akan membawa ia pulang. Sore itu di akhir tahun menjadi hujan pertama yang akan menembus di awal tahun dan tepatnya hari ini.
Perempuan itu, pada suatu hari akan berhenti mengejar penerimaan untuk pernah dianggap ada.
***
Rantauprapat, 01 Januari 2026
Lusy Mariana Pasaribu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar