Banyak ketelanjangan yang tersaji, pandangan yang membunuh, ucapan otoriter. Perempuan-perempuan tangguh yang sengaja menindas.
Sial, sialan kau.
Terkadang ingin menahan diri, tapi terkadang merasa benar-benar sendirian. Tatapan itu terlalu sinis untuk diterima. Malam ini hari kedua puluh sembilan bulan pertama, selalu sakit di hati dan berisik di kepala. Ketelanjangan yang terjadi benar-benar muak.
Entahlah, sepertinya kenikmatan malam ini benar-benar tidak akan selesai. Kenikmatan untuk tidak mengumpat, kenikmatan untuk menahan diri, kenikmatan yang merasa sial barangkali.
Sial, sialan kau malam ini. Perempuan-perempuan yang mengganggu, percakapan yang tidak berenergi. Malam yang angkuh. Di kepala saat ini menggunakan amarah, sepertinya terlalu munafik para perempuan-perempuan itu.
Dua jam kurang untuk melalui malam ini, memilih bercinta dengan kata-kata dan menari-nari dengan huruf-huruf mati, mengurangi kesesakan hati terhadap kesialan yang terjadi hari ini terlebih malam ini. Bagaimana dengan besok? Tidak ada yang tahu jawabnya. Karena untuk menutup mata dan merebahkan tubuh sepertinya sulit malam ini, insomnia terlalu mengganggu dan sulit untuk berkompromi untuk tidur malam ini.
Terlalu gemetar, terlalu bersedih, terlalu takut. Karena kesialan malam ini adalah sejarah yang dahulu terulang. Penghujung Januari yang masih setia dengan hujan kalau tidak terlalu deras dan memberikan efek banjir.
Dasar sial.
***
Rantauprapat, 29 Januari 2026
Lusy Mariana Pasaribu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar