Selasa, 11 Maret 2025

Bagai Daun yang Menolak Jatuh

www.wakingtimes.com
***

Ada seseorang yang menuliskan, waktu yang menelan bayang retak senja. Film berulang, tak sama cahaya. Bagai daun menolak jatuh. Kau ada, dunia harus jatuh. Entah dunia seperti apa yang harus jatuh? Karena sejauh mata memandang, hanya ada luka yang tak terlihat. Seperti ada di kerumunan hujan. Seperti cermin yang retak.

Dunia harus jatuh seseorang itu menuliskannya, seperti syair-syair tentang luka, kisah-kisah rumah tanpa jendela, tentang kegamangan serta kegugupan yang berlebih. Kau ada, kau yang seperti apa? Kau itu seperti kanvas kecil yang tidak berarti apa-apa. Bukan hanya tidak berarti apa-apa, pada dasarnya kau memang bukan siapa-siapa. Kau seperti ranting yang patah.

Waktu yang menelan bayang retak senja, begitu sunyi hingga sering berada di ruang sunyi. Mencumbui pagi dan malam dengan kegamangan yang tak berarti. Lagi, ingatan tentang penerimaan hanya ilusi seperti luka-luka pada bahasa yang asing. Membiarkan diri menikmati waktu senggang dengan padang ilalang yang liar, kau ada seseorang itu menuliskanmu, Kau seperti apa? Hanya pertanyaan yang sulit mendeskripsikan jawabannya.

Kau ada tapi tak benar-benar ada. Sudah lama tenggelam tapi tak mati, menyakitkan.

Benar-benar sakit! Bagai daun menolak jatuh namun akhirnya benar-benar jatuh, dipaksa dan ada dalam tekanan, tidak berdaya. Seperti film yang berulang. Memuakkan.

***

Rantauprapat, 10-11 Maret 2025

Lusy Mariana Pasaribu 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar