Sabtu, 22 Maret 2025

Sunyi Kehilangan Cahaya

Pixabay 
***

Gema tak berbalas, kepercayaan mulai memudar. Sunyi kehilangan cahaya, ada kisah dibalik air mata. Langka lorong tanpa ujung, akhirnya hati yang setegar baja pun runtuh. Nama dinding bisu, kita lagi mampu berkata-kata.

Merasa sendirian, sunyi kehilangan cahaya. Gemetar dan layu sudah.

Dalam ringkas ingatan, hanya sedikit kebahagiaan yang menari-nari dalam diri. Mungkinkah akan ada kesempatan untuk menjadi pribadi yang mandiri? Sejauh ini, kita hanya bercumbu dengan realita yang malang.

Kita terlalu gagu untuk jatuh pada dosa yang merayu, seperti gema yang tak berbalas, seperti itu pula kita biarkan kebodohan bertahta. Kenapa harus jatuh dan menggelitik waktu yang senggang dengan kesuraman yang ada.

Bukankah boleh berharap, kisah di balik air mata tidak mau tentang kegagalan dan kepatahan. Kita tidak harus selalu basah oleh hujan. Walaupun gema tak selalu berbalas, tak juga membiarkan diri mati dan terbunuh dalam hamparan sepi yang kelabu. 

Segemetar dan setidak berdaya apa pun, lepaskan diri dari mencumbu hasrat yang tidak seharusnya, mungkin saja di alur kehidupan yang akan datang kita akan bisa menikmati hidup yang benar-benar hidup. Dan Sunyi tak lagi kehilangan cahaya.

***

Rantauprapat,  22 Maret 2025

Lusy Mariana Pasaribu 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar