Terlalu liar. Terlalu ego, terjerat pada sketsa yang seperti itu-itu saja, kegaduhan yang berisik. Jenuh jenuh dan jenuh, seperti ada di persimpangan. Lebih baik diam, tapi tahu rasanya dipaksa untuk bicara, yang ada hanya irama kesedihan.
Terlalu banyak khianat, berulang-ulang dan berulang-ulang terjadi, mau sampai kapan kegaduhan yang berisik ini terjadi?
Diam-diam kegaduhan yang berisik memberikan hati pada hati yang lain, memberi niat untuk ada di persimpangan yang lain. Memberi niat untuk menyerah. Hidup ini terlalu lucu, bahkan untuk menangis saja harus bersembunyi.
Menjadi bertanya-tanya, apakah kegaduhan yang berisik ini seperti candu yang tidak pernah lepas? Ini seperti keterasingan yang menggoda, hidup tapi tak hidup. Bagaimana rasanya? Ah, sulit menjelaskan. Karena tenang teduh hanya peribahasa.
Bisakah berharap, kegaduhan yang berisik ini tidak selalu menghantui pikiran dan hati! Karena masa hidup pun adalah terbatas, tapi kenapa kegaduhan yang berisik ini tidak terbatas.
Seperti punya tubuh tapi tidak bisa digunakan. Pun layaknya punya kepala tapi yang berisi hanya kegaduhan yang berisik.
Seperti punya tangan tapi tidak bisa dimaksimalkan, dipakai sebagaimana mestinya. Yang lebih menyakitkan punya kaki tapi tidak bisa untuk berdiri atau berjalan.
Ah, ngerinya. Jika sejarah hidup harus di isi dengan kegaduhan-kegaduhan yang berisik. Namun seharusnya tidak boleh mati hanya karena kegaduhan demi kegaduhan yang berisik bukan. Semoga masih tetap berjuang dan bertahan menjalani sisa sejarah hidup yang ada.
***
Rantauprapat, 12 Maret 2025
Lusy Mariana Pasaribu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar